
Virus Herpes Simpleks Tipe 2 (HSV-2 / Herpes Genitalis)
Definisi
Infeksi herpes simpleks tipe 2 (HSV-2) atau herpes genitalis adalah penyakit menular seksual akibat virus herpes simpleks, terutama HSV-2, yang ditandai lesi vesikular pada genitalia eksterna berupa luka atau bercak kecil yang berisi cairan (vesikel) dan dapat bersifat laten dengan reaktivasi episodik.¹

Etiologi
Penyebab utama adalah virus herpes simpleks tipe 2 (HSV-2) pada sekitar 80% kasus, sedangkan HSV-1 (lebih lazim pada oral) dapat menyebabkan ~20% kasus, khususnya terkait seks oral.¹,⁶
Klasifikasi¹
| Klasifikasi | Keterangan |
|---|---|
| Infeksi primer | Terjadi pada individu tanpa antibodi HSV. Biasanya lebih berat, lama, disertai gejala sistemik. |
| Infeksi nonprimer | Terinfeksi HSV-2 pada individu dengan antibodi HSV-1, manifestasi lebih ringan. |
| Rekurensi | Reaktivasi virus laten di ganglion dorsal. Gejala lebih ringan, tanpa prodrom sistemik, durasi lebih singkat. |
Patofisiologi
Penetrasi dan Replikasi Awal
HSV-2 memasuki tubuh melalui kontak langsung dengan mukosa atau kulit yang terluka, menempel pada reseptor sel dan masuk ke dalam sel. Virus kemudian berkembang biak di dalam sel, menghasilkan partikel virus baru yang menyebar ke sel sekitar.
Pembentukan Laten
Setelah infeksi primer, virus berpindah ke ganglia saraf (terutama ganglia sakral (S2, S3, dan S4)) dan memasuki fase laten, di mana sebagian besar gen virus terdiam. Selama fase ini, virus mempertahankan status laten dengan menghambat transkripsi gen lisis.
Reaktivasi dan Rekurensi
Faktor seperti stres atau penurunan imunitas bahkan kehamilan dapat memicu reaktivasi virus. Virus bergerak kembali ke permukaan kulit atau mukosa, menyebabkan lesi vesikular yang khas.
Mekanisme Penghindaran Respon Imun Inang
HSV-2 menghindari deteksi oleh sistem imun dengan memproduksi protein (ICP47 (Infected Cell Protein 47) yang menghambat presentasi antigen pada sel, mengurangi respons imun terhadap virus.
Manifestasi Klinis dan Penyebaran
Infeksi primer lebih berat dengan gejala sistemik dan lesi vesikular. Setelah sembuh, virus tetap laten dan dapat kembali aktif, menyebabkan episode rekuren yang lebih ringan. Individu terinfeksi bisa menyebarkan virus meskipun tanpa gejala.¹,²,³,⁴,⁵
Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Lesi Vesikular dan Ulkus
Pasien dengan infeksi herpes simpleks tipe 2 (HSV-2) biasanya menunjukkan lesi vesikular (gelembung berisi cairan) atau ulkus (luka terbuka) pada area genital atau perineum. Lesi ini dapat pecah dan berubah menjadi ulkus dangkal, yang menyakitkan dan berisiko terinfeksi sekunder. Setelah sembuh, lesi biasanya akan mengering dan membentuk keropeng, yang kemudian lepas dalam beberapa hari. Bekas luka atau pigmentasi dapat tertinggal tetapi jarang permanen.
Gejala Lokal
Pasien sering mengeluhkan rasa terbakar, gatal, serta disuria (nyeri saat berkemih). Selain itu, keputihan atau cairan serosa juga sering ditemukan sebagai tanda peradangan pada genitalia. Pada pemeriksaan fisik, lesi-vesikular biasanya ditemukan dengan dasar eritematosa (merah) dan nyeri saat terpapar sentuhan.
Gejala Sistemik pada Infeksi Primer
Pada infeksi primer, pasien bisa mengalami gejala sistemik, seperti demam, malaise (merasa tidak enak badan), dan mialgia (nyeri otot), yang biasanya muncul beberapa hari sebelum lesi genital terlihat. Gejala sistemik ini cenderung lebih berat dibandingkan dengan infeksi rekuren. Pemeriksaan fisik dapat menunjukkan tanda-tanda sistemik seperti demam ringan hingga sedang dan pembengkakan kelenjar getah bening inguinal akibat peradangan pada daerah genital.
Waktu inkubasi infeksi HSV-2 biasanya sekitar 2-12 hari setelah terpapar virus.
Rekurensi
Rekurensi pada HSV-2 sering terjadi setelah infeksi primer sembuh. Episode rekuren biasanya lebih ringan dan sembuh lebih cepat. Pasien mungkin mengalami gejala prodromal, seperti rasa gatal atau terbakar pada area yang sama sebelum lesi muncul. Pada pemeriksaan fisik, lesi rekuren biasanya lebih sedikit, dengan lesi yang sembuh lebih cepat dibandingkan infeksi primer.
Riwayat Infeksi Sebelumnya
Riwayat adanya episode serupa pada pasien mengarah pada diagnosis reakurensi, yang lebih sering terjadi seiring waktu. Pada rekuren, gejalanya cenderung lebih ringan dan durasi lesi lebih pendek. Riwayat transmisi seksual dari pasangan seksual pasien juga penting untuk digali, terutama jika ada tanda-tanda gejala pada pasangan seksual pasien.¹

Pemeriksaan Penunjang¹,²,³,⁴,⁵
| Pemeriksaan | Tujuan | Prinsip | Hasil |
|---|---|---|---|
| Kultur Virus | Gold standard identifikasi HSV | Inokulasi cairan vesikel pada media kultur sel | Positif HSV-2 jika lesi aktif |
| PCR HSV | Deteksi DNA virus | Amplifikasi DNA virus menggunakan PCR untuk mendeteksi keberadaan HSV | Deteksi spesifik HSV-2, lebih sensitif dibandingkan kultur |
| Tzank Smear | Skrining cepat untuk sel virus | Mencari sel multinukleasi khas infeksi herpes pada preparat sel yang diwarnai | Hasil positif menunjukkan sel multinukleasi, tetapi tidak spesifik untuk HSV-2 |
| Imunofluoresensi Langsung | Deteksi virus langsung dalam lesi | Penggunaan antibodi spesifik yang dilabeli fluorescent untuk mendeteksi antigen virus di lesi | Positif HSV-2 jika antigen terdeteksi |
| Serologi (Antibodi IgM dan IgG) | Mendiagnosis infeksi primer atau rekuren | Pengukuran antibodi IgM (infeksi primer) dan IgG (rekuren) dalam darah | IgM positif menunjukkan infeksi primer, IgG positif menunjukkan infeksi sebelumnya atau rekurensi |
Keterangan
Kultur Virus: Merupakan metode yang paling akurat untuk identifikasi HSV, meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama untuk hasilnya (biasanya 2-7 hari) .
PCR HSV: Merupakan pemeriksaan yang paling sensitif dan spesifik untuk mendeteksi infeksi HSV, bahkan pada lesi yang tidak terlalu jelas atau saat virus berada dalam tahap laten .
Tzank Smear: Merupakan pemeriksaan cepat yang dapat dilakukan di tempat dengan hasil yang cepat, tetapi kurang spesifik untuk HSV dan sering menunjukkan hasil positif untuk beberapa jenis infeksi virus lain .
Imunofluoresensi Langsung: Digunakan untuk mengidentifikasi antigen virus dalam lesi dan memberikan hasil lebih cepat dibandingkan kultur .
Serologi: Dapat digunakan untuk membedakan antara infeksi primer dan rekuren, serta membantu dalam menentukan status infeksi pada pasien yang tidak memiliki lesi aktif .
Dasar Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan secara klinis berdasarkan temuan lesi khas pada genital dan riwayat yang mendukung infeksi herpes. Pemeriksaan laboratorium seperti PCR atau kultur virus digunakan untuk memastikan diagnosis, terutama pada kasus dengan lesi atipikal atau pada individu dengan risiko tinggi, seperti wanita hamil.¹,⁶
Diagnosis Banding¹,²,³,⁴,⁵
| Kondisi | Persamaan | Perbedaan |
|---|---|---|
| Sifilis | Lesi pada genital, bisa berupa ulkus | Ulkus keras, tidak nyeri, dasar bersih, tidak ada rasa terbakar, tidak ada gejala sistemik yang dominan |
| Kandidiasis (Infeksi Jamur) | Lesi genital, bisa disertai rasa gatal | Plak putih di area genital, dominan pruritus tanpa ulkus atau vesikel, tidak ada cairan serosa yang muncul |
| Ulkus Mole | Ulkus genital yang nyeri, bisa disertai adenitis inguinal | Ulkus lunak, dasar kotor, dengan pembengkakan kelenjar getah bening supuratif (nanah) |
| Gonore | Disuria dan sekret genital | Sekret mukopurulen, tanpa vesikel atau ulkus, tidak ada rasa terbakar pada lesi genital |
| LGV (Lymphogranuloma Venereum) | Lesi genital yang nyeri | Tahap pertama: papul yang berkembang menjadi ulkus kecil, tahap kedua: pembengkakan kelenjar getah bening inguinal yang nyeri dan fluktuatif, dapat menyebabkan fistula |
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Edukasi Pasien
Edukasi mengenai sifat penyakit yang tidak dapat disembuhkan total, melainkan hanya dapat dikendalikan dengan terapi supresif. Pasien perlu memahami pentingnya penghindaran hubungan seksual saat ada lesi aktif untuk mengurangi penularan kepada pasangan seksual.
Pengelolaan Nyeri
Kompres hangat atau analgesik ringan seperti parasetamol atau ibuprofen dapat digunakan untuk mengurangi rasa nyeri atau ketidaknyamanan akibat lesi genital.
Pencegahan Penularan
Pasien disarankan untuk menghindari hubungan seksual saat lesi aktif atau saat ada gejala prodromal (seperti gatal atau terbakar), untuk mengurangi risiko penularan kepada pasangan seksual. Penggunaan kondom dapat mengurangi risiko penularan, meskipun tidak menghilangkannya sepenuhnya.
Kompres Salin Hangat
Kompres salin hangat pada lesi yang terinfeksi dapat membantu meredakan rasa nyeri dan mempercepat penyembuhan kulit,¹,²,³,⁴
Farmakologis
Obat-obatan antiviral adalah inti dari penatalaksanaan HSV-2, terutama untuk mengurangi durasi, keparahan, dan frekuensi rekurensi.⁵,⁶
| Obat | Dosis & Frekuensi | Farmakokinetik |
|---|---|---|
| Asiklovir | 200 mg, 5x/hari selama 5 hari untuk infeksi primer atau rekurensi | Inhibisi sintesis DNA virus dengan menghambat enzim polimerase virus |
| Asiklovir Profilaksis pada Kehamilan | 400 mg, 3x/hari mulai pada minggu ke-36 untuk mencegah rekurensi dan transmisi ke bayi | Sama seperti di atas, untuk mengurangi risiko penularan pada bayi |
| Valasiklovir | 500 mg, 2x/hari sebagai alternatif | Prodrug dari asiklovir yang memiliki bioavailabilitas lebih tinggi dan dosis yang lebih rendah |
Metode Persalinan
Indikasi Persalinan Secara Caesar (SC)
Persalinan caesar dianjurkan jika terdapat lesi aktif atau gejala prodromal pada trimester III atau jika infeksi primer terjadi pada kehamilan trimester III, karena risiko penularan ke bayi sangat tinggi (30-50%)⁷. Pemberian valasiklovir sebagai profilaksis antiviral dapat membantu menurunkan frekuensi rekurensi infeksi pada wanita hamil.
4. Penatalaksanaan Rekurensi
Terapi Supresif: Untuk pasien dengan reakurensi berulang, pengobatan dengan terapi supresif bisa dipertimbangkan. Terapi supresif mengurangi frekuensi lesi dan mengurangi transmisi virus ke pasangan seksual.
Dosis Supresif:
Asiklovir: 400 mg, 2x/hari.
Valasiklovir: 500 mg, 2x/hari.
Terapi ini dapat dilanjutkan selama beberapa bulan atau bahkan lebih lama, tergantung pada frekuensi dan keparahan rekurensi.⁸
5. Penatalaksanaan Kasus Berat (Infeksi Sistemik, Neonatal Herpes, Immunocompromised)
Pada kasus infeksi berat atau pada pasien dengan status imun yang terganggu, terapi intravena (IV) diperlukan.
| Obat | Dosis | Indikasi | Mekanisme Kerja |
|---|---|---|---|
| Asiklovir IV | 5-10 mg/kg BB, 3 kali sehari selama 7-14 hari tergantung keparahan | Terapi lini pertama pada kasus berat seperti neonatal herpes, infeksi pada pasien immunocompromised | Inhibisi DNA polimerase virus, menghambat replikasi virus |
| Foskarnet IV | 40 mg/kg BB, 2 kali sehari | Digunakan pada infeksi HSV yang resisten terhadap asiklovir | Inhibisi polimerase virus tanpa bergantung pada aktivasi oleh thymidine kinase |
6. Komplikasi dan Manajemen Komplikasi
Neonatal Herpes: Neonatal herpes adalah komplikasi serius yang bisa terjadi jika bayi terpapar virus saat melahirkan. Jika ada lesi aktif pada ibu, persalinan caesar sangat disarankan untuk mengurangi risiko penularan.
Retensi Urin: Pada beberapa kasus infeksi HSV-2 yang berat, neuropati refleks vesika bisa menyebabkan retensi urin. Penanganan ini melibatkan penggunaan kateter atau pengobatan untuk mengatasi gangguan urin.⁹,¹⁰
Komplikasi
Neonatal Herpes
Infeksi serius pada bayi yang terpapar saat persalinan, dapat menyebabkan ensefalitis, keratitis, atau infeksi diseminata. Terapi IV asiklovir segera sangat penting untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas. Persalinan caesar dianjurkan jika ibu memiliki lesi aktif.
Infeksi Diseminata
Pada pasien immunocompromised, HSV-2 dapat menyebar ke organ tubuh lain, menyebabkan infeksi yang mengancam jiwa. Pengobatan dengan asiklovir IV adalah lini utama.
Keratitis Herpes
Infeksi pada mata yang dapat menyebabkan kerusakan kornea dan kebutaan. Pengobatan dengan asiklovir topikal dan oral efektif untuk mencegah kerusakan permanen.
Meningitis Herpes Simpleks
Menyebabkan sakit kepala, demam, dan leher kaku. Pengobatan dengan asiklovir IV segera diperlukan untuk mencegah komplikasi neurologis lebih lanjut.
Proctitis Herpes
Peradangan rektum yang menyebabkan nyeri dan perdarahan. Pengobatan dengan asiklovir oral efektif untuk meredakan gejala dan mempercepat penyembuhan.
Retensi Urin
Dapat terjadi pada infeksi HSV-2 berat yang menyebabkan neuropati vesika. Pengobatan dengan kateterisasi diperlukan untuk mengatasi masalah buang air kecil.
Neonatal herpes: bisa SEM (skin-eye-mouth) 40%, Keterlibatan Sistem Saraf Pusat 30%, infeksi diseminata yang mengenai banyak organ 32% dengan mortalitas 30%.
Retensi urin pada kasus berat karena neuropati refleks vesika.¹,⁶,⁷,⁸,⁹,¹⁰
Prognosis¹,²,³
| Dimensi | Prognosis | Keterangan | Determinan Utama |
|---|---|---|---|
| Ad vitam | Bonam | Mortalitas rendah bila diagnosis dan terapi dilakukan tepat waktu | Tidak terjadi komplikasi berat seperti ensefalitis neonatal atau infeksi diseminata |
| Ad functionam | Bonam | Sebagian besar pasien kembali produktif dan fungsi organ pulih | Terapi yang tepat dan dini pada infeksi sistemik dan neonatal herpes |
| Ad sanationam | Dubiam | Bisa sembuh total pada kasus tanpa komplikasi berat; namun berisiko rekurensi | Keberhasilan terapi antiviral, kekebalan tubuh, dan pengelolaan rekurensi |
Edukasi Pasien
Informasi Penyakit
Herpes genitalis disebabkan oleh HSV-2 dan tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Pengobatan dapat mengontrol gejala dan mengurangi penularan ke pasangan seksual.
Pencegahan Penularan
Hindari hubungan seksual saat ada lesi aktif. Penggunaan kondom dapat mengurangi risiko penularan, meskipun tidak menghilangkannya sepenuhnya.
Manajemen Rekurensi
Gunakan terapi antiviral seperti asiklovir atau valasiklovir untuk mencegah rekurensi.
Kehamilan
Pada ibu hamil dengan infeksi aktif, persalinan caesar dianjurkan untuk menghindari penularan ke bayi. Profilaksis antiviral pada minggu ke-36 dapat membantu mencegah rekurensi.¹,²,³,⁴
Kriteria Rujukan
Kasus Berat
Rujuk pasien dengan neonatal herpes, infeksi diseminata, atau pasien immunocompromised untuk pengobatan IV asiklovir segera.
Keratitis Herpes
Rujuk ke dokter mata untuk pengobatan topikal dan oral asiklovir jika ada gejala mata.
Meningitis Herpes
Pasien dengan meningitis herpes simplex harus dirujuk untuk asiklovir IV dan manajemen neurologis.
Lesi Tidak Klasik
Rujuk pasien dengan lesi atipikal atau kecurigaan infeksi lain untuk kultur virus atau PCR HSV.⁵,⁶,⁷,⁸