
Koriokarsinoma [2]
Definisi
Koriokarsinoma adalah keganasan trofoblastik gestasional yang sangat agresif, berasal dari sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas tanpa pembentukan vili korionik. Penyakit ini ditandai oleh invasi miometrium yang cepat, metastasis hematogen dini, serta kadar hCG yang sangat tinggi pascakehamilan.¹

Gambar spektrum penyakit trofoblastik gestasional: mola hidatidosa dengan vesikel menyerupai anggur (kiri) dan koriokarsinoma (kanan baris kedua) yang tampak sebagai massa intrauterin invasif tanpa vili korionik. Terlihat juga gambaran histopatologi proliferasi sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas serta contoh metastasis hematogen ke paru. (https://clinicalgate.com/)
Epidemiologi
Koriokarsinoma adalah bentuk ganas paling agresif dari gestational trophoblastic neoplasia (GTN), namun tergolong penyakit jarang.
Insidens sekitar 1 per 40.000–50.000 kehamilan di negara maju, dengan angka lebih tinggi di Asia dan negara berkembang.
Sekitar 50–60% kasus terjadi setelah mola hidatidosa, terutama mola komplet. Sisanya muncul pascakehamilan aterm, abortus, atau ektopik.
Paling sering terjadi pada wanita usia reproduktif, dengan puncak kejadian pada dekade 20–40 tahun.
Meskipun sangat agresif dan mudah bermetastasis, koriokarsinoma memiliki angka kesembuhan sangat tinggi (>90%) bila terdiagnosis dini dan ditatalaksana sesuai protokol WHO–FIGO.¹-⁴
Etiologi
Koriokarsinoma adalah keganasan trofoblastik gestasional yang selalu berkaitan dengan kehamilan sebelumnya. Sumber etiologi meliputi:
Mola hidatidosa — penyebab tersering (50–60% kasus), terutama setelah mola komplet.
Kehamilan normal aterm atau preterm — sekitar 20–25% kasus; sering terdiagnosis terlambat karena tidak dicurigai sejak awal.
Abortus spontan atau provokatus — sekitar 5–10% kasus, dengan interval waktu bervariasi sejak kehamilan.
Kehamilan ektopik — sangat jarang, namun tetap dilaporkan sebagai sumber koriokarsinoma gestasional.
Transformasi maligna dari mola invasif — progresi dari penyakit trofoblastik gestasional persisten yang tidak ditangani dengan baik.
Tidak ada faktor genetik atau infeksi spesifik sebagai penyebab langsung.
Risiko meningkat pada riwayat mola hidatidosa sebelumnya, terutama mola komplet.
Etiologi menentukan kewaspadaan klinis, tetapi tidak menentukan regimen terapi — terapi ditentukan oleh stadium dan skor WHO–FIGO.²,³,⁴
Klasifikasi
Berdasarkan kelompok penyakit
Termasuk dalam Gestational Trophoblastic Neoplasia (GTN) bersama:
Mola invasif
Koriokarsinoma
Placental Site Trophoblastic Tumor (PSTT)
Epithelioid Trophoblastic Tumor (ETT)
Berdasarkan histopatologi
Proliferasi sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas
Tanpa pembentukan vili korionik
Bersifat sangat invasif dan mudah bermetastasis hematogen
Berdasarkan stadium anatomi (FIGO)
Stadium I: Terbatas pada uterus
Stadium II: Melibatkan genitalia di luar uterus
Stadium III: Metastasis ke paru
Stadium IV: Metastasis ke organ lain (otak, hati, dll.)
Berdasarkan hubungan dengan kehamilan sebelumnya
Pascamola hidatidosa (tersering)
Pascakehamilan normal
Pascaabortus
Pascakehamilan ektopik (jarang)
Anamnesis
Perdarahan pervaginam abnormal pascakehamilan (mola, abortus, kehamilan aterm, atau ektopik) yang menetap atau berulang.
Riwayat kehamilan sebelumnya, terutama mola hidatidosa, dalam beberapa bulan hingga tahun terakhir.
Amenore atau gangguan haid dengan kadar hCG tetap tinggi atau meningkat pascakehamilan.
Gejala metastasis paru: batuk, sesak napas, hemoptisis.
Gejala neurologis: sakit kepala hebat, kejang, penurunan kesadaran—curiga metastasis otak.
Nyeri perut kanan atas atau ikterus—curiga metastasis hati.
Gejala hipertiroidisme atau hiperemesis akibat kadar hCG sangat tinggi.¹-⁴
Pemeriksaan Fisik
Tanda anemia (konjungtiva pucat, takikardia) akibat perdarahan pervaginam kronis atau akut.
Pembesaran uterus yang tidak sesuai dengan usia kehamilan atau involusi pascapersalinan yang tidak adekuat, menunjukkan adanya massa intrauterin invasif.
Perdarahan pervaginam aktif atau sekret bercampur darah pada pemeriksaan ginekologis, akibat invasi jaringan trofoblas ganas ke pembuluh darah.
Tanda gangguan respirasi (takipnea, ronki) yang mengarah pada metastasis paru.
Defisit neurologis fokal, penurunan kesadaran, atau kejang—mengarah pada metastasis sistem saraf pusat.
Hepatomegali atau nyeri tekan kuadran kanan atas—mengarah pada metastasis hati.
Tanda hipertiroidisme (tremor halus, takikardia, kulit hangat) akibat kadar hCG yang sangat tinggi.¹,³
Pemeriksaan Tambahan
β-hCG serum kuantitatif
Pemeriksaan kunci untuk mendiagnosis koriokarsinoma.
Kadar sangat tinggi atau tidak menurun pascakehamilan.
Digunakan untuk memantau respons terapi dan mendeteksi kekambuhan.
USG pelvis (transvaginal/transabdominal)
Menilai massa intrauterin heterogen tanpa vili korionik dan menentukan sumber perdarahan.
Membantu membedakan dengan abortus inkomplet atau mola.
Foto toraks
Wajib sebagai skrining awal metastasis—paru adalah lokasi tersering.
Dapat menampakkan nodul multipel bilateral ("cannonball metastases").
CT-scan / MRI otak
Diindikasikan bila ada gejala neurologis atau pasien berisiko tinggi.
Mendeteksi metastasis otak dan perdarahan intrakranial.
CT-scan / MRI abdomen (terutama hati)
Dilakukan pada kasus risiko tinggi atau bila ada gejala abdominal.
Metastasis hati menunjukkan prognosis lebih buruk.
Histopatologi
Tidak rutin dianjurkan karena risiko perdarahan tinggi.
Diagnosis biasanya ditegakkan secara klinis berdasarkan hCG dan pencitraan.¹-⁴
Diagnosis Banding¹
| Diagnosis Banding | Pembeda Dengan Koriokarsinoma |
|---|---|
| Mola hidatidosa | Masih terdapat vili korionik pada USG/histologi; metastasis hematogen jarang; kadar β-hCG tinggi namun pola dan respons berbeda. |
| Mola invasif | Menginvasi miometrium tetapi jarang bermetastasis jauh; β-hCG umumnya lebih rendah dibanding koriokarsinoma. |
| Abortus inkomplet | Ada sisa produk konsepsi; β-hCG menurun bertahap pascaevakuasi; tanpa metastasis. |
| Kehamilan ektopik terganggu | β-hCG meningkat tidak sesuai usia kehamilan; lokasi ekstrauterin; tidak ada metastasis. |
| Karsinoma endometrium | Tidak terkait kehamilan; β-hCG normal; gambaran pencitraan solid endometrium. |
| Mioma uteri degeneratif | Massa jinak uterus; β-hCG normal; gambaran USG solid dengan degenerasi. |
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan koriokarsinoma ditentukan oleh stadium FIGO dan skor risiko WHO–FIGO. Kemoterapi merupakan terapi utama dengan tingkat keberhasilan sangat tinggi bila dilakukan sesuai klasifikasi risiko.¹,²
Non-Farmakologis
Konseling pasien dan keluarga tentang sifat keganasan, angka kesembuhan tinggi dengan kemoterapi, serta pentingnya kepatuhan terapi dan follow-up.
Pemantauan serial hCG sebagai indikator respons terapi dan deteksi dini kekambuhan.
Kontrasepsi efektif selama masa follow-up, umumnya 6–12 bulan setelah hCG negatif, untuk mencegah kehamilan baru yang mengganggu interpretasi kadar hCG.
Stabilisasi awal pada pasien dengan perdarahan masif atau komplikasi metastasis sebelum memulai terapi definitif.¹,²,⁴
Farmakologis
Pemilihan regimen kemoterapi ditentukan oleh skor risiko WHO–FIGO, bukan stadium anatomi semata.²
GTN Risiko Rendah (Skor WHO ≤6)
| Obat | Dosis & Regimen | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| Metotreksat (MTX) + leucovorin | MTX 50 mg/m² IM hari 1,3,5,7 + leucovorin hari 2,4,6,8 | Antagonis folat → hambat sintesis DNA |
| Actinomycin-D | 10–12 µg/kg IV bolus tiap 2 minggu | Inhibisi transkripsi DNA |
Terapi ini memberikan angka kesembuhan >90% pada risiko rendah.¹-³
2. GTN Risiko Tinggi (Skor WHO ≥7)
| Regimen | Komponen | Prinsip |
|---|---|---|
| EMA-CO | Etoposid, MTX, Actinomycin-D / Cyclophosphamide, Vincristine | Kombinasi sitotoksik untuk menekan resistensi |
Regimen EMA-CO merupakan standar internasional dengan angka remisi tinggi, termasuk pada kasus metastasis.²-⁴
Operatif
Histerektomi dapat dipertimbangkan pada pasien yang:
Tidak menginginkan fertilitas,
Mengalami perdarahan uterus yang tidak terkendali, atau
Resisten parsial terhadap kemoterapi.
Tindakan operatif bukan terapi utama, melainkan bersifat adjuvan dan selektif.¹
Catatan Penting :
Respons terapi dinilai dari penurunan kadar hCG, bukan dari ukuran massa.
Di wilayah dengan akses terbatas ke pemeriksaan penunjang lengkap, pemeriksaan β-hCG dapat dilakukan menggunakan kurva Mochizuki.
Biopsi atau kuretase tidak rutin dianjurkan karena risiko perdarahan tinggi, dan tidak diperlukan bila diagnosis klinis sudah jelas.
Penatalaksanaan yang tepat memberikan prognosis sangat baik, bahkan pada penyakit metastatik.¹-⁴
Komplikasi
Perdarahan masif intrauterin akibat invasi trofoblas ganas ke miometrium dan pembuluh darah uterus, dapat menyebabkan anemia berat hingga syok hemoragik.
Metastasis paru (tersering) melalui penyebaran hematogen dini, menimbulkan batuk, sesak napas, hemoptisis, hingga gagal napas pada kasus lanjut.
Metastasis otak yang bersifat kegawatdaruratan, dengan manifestasi sakit kepala hebat, kejang, defisit neurologis, atau perdarahan intrakranial fatal.
Metastasis hati yang menandakan penyakit risiko tinggi, dapat menyebabkan nyeri kuadran kanan atas, ikterus, hingga gagal hati akut akibat lesi hipervaskular.
Hipertiroidisme terkait hCG akibat stimulasi reseptor TSH oleh kadar hCG sangat tinggi, berisiko berkembang menjadi krisis tiroid bila tidak dikenali.
Preeklamsia dini atau gejala mirip preeklamsia terkait efek vaskular sistemik hCG dan invasi trofoblas abnormal.
Komplikasi kemoterapi meliputi mielosupresi, stomatitis, hepatotoksisitas, dan infeksi, umumnya reversibel dengan pemantauan dan penyesuaian dosis yang adekuat.¹-⁶
Prognosis
Ad vitam: bonam. Koriokarsinoma memiliki prognosis kehidupan yang baik karena sangat responsif terhadap kemoterapi, termasuk pada kasus metastasis bila ditangani sesuai skor risiko WHO–FIGO.
Ad functionam: bonam. Fungsi organ umumnya dapat dipertahankan; komplikasi berat terutama terkait metastasis otak atau hati serta keterlambatan diagnosis.
Ad sanationam: bonam. Tingkat kesembuhan tinggi, >90% pada risiko rendah dan tetap baik pada risiko tinggi dengan kemoterapi kombinasi dan pemantauan hCG ketat.
Fertilitas. Sebagian besar pasien dapat hamil kembali secara normal setelah terapi dan masa observasi selesai.¹-⁴,⁶
Edukasi Pasien
Jelaskan bahwa koriokarsinoma adalah kanker terkait kehamilan dengan tingkat kesembuhan sangat tinggi bila diobati sesuai protokol.
Anjurkan kontrasepsi efektif selama 6–12 bulan setelah hCG negatif untuk mencegah kehamilan yang mengganggu evaluasi terapi.
Edukasi tanda bahaya: perdarahan hebat, sesak napas, sakit kepala berat, kejang, atau nyeri perut hebat.
Fertilitas: Sebagian besar pasien dapat hamil kembali secara normal setelah masa observasi; dukungan keluarga penting selama pengobatan.¹-⁴,⁷
Kriteria Rujukan
Perdarahan pervaginam hebat atau tidak terkendali, anemia berat, atau tanda syok.
Kadar hCG sangat tinggi (>100.000 IU/L), meningkat cepat, atau respons terapi awal tidak adekuat.
Dugaan atau bukti metastasis, terutama ke paru, otak, atau hati.
Skor risiko WHO–FIGO ≥7 yang memerlukan kemoterapi kombinasi dan pemantauan intensif.
Gejala neurologis berat (kejang, penurunan kesadaran, defisit fokal) atau tanda gagal organ.
Kegagalan atau resistensi terhadap kemoterapi lini pertama yang membutuhkan evaluasi lanjutan di pusat tersier.¹-⁴,⁸