
Mioma Uteri (Leiomioma) [1]
Definisi dan Batasan
Mioma uteri (leiomioma) adalah tumor jinak monoklonal yang berasal dari otot polos miometrium, bersifat hormon-dependen, dan merupakan tumor jinak uterus tersering pada wanita usia reproduktif.
Mioma dapat menyebabkan perdarahan uterus abnormal, gejala massa panggul, dan gangguan fertilitas, serta umumnya mengecil setelah menopause.¹,²

Epidemiologi
Mioma uteri merupakan tumor jinak uterus tersering pada wanita usia reproduktif dan penyebab utama perdarahan uterus abnormal (PUA).
Prevalensi meningkat seiring usia dan mencapai ±40–60% pada wanita usia 35–50 tahun, lebih tinggi bila dideteksi dengan pencitraan dibandingkan diagnosis klinis.
Mioma jarang sebelum menarke, tumbuh selama masa reproduktif, dan mengecil pascamenopause, mencerminkan sifat hormon-dependen.
Sekitar 20–40% pasien bergejala, sedangkan sisanya asimtomatik dan sering ditemukan insidental.
Faktor risiko utama meliputi usia lebih tua, nuliparitas, obesitas, menarke dini, dan riwayat keluarga.¹,³
Faktor Risiko
Usia reproduktif lanjut (terutama >35 tahun), karena paparan estrogen yang lebih lama.
Nuliparitas atau paritas rendah, berkaitan dengan paparan hormon ovarium berulang tanpa periode amenore kehamilan.
Menarke dini, memperpanjang durasi paparan estrogen sepanjang hidup.
Obesitas, karena peningkatan konversi androgen menjadi estrogen di jaringan adiposa.
Riwayat keluarga positif, mencerminkan peran faktor genetik dalam terjadinya mioma uteri.
Paparan estrogen eksogen jangka panjang (misalnya terapi hormonal tertentu).¹,²,³
Etiologi
Faktor genetik. sebagian besar mioma berasal dari mutasi somatik monoklonal, terutama pada gen MED12, yang memicu proliferasi abnormal sel otot polos miometrium.
Pengaruh hormon estrogen dan progesteron. Mioma uteri bersifat hormon-dependen. Estrogen meningkatkan proliferasi sel otot polos miometrium dan menginduksi ekspresi reseptor progesteron, sedangkan progesteron merangsang pertumbuhan mioma secara langsung melalui peningkatan proliferasi sel, penekanan apoptosis, dan aktivasi faktor pertumbuhan serta matriks ekstraseluler. Mekanisme ini menjelaskan mengapa mioma jarang ditemukan sebelum menarke dan cenderung mengecil setelah menopause.
Faktor pertumbuhan dan matriks ekstraseluler. Aktivasi faktor pertumbuhan seperti transforming growth factor-β (TGF-β) dan insulin-like growth factor (IGF) meningkatkan deposisi matriks ekstraseluler, sehingga terjadi pembesaran dan kekakuan jaringan mioma.¹,³,⁹
Klasifikasi
Klasifikasi FIGO

| Tipe FIGO | Lokasi Mioma | Keterangan |
|---|---|---|
| Tipe 0 | Submukosa bertangkai | Seluruh mioma berada di kavum uterus |
| Tipe 1 | Submukosa | <50% komponen intramural |
| Tipe 2 | Submukosa | ≥50% komponen intramural |
| Tipe 3 | Intramural | Menyentuh endometrium, tidak menonjol ke kavum |
| Tipe 4 | Intramural murni | Seluruhnya di miometrium |
| Tipe 5 | Subserosa | ≥50% komponen intramural |
| Tipe 6 | Subserosa | <50% komponen intramural |
| Tipe 7 | Subserosa bertangkai | Menonjol keluar uterus |
| Tipe 8 | Lainnya | Serviks, parasitik, intraligamenter |

Keterangan
Mioma submukosa (tipe 0–2) paling sering menyebabkan perdarahan uterus abnormal dan infertilitas.
⭐ Mioma geburt → Apabila mioma submukosa bertangkai dan keluar ke liang vagina.
Mioma intramural (tipe 3–4) berhubungan dengan pembesaran uterus dan gangguan fertilitas bila besar.
Mioma subserosa (tipe 5–7) lebih sering menimbulkan gejala massa akibat tekanan pada organ sekitar.
Klasifikasi FIGO membantu menentukan kelayakan histeroskopi, laparoskopi, atau laparotomi.¹,³,⁴,⁵
Berdasarkan Histologi
Leiomioma biasa: Tipe tersering, didominasi sel otot polos miometrium.
Fibroleiomioma: Leiomioma dengan dominasi jaringan fibrosa (kolagen).
Cellular leiomioma: Kepadatan sel otot polos tinggi tanpa atipia.
Leiomioma degeneratif: Mencakup degenerasi hialin, miksioid, atau lemak (lipoleiomioma) akibat perubahan vaskular.¹,²
Patofisiologi
Mutasi somatik monoklonal pada sel otot polos miometrium, terutama gen MED12, yang memicu proliferasi sel abnormal.
Stimulasi hormonal. Estrogen dan progesteron merangsang pertumbuhan mioma melalui peningkatan ekspresi reseptor hormon dan aktivasi faktor pertumbuhan. Hal ini menjelaskan mengapa mioma berkembang selama usia reproduktif dan mengecil setelah menopause.
Peran faktor pertumbuhan dan matriks ekstraseluler. Aktivasi TGF-β dan IGF meningkatkan deposisi matriks ekstraseluler, yang menyebabkan pembesaran, kekakuan, dan distorsi struktur uterus.
Distorsi anatomi uterus. Pembesaran mioma mendistorsi kavum uterus dan miometrium, mengganggu kontraktilitas uterus serta hemostasis endometrium, sehingga menimbulkan perdarahan uterus abnormal.
Efek massa dan gangguan vaskular. Mioma berukuran besar menekan organ sekitar—kandung kemih, rektum, dan ureter—serta dapat menyebabkan iskemia lokal, degenerasi mioma, dan nyeri panggul.¹,³,⁹
Anamnesis
Perdarahan uterus abnormal (menoragia atau menstruasi memanjang), keluhan tersering, terutama pada mioma submukosa dan intramural, akibat distorsi kavum uterus dan gangguan hemostasis endometrium.
Rasa penuh atau pembesaran perut, pada mioma berukuran besar, terutama intramural dan subserosa, akibat efek massa dari pertumbuhan mioma.
Gejala tekan organ sekitar, mioma dapat menekan kandung kemih (sering berkemih), rektum (konstipasi), atau ureter (nyeri pinggang), terutama pada mioma subserosa besar.
Nyeri panggul atau dismenore ringan–sedang, umumnya tidak seberat adenomiosis; nyeri dapat muncul bila terjadi degenerasi mioma, iskemia, atau peregangan kapsul mioma.
Gangguan fertilitas atau abortus berulang, terutama pada mioma submukosa dan intramural yang mendistorsi kavum uterus dan mengganggu implantasi embrio.
Riwayat faktor risiko, Usia >35 tahun, nuliparitas, menarke dini, obesitas, serta riwayat keluarga mioma uteri perlu digali karena meningkatkan risiko kejadian mioma.¹,³,⁵
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi abdomen: tampak pembesaran abdomen yang progresif dan tidak sesuai usia kehamilan, mencerminkan efek massa mioma.
Palpasi abdomen: teraba massa padat, tidak nyeri, dengan kontur tidak teratur; ukuran uterus sering digambarkan setara usia kehamilan tertentu tergantung jumlah dan ukuran mioma.
Pemeriksaan bimanual: Uterus teraba membesar, berbenjol, dan tidak teratur, dengan konsistensi kenyal hingga padat, khas akibat pertumbuhan mioma fokal pada miometrium.
Mobilitas uterus: Mobilitas uterus umumnya masih baik, namun dapat berkurang pada mioma besar atau multipel, terutama bila disertai adhesi.
Nyeri tekan: Biasanya tidak nyeri, kecuali bila terjadi degenerasi mioma, torsio mioma bertangkai, atau nekrosis akibat gangguan vaskular.
Pemeriksaan serviks dan adneksa: Serviks umumnya normal; mioma subserosa bertangkai dapat teraba sebagai massa terpisah dari uterus, sedangkan massa adneksa sejati tidak ditemukan.¹,³
Pemeriksaan Tambahan
MRI pelvis digunakan bila diagnosis meragukan atau untuk pemetaan praoperatif, karena mampu menggambarkan jumlah, ukuran, lokasi mioma, dan klasifikasi FIGO secara lebih akurat, serta membedakan mioma dari adenomiosis atau keganasan.
Histeroskopi dilakukan pada kecurigaan mioma submukosa untuk evaluasi langsung kavum uterus dan sekaligus memungkinkan tindakan terapeutik.
Pemeriksaan laboratorium, terutama kadar hemoglobin, dilakukan untuk menilai anemia akibat perdarahan uterus abnormal. Pemeriksaan hormonal tidak rutin, kecuali terdapat kecurigaan gangguan endokrin lain.²,⁴,⁵,⁶
Diagnosis Banding¹,²,⁴,⁵
| Diagnosis Banding | Perbedaan dengan Mioma Uteri |
|---|---|
| Adenomiosis | Uterus membesar difus dan simetris, nyeri haid berat dan progresif, serta batas lesi tidak jelas pada pencitraan. |
| Polip endometrium | Menyebabkan perdarahan antarhaid, lesi fokal intrakavum, uterus tidak membesar. |
| Karsinoma endometrium | Perdarahan uterus abnormal terutama pascamenopause, dengan penebalan endometrium pada USG. |
| Kehamilan mola | Disertai kadar β-hCG sangat tinggi dan gambaran USG khas “badai salju”. |
| Kista ovarium | Massa berasal dari adneksa, terpisah dari uterus dan tidak menyebabkan pembesaran uterus tidak teratur. |
| Adenomyoma fokal | Lesi miometrium tanpa kapsul jelas, sering disertai nyeri haid berat, dan sulit dibedakan tanpa MRI. |
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Observasi dan edukasi pada mioma kecil asimtomatik, karena sebagian mioma bersifat stabil dan dapat mengecil pascamenopause.
Koreksi anemia melalui suplementasi zat besi dan edukasi nutrisi pada pasien dengan perdarahan uterus abnormal.¹,²
Farmakologis
| Obat | Indikasi | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| NSAID | Nyeri haid ringan–sedang | Analgesik, menurunkan prostaglandin |
| Kontrasepsi oral kombinasi | Menoragia ringan–sedang | Menstabilkan endometrium |
| Progestin / LNG-IUS | Menoragia dominan | Menekan proliferasi endometrium |
| Asam traneksamat | Menoragia akut | Antifibrinolitik |
| Agonis GnRH | Praoperatif / mioma besar | Supresi estrogen → mengecilkan mioma sementara |
Terapi farmakologis tidak mengeliminasi mioma, tetapi efektif untuk mengontrol perdarahan dan nyeri.²,⁵
Operatif
Miomektomi, tindakan pilihan pada mioma simptomatik untuk wanita yang masih menginginkan fertilitas, terutama mioma submukosa atau intramural tertentu.
Histerektomi, terapi definitif untuk mioma besar, multipel, atau yang gagal dengan terapi konservatif, terutama bila pasien tidak menginginkan kehamilan.
Uterine Artery Embolization (UAE), alternatif non-bedah untuk pasien terpilih guna mengurangi gejala dengan menurunkan suplai darah ke mioma.
Ablasi endometrium, dipertimbangkan pada menoragia tanpa keinginan hamil; bukan terapi untuk mioma besar atau intramural dalam.¹,²,³,⁵
Komplikasi
Anemia defisiensi besi, terjadi akibat perdarahan uterus abnormal kronik, terutama pada mioma submukosa dan intramural yang mendistorsi kavum uterus serta mengganggu hemostasis endometrium.
Gangguan fertilitas dan abortus berulang, mioma submukosa dan intramural dapat mengganggu implantasi embrio, aliran darah endometrium, dan kontraktilitas uterus, sehingga menurunkan peluang kehamilan serta meningkatkan risiko keguguran.
Nyeri panggul dan nyeri akut, disebabkan oleh degenerasi mioma, iskemia jaringan, atau peregangan kapsul mioma yang dapat menimbulkan nyeri hebat, kadang disertai demam ringan.
Gejala tekan organ sekitar, Mioma berukuran besar dapat menekan kandung kemih, rektum, atau ureter, menyebabkan sering berkemih, konstipasi, nyeri punggung bawah, hingga hidronefrosis.
Torsio mioma bertangkai, terjadi pada mioma subserosa bertangkai akibat perputaran tangkai (torsio) yang menimbulkan nyeri perut akut dan memerlukan penanganan bedah segera.
Komplikasi kehamilan, mioma meningkatkan risiko malpresentasi, persalinan preterm, plasenta previa, dan perdarahan postpartum akibat gangguan kontraktilitas uterus.
Transformasi ganas (sangat jarang), Leiomiosarkoma jarang berkembang dari mioma jinak, tetapi perlu dicurigai bila terdapat pertumbuhan cepat, nyeri progresif, atau gejala sistemik.¹,³,⁵
Prognosis
Ad vitam: bonam
Mioma uteri adalah tumor jinak yang tidak mengancam jiwa. Mortalitas sangat rendah dan prognosis kehidupan baik.
Ad functionam: bonam–dubia ad bonam
Fungsi reproduksi dan kualitas hidup umumnya dapat dipertahankan dengan tatalaksana yang tepat. Namun, mioma submukosa atau intramural besar dapat menyebabkan gangguan fertilitas hingga dilakukan terapi definitif.
Ad sanationam: bonam
Prognosis kesembuhan baik setelah tindakan operatif definitif (miomektomi atau histerektomi). Gejala umumnya membaik signifikan, dan mioma cenderung mengecil pascamenopause.¹,²,³,⁵
Edukasi Pasien
Mioma uteri adalah tumor jinak, bukan kanker, dan pada sebagian besar kasus tidak mengancam jiwa, namun dapat menimbulkan keluhan kronik seperti perdarahan berlebih atau rasa penuh di perut.
Tidak semua mioma memerlukan operasi; mioma kecil tanpa gejala dapat dipantau secara berkala, terutama bila mendekati menopause karena mioma sering mengecil setelahnya.
Keluhan perdarahan dan nyeri dapat dikendalikan dengan terapi obat, namun obat bertujuan mengontrol gejala, bukan menghilangkan mioma secara permanen.
Rencana kehamilan perlu dibicarakan sejak awal, karena beberapa pilihan terapi—seperti histerektomi atau ablasi endometrium—menghilangkan kemampuan hamil, sementara miomektomi bertujuan mempertahankan fertilitas.
Kepatuhan terhadap kontrol rutin penting untuk memantau ukuran mioma, respons terapi, dan mendeteksi komplikasi seperti anemia.
Segera mencari pertolongan medis bila terjadi perdarahan hebat, nyeri perut mendadak, atau keluhan tekan yang memburuk—ini dapat menandakan komplikasi mioma.¹,²,³,⁵
Kriteria Rujukan
Perdarahan uterus abnormal berat atau tidak terkontrol yang menyebabkan anemia sedang–berat (Hb <8–9 g/dL) atau gejala hemodinamik meskipun telah diberikan terapi awal.
Mioma berukuran besar atau tumbuh cepat yang menimbulkan gejala tekan organ sekitar, seperti retensi urin, konstipasi berat, nyeri punggung bawah, atau kecurigaan hidronefrosis.
Nyeri panggul persisten atau nyeri akut yang dicurigai sebagai degenerasi mioma, torsio mioma bertangkai, atau nekrosis dan memerlukan evaluasi lanjut.
Gangguan fertilitas atau abortus berulang yang diduga berkaitan dengan mioma submukosa atau intramural dan memerlukan evaluasi serta tindakan reproduksi lanjut.
Kegagalan terapi konservatif, yaitu gejala yang menetap atau memburuk setelah 3–6 bulan terapi non-operatif atau farmakologis.
Kecurigaan keganasan, seperti pertumbuhan massa cepat disertai nyeri progresif, perdarahan atipikal, atau temuan pencitraan yang mencurigakan.
Pertimbangan tindakan operatif, termasuk miomektomi, histerektomi, atau prosedur intervensi lain (misalnya embolisasi arteri uterina) yang berada di luar kewenangan layanan primer.¹,²,³,⁵