
Polip Endoserviks [2]
Definisi
Polip endoserviks adalah pertumbuhan jinak mukosa endoserviks berbentuk massa bertangkai yang berasal dari kanal serviks. Polip ini sering ditemukan secara insidental saat pemeriksaan ginekologi, terutama pada wanita usia reproduktif hingga perimenopause.²⁻⁴


Epidemiologi
Prevalensi sekitar 2–5% pada wanita dewasa, menjadikannya salah satu kelainan serviks jinak tersering.
Usia tersering pada 40–60 tahun, terutama fase perimenopause.
Lebih sering pada multipara dan kondisi dengan paparan estrogen tinggi.
Sebagian besar asimptomatik dan ditemukan insidental saat pemeriksaan serviks dengan spekulum atau skrining rutin.
Risiko keganasan sangat rendah (<1%), namun meningkat pada pascamenopause, polip >1 cm, atau perdarahan uterus abnormal persisten.²-⁶
Etiologi
Stimulasi estrogen kronik yang memicu proliferasi mukosa endoserviks dan kelenjar mukosa.
Inflamasi serviks kronik (servisitis) yang memicu perubahan reaktif dan hiperplasia stroma fibrovaskular.
Trauma serviks berulang dari persalinan pervaginam, prosedur ginekologi, atau manipulasi serviks yang menimbulkan proses perbaikan jaringan berlebihan.
Multiparitas yang berkaitan dengan paparan hormonal dan trauma mekanik serviks.³-⁹
Klasifikasi
Berdasarkan lokasi asalnya
Polip Endoserviks
Berasal dari kanal endoserviks (epitel kolumnar mukosekretorik).
Istilah polip serviks umumnya merujuk pada polip endoserviks
Paling sering ditemukan.
Umumnya bertangkai, lunak, berwarna merah muda–merah, dan mudah berdarah.
Sering menonjol keluar melalui ostium serviks eksternum.
Polip Ektoserviks
Berasal dari permukaan ektoserviks (epitel skuamosa).
Lebih jarang dibanding polip endoserviks.
Biasanya berukuran kecil, kurang vaskular, dan tidak mudah berdarah.
Lebih sering ditemukan pada wanita pascamenopause.¹⁰⁻¹¹
Patofisiologi
Paparan estrogen berlebih atau berkepanjangan, estrogen merangsang proliferasi epitel kolumnar endoserviks dan kelenjar mukosa, meningkatkan pertumbuhan jaringan.
Inflamasi serviks kronik dan iritasi berulang, servisitis kronik atau trauma serviks memicu respons perbaikan jaringan berulang, memperkuat efek proliferatif estrogen.
Hiperplasia mukosa endoserviks, terjadi penebalan mukosa lokal disertai pembentukan stroma fibrovaskular sebagai dasar massa jinak.
Pembentukan massa bertangkai (polip), jaringan hiperplastik menonjol ke lumen kanal serviks dan membentuk polip bertangkai yang dapat menjulur ke ostium serviks.
Peningkatan vaskularisasi superfisial, pembuluh darah dalam stroma polip bersifat rapuh, sehingga polip mudah berdarah saat terkena trauma ringan seperti koitus atau inspeksi.
Manifestasi klinis, sebagian besar polip asimptomatik. Bila bergejala, muncul perdarahan postkoital, perdarahan intermenstrual, atau keputihan kronik akibat sekresi mukus berlebih.³-⁵,¹³-¹⁵
Anamnesis
Sebagian besar asimptomatik, sering ditemukan secara insidental saat pemeriksaan serviks rutin atau skrining.
Perdarahan uterus abnormal, terutama perdarahan postkoital atau intermenstrual, merupakan keluhan khas pada polip yang bergejala.
Keputihan kronik (mukoid), umumnya tanpa bau menyengat dan tanpa gejala infeksi sistemik.
Riwayat usia dan status menopause penting ditanyakan; perdarahan pada wanita pascamenopause merupakan red flag yang memerlukan evaluasi lanjut.
Riwayat obstetri dan ginekologi, termasuk multiparitas, persalinan pervaginam berulang, dan prosedur serviks sebelumnya, dapat menjadi faktor predisposisi.
Riwayat skrining serviks, termasuk hasil Pap smear terakhir, untuk menilai risiko lesi pramaligna atau keganasan.²-⁶
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi dengan spekulum adalah kunci diagnosis: tampak massa bertangkai, lunak, berwarna merah muda–merah, menonjol dari ostium serviks.
Polip mudah berdarah saat tersentuh ringan karena vaskularisasi yang rapuh.
Lokasi asal dari kanal serviks; mukosa serviks sekitar umumnya normal.
Pemeriksaan bimanual biasanya tidak menunjukkan kelainan; dilakukan untuk menyingkirkan patologi ginekologis lain.
Tanda peringatan (red flag): ukuran >1 cm, bentuk tidak teratur, permukaan nekrotik atau ulseratif, atau perdarahan hebat—terutama pada pascamenopause—memerlukan evaluasi lanjut.²-⁶
Pemeriksaan Penunjang
Pap smear: untuk menyingkirkan lesi pramaligna atau keganasan serviks, terutama bila ada perdarahan postkoital atau temuan inspeksi mencurigakan.
USG transvaginal: dipertimbangkan bila ada perdarahan uterus abnormal untuk mengevaluasi patologi intrauterin lain (misalnya polip endometrium atau hiperplasia).
Histopatologi (wajib bila diekstirpasi): merupakan standar konfirmasi untuk memastikan sifat jinak dan menyingkirkan keganasan, khususnya pada pascamenopause atau polip >1 cm.
Laboratorium rutin: tidak spesifik dan umumnya tidak diperlukan, kecuali untuk evaluasi anemia bila ada perdarahan kronik.³-⁶
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Perbedaan dengan Polip Endoserviks |
|---|---|
| Mioma serviks | Konsistensi keras, tidak mudah berdarah, tidak lunak |
| Kanker serviks | Lesi tidak bertangkai, permukaan tidak teratur atau ulseratif, perdarahan kontak hebat |
| Polip endometrium | Berasal dari kavum uteri, tidak selalu tampak pada inspeksi serviks |
| Ektopi serviks | Mukosa merah, datar, tidak bertangkai, tidak berupa massa |
| Servisitis kronik | Mukosa edematosa dan hiperemis, tanpa massa bertangkai |
Penatalaksanaan
Prinsip Penatalaksanaan
Polip kecil (<1 cm) dan asimptomatik dengan hasil skrining serviks normal dapat diobservasi dengan follow-up berkala.
Ekstirpasi dan pemeriksaan histopatologi diperlukan pada polip yang bergejala, berukuran ≥1 cm, rekuren, atau memiliki tampilan klinis mencurigakan (permukaan tidak teratur, mudah nekrosis, perdarahan berulang)—terutama pada wanita pascamenopause.³,⁵
Non-Farmakologis
Observasi dan follow-up untuk polip kecil asimptomatik dengan hasil skrining serviks normal.
Edukasi pasien bahwa sebagian besar polip endoserviks bersifat jinak dan sering ditemukan secara insidental.
Pemantauan gejala seperti perdarahan postkoital, intermenstrual, atau keputihan menetap sebagai indikator perlunya evaluasi ulang.
Skrining serviks rutin (Pap smear sesuai usia dan risiko) untuk mendeteksi lesi pramaligna atau keganasan serviks.
Anjuran kontrol ulang bila terjadi perdarahan berulang, polip membesar, atau muncul faktor risiko keganasan seperti usia pascamenopause.³-⁶
Farmakologis
Tidak ada terapi farmakologis spesifik untuk menghilangkan polip endoserviks; obat-obatan tidak menyebabkan regresi polip.
Antibiotik diberikan hanya bila terdapat servisitis atau infeksi serviks, berdasarkan temuan klinis dan/atau hasil pemeriksaan (misalnya keputihan purulen atau nyeri tekan serviks).
Terapi antiinflamasi/analgesik dapat diberikan untuk mengatasi nyeri ringan pascatindakan, bukan sebagai terapi polip.
Tidak dianjurkan pemberian hormon atau obat topikal serviks untuk polip endoserviks.³-⁵
Operatif
Ekstirpasi polip merupakan tatalaksana definitif pada polip endoserviks yang bergejala, berukuran ≥1 cm, rekuren, mencurigakan keganasan, atau pada wanita pascamenopause.
Teknik: polip bertangkai dijepit, lalu diputar atau diiris dengan klem atau gunting serviks. Kauterisasi basis dilakukan bila perlu untuk hemostasis.
Polip bertangkai lebar atau sulit dijangkau memerlukan histeroskopi atau tindakan di fasilitas sekunder.
Histopatologi wajib dilakukan pada seluruh jaringan polip yang diangkat untuk menyingkirkan keganasan.
Pasca tindakan: observasi perdarahan. Pasien diminta kontrol bila perdarahan menetap atau muncul ulang.³-⁶
Komplikasi
Perdarahan pascatrauma ringan atau setelah ekstirpasi—umumnya ringan dan berhenti sendiri.
Rekurensi polip, terutama bila faktor predisposisi (inflamasi serviks kronik) belum teratasi.
Infeksi serviks sekunder (jarang)—ditandai nyeri, keputihan purulen, atau demam.
Keganasan sangat jarang (<1%), namun risikonya meningkat pada wanita pascamenopause, polip >1 cm, atau perdarahan uterus abnormal persisten.³-⁶
Prognosis
Ad vitam: bonam — Polip endoserviks hampir selalu jinak dan tidak mengancam jiwa.
Ad functionam: bonam — Fungsi reproduksi dan kualitas hidup umumnya tidak terganggu; keluhan hilang setelah ekstirpasi.
Ad sanationam: bonam — Angka kesembuhan tinggi setelah pengangkatan. Rekurensi jarang terjadi dan biasanya terkait faktor predisposisi yang menetap.³-⁵
Edukasi
Polip endoserviks umumnya jinak dan dapat ditangani dengan tindakan sederhana.
Pasien perlu kontrol bila muncul perdarahan ulang atau keputihan menetap.
Pemeriksaan histopatologi setelah ekstirpasi penting untuk menyingkirkan keganasan, terutama pada pasien berisiko.
Anjurkan skrining serviks rutin (Pap smear) sesuai rekomendasi.
Informasikan bahwa polip dapat kambuh, sehingga pemantauan berkala tetap diperlukan.³,⁵,⁶
Kriteria Rujukan
Polip berukuran besar (>1 cm) atau bertangkai lebar yang sulit diekstirpasi secara aman di layanan primer.
Polip rekuren atau tidak dapat diekstirpasi di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.
Tampilan klinis mencurigakan keganasan, seperti permukaan tidak teratur, nekrosis, atau perdarahan hebat saat atau tanpa trauma.
Perdarahan uterus abnormal persisten, terutama pada wanita pascamenopause, yang memerlukan evaluasi lanjutan.
Hasil Pap smear abnormal atau terdapat kecurigaan lesi pramaligna/keganasan serviks.³,⁵,⁶