Torsi dan Ruptur Kista [3B]

Torsi dan Ruptur Kista [3B]


Definisi

Torsi kista ovarium adalah kegawatdaruratan ginekologi berupa perputaran ovarium dengan atau tanpa tuba falopi di sekitar pedikel vaskularnya yaitu di ligament infundibulopelvic dan ligament utero-ovarian. Kondisi ini mengganggu aliran darah vena dan arteri, menyebabkan iskemia ovarium dan nyeri abdomen akut.

Ruptur kista ovarium adalah pecahnya dinding kista ovarium yang menyebabkan isi kista keluar ke rongga peritoneum. Hal ini dapat menimbulkan iritasi peritoneal atau hemoperitoneum, tergantung jenis dan vaskularisasi kista.³


Epidemiologi

Torsi ovarium

Kegawatdaruratan ginekologi yang mencakup sekitar 2–3% kasus abdomen akut pada wanita.

Paling sering terjadi pada usia reproduktif

Berkaitan dengan kista ovarium berukuran ≥5 cm.

Ruptur kista ovarium

Paling sering mengenai kista fungsional, terutama kista korpus luteum.

Banyak terjadi pada wanita usia reproduktif

Khususnya pada fase luteal atau saat terjadi peningkatan vaskularisasi ovarium.³,⁷,⁸


Etiologi

Torsi kista ovarium terjadi akibat perputaran ovarium pada pedikel vaskularnya, biasanya dipicu oleh massa atau kista ovarium yang meningkatkan berat dan mobilitas ovarium.

Ruptur kista ovarium disebabkan oleh peningkatan tekanan intra-kista yang melampaui kekuatan dinding kista, menyebabkan robekan dan keluarnya isi kista ke rongga peritoneum.³


Faktor Risiko

Ukuran kista ovarium ≥5 cm.

Jenis kista tertentu, terutama kista dermoid dan kista korpus luteum.

Aktivitas fisik mendadak atau trauma abdomen.

Kehamilan dan terapi induksi ovulasi yang meningkatkan vaskularisasi dan mobilitas ovarium.

Riwayat kista ovarium berulang atau ovarium dengan mobilitas tinggi.³,⁸


Klasifikasi

1. Berdasarkan Mekanisme

Torsi ovarium

Torsi parsial: perputaran <360°, aliran darah belum sepenuhnya terhenti, gejala dapat bersifat intermiten.

Torsi total: perputaran ≥360°, menyebabkan gangguan aliran vena dan arteri dengan risiko tinggi iskemia dan nekrosis ovarium.

Ruptur kista ovarium

Ruptur non-hemoragik: pecahnya kista tanpa perdarahan intraperitoneal bermakna.

Ruptur hemoragik: disertai perdarahan intraperitoneal yang dapat menyebabkan instabilitas hemodinamik.


2. Berdasarkan Jenis Kista

Kista fungsional: meliputi kista folikular dan kista korpus luteum.

Kista non-fungsional/patologis: meliputi kista dermoid, endometrioma, dan kistadenoma.³


Patofisiologi

Torsi Kista Ovarium

Perputaran ovarium pada pedikel vaskular menyebabkan hambatan aliran vena, yang mengakibatkan kongesti dan edema ovarium.

Edema meningkatkan tekanan intrakapsular dan menekan aliran arteri, menyebabkan iskemia jaringan ovarium.

Jika tidak segera ditangani, iskemia yang berlanjut dapat menyebabkan nekrosis ovarium.

Nyeri abdomen akut timbul akibat iskemia dan peregangan kapsul ovarium. Pada torsi parsial, gejala bersifat intermiten.³,⁷

Ruptur Kista Ovarium

Peningkatan tekanan dalam kista akibat perubahan hormonal, aktivitas fisik, atau trauma menyebabkan robekan dinding kista.

Isi kista yang keluar ke rongga peritoneum menimbulkan iritasi peritoneal dan nyeri akut.

Pada kista hemoragik, ruptur pembuluh darah ovarium menyebabkan hemoperitoneum.

Perdarahan masif dapat menimbulkan instabilitas hemodinamik hingga syok hipovolemik.³,⁸


Anamnesis

Nyeri perut bawah mendadak yang bersifat unilateral dan berat merupakan keluhan utama. Pada torsi ovarium, nyeri biasanya menetap dan dapat disertai mual serta muntah akibat rangsangan viseral.

Pada ruptur kista ovarium, nyeri muncul tiba-tiba dan dapat menjalar ke bahu atau seluruh abdomen akibat iritasi peritoneal.

Gejala sistemik seperti pusing, lemas, demam atau sinkop mengarah pada ruptur hemoragik dengan perdarahan intraperitoneal signifikan.

Riwayat kista ovarium sebelumnya, kehamilan, atau terapi induksi ovulasi sering ditemukan dan meningkatkan kecurigaan diagnosis.

Tanyakan hari pertama haid terakhir, keteraturan siklus menstruasi, dan kemungkinan kehamilan untuk menyingkirkan diagnosis banding, terutama kehamilan ektopik.³,⁷,⁸


Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum dapat tampak sakit berat. Pada ruptur hemoragik ditemukan tanda instabilitas hemodinamik berupa takikardi, hipotensi, dan pucat.

Pemeriksaan abdomen menunjukkan nyeri tekan hebat pada perut bawah, sering unilateral, disertai defense muskular atau tanda rangsang peritoneum pada ruptur kista.

Palpasi abdomen kadang menemukan massa adneksa dengan nyeri tekan, terutama pada torsi ovarium.

⭐ Pemeriksaan pelvis/bimanual dapat menunjukkan nyeri gerak serviks (goyang portio)dan pembesaran adneksa yang nyeri. Pemeriksaan ini sering terbatas akibat nyeri pasien. Nyeri ini menandakan iritasi peritoneum pelvis dan dapat ditemukan pada ruptur kista ovarium hemoragik, namun tidak spesifik dan lebih khas pada kehamilan ektopik atau PID.

Pada kasus berat, ditemukan tanda syok hipovolemik yang menandakan perdarahan intraperitoneal signifikan. Kondisi ini memerlukan tindakan emergensi.²,³


Pemeriksaan Penunjang

USG transvaginal atau abdominal merupakan pemeriksaan utama. Pada torsi, ditemukan ovarium membesar, edema, dan posisi abnormal. Pada ruptur kista, tampak cairan bebas intraperitoneal dan dinding kista yang tidak utuh.

Tes kehamilan (β-hCG) wajib dilakukan pada semua wanita usia reproduktif untuk menyingkirkan kehamilan ektopik sebagai diagnosis banding utama.

Pemeriksaan laboratorium meliputi hemoglobin dan hematokrit untuk menilai derajat perdarahan pada ruptur hemoragik. Leukositosis dapat ditemukan akibat respons inflamasi.

CT-scan atau MRI hanya dipertimbangkan bila diagnosis masih meragukan dan kondisi pasien stabil. Pemeriksaan ini tidak boleh menunda tindakan bedah pada kasus gawat darurat.³,⁷


Diagnosis Banding³

DiagnosisPerbedaan dengan Torsi/Ruptur Kista Ovarium
Kehamilan ektopik tergangguDisertai β-hCG positif dan sering terdapat massa adneksa dengan cairan bebas.
Apendisitis akutNyeri berawal dari epigastrium/periumbilikal lalu berpindah ke kuadran kanan bawah, tanpa massa adneksa.
Kista ovarium hemoragik tanpa rupturNyeri lebih ringan dan tidak disertai hemoperitoneum signifikan.
Endometriosis rupturBiasanya terdapat riwayat nyeri pelvis kronik yang memburuk akut.
Degenerasi mioma uteriNyeri berasal dari uterus dengan pembesaran uterus pada pemeriksaan fisik atau USG.

Penatalaksanaan

Prinsip Umum: Kondisi gawat darurat yang memerlukan stabilisasi hemodinamik segera (jalan napas, oksigen, cairan intravena) dan evaluasi bedah secepatnya.

Non-Farmakologis:

Observasi ketat dapat dipertimbangkan pada ruptur kista fungsional ringan dengan kondisi hemodinamik stabil, nyeri terkontrol, dan cairan intraperitoneal minimal, disertai pemantauan klinis dan USG serial.³,⁵

Farmakologis

Terapi farmakologis bersifat simptomatik dan suportif, bukan definitif, serta bertujuan stabilisasi pra-operatif dan pasca-operatif.³,⁵

Obat & SediaanDosis dan FrekuensiFarmakokinetik
Ketorolac injeksi30 mg IV tiap 6–8 jam (maks. 120 mg/hari)NSAID; menghambat COX → menurunkan prostaglandin → analgesik kuat
Morfin injeksi2–5 mg IV, titrasi sesuai nyeriAgonis opioid μ; menekan transmisi nyeri sentral
Ondansetron injeksi4 mg IV tiap 8 jam bila perluAntagonis reseptor 5-HT₃; antiemetik
Ringer Laktat / NaCl 0,9%Bolus 500–1000 mL, lanjut sesuai responsRestorasi volume intravaskular
Packed Red Cell (PRC)Sesuai kebutuhan klinis (Hb <7 g/dL atau syok)Meningkatkan kapasitas angkut oksigen
Cefazolin injeksi1–2 g IV dosis tunggal pra-operatifAntibiotik profilaksis spektrum Gram positif

Operatif

Torsi kista ovarium merupakan indikasi operasi emergensi. Tindakan pilihan adalah detorsi laparoskopi untuk memulihkan aliran darah, diikuti kistektomi bila terdapat kista penyebab dan jaringan ovarium masih viabel. Terutama jika terjadi < 36 jam.

Ooforektomi atau salpingo-ooforektomi dilakukan bila ditemukan nekrosis ovarium ireversibel, curiga keganasan, post menopause, ruptur luas, atau kerusakan jaringan yang tidak memungkinkan preservasi fungsi.

Ruptur kista ovarium dengan perdarahan aktif memerlukan laparoskopi atau laparotomi untuk mengontrol perdarahan, mengevakuasi hemoperitoneum, dan melakukan kistektomi sesuai kondisi jaringan serta keinginan fertilitas pasien.

Pendekatan laparoskopi diprioritaskan bila kondisi hemodinamik stabil karena memiliki morbiditas lebih rendah dan pemulihan lebih cepat. Laparotomi dipilih pada pasien tidak stabil atau dengan perdarahan masif.

Pada anak dan remaja, dianjurkan detorsi dengan preservasi ovarium meskipun tampak sianotik, karena fungsi ovarium dapat pulih setelah reperfusi.³,⁵


Catatan

Penundaan operasi meningkatkan risiko nekrosis ovarium dan infertilitas.

Penilaian viabilitas ovarium bersifat intraoperatif, tidak ditentukan semata oleh tampilan warna awal.³

Follow-up:

Pemantauan tanda vital ketat pasca operasi.

USG ulang pasca operasi: Dilakukan 6–12 minggu pasca tindakan untuk memastikan resolusi kista dan mengevaluasi komplikasi residu.⁵


Komplikasi

Nekrosis ovarium terjadi akibat torsi yang tidak segera ditangani. Iskemia berkepanjangan menyebabkan kerusakan jaringan ovarium permanen dan memerlukan ooforektomi.

Peritonitis dapat timbul pada ruptur kista ovarium akibat iritasi peritoneum oleh isi kista, terutama kista dermoid atau endometrioma.

Hemoperitoneum dan syok hipovolemik terjadi pada ruptur kista hemoragik dengan perdarahan intraperitoneal masif yang tidak terkontrol.

Infeksi intraabdomen dapat berkembang pasca ruptur atau pasca bedah bila terjadi kontaminasi rongga peritoneum atau penanganan terlambat.

Gangguan fertilitas dapat terjadi akibat kehilangan jaringan ovarium setelah ooforektomi atau kerusakan ovarium bilateral yang menurunkan cadangan ovarium.³,⁵


Prognosis

Ad vitam: Bonam bila diagnosis dan tindakan dilakukan segera; dapat menjadi malam bila terjadi keterlambatan penanganan yang menyebabkan syok hemoragik atau peritonitis berat.

Ad functionam: Bonam hingga malam, tergantung keberhasilan preservasi ovarium; fungsi reproduksi menurun bila diperlukan ooforektomi unilateral atau bilateral akibat nekrosis ovarium.

Ad sanationam: Bonam bila dilakukan pembedahan adekuat dan pemantauan pascaoperatif yang baik; kekambuhan jarang terjadi bila penyebab dasar telah teratasi.³,⁵


Edukasi

Jelaskan bahwa nyeri perut bawah mendadak merupakan tanda bahaya yang memerlukan pemeriksaan segera di fasilitas kesehatan.

Anjurkan pasien untuk segera ke IGD bila nyeri memberat, disertai pusing, muntah hebat, atau perdarahan pervaginam.

Tekankan pentingnya kontrol dan pemantauan berkala pada pasien dengan kista ovarium, terutama bila ukuran kista ≥5 cm.

Edukasi mengenai kepatuhan tindak lanjut pascaoperatif, termasuk kontrol klinis dan USG sesuai anjuran.

Berikan konseling mengenai risiko kekambuhan serta pentingnya segera mencari pertolongan medis bila keluhan serupa muncul kembali.


Kriteria Rujukan

Semua kecurigaan torsi kista ovarium harus dirujuk segera ke fasilitas kesehatan dengan layanan bedah ginekologi untuk tindakan operatif emergensi.

Ruptur kista ovarium dengan nyeri hebat, tanda iritasi peritoneum, atau instabilitas hemodinamik wajib dirujuk segera untuk evaluasi dan penanganan bedah.

Rujukan segera dilakukan bila ditemukan tanda syok (hipotensi, takikardi, pucat), penurunan hemoglobin, atau kecurigaan hemoperitoneum masif.

Pasien wanita hamil dengan dugaan torsi atau ruptur kista ovarium harus dirujuk ke fasilitas rujukan untuk penilaian dan tindakan emergensi.

Rujukan dilakukan setelah stabilisasi awal (jalan napas, pernapasan, sirkulasi) tanpa menunda tindakan definitif.²,³


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini