Trikomoniasis Vaginalis [3A]

Trikomoniasis Vaginalis [3A]


Definisi

Trikomoniasis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis, menyerang vagina, serviks, dan uretra. Infeksi ini ditandai dengan keputihan berbuih berwarna kuning-hijau atau putih, bau amis, gatal, dan kemerahan pada mukosa.¹²

Etiologi

Parasit ini dapat bertahan beberapa jam di permukaan lembap, meskipun penularan melalui kontak tidak langsung jarang terjadi.

Faktor risiko meliputi: multipartner seksual, hubungan tanpa kondom, riwayat IMS sebelumnya, disbiosis vagina, dan kondisi imunodefisiensi termasuk HIV.²,³,⁵,⁶,⁷

Masa Inkubasi

Biasanya berkisar antara 4–28 hari sebelum gejala muncul.²

Klasifikasi¹,²,³

KlasifikasiKeterangan
Asimptomatik±50% kasus, tetap menular.
Simptomatik akutKeputihan berbuih, bau amis, gatal, ± strawberry cervix.
KronikGejala ringan, rekuren, dapat memicu servisitis kronik.

Patofisiologi

Trichomonas vaginalis memiliki afinitas terhadap epitel skuamosa di vagina dan serviks. Setelah penularan melalui hubungan seksual, parasit berikatan dengan sel epitel menggunakan adhesin permukaan, lalu mensekresikan enzim proteolitik seperti kistein protease yang merusak matriks ekstraseluler.

Kerusakan ini memicu reaksi inflamasi lokal dengan pelepasan sitokin (IL-8, TNF-α), peningkatan permeabilitas kapiler, dan infiltrasi neutrofil. Proses ini menyebabkan hiperemia, edema, dan perdarahan subepitel yang khas seperti strawberry cervix.

Metabolisme anaerob parasit menghasilkan produk sampingan yang mengubah pH vagina menjadi lebih basa (5–7), menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan T. vaginalis dan patogen lain.

Gangguan integritas epitel mempermudah masuknya HIV dan patogen IMS lain, meningkatkan risiko transmisi hingga 2 kali lipat.

Infeksi kronis dapat menyebabkan perubahan epitel persisten, servisitis kronik, dan predisposisi terhadap neoplasia intraepitel serviks pada pasien berisiko tinggi.¹,²,⁸,⁹

Anamnesis

Keputihan berwarna kuning-hijau atau putih, berbuih, dan berbau amis (50–70% kasus).

Gatal hebat pada vulva disertai sensasi panas atau terbakar.

Dispareunia (nyeri saat berhubungan seksual) dan disuria ringan.

Gejala muncul setelah masa inkubasi 4–28 hari.²,³

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada trikomoniasis bertujuan mengidentifikasi tanda inflamasi pada genitalia eksterna dan serviks yang khas untuk infeksi Trichomonas vaginalis.

Vulva dan vagina: tampak eritem (kemerahan) akibat vasodilatasi kapiler dari respon inflamasi lokal. Edema dapat muncul karena peningkatan permeabilitas kapiler. Pada beberapa kasus ditemukan ekskoriasi akibat garukan karena pruritus hebat.

Tanda inflamasi lainnya: dapat ditemukan hipersensitivitas saat inspeksi atau palpasi ringan pada dinding vagina atau serviks akibat proses peradangan.

Pemeriksaan spekulum direkomendasikan untuk menilai secara langsung perubahan pada mukosa vagina dan serviks, serta untuk mengambil sampel sekret yang diperlukan untuk pemeriksaan mikroskopis.¹,²,³,⁸

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang bertujuan untuk mengonfirmasi diagnosis dan membedakan trikomoniasis dari penyebab lain keputihan. Berikut adalah metode diagnostik berdasarkan Williams Gynecology edisi 3, CDC STI Treatment Guidelines 2024, dan literatur mikrobiologi terkini:

Pengukuran pH vagina: biasanya 5–7, lebih basa dari normal.

Pap smear: kadang menemukan parasit tetapi dengan sensitivitas rendah.

NAAT/PCR (Nucleic Acid Amplification Test/Polymerase Chain Reaction): metode molekuler standar emas untuk mendeteksi DNA atau RNA T. vaginalis, dengan sensitivitas >95%. Sangat bermanfaat pada kasus rekuren atau bila pemeriksaan mikroskopis negatif.

Sniff test (Whiff test): dilakukan dengan meneteskan larutan KOH 10% pada sekret vagina. Bau amis menyengat yang muncul akibat pelepasan amina volatil mendukung diagnosis vaginosis bakterialis. Tes ini tidak spesifik untuk trikomoniasis, tetapi dapat positif pada kasus ko-infeksi BV dan trikomoniasis.²,³,⁹,¹¹,¹³

Dasar Diagnosis

Klinis: keputihan berbuih, bau amis, gatal, ± strawberry cervix.

Konfirmasi: wet mount menunjukkan protozoa motil (dalam <1 jam setelah pengambilan).

Jika hasil wet mount negatif namun gambaran klinis kuat → lakukan NAAT/PCR.²,³,⁹,¹¹

Diagnosis Banding²,³,⁴

Diagnosis BandingPersamaan dengan TrikomoniasisPerbedaan dengan Trikomoniasis
Vaginosis bakterialisSama-sama dapat menyebabkan keputihan dan pH vagina meningkat.Keputihan homogen tanpa gelembung, bau amis lebih kuat, jarang gatal, ditemukan clue cells pada sediaan basah.
Kandidiasis vulvovaginalSama-sama menimbulkan gatal dan iritasi vulva.Keputihan kental menggumpal seperti susu, pH <4,5, ditemukan hifa atau blastospora pada KOH.
Servisitis gonore/klamidiaSama-sama dapat disertai disuria dan discharge serviks.Sekret mukopus dari serviks, contact bleeding, tidak berbuih, hasil NAAT positif untuk N. gonorrhoeae atau C. trachomatis.
Penyakit radang panggul (stadium awal)Sama-sama dapat disertai nyeri perut bawah dan discharge vagina.Nyeri goyang serviks, nyeri adneksa, demam, discharge tidak berbuih, biasanya disertai tanda infeksi pelvis.
Atrofi vaginaSama-sama dapat menimbulkan nyeri saat hubungan seksual.Mukosa tipis, kering, pucat, pH meningkat, biasanya pada wanita pascamenopause, tanpa gambaran parasit pada pemeriksaan mikroskopis.

Penatalaksanaan

Non-farmakologis

Edukasi untuk memberitahu pasangan seksual; semua pasangan harus diobati meskipun tidak menunjukkan gejala.

Hindari hubungan seksual sampai terapi selesai dan gejala hilang.²,³

Farmakologis¹,²,⁴,⁹

Obat & SediaanDosis & Lama TerapiFarmakodinamikCatatan
Metronidazol (tablet 250 mg, 500 mg; suspensi oral; infus)2 g oral dosis tunggal atau 500 mg oral 2×/hari selama 7 hariMenghambat sintesis DNA pada protozoa anaerobHindari alkohol selama & 24 jam setelah terapi
Tinidazol (tablet 500 mg, 1 g)2 g oral dosis tunggalSama seperti metronidazol, waktu paruh lebih panjangHindari alkohol selama & 72 jam setelah terapi
Secnidazol (granul oral 1 g)2 g oral dosis tunggalMenghambat sintesis DNA; kepatuhan tinggi karena dosis tunggalAman untuk pasien dengan kepatuhan rendah

HIV (+): skrining rutin, terapi agresif karena koinfeksi tinggi (≤53%).²,⁹

Komplikasi

Peningkatan risiko transmisi HIV: kerusakan epitel genital dan peningkatan infiltrasi sel imun mempermudah masuknya HIV.

Komplikasi obstetri: kelahiran prematur, ketuban pecah dini, dan bayi berat lahir rendah yang disebabkan oleh inflamasi intrauterin dan gangguan integritas membran ketuban.

Reinfeksi: sering terjadi bila pasangan tidak diterapi secara bersamaan.

Servisitis kronik: terjadi akibat inflamasi berulang dan persisten pada mukosa serviks.

Ko-infeksi IMS lain: seperti gonore, klamidia, dan BV, yang dapat memperparah gejala dan mempersulit penatalaksanaan.²,³,⁸,⁹

Perhatian pada Kehamilan

Trikomoniasis selama kehamilan meningkatkan risiko kelahiran prematur, ketuban pecah dini, dan bayi berat lahir rendah.

Penularan vertikal ke bayi dapat terjadi, meskipun jarang, dan dapat menyebabkan vulvovaginitis atau uretritis pada neonatus.

Metronidazol dosis standar tetap menjadi pilihan terapi untuk ibu hamil dan aman digunakan pada semua trimester, namun harus dengan pengawasan medis ketat.

Tujuan pengobatan adalah menghilangkan gejala, mengurangi risiko penularan ke pasangan, dan meminimalkan komplikasi obstetri.²,³,⁸

Prognosis

DimensiPrognosisKeteranganDeterminan Utama
Ad vitamBonamMortalitas rendah bila diagnosis dan terapi tepat waktuTidak terjadi komplikasi berat seperti infeksi sistemik atau HIV lanjut
Ad functionamBonamSebagian besar pasien dapat kembali beraktivitas normalTerapi adekuat dan pengobatan pasangan seksual
Ad sanationamDubiaDapat sembuh total pada kasus tanpa komplikasi; berisiko rekurensiKepatuhan terapi, pencegahan reinfeksi, dan penanganan ko-infeksi

Edukasi

Habiskan seluruh antibiotik meskipun gejala sudah membaik.

Pasangan harus diterapi secara bersamaan dan hindari hubungan seksual selama pengobatan.

Penggunaan kondom efektif mencegah IMS termasuk trikomoniasis.²,³

Kriteria Rujukan

Pasien dengan komplikasi obstetri (seperti ketuban pecah dini, kelahiran prematur) atau kehamilan berisiko tinggi.

Gejala yang menetap atau kambuh setelah terapi standar.

Kecurigaan atau konfirmasi adanya ko-infeksi IMS yang memerlukan penanganan khusus (seperti HIV, gonore, sifilis).

Pasien dengan gangguan imun berat (HIV/AIDS stadium lanjut, penggunaan obat imunosupresan jangka panjang).

Pasien anak atau bayi baru lahir dengan dugaan infeksi genital atau uretritis.

Adanya komplikasi serius seperti penyakit radang panggul atau sepsis.


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini