Penyakit Radang Panggul (PID)[3A]

Penyakit Radang Panggul (PID)[3A]


Definisi

Penyakit radang panggul (Pelvic Inflammatory Disease/PID) adalah infeksi dan inflamasi pada organ reproduksi wanita bagian atas, meliputi uterus, tuba falopi, ovarium, dan peritoneum panggul, yang umumnya terjadi akibat penyebaran mikroorganisme secara asendens dari serviks atau vagina

https://my.clevelandclinic.org/
https://my.clevelandclinic.org/

Epidemiologi

PID terutama terjadi pada wanita usia reproduktif, dengan insidensi tertinggi pada kelompok usia 15–25 tahun.

Secara global, PID diperkirakan mengenai sekitar 1–2% wanita usia reproduktif per tahun. Namun, banyak kasus bersifat subklinis dan tidak terdiagnosis.

Chlamydia trachomatis berperan dominan pada PID subklinis dan kronik, berkontribusi besar terhadap kerusakan tuba dan infertilitas.

Di Indonesia, angka pasti insidensi PID belum tersedia. Estimasi berbasis surveilans IMS menunjukkan beban kasus yang tinggi, terutama pada wanita muda dengan faktor risiko IMS dan akses layanan kesehatan terbatas.

Pada kehamilan, PID jarang terjadi (<2% kasus) karena sumbatan fisiologis mukus serviks. Namun, kondisi ini berkaitan dengan peningkatan risiko keguguran, ketuban pecah dini, dan persalinan prematur.¹-⁴,⁶


Etiologi

Infeksi menular seksual (IMS) adalah penyebab utama PID, terutama Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae, yang menyebabkan sebagian besar kasus awal dan subklinis.

Infeksi polimikroba sering terjadi, melibatkan bakteri anaerob dan flora vagina seperti Gardnerella vaginalis, Mycoplasma genitalium, Bacteroides spp., dan Streptococcus grup B.

Penyebaran asendens dari serviks ke traktus genitalia atas adalah mekanisme utama PID, dipermudah oleh gangguan barier mukus serviks.

Faktor risiko perilaku dan reproduksi meliputi usia <25 tahun, banyak pasangan seksual, riwayat IMS, douching vagina, dan pemasangan AKDR — terutama dalam 3 minggu pertama pascapemasangan.

Kontrasepsi hormonal menurunkan risiko PID dengan menebalkan mukus serviks dan menipiskan endometrium.

Pada kehamilan, PID jarang terjadi. Namun, kondisi ini paling sering terkait IMS yang tidak diobati — terutama C. trachomatis — dan dapat menimbulkan komplikasi obstetri.¹-⁴


Klasifikasi

Berdasarkan perjalanan klinis

PID akut, ditandai nyeri panggul akut, keputihan mukopurulen, nyeri gerak serviks, dan dapat disertai demam. Paling sering berkaitan dengan infeksi Neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia trachomatis.

PID subklinis/kronik, gejala minimal atau tidak khas, sering tidak terdiagnosis. Menyebabkan inflamasi persisten yang berujung pada adhesi pelvis, infertilitas, dan kehamilan ektopik.¹-³

Berdasarkan derajat keparahan

PID tanpa komplikasi, Infeksi terbatas pada endometrium dan tuba falopi tanpa abses atau peritonitis. Umumnya dapat ditangani rawat jalan pada pasien tidak hamil.

PID dengan komplikasi, disertai abses tubo-ovarium, pelvioperitonitis, atau sepsis. Memerlukan rawat inap, antibiotik intravena, dan evaluasi bedah bila diperlukan.¹,²,⁴


Patofisiologi

Infeksi dimulai dari serviks atau vagina, kemudian menyebar secara asendens ke endometrium, tuba falopi, ovarium, hingga peritoneum panggul.

Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae adalah patogen inisial yang mempermudah kolonisasi bakteri anaerob dan flora vagina, sehingga PID umumnya bersifat polimikroba.

Inflamasi menyebabkan edema mukosa tuba, hiperemia, dan kerusakan silia epitel—mengganggu transport ovum dan sekret tuba.

Proses inflamasi memicu eksudasi fibrin dan pembentukan adhesi pelvis, yang dapat menyumbat tuba falopi.

Kerusakan struktural dan adhesi ini meningkatkan risiko infertilitas tubal, kehamilan ektopik, dan nyeri panggul kronik.¹-⁴


Anamnesis

Nyeri panggul bawah yang bilateral, dapat muncul bertahap atau akut, akibat inflamasi pada uterus, tuba, dan peritoneum panggul.

Keputihan mukopurulen atau berbau, mencerminkan infeksi serviks sebagai sumber penyebaran asendens.

Nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia), terutama nyeri dalam, akibat iritasi dan inflamasi struktur pelvis.

Perdarahan uterus abnormal, seperti perdarahan intermenstrual atau pascakoitus, akibat inflamasi endometrium.

Demam, mual, atau malaise, menandakan respons inflamasi sistemik pada PID yang lebih berat.

Riwayat faktor risiko IMS, meliputi usia <25 tahun, banyak pasangan seksual, riwayat IMS sebelumnya, atau pemasangan AKDR dalam beberapa minggu terakhir.¹-⁴


Pemeriksaan Fisik

Nyeri gerak/goyang serviks (cervical motion tenderness), tanda khas PID akibat inflamasi uterus, tuba, dan peritoneum panggul yang teriritasi saat serviks digerakkan.

Nyeri tekan uterus (uterine tenderness), mencerminkan keterlibatan endometrium (endometritis) dalam proses inflamasi.

Nyeri tekan adneksa (adnexal tendernes), menunjukkan inflamasi tuba falopi atau ovarium (salpingo-ooforitis).

Keputihan mukopurulen dari serviks, menandakan infeksi serviks sebagai sumber penyebaran asendens.

Demam dan takikardia, bila ada, menunjukkan respons inflamasi sistemik atau PID derajat sedang–berat.

Massa adneksa teraba, bila ditemukan, mengarah pada komplikasi seperti abses tubo-ovarium.¹-⁴


Pemeriksaan Penunjang

Tes kehamilan (Plano test atau β-hCG), dilakukan untuk menyingkirkan kehamilan ektopik yang dapat menyerupai gejala PID dan merupakan kegawatdaruratan; hasil diharapkan negatif pada PID.

Pemeriksaan laboratorium inflamasi (LED dan/atau CRP), menilai derajat inflamasi sistemik; pada PID aktif umumnya meningkat, meskipun hasil normal tidak menyingkirkan diagnosis.

Pemeriksaan mikrobiologi dengan NAAT (Nucleic Acid Amplification Test), mendeteksi Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae sebagai etiologi utama; berperan dalam konfirmasi patogen dan penatalaksanaan pasangan seksual, namun bukan syarat diagnosis PID.

Ultrasonografi transvaginal, mengevaluasi komplikasi PID, terutama abses tubo-ovarium dan cairan bebas pelvis; temuan khas meliputi penebalan dinding tuba, massa adneksa, atau cairan pelvis.

Laparoskopi diagnostik (bila tersedia dan indikasi khusus), metode definitif untuk visualisasi langsung inflamasi pelvis, namun tidak direkomendasikan rutin dan digunakan bila diagnosis meragukan atau tidak respons terhadap terapi.¹-⁴


Dasar Diagnosis

Diagnosis penyakit radang panggul (PID) ditegakkan secara klinis berdasarkan kriteria minimal Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diagnosis memerlukan setidaknya satu dari tiga tanda utama berikut:

1.

Nyeri gerak serviks (cervical motion tenderness).

2.

Nyeri tekan uterus (uterine tenderness).

3.

Nyeri tekan adneksa (adnexal tenderness).

Diagnosis dapat diperkuat dengan tanda atau pemeriksaan tambahan berikut:

Demam.

Keputihan mukopurulen dari serviks.

Laju endap darah (LED) atau C-reactive protein (CRP) meningkat.

NAAT (Nucleic Acid Amplification Test) positif untuk Chlamydia trachomatis atau Neisseria gonorrhoeae.²,⁶


Diagnosis Banding¹-⁴

Diagnosis BandingPembeda dengan PID
Kehamilan ektopikNyeri perut bawah sering unilateral dengan perdarahan pervaginam dan β-hCG positif, tanpa tanda infeksi serviks.
Apendisitis akutNyeri awal periumbilikal berpindah ke kuadran kanan bawah, disertai tanda iritasi peritoneum tanpa nyeri gerak serviks.
Kista ovarium rupturNyeri akut unilateral mendadak, sering setelah aktivitas, dengan temuan USG kista kolaps atau cairan bebas tanpa tanda infeksi genital.
ServisitisKeputihan mukopurulen terbatas pada serviks tanpa nyeri tekan uterus atau adneksa.
EndometriosisNyeri panggul kronik dan dismenore progresif tanpa tanda inflamasi akut atau infeksi.
Infeksi saluran kemih (ISK)Disuria dan nyeri suprapubik dominan dengan urinalisis abnormal, tanpa nyeri gerak serviks.

Penatalaksanaan

Prinsip Umum

Penatalaksanaan PID bertujuan eradikasi infeksi, mencegah komplikasi reproduksi, dan memutus rantai penularan IMS.

Terapi bersifat empiris dan segera, tidak menunggu hasil pemeriksaan penunjang bila kriteria klinis terpenuhi.¹,²


Non-Farmakologis

Edukasi pasien untuk menghindari hubungan seksual hingga terapi selesai dan gejala membaik.

Partner notification dan partner treatment untuk mencegah reinfeksi.

Konseling penggunaan kondom dan pencegahan IMS jangka panjang.²,³


Farmakologis

PID ringan–sedang (rawat jalan, pasien tidak hamil)¹,²

ObatDosis & FrekuensiFarmakokinetik
Ceftriaxone500 mg IM dosis tunggalSefalosporin generasi ke-3; menghambat sintesis dinding sel bakteri (N. gonorrhoeae)
Doksisiklin100 mg oral 2×/hari selama 14 hariMenghambat sintesis protein subunit 30S; efektif terhadap C. trachomatis
Metronidazol500 mg oral 2×/hari selama 14 hariMerusak DNA bakteri anaerob dan protozoa; menutup spektrum anaerob

PID pada kehamilan atau PID derajat berat (rawat inap)¹,²

ObatDosis & FrekuensiFarmakokinetik
Ceftriaxone1–2 g IV per hariAntibiotik spektrum luas; aman pada kehamilan
Metronidazol500 mg IV/PO 2–3×/hariAman pada kehamilan; cakupan anaerob
Azitromisin1 g oral dosis tunggal atau 500 mg/hari selama 3 hariPengganti doksisiklin pada kehamilan; aktif terhadap C. trachomatis

Operatif

Tindakan operatif tidak dilakukan secara rutin pada penyakit radang panggul (PID) dan hanya diindikasikan bila terjadi komplikasi atau kegagalan terapi antibiotik.

Indikasi tindakan operatif:

Abses tubo-ovarium yang tidak membaik setelah 48–72 jam terapi antibiotik intravena.

Ruptur abses tubo-ovarium, yang merupakan kegawatdaruratan bedah ginekologi.

Kecurigaan diagnosis lain yang memerlukan eksplorasi bedah (seperti apendisitis atau kehamilan ektopik) bila diagnosis tidak dapat dipastikan secara klinis dan radiologis.

Jenis tindakan operatif yang dapat dilakukan:

Drainase abses tubo-ovarium secara laparoskopi atau laparotomi untuk mengendalikan sumber infeksi.

Salpingo-ooforektomi pada kasus infeksi berat dengan kerusakan jaringan luas atau pada pasien yang tidak mempertahankan fertilitas.

Pada pasien hamil, tindakan operatif dipertimbangkan sangat selektif dan hanya bila terdapat indikasi kegawatdaruratan, dengan mempertimbangkan keselamatan ibu dan janin.¹-⁴


Algoritma Terapi

4.

Bila PID probable (≥1 tanda utama) → mulai terapi empiris segera.

5.

Evaluasi indikasi rawat inap:

Gagal terapi rawat jalan

Hamil

Diagnosis belum jelas (misalnya, kemungkinan apendisitis)

Abses tubo-ovarium

Tidak patuh atau muntah berat

6.

Bila ada indikasi → rawat inap atau rujuk segera.

7.

Bila tidak ada → berikan terapi oral kombinasi dan edukasi pasangan.⁵


Komplikasi

Infertilitas tubal, kerusakan silia dan sumbatan tuba falopi pascainflamasi menghambat transport ovum. Risiko meningkat seiring tingkat keparahan dan frekuensi kekambuhan PID.

Kehamilan ektopik, kerusakan struktur dan motilitas tuba meningkatkan risiko implantasi ektopik hingga 6–10 kali lipat dibanding populasi tanpa riwayat PID.

Nyeri panggul kronik, inflamasi persisten dan adhesi pelvis menyebabkan nyeri panggul jangka panjang yang dapat menetap meskipun infeksi telah teratasi.

Abses tubo-ovarium, komplikasi berat berupa koleksi purulen pada tuba dan ovarium yang dapat berkembang menjadi pelvioperitonitis atau sepsis bila tidak ditangani segera.

Sepsis dan pelvioperitonitis, penyebaran infeksi ke rongga peritoneum atau sistemik dapat mengancam nyawa, terutama bila diagnosis dan terapi terlambat.

Komplikasi obstetri pada kehamilan, PID pada kehamilan meningkatkan risiko keguguran, ketuban pecah dini, persalinan prematur, dan infeksi postpartum akibat inflamasi intrauterin.¹,³,⁴


Prognosis

Ad vitam: bonam, prognosis kehidupan umumnya baik karena PID jarang fatal bila dikenali dini dan ditatalaksana dengan adekuat. Prognosis dapat memburuk pada kasus sepsis atau keterlambatan terapi.

Ad functionam: dubia, prognosis fungsi reproduksi meragukan karena inflamasi dan kerusakan tuba falopi dapat menyebabkan infertilitas atau kehamilan ektopik, terutama pada PID berulang atau berat.

Ad sanationam: bonam–dubia, kesembuhan infeksi umumnya baik pada PID tanpa komplikasi bila pasien patuh terhadap terapi dan pasangannya diobati. Prognosis menjadi meragukan bila terjadi reinfeksi atau keterlambatan penanganan.¹-⁴


Edukasi

Tekankan pentingnya menyelesaikan seluruh antibiotik meskipun gejala sudah membaik untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi jangka panjang.

Anjurkan pasien tidak melakukan hubungan seksual sampai terapi selesai dan gejala hilang sepenuhnya.

Pasangan seksual harus diperiksa dan diobati meskipun tanpa gejala untuk mencegah reinfeksi.

Berikan edukasi pencegahan IMS, termasuk penggunaan kondom konsisten dan kesetiaan pada satu pasangan.

Anjurkan kontrol ulang, terutama bila gejala tidak membaik dalam 48–72 jam atau muncul keluhan baru seperti nyeri hebat atau demam tinggi.

Pada pasien dengan riwayat PID, jelaskan risiko infertilitas dan kehamilan ektopik serta pentingnya deteksi dini bila nyeri panggul muncul kembali.¹-³


Kriteria Rujukan

Kehamilan — PID pada kehamilan berisiko tinggi terhadap komplikasi obstetri dan memerlukan terapi intravena serta pemantauan ketat.

Tidak ada perbaikan klinis setelah 48–72 jam terapi antibiotik rawat jalan.

Kecurigaan atau temuan abses tubo-ovarium, pelvioperitonitis, atau tanda sepsis.

Diagnosis banding kegawatdaruratan belum dapat disingkirkan, seperti kehamilan ektopik atau apendisitis akut.

Kondisi umum buruk — nyeri hebat, demam tinggi persisten, atau muntah berulang sehingga pasien tidak dapat minum obat oral.

Ketidakpatuhan atau keterbatasan sosial yang menghambat keberhasilan terapi rawat jalan.¹,²,⁴


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini