Polihidramnion / Hidramnion[2].

Polihidramnion / Hidramnion[2].


Definisi

Polihidramnion adalah kondisi kehamilan dengan peningkatan cairan ketuban secara patologis. Diagnosis ultrasonografi ditegakkan bila indeks cairan ketuban (amniotic fluid index/AFI) ≥24 cm atau saku terdalam (maximum vertical pocket/MVP) ≥8 cm pada usia kehamilan ≥20 minggu.¹

Polihidramnion (Smith, 2024)
Polihidramnion (Smith, 2024)

Epidemiologi

Insidensi global polihidramnion adalah sekitar 1–2% dari seluruh kehamilan.

Di Indonesia, polihidramnion termasuk komplikasi kehamilan risiko tinggi yang lebih sering ditemukan di rumah sakit rujukan tersier.

Sekitar 50–60% kasus bersifat idiopatik—tidak ditemukan kelainan struktural janin maupun penyakit maternal yang jelas.

Faktor yang paling sering berkaitan di Indonesia adalah diabetes gestasional, kehamilan multipel, dan kelainan kongenital janin.

Polihidramnion berat meningkatkan risiko prematuritas dan mortalitas perinatal, terutama bila disertai kelainan janin.¹,²,⁵,⁶


Etiologi

Idiopatik (±50–60%)Tidak ditemukan kelainan struktural janin atau penyakit maternal setelah evaluasi menyeluruh.

Kelainan janin

Atresia esofagus atau duodenum mengganggu proses menelan cairan ketuban.

Kelainan sistem saraf pusat (misalnya anensefali) mengganggu refleks menelan.

Kelainan kromosom atau genetik, terutama pada polihidramnion berat atau onset dini.

Anemia janin atau isoimunisasi Rh menyebabkan hipervolemia dan peningkatan produksi urin janin.

Faktor maternal

Diabetes gestasional atau diabetes pregestasional menyebabkan hiperglikemia janin dan poliuria osmotik

Infeksi intrauterin (misalnya CMV, toksoplasmosis, parvovirus B19) memengaruhi fungsi dan hemodinamika janin

Kehamilan multipel dan gangguan fetoplasenta

Twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS) pada kehamilan kembar monokorionik, di mana janin resipien mengalami hipervolemia dan poliuria

Kelainan plasenta atau tali pusat mengganggu keseimbangan cairan fetoplasenta

Semua penyebab ini bermuara pada ketidakseimbangan antara produksi dan penyerapan cairan ketuban—baik melalui gangguan menelan janin maupun peningkatan produksi urin janin.¹,²,³,⁴,⁶


Klasifikasi

Klasifikasikan berdasarkan derajat keparahan ultrasonografi menggunakan parameter Amniotic Fluid Index (AFI) atau Maximum Vertical Pocket (MVP).¹,²


Patofisiologi

Produksi cairan ketuban normal berasal dari urin dan cairan paru janin. Absorpsi terjadi melalui proses menelan janin dan transport intramembranosa amnion–plasenta.

Ketidakseimbangan regulasi cairan terjadi bila ada:

Peningkatan produksi, seperti poliuria janin akibat hiperglikemia maternal atau anemia janin, atau

Penurunan absorpsi, seperti kelainan saluran cerna atau sistem saraf pusat janin yang mengganggu refleks menelan.

Gangguan ini menyebabkan akumulasi progresif cairan intraamnion yang terdeteksi sebagai peningkatan AFI atau MVP.

Akumulasi cairan berlebih menimbulkan overdistensi uterus dengan konsekuensi:

Iritabilitas miometrium dan prematuritas

Sesak napas maternal akibat elevasi diafragma

Malpresentasi dan risiko prolaps tali pusat

Gangguan perfusi uteroplasenta dan distres janin pada kasus berat.¹-⁴


Anamnesis

Anamnesis pada polihidramnion berfokus pada keluhan akibat overdistensi uterus dan identifikasi faktor risiko maternal dan janin.

Pembesaran perut lebih cepat dari usia kehamilan, akibat peningkatan volume cairan ketuban yang melebihi kapasitas fisiologis uterus.

Rasa tegang atau penuh pada abdomen, akibat peregangan berlebihan dinding uterus.

Sesak napas, terutama saat berbaring terlentang, karena uterus yang membesar mendorong diafragma ke atas.

Kontraksi sebelum aterm atau rasa kencang berulang, akibat peningkatan iritabilitas miometrium karena distensi uterus.

Riwayat diabetes gestasional atau hiperglikemia maternal, yang dapat menyebabkan poliuria janin dan peningkatan produksi cairan ketuban.

Riwayat infeksi intrauterin atau anemia janin, terutama bila disertai gejala sistemik atau riwayat isoimunisasi.

Riwayat kehamilan multipel, yang berhubungan dengan risiko twin-to-twin transfusion syndrome.¹,²,³,⁵,⁶


Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada polihidramnion bertujuan mengidentifikasi tanda overdistensi uterus dan mendeteksi kemungkinan komplikasi maternal serta janin.

Tinggi fundus uteri (TFU) lebih besar dari usia kehamilan, akibat volume cairan ketuban yang melebihi kapasitas fisiologis kavum amnion.

Abdomen tampak tegang dan mengilap, dengan sensasi fluktuasi meningkat pada palpasi akibat akumulasi cairan intraamnion.

Bagian janin sulit diraba, karena berkurangnya kontak antara tubuh janin dan dinding uterus akibat banyaknya cairan ketuban.

Presentasi janin tidak stabil atau malpresentasi, karena ruang intrauterin yang terlalu luas memungkinkan janin bergerak bebas.

Denyut jantung janin terdengar samar atau teredam, akibat transmisi suara yang terhalang lapisan cairan berlebih. Lakukan evaluasi lanjutan dengan CTG bila diperlukan.

Pada kasus berat, dapat ditemukan tanda gangguan respirasi maternal seperti takipnea atau kesulitan bernapas akibat elevasi diafragma.

Temuan pemeriksaan fisik bersifat sugestif dan memerlukan konfirmasi ultrasonografi untuk menegakkan diagnosis pasti.¹,²,⁶,⁹


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang bertujuan menegakkan diagnosis, menentukan derajat keparahan, dan mencari etiologi polihidramnion.

USG morfologi janin untuk mendeteksi kelainan struktural yang mengganggu proses menelan janin.

Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) untuk skrining diabetes gestasional.

USG Doppler fetoplasenta bila dicurigai anemia janin atau twin-to-twin transfusion syndrome.

Kardiotokografi (CTG) untuk menilai kesejahteraan janin pada kasus sedang–berat atau bila dicurigai distres janin.¹,²,³,⁵,⁹


Diagnosis Banding¹,⁶

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Polihidramnion
Kehamilan multipelTerdapat lebih dari satu janin pada ultrasonografi dengan volume cairan ketuban masing-masing kantung tidak memenuhi kriteria AFI ≥24 cm atau MVP ≥8 cm.
Makrosomia janinPembesaran uterus disebabkan ukuran janin besar, dengan Amniotic Fluid Index (AFI) dalam batas normal.
Mola hidatidosaTidak ditemukan janin viabel dan tampak gambaran khas “badai salju” pada ultrasonografi tanpa peningkatan patologis cairan ketuban.
Ascites maternalCairan berada di rongga peritoneum ibu, bukan di kavum amnion, sehingga AFI atau MVP tetap normal.
Tumor abdomen atau massa ovariumPembesaran abdomen berasal dari massa padat atau kistik ekstrauterin dengan indeks cairan ketuban normal.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan polihidramnion bergantung pada derajat keparahan, usia kehamilan, etiologi yang mendasari, serta kondisi ibu dan janin. Sebagian besar kasus ringan bersifat konservatif, sedangkan kasus sedang–berat memerlukan pemantauan dan intervensi lebih intensif.¹


Non-Farmakologis

Observasi dan pemantauan ketat pada polihidramnion ringan tanpa gejala, dengan USG serial untuk menilai volume cairan ketuban dan pertumbuhan janin.

Identifikasi dan tatalaksana etiologi dasar, seperti kontrol glikemik pada diabetes gestasional atau evaluasi lanjutan bila dicurigai kelainan janin.

Anjuran tidur miring ke kiri untuk mengurangi tekanan uterus pada vena kava inferior dan meningkatkan kenyamanan ibu.

Edukasi tanda bahaya, meliputi kontraksi prematur, sesak napas berat, dan penurunan gerakan janin, agar pasien segera mencari pertolongan medis.¹-³


Farmakologis

Terapi farmakologis bersifat selektif, hanya pada kasus tertentu dan dengan pemantauan ketat.

Obat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakokinetik
Indometasin (oral)25 mg setiap 6–8 jam, maksimal 48 jamMenghambat sintesis prostaglandin sehingga menurunkan aliran darah ginjal janin dan produksi urin janin; digunakan hanya sebelum usia kehamilan 32 minggu.

Catatan:

Indometasin tidak direkomendasikan rutin, dan harus dihentikan bila terjadi oligohidramnion atau ditemukan penyempitan duktus arteriosus pada evaluasi USG Doppler.²,³


Operatif 🟨

Amnioreduksi (amniosentesis terapeutik)Tindakan mengeluarkan sebagian cairan ketuban untuk mengurangi distensi uterus dan gejala maternal, terutama pada polihidramnion berat atau simptomatik. Tindakan ini bersifat temporer dan dapat diulang bila diperlukan.

Penatalaksanaan persalinan

Induksi persalinan atau seksio sesarea dilakukan bila terdapat indikasi obstetri, distres janin, atau komplikasi maternal.

Saat ketuban pecah, diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap prolaps tali pusat dan solusio plasenta akibat dekompresi mendadak.¹,²


Komplikasi

Komplikasi polihidramnion terutama akibat overdistensi uterus dan meliputi:

Persalinan prematur, akibat peningkatan iritabilitas miometrium karena peregangan uterus berlebihan.

Solusio plasenta, terutama setelah ketuban pecah mendadak akibat dekompresi cepat rongga uterus.

Atonia uteri dan perdarahan postpartum, karena penurunan kemampuan kontraksi miometrium pascapersalinan.

Sesak napas maternal, akibat elevasi diafragma oleh uterus yang membesar.

Malpresentasi janin, karena ruang intrauterin yang luas memungkinkan perubahan posisi bebas.

Prolaps tali pusat, terutama saat ketuban pecah dengan volume cairan besar.

Distres janin, akibat gangguan perfusi uteroplasenta atau komplikasi persalinan.

Peningkatan mortalitas perinatal, terutama pada polihidramnion berat atau yang disertai kelainan struktural janin.¹,²,³,⁶,⁹


Prognosis

Ad Vitam: Umumnya baik, terutama pada polihidramnion ringan dan idiopatik, karena jarang mengancam nyawa ibu bila dipantau secara adekuat.

Ad Functionam: Baik hingga dubia ad bonam, bergantung pada komplikasi seperti prematuritas, solusio plasenta, atau distres janin yang dapat memengaruhi luaran maternal dan neonatal.

Ad Sanationam: Dubia, karena perbaikan sangat bergantung pada penyebab yang mendasari. Prognosis lebih baik pada kasus idiopatik atau diabetes gestasional terkontrol, namun lebih buruk bila disertai kelainan kongenital atau gangguan hemodinamik janin.¹-³


Edukasi

Edukasi pada pasien dengan polihidramnion bertujuan meningkatkan pemahaman kondisi, kepatuhan kontrol, dan deteksi dini komplikasi.

Jelaskan bahwa polihidramnion adalah kelebihan cairan ketuban yang dapat meningkatkan risiko komplikasi, terutama bila derajat sedang–berat.

Tekankan pentingnya kontrol antenatal rutin dan pemantauan ultrasonografi (USG) serial untuk menilai volume cairan dan kondisi janin.

Ingatkan untuk mengontrol kadar gula darah bila terdapat diabetes gestasional.

Anjurkan istirahat cukup dan posisi miring kiri untuk meningkatkan kenyamanan dan sirkulasi uteroplasenta.

Edukasi tanda bahaya yang memerlukan pertolongan segera, seperti sesak napas berat, kontraksi sebelum aterm, nyeri perut hebat, perdarahan, penurunan gerakan janin, atau ketuban pecah dini.

Informasikan bahwa metode persalinan akan ditentukan berdasarkan kondisi ibu dan janin, dan tidak semua kasus memerlukan operasi.¹,²,³,⁵


Kriteria Rujukan

Polihidramnion sedang–berat (AFI ≥30 cm atau MVP ≥12 cm) atau peningkatan cepat volume cairan ketuban.

Sesak napas berat atau progresif, akibat overdistensi uterus.

Kontraksi uterus teratur sebelum aterm, mengarah pada persalinan prematur.

Nyeri perut hebat mendadak atau perdarahan pervaginam, mencurigakan solusio plasenta.

Diabetes gestasional tidak terkontrol atau komorbid maternal signifikan lainnya.

Penurunan atau tidak dirasakannya gerakan janin.

Hasil Kardiotokografi (CTG) non-reassuring.

Kelainan struktural janin pada USG morfologi atau kecurigaan anemia janin dan twin-to-twin transfusion syndrome.

Ketuban pecah dini, terutama dengan risiko prolaps tali pusat atau tanda distres janin akut.¹,²,³,⁵,⁹


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini