Kista Ovarium [2]

Kista Ovarium [2]


Definisi

Kista ovarium adalah kantung berisi cairan, semi-padat, atau jaringan yang terbentuk di dalam atau pada permukaan ovarium. Sebagian besar bersifat jinak, terutama kista fungsional yang muncul sebagai bagian dari siklus ovarium normal dan biasanya menghilang spontan dalam beberapa siklus menstruasi


Epidemiologi

Kista ovarium adalah temuan ginekologis yang sangat umum, terjadi pada 10–30% wanita usia reproduksi.

Sebagian besar adalah kista fungsional yang jinak dan hilang spontan dalam beberapa siklus menstruasi.

USG meningkatkan deteksi kista insidental, dengan prevalensi 5–18% pada populasi umum.

Risiko keganasan meningkat pada wanita postmenopause, sehingga setiap massa ovarium pada kelompok ini memerlukan evaluasi lebih ketat.

Setiap massa ovarium pada postmenopause harus dievaluasi lebih ketat karena risiko keganasan lebih tinggi dibanding usia reproduksi.³,¹³-¹⁵


Etiologi dan Klasifikasi

Berdasarkan mekanisme pembentukannya, dibagi menjadi : kista fungsional dan kista non-fungsional.


Patofisiologi


Anamnesis

Nyeri perut bawah akibat distensi kapsul ovarium, peregangan ligamentum pelvis, atau efek massa kista.

Nyeri akut mendadak mengarah pada komplikasi seperti ruptur kista atau torsi ovarium yang menyebabkan iskemia.

Gangguan menstruasi seperti perdarahan tidak teratur atau perubahan pola haid, terutama pada kista fungsional akibat ketidakseimbangan hormon.

Dispareunia akibat tekanan atau tarikan massa ovarium terhadap struktur pelvis saat hubungan seksual.

Rasa penuh atau tekanan di perut bawah akibat efek massa kista berukuran besar.

Nyeri pelvis siklik kronik, khas pada endometrioma akibat perdarahan berulang pada jaringan endometrium ektopik.

Keluhan gastrointestinal seperti kembung, konstipasi, atau cepat kenyang akibat penekanan kista terhadap organ intraabdominal.

Riwayat keterlambatan haid atau kemungkinan kehamilan penting untuk menyingkirkan kehamilan ektopik dengan gejala serupa.

Riwayat endometriosis atau kista ovarium sebelumnya meningkatkan kemungkinan rekurensi.³,⁵,⁸


Pemeriksaan Fisik

Nyeri tekan di perut bawah akibat peregangan kapsul ovarium atau iritasi peritoneum oleh kista yang membesar.

Massa pelvis teraba pada palpasi bimanual, biasanya bersifat fluktuatif dan mobil, menunjukkan adanya massa kistik pada ovarium.

Pembesaran abdomen pada kista berukuran besar yang menyebabkan distensi abdomen atau efek massa.

Nyeri hebat saat pemeriksaan pelvis dapat mengarah pada torsi ovarium akibat gangguan aliran darah adneksa.

Nyeri adneksa unilateral, lebih sering pada kista fungsional atau endometrioma yang menimbulkan iritasi lokal.

Tanda peritoneal (nyeri lepas, rigiditas) dapat terjadi pada ruptur kista yang menyebabkan iritasi peritoneum oleh cairan atau darah intraabdomen.

Demam ringan kadang dijumpai bila terjadi peradangan sekunder atau perdarahan intrakista, meskipun bukan temuan khas.³,⁵,⁸


Pemeriksaan Tambahan


Diagnosis Banding³,⁵,⁸,⁹,¹³,¹⁵

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Kista Ovarium
EndometriomaNyeri pelvis kronik dan dismenore berat; USG menunjukkan pola “ground-glass” bukan cairan jernih.
Kehamilan ektopikβ-hCG positif disertai nyeri akut unilateral; tidak tampak kantung gestasi intrauterin pada USG.
Fibroid uteri (leiomioma)Massa padat berasal dari miometrium, bukan lesi kistik anekoik.
PID / TOA (tubo-ovarian abscess)Demam, nyeri pelvis bilateral, dan massa kompleks berisi pus pada USG.
Tumor ovarium ganasKomponen solid, papillary projection, ascites, CA-125 meningkat, dan skor IOTA/ADNEX menunjukkan risiko tinggi.
Kista paraovariumMassa kistik terpisah dari ovarium, ovarium tampak normal dan berada di samping lesi.

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Observasi ketat : untuk kista sederhana berukuran ≤5–6 cm tanpa gejala, karena sebagian besar adalah kista fungsional yang dapat menghilang dalam 1–3 siklus menstruasi.

USG ulang setiap 6–12 minggu untuk memantau regresi atau progresi kista.

Edukasi mengenai tanda bahaya—seperti nyeri mendadak, demam, atau perdarahan abnormal—karena dapat menandakan ruptur atau torsi.³,⁸,⁹


Farmakologis³

Obat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamik
Ibuprofen 200–400 mg tablet400–800 mg setiap 6–8 jam sesuai kebutuhanNSAID yang menghambat enzim COX-1 dan COX-2 sehingga menurunkan sintesis prostaglandin dan meredakan nyeri inflamasi pada pelvis.
Asam mefenamat 250–500 mg tablet500 mg awal, dilanjutkan 250–500 mg tiap 6–8 jamNSAID derivat fenamat yang menurunkan prostaglandin pada jaringan pelvis, efektif untuk nyeri spasmodik menstruasi dan nyeri ovarium.
OCP (Oral Contraceptive Pills) kombinasi (etinilestradiol 20–35 µg + progestin)1 tablet per hari, regimen siklik atau kontinuMenekan ovulasi melalui inhibisi sekresi FSH–LH, menstabilkan endometrium, dan mencegah terbentuknya kista fungsional baru; tidak mempercepat resolusi kista yang sudah ada.

Operatif

Indikasi :

Kista berukuran >10 cm atau terus membesar pada observasi serial.

Kista kompleks (septasi tebal, komponen solid, papillary projection) pada USG.

Gejala berat atau persisten seperti nyeri kronik atau distensi abdomen.

Komplikasi akut: torsi ovarium, ruptur, atau perdarahan intraabdomen.

Kista yang tidak menghilang setelah 2–3 siklus menstruasi.

Kista pada postmenopause, terutama bila CA-125 meningkat.³,⁸-¹¹,¹³,¹⁵


Macam Operasi :


Komplikasi

⭐ Torsi ovarium terjadi ketika kista membuat ovarium berputar pada pedikelnya, menyebabkan obstruksi aliran vena, iskemia, edema, dan risiko nekrosis bila tidak ditangani segera. Risiko meningkat pada kista >5 cm sehingga edukasi pembatasan aktivitas fisik perlu diberikan.

Ruptur kista umumnya terjadi pada kista korpus luteum berdinding tipis, menyebabkan nyeri mendadak, iritasi peritoneum, hingga perdarahan intraabdomen.

Perdarahan intrakista atau intraabdomen dapat terjadi akibat robekan dinding kista atau perdarahan korpus luteum yang tidak stabil secara vaskular.

Infeksi atau abses jarang terjadi tetapi dapat muncul pada kista yang mengalami inflamasi sekunder atau ruptur sebelumnya.

Tekanan massa (mass effect) terutama pada kista besar dapat menekan kandung kemih, rektum, atau organ pelvis lain, menyebabkan retensi urin, konstipasi, atau rasa penuh abdomen.

Degenerasi atau transformasi neoplastik lebih jarang tetapi perlu dipertimbangkan pada wanita postmenopause atau kista kompleks dengan biomarker meningkat.³,⁸,⁹,¹³,¹⁵


Prognosis


Edukasi

Sebagian besar kista ovarium bersifat jinak dan dapat menghilang spontan, sehingga observasi dan USG ulang sesuai jadwal sangat penting.

Pasien harus segera kembali bila mengalami nyeri mendadak, demam, perdarahan, atau muntah—tanda yang dapat mengindikasikan torsi atau ruptur.

Batasi aktivitas berat untuk menurunkan risiko torsi, terutama pada kista berukuran >5 cm.

OCP membantu mencegah pembentukan kista fungsional baru, tetapi tidak menghilangkan kista yang sudah ada.

Pada pasien postmenopause atau kista dengan gambaran kompleks, evaluasi lanjutan diperlukan karena risiko keganasan lebih tinggi.³,⁸,⁹,¹³,¹⁵


Kriteria Rujukan

Kista ovarium yang menetap >3 bulan atau membesar pada observasi serial memerlukan rujukan untuk evaluasi lebih lanjut.

Kista >10 cm, dengan gejala berat, atau menyebabkan distensi abdomen merupakan indikasi rujukan.

Kista dengan gambaran kompleks pada USG—seperti septasi tebal, komponen solid, papillary projection, atau ascites—memerlukan rujukan karena meningkatkan risiko keganasan.

Pasien dengan torsi, ruptur, atau perdarahan intraabdomen harus segera dirujuk sebagai kondisi gawat darurat.

Wanita postmenopause dengan kista ovarium memerlukan rujukan, terutama bila CA-125 meningkat, karena risiko keganasan lebih tinggi.

Hasil IOTA Simple Rules inconclusive atau ADNEX risk ≥10% merupakan indikasi rujukan ke onkologi.³,⁸-¹⁰,¹¹,¹³,¹⁵


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini