Kista Nabotian [2]

Kista Nabotian [2]


Definisi

Kista Nabotian adalah kista retensi mukosa jinak pada serviks yang terbentuk akibat oklusi duktus kelenjar endoserviks oleh epitel skuamosa yang mengalami metaplasia.¹,²

kista nabotian yg diwarnai dengan pewarnaan gram.  (https://www.researchgate.net)
kista nabotian yg diwarnai dengan pewarnaan gram. (https://www.researchgate.net)

Epidemiologi

Kista Nabotian merupakan temuan serviks jinak yang sangat umum pada praktik ginekologi.

Paling sering ditemukan pada wanita usia reproduktif (30–50 tahun).

Lebih sering dijumpai pada multipara dan wanita pascapersalinan pervaginam.

Terjadi setelah inflamasi kronik, trauma, atau proses penyembuhan jaringan serviks.

Sering berkaitan dengan servisitis kronik dan proses metaplasia skuamosa serviks.

Kista berisi mukus jernih hingga kekuningan dan bersifat non-neoplastik.

Sebagian besar kasus asimptomatik dan ditemukan secara insidental saat pemeriksaan inspekulo atau skrining serviks.

Tidak tersedia angka prevalensi pasti, termasuk di Indonesia, karena tidak termasuk penyakit yang wajib dilaporkan.

Tidak bersifat premaligna dan tidak meningkatkan risiko kanker serviks; kepentingan klinis utama adalah diagnosis banding terhadap lesi serviks patologis lain.¹-³


Etiologi

Kista Nabotian terbentuk akibat oklusi duktus kelenjar endoserviks oleh epitel skuamosa yang mengalami metaplasia.

Servisitis kronik adalah faktor etiologi tersering. Kondisi ini menyebabkan remodeling epitel dan penutupan saluran kelenjar.

Proses penyembuhan pascatrauma serviks—seperti setelah persalinan pervaginam—dapat memicu pertumbuhan epitel baru yang menutup duktus kelenjar.

Tindakan atau prosedur ginekologi (misalnya biopsi serviks, kauterisasi, krioterapi, LEEP, atau pemasangan IUD) dapat bersifat iatrogenik dan mencetuskan kista.

Perubahan hormonal (kehamilan, masa reproduktif aktif, perimenopause) berperan dengan meningkatkan aktivitas kelenjar endoserviks dan mempercepat metaplasia.

Infeksi genital menahun (misalnya klamidia, gonore, atau HPV) tidak menyebabkan kista secara langsung, tetapi berkontribusi melalui inflamasi serviks yang persisten.¹-³


🟨 Patofisiologi

Pada zona transformasi serviks, epitel kolumnar kelenjar endoserviks mengalami penutupan oleh epitel skuamosa akibat proses metaplasia skuamosa.

Oklusi duktus kelenjar menyebabkan sekresi mukus terperangkap di dalam lumen kelenjar.

Akumulasi mukus secara bertahap membentuk kista retensi berisi cairan jernih hingga kekuningan.

Proses ini umumnya berlangsung perlahan tanpa reaksi inflamasi akut, sehingga sebagian besar kista bersifat asimptomatik.

Pada sebagian kecil kasus, kista dapat membesar progresif mencapai ukuran >3 cm, terutama bila obstruksi menetap atau produksi mukus meningkat.

Kista Nabotian bersifat non-neoplastik, tidak mengalami transformasi ganas, dan tidak memengaruhi fungsi reproduksi.¹-³


Anamnesis

Sebagian besar pasien tidak menunjukkan gejala.

Bila ada gejala, keluhan biasanya ringan dan tidak khas, seperti:

rasa tidak nyaman di vagina atau panggul,

nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia ringan),

keputihan seperti lendir tanpa bau menyengat.

Tidak disertai perdarahan vagina abnormal; adanya perdarahan harus menimbulkan kecurigaan kondisi lain (misalnya polip atau kanker serviks).

Riwayat yang sering dijumpai:

pernah melahirkan lebih dari satu kali (multiparitas) atau melahirkan pervaginam,

peradangan serviks menahun (servisitis kronik) atau keputihan berulang,

riwayat tindakan pada serviks (biopsi, krioterapi, kauterisasi, LEEP, pemasangan IUD).

Tidak ada gejala sistemik seperti demam atau nyeri hebat, kecuali bila terjadi infeksi sekunder—yang jarang terjadi.¹-³


Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan dilakukan dengan inspeksi serviks menggunakan spekulum dan pencahayaan yang adekuat.

Tampak lesi bulat atau oval dengan permukaan halus, berwarna bening transparan hingga kekuningan seperti lendir kental, terletak pada ektoserviks atau zona transformasi.

Ukuran bervariasi dari beberapa milimeter hingga >1 cm; dapat multipel dan umumnya tersusun simetris.

Konsistensi lunak dan fluktuatif saat disentuh dengan aplikator; tidak nyeri tekan.

Tidak mudah berdarah dan tidak disertai permukaan ireguler—temuan ini membantu membedakan dari polip atau keganasan serviks.

Tidak tampak tanda inflamasi aktif (hiperemia, sekret purulen), kecuali bila disertai servisitis atau infeksi sekunder yang jarang terjadi.

Temuan atipikal (permukaan tidak teratur, perdarahan mudah, pembesaran asimetris) harus menimbulkan kecurigaan terhadap diagnosis banding dan menjadi indikasi rujukan.¹-³


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang rutin tidak diperlukan bila gambaran klinis dan inspeksi serviks khas untuk kista Nabotian.

USG transvaginal dipertimbangkan bila:

kista berukuran besar,

tidak tampak jelas pada inspeksi, atau

terdapat kecurigaan massa serviks internal.

Temuan khas berupa lesi kistik berbatas tegas tanpa komponen solid.

MRI pelvis hanya diindikasikan pada kasus atipikal atau meragukan, terutama untuk membedakan dari adenoma serviks atau keganasan kistik. Kista Nabotian tampak sebagai lesi kistik homogen tanpa invasi jaringan sekitar.

Pap smear dilakukan sesuai program skrining serviks, bukan untuk mendiagnosis kista Nabotian, tetapi untuk menyingkirkan displasia atau lesi pra-maligna yang menyertai.

Tes HPV DNA dapat dilakukan sesuai usia dan faktor risiko pasien sebagai bagian dari skrining kanker serviks. Tes ini tidak spesifik untuk kista Nabotian.

Biopsi serviks tidak diindikasikan bila lesi tampak khas, halus, simetris, dan tidak mudah berdarah. Biopsi hanya dilakukan bila terdapat temuan mencurigakan.¹,²,⁴,⁵,⁶,⁷


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan dengan kista nabotian
Polip serviksMassa padat yang menjuntai dari kanalis servikalis dan mudah berdarah saat disentuh.
Adenoma serviksLesi padat atau campuran, jarang, sering tidak bening dan dapat menyerupai keganasan pada pencitraan.
Karsinoma serviks kistikLesi tidak simetris, permukaan ireguler, sering disertai perdarahan abnormal dan gejala sistemik.
Servisitis kistikDisertai tanda inflamasi aktif seperti hiperemia, sekret purulen, dan nyeri tekan.
Endometriosis serviksLesi kebiruan/kehitaman, dapat nyeri dan berhubungan dengan siklus haid.

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Edukasi dan reassurance bahwa kista Nabotian bersifat jinak, tidak berhubungan dengan kanker, dan umumnya tidak memerlukan terapi.

Observasi tanpa intervensi pada kasus asimptomatik. Evaluasi ulang bila terdapat perubahan ukuran atau muncul keluhan.

Tindakan lokal terbatas (insisi/evakuasi sederhana) tidak dilakukan secara rutin dan hanya dipertimbangkan bila kista sangat besar atau mengganggu, dengan perhatian khusus terhadap risiko perdarahan dan infeksi.¹,²

Farmakologis

Tidak ada terapi farmakologis spesifik untuk kista Nabotian karena bersifat jinak dan asimptomatik.

Antibiotik hanya diberikan bila terdapat servisitis atau infeksi genital penyerta, bukan untuk kista itu sendiri.

Pemilihan antibiotik disesuaikan dengan protokol infeksi genital bawah, gambaran klinis, dan faktor risiko pasien.¹-⁴

Obat & SediaanDosis & FrekuensiIndikasiFarmakodinamik
Metronidazol oral500 mg, 2×/hari selama 7 hariServisitis anaerob / vaginosis bakterialis)Antimikroba anaerob
Doksisiklin oral100 mg, 2×/hari selama 7 hariServisitis klamidiaInhibisi sintesis protein bakteri
Azitromisin oral1 g dosis tunggalAlternatif klamidiaMakrolida, spektrum luas

Operatif

Tidak diindikasikan secara rutin, karena kista Nabotian bersifat jinak dan asimptomatik.

Tindakan operatif minor (insisi/evakuasi kista) dapat dipertimbangkan bila kista berukuran besar dan menimbulkan nyeri, dispareunia, atau rasa tidak nyaman bermakna. Tindakan hanya dilakukan oleh tenaga terlatih.

Eksisi atau evaluasi lanjut (kolposkopi/biopsi) diindikasikan bila terdapat temuan atipikal—seperti pembesaran asimetris, permukaan ireguler, atau perdarahan abnormal—untuk menyingkirkan keganasan.

Tindakan operatif umumnya dilakukan di fasilitas rujukan oleh dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi.¹-³


Komplikasi

Sebagian besar kista Nabotian tidak menimbulkan komplikasi karena bersifat jinak dan asimptomatik.

Infeksi sekunder jarang terjadi, biasanya berkaitan dengan servisitis kronik atau prosedur invasif pada serviks.

Perdarahan ringan dapat terjadi setelah tindakan evakuasi atau insisi kista, umumnya bersifat sementara.

Kesalahan diagnosis sebagai lesi serviks ganas dapat menimbulkan kecemasan pasien dan rujukan yang tidak perlu bila gambaran klinis tidak dikenali dengan baik.¹-³


Prognosis

Ad vitam: Bonam. Kista Nabotian bersifat jinak dan tidak meningkatkan risiko kematian.

Ad functionam: Bonam. Tidak memengaruhi fungsi reproduksi, aktivitas seksual, atau siklus menstruasi.

Ad sanationam: Bonam. Sebagian besar kista menetap tanpa bertambah besar atau dapat menghilang sendiri. Bila dilakukan evakuasi, hasilnya umumnya baik tanpa kekambuhan bermakna.¹,²


Skrining Serviks dan Relevansinya

Pap smear mendeteksi kelainan serviks asimptomatik dan membedakan lesi jinak (termasuk kista Nabotian) dari lesi pra-maligna atau ganas.

World Health Organization dan American College of Obstetricians and Gynecologists merekomendasikan skrining serviks rutin pada wanita usia 21–65 tahun.

Kista Nabotian tidak mengganggu interpretasi hasil Pap smear dan umumnya dikenali sebagai lesi jinak oleh Patologist.

Tes HPV DNA direkomendasikan terutama pada wanita usia ≥30 tahun, baik sebagai skrining primer maupun ko-tes, sesuai panduan internasional terkini.

Skrining serviks tetap penting meskipun ditemukan kista Nabotian untuk menyingkirkan kelainan epitel serviks yang menyertai.⁸-¹⁰


Edukasi

Kista nabotian adalah kondisi jinak dan bukan kanker serviks.

Sebagian besar kasus tidak menimbulkan keluhan dan tidak memerlukan pengobatan.

Kista ini tidak memengaruhi kesuburan, kehamilan, atau siklus haid.

Pemeriksaan serviks rutin (Pap smear dan/atau tes HPV) tetap penting sesuai usia dan faktor risiko.

Segera kembali berobat bila muncul perdarahan abnormal, nyeri menetap, keputihan berbau, atau keluhan baru.

Hindari kecemasan berlebihan dan jangan melakukan terapi mandiri tanpa anjuran tenaga kesehatan.¹,²,⁵,⁶,⁷


Kriteria Rujukan

Kista berukuran besar atau membesar progresif (≈ >3 cm).

Keluhan bermakna, seperti nyeri pelvis menetap, dispareunia, atau perdarahan pervaginam.

Temuan klinis atipikal pada inspeksi serviks, seperti permukaan ireguler, mudah berdarah, atau asimetris.

Kecurigaan keganasan serviks atau diagnosis banding yang tidak dapat disingkirkan di FKTP.

Kebutuhan evaluasi lanjutan, seperti kolposkopi atau biopsi, atau tindakan operatif oleh dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi.¹,²,³


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini