Sindrom Discar Genital (Gonore dan Non Gonore) [4A]

Sindrom Discar Genital (Gonore dan Non Gonore) [4A]


Definisi

Gonore adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi Neisseria gonorrhoeae, bakteri diplokokus Gram-negatif yang menyerang epitel kolumnar mukosa, terutama pada saluran urogenital, sehingga menimbulkan inflamasi uretra dan serviks.

Uretritis Non-Gonore (NGU) adalah peradangan uretra yang tidak disebabkan oleh N. gonorrhoeae, melainkan oleh patogen lain seperti Chlamydia trachomatis, Mycoplasma genitalium, Trichomonas vaginalis, atau virus herpes simpleks.¹,²

Gonorhoe disertai dengan servisitis
Gonorhoe disertai dengan servisitis

Etiologi

Gonore: Disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, diplokokus Gram-negatif yang sangat infeksius dan menyerang epitel kolumnar.

Non-Gonore (NGU):

Chlamydia trachomatis — penyebab paling umum uretritis non-gonore.

Mycoplasma genitalium — berkontribusi terhadap uretritis persisten dan rekuren.

Trichomonas vaginalis — protozoa motil yang menyebabkan keputihan dan inflamasi mukosa.

Ureaplasma urealyticum dan Herpes simplex virus (HSV) — penyebab lain yang jarang namun relevan.

Faktor non-infeksius seperti trauma, iritasi kimia (sabun, spermisida), atau alat kontrasepsi juga dapat memicu NGU.¹,²,³,⁴,⁵

Perkembangan Klinis

Gonore tidak memiliki klasifikasi stadium formal, namun secara klinis dapat berkembang sebagai berikut:

Lokal: infeksi terbatas pada mukosa uretra atau serviks.

Ascending (komplikasi atas): menyebar ke saluran reproduksi atas, menyebabkan PID atau epididimitis.

Diseminata (DGI): menyebar secara sistemik, menimbulkan arthritis septik, dermatitis, atau endokarditis.

NGU tidak diklasifikasikan dalam stadium, namun dapat dibedakan secara klinis:

Akut: gejala berlangsung <30 hari.

Persisten/rekuren: gejala menetap atau berulang setelah pengobatan.¹,²

Patofisiologi

Gonore: Neisseria gonorrhoeae menempel pada sel epitel kolumnar melalui struktur pili dan protein Opa, kemudian menginvasi mukosa dan menstimulasi pelepasan sitokin proinflamasi serta rekrutmen neutrofil. Inflamasi ini menyebabkan gejala lokal seperti disuria dan discharge purulen.

NGU:

Chlamydia trachomatis menginfeksi sel epitel kolumnar secara intraseluler, menginduksi inflamasi kronis yang dapat berkembang menjadi PID.

Mycoplasma genitalium memicu inflamasi melalui adhesin dan menghambat apoptosis sel epitel.

Trichomonas vaginalis merusak epitel dan meningkatkan pH vagina melalui aktivitas proteolitik dan gerakan flagela, menyebabkan keputihan berbusa dan tampilan serviks seperti strawberry.⁴,⁶

Anamnesis

Gonore:

Gejala khas meliputi discharge purulen dari uretra atau serviks, disuria (nyeri saat berkemih), dan perdarahan postkoital atau antarmenstruasi.

Gejala muncul 2–7 hari setelah paparan seksual. Disuria terjadi akibat inflamasi uretra, sedangkan discharge merupakan eksudat dari reaksi inflamasi mukosa.

NGU:

Disuria, pruritus uretra, dan cairan bening hingga mukopurulen dari uretra.

Pada wanita, terdapat keputihan abnormal, nyeri perut bawah, dan terkadang perdarahan antarmenstruasi (terutama pada infeksi klamidia).

T. vaginalis menyebabkan keputihan berbusa kekuningan dengan bau khas dan penampilan serviks seperti strawberry.¹,²,⁴

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik bertujuan menilai tanda-tanda inflamasi lokal pada saluran urogenital dan mengevaluasi kemungkinan komplikasi.

Gonore:

Laki-laki: cairan purulen keluar dari meatus uretra, eritem, dan nyeri tekan pada penis.

Perempuan: serviks tampak hiperemis, mudah berdarah saat disentuh, dan keputihan purulen di kanalis servikalis.

NGU:

Uretritis klamidia/mikoplasma: discharge mukoid atau jernih (lebih sedikit dari gonore); uretra tampak eritem dan sensitif.

Trikomoniasis: keputihan berbusa kehijauan dengan bau amis; serviks tampak seperti "strawberry" (bercak petekie akibat inflamasi subepitel).

Herpes genitalis: vesikel/ulkus nyeri pada vulva, penis, atau perineum; limfadenopati inguinal.²,³,⁴,⁵,⁶,⁹

Pemeriksaan Tambahan

NAAT (Nucleic Acid Amplification Test): Metode utama dan paling sensitif untuk mendeteksi DNA atau RNA dari N. gonorrhoeae, C. trachomatis, M. genitalium, dan T. vaginalis secara bersamaan.

Diagnosis Banding²,³,⁴,⁵,⁷,⁸,¹⁰

DiagnosisPersamaanPerbedaan Klinis Singkat
Uretritis klamidiaDisuria, keputihan seperti gonoreDischarge tidak purulen, onset lebih lambat, NAAT positif klamidia.
Uretritis mikoplasmaDisuria, dischargeUretritis persisten setelah pengobatan empiris, PCR positif M. genitalium.
TrikomoniasisKeputihan, disuria seperti NGUKeputihan berbusa kekuningan dengan bau khas, serviks strawberry, wet mount/NAAT positif.
Herpes genitalisDisuria, nyeri genitalAdanya ulkus atau vesikel nyeri, PCR HSV positif.
Iritasi mekanik/kimiawiDisuria ringan, discharge ringanTidak ditemukan patogen, riwayat penggunaan sabun, spermisida atau trauma lokal.

Komplikasi

Berikut komplikasi utama gonore dan NGU, beserta penjelasan patofisiologisnya:

Infertilitas: akibat kerusakan saluran reproduksi atas dari infeksi berulang atau tidak tertangani, terutama melalui fibrosis dan obstruksi tuba.

Artritis septik: infeksi gonore dapat menyebar melalui darah ke sendi, terutama pada wanita. Terjadi melalui invasi bakteri ke mukosa dan masuk ke sirkulasi sistemik (diseminasi).

Peningkatan risiko HIV: infeksi IMS menyebabkan kerusakan epitel mukosa dan meningkatkan rekrutmen sel imun, sehingga memudahkan masuknya HIV.¹,²,³,⁵,⁶,⁹,¹¹

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Edukasi pasien dan pasangan: pentingnya praktik seks aman, penggunaan kondom secara konsisten, dan penghentian aktivitas seksual selama masa pengobatan.

Terapi pasangan: semua pasangan seksual dalam 60 hari terakhir harus diperiksa dan diobati untuk mencegah siklus reinfeksi.

Pelaporan dan konseling IMS: diprioritaskan untuk pasien dengan beberapa pasangan atau faktor risiko tinggi lainnya.²,⁸,¹⁰,¹¹

Farmakologis

Gonore

Regimen terapi gonore dibedakan berdasarkan ada tidaknya komplikasi:

1. Tanpa Komplikasi (Urogenital, Faring, Rektal)

Ceftriaxone 500 mg IM dosis tunggal (berat badan <150 kg)

Ceftriaxone 1 g IM dosis tunggal (berat badan ≥150 kg)

Tambahkan Doxycycline 100 mg oral 2x/hari selama 7 hari jika belum dikecualikan adanya ko-infeksi C. trachomatis

Alternatif oral: Cefixime 800 mg oral dosis tunggal bila injeksi tidak memungkinkan

2. Dengan Komplikasi (PID, epididimitis, diseminasi, artritis septik)

Ceftriaxone 1 g IM/IV per hari selama 7–14 hari, bergantung pada beratnya infeksi dan respons terapi

Tambahkan Doxycycline dan/atau Metronidazole bila ada koinfeksi sesuai kondisi klinis

Rawat inap untuk kasus diseminasi atau risiko tinggi

3. Alternatif jika alergi beta-laktam:

Gentamicin 240 mg IM + Azithromycin 2 g oral dosis tunggal (lakukan uji sensitivitas bila tersedia).¹,²,⁹

Terapi Non Gonorhoe

InfeksiObat & DosisMekanisme/Farmakokinetik
KlamidiaAzithromycin 1 g oral dosis tunggalMakrolida; menghambat sintesis protein bakteri.⁹
TrikomoniasisMetronidazole 2 g oral dosis tunggalNitroimidazol; menghasilkan radikal bebas merusak DNA.¹⁰ ¹¹
MikoplasmaAzithro 1 g stat atau Moxifloxacin 400 mg/hari 7–14 hariFluorokuinolon; menghambat DNA gyrase.³ ⁷

Gonore pada Wanita Hamil

Terapi utama:

Ceftriaxone 500 mg IM dosis tunggal tetap menjadi pilihan aman dan efektif.

Tambahan jika ada ko-infeksi klamidia:

Azithromycin 1 g oral dosis tunggal lebih disukai daripada doxycycline karena doxycycline kontraindikasi pada kehamilan.

Alternatif:

Cefixime 800 mg oral dapat digunakan bila injeksi tidak memungkinkan, meskipun efektivitasnya lebih rendah.

Tidak direkomendasikan:

Fluorokuinolon (misal ofloxacin) dan doxycycline kontraindikasi dalam kehamilan.

Pencegahan neonatal:

Semua bayi baru lahir dari ibu dengan gonore harus diberi profilaksis eritromisin/tetrasiklin mata segera pasca lahir untuk mencegah oftalmia neonatorum.¹,²

Tindakan Operatif

Drainase abses Bartholin atau periuretra: bila ditemukan abses yang tidak merespon terapi konservatif.⁵

Metode Persalinan & Pencegahan Neonatal

Persalinan pervaginam diperbolehkan bila infeksi telah diterapi adekuat dan tidak ada tanda infeksi aktif.

Seksio sesarea hanya dilakukan bila ada indikasi obstetrik.

Profilaksis mata bayi dengan salep eritromisin atau tetrasiklin segera pasca lahir untuk mencegah oftalmia neonatorum.⁹

Pendekatan Persalinan

Persalinan pervaginam: Diperbolehkan setelah terapi yang adekuat dan bila tidak ada tanda infeksi aktif pada jalan lahir.

Seksio sesarea: Bukan indikasi rutin untuk gonore/NGU; hanya dilakukan jika ada indikasi obstetri lain (seperti ketuban pecah dini berkepanjangan atau gawat janin).

Profilaksis bayi: Aplikasikan eritromisin atau tetrasiklin pada mata bayi segera setelah lahir untuk mencegah oftalmia neonatorum.⁹

Risiko Penularan pada Bayi

Gonore: Risiko transmisi vertikal 30–50% pada ibu yang tidak diobati; dapat menyebabkan oftalmia neonatorum, sepsis, dan artritis septik pada neonatus.

Klamidia: Risiko transmisi vertikal 50–70%; menyebabkan konjungtivitis inklusi neonatal (5–14 hari setelah lahir) dan pneumonia interstisial.

Pencegahan: Skrining antenatal, terapi ibu hamil, dan profilaksis mata bayi.²,⁴,⁹


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini