
Kista dan Abses Kelenjar Bartholini [3A]
Definisi
⭐ Kista Bartholini adalah akumulasi cairan dalam kelenjar Bartholini akibat obstruksi duktus ekskretorius, tanpa tanda infeksi aktif. Kelenjar ini terletak bilateral di dasar labia mayora, pada posisi posterolateral introitus vagina (sekitar jam 4 dan jam 8).¹
Abses Bartholini terjadi ketika kista Bartholini mengalami infeksi sekunder, membentuk pus dan menimbulkan tanda inflamasi akut: nyeri, kemerahan, pembengkakan, dan nyeri tekan.¹

Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Bartholin
Kelenjar Bartholini (glandula vestibularis major) berjumlah sepasang, terletak bilateral di dasar labia mayora pada posisi posterolateral introitus vagina (sekitar jam 4 dan jam 8). Ukurannya sekitar 0,5–1 cm dan umumnya tidak teraba pada kondisi normal.¹
Fungsi kelenjar Bartholini adalah menghasilkan mukus untuk lubrikasi introitus vagina, terutama selama aktivitas seksual.¹
Sekret kelenjar dialirkan melalui duktus Bartholini yang bermuara pada vestibulum vagina. Obstruksi duktus menghambat aliran mukus, sehingga terjadi retensi cairan dan pembentukan kista steril.¹
Infeksi sekunder pada kista menyebabkan akumulasi pus dan memicu respons inflamasi lokal, yang secara klinis termanifestasi sebagai abses Bartholini.¹
Etiologi
Sumbatan duktus Bartholini dapat terjadi akibat trauma lokal, infeksi, atau peradangan kronik yang menghambat aliran sekret mukus dan menyebabkan retensi cairan.⁴
Infeksi bakteri merupakan penyebab utama abses Bartholini. Paling sering disebabkan oleh flora genital dan patogen infeksi menular seksual seperti Escherichia coli, Staphylococcus spp., Neisseria gonorrhoeae, dan Chlamydia trachomatis yang memicu pembentukan pus dan respons inflamasi akut.⁴,⁵,⁷
Patofisiologi
Obstruksi duktus Bartholini merupakan tahap awal yang terjadi akibat trauma mekanik (misalnya saat koitus), edema inflamasi lokal, atau peradangan kronik. Obstruksi ini menghambat aliran sekresi mukus dan menyebabkan retensi cairan serta pembentukan kista steril. Secara histologis, bagian distal duktus yang dilapisi epitel skuamosa lebih rentan mengalami sumbatan dibandingkan bagian proksimal yang berlapis epitel kolumnar.⁵,⁶
Area transisi epitel antara epitel kolumnar dan skuamosa pada duktus Bartholini menjadi titik rawan kolonisasi mikroorganisme. Masuknya flora vagina (Escherichia coli, Bacteroides, Peptostreptococcus) atau patogen IMS seperti Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis ke dalam kista steril menyebabkan infeksi sekunder yang mengubah kista menjadi abses.⁵,⁷,¹⁰
Infeksi sekunder memicu respons inflamasi purulen yang ditandai dengan infiltrasi neutrofil dan pembentukan pus. Pelepasan mediator inflamasi seperti prostaglandin, bradikinin, IL-1, dan TNF-α meningkatkan permeabilitas vaskular dan menimbulkan nyeri hebat, eritema, edema, serta peningkatan suhu lokal pada vulva.⁷,¹¹
Akumulasi pus progresif meningkatkan tekanan intrakistik dan menyebabkan gangguan perfusi lokal. Kondisi ini dapat berujung pada ruptur spontan abses ke vestibulum vagina, yang sering disertai penurunan nyeri mendadak namun berisiko kekambuhan bila tidak ditangani dengan prosedur definitif seperti marsupialisasi.⁵,¹¹,¹⁴
Anamnesis
Nyeri lokal di vulva: Terasa saat duduk, berjalan, atau selama hubungan seksual; disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakistik dan proses inflamasi lokal pada abses.
Benjolan unilateral di area genital: Umumnya terletak pada posisi jam 4 atau jam 8 dari orifisium vagina, sesuai dengan lokasi anatomis kelenjar Bartholin.
Demam: Biasanya ringan, muncul pada kasus abses sebagai respon sistemik terhadap infeksi.
Riwayat trauma atau hubungan seksual: Dapat memicu sumbatan duktus kelenjar atau meningkatkan risiko infeksi sekunder.
Riwayat kekambuhan: Mengindikasikan kemungkinan kista atau abses rekuren yang memerlukan tata laksana definitif seperti marsupialisasi.⁵,¹⁰
Pemeriksaan Fisik
Kista Bartholini:
Massa unilateral di labia mayora bagian posterolateral.
Konsistensi lunak, fluktuatif.
Tidak nyeri tekan dan tanpa tanda inflamasi aktif.
Abses Bartholini:
Massa nyeri tekan dengan tanda kardinal inflamasi: kemerahan (eritema), pembengkakan, dan peningkatan suhu lokal.
Konsistensi tegang dan fluktuatif, menunjukkan adanya akumulasi pus.
Pasien kesulitan berjalan atau duduk karena nyeri hebat.
Pada fase lanjut, massa dapat tampak pucat, nyeri berkurang, dan menunjukkan tanda-tanda akan ruptur spontan.⁵,¹⁴
Pemeriksaan Penunjang
Kultur pus. Dilakukan pada abses berukuran besar, kasus yang tidak membaik dengan terapi antibiotik empiris, atau abses rekuren untuk mengidentifikasi mikroorganisme penyebab dan menentukan antibiotik yang tepat berdasarkan hasil sensitivitas.⁵,⁷
Pemeriksaan infeksi menular seksual (IMS). Diindikasikan pada pasien dengan perilaku seksual berisiko tinggi atau kecurigaan koinfeksi, terutama Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis. Pemeriksaan meliputi NAAT/PCR atau apusan serviks dan uretra.⁷,¹⁰
Biopsi. Wajib dipertimbangkan pada wanita usia >40 tahun, pasien pascamenopause, atau bila massa menunjukkan karakteristik atipikal dan tidak responsif terhadap terapi standar untuk menyingkirkan karsinoma kelenjar Bartholini.⁵,¹³
Dasar Diagnosis
Diagnosis kista dan abses Bartholini umumnya ditegakkan berdasarkan temuan klinis melalui:
Gejala khas: Nyeri unilateral pada vulva, terutama saat duduk, berjalan, atau berhubungan seksual, disertai pembengkakan lokal di posisi jam 4 atau jam 8 dari introitus vagina.
Pemeriksaan fisik: Identifikasi massa pada labia mayora bagian posterolateral. Kista ditandai oleh massa lunak dan tidak nyeri, sedangkan abses menunjukkan massa nyeri tekan, eritema, fluktuasi, dan kadang disertai demam.
Pemeriksaan penunjang selektif: Biopsi dilakukan pada pasien berusia >40 tahun atau bila massa menunjukkan tampilan atipikal untuk menyingkirkan keganasan.
Diagnosis tidak memerlukan pemeriksaan pencitraan (imaging) rutin karena lesi dapat dikenali melalui inspeksi dan palpasi langsung di praktik primer.⁵,⁷,¹³
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Perbedaan dengan Kista/Abses Bartholini |
|---|---|
| Bartholinitis | Merupakan fase inflamasi awal kelenjar Bartholini tanpa pembentukan massa fluktuatif atau pus. |
| Kista duktus Skene | Terletak lebih medial di dekat meatus uretra dan sering disertai keluhan berkemih. |
| Kista Gartner | Berasal dari sisa duktus mesonefros dan terletak di dinding lateral vagina bagian atas, bukan di vulva. |
| Lipoma | Massa jinak berisi jaringan lemak dengan konsistensi padat, tidak nyeri, dan tanpa tanda inflamasi. |
| Hidrosadenitis suppurativa | Lesi nyeri kronik yang multipel, sering disertai sinus dan fistula, serta bersifat rekuren dan tidak terkait kelenjar Bartholini. |
| Kista epidermal | Lesi superfisial pada kulit genitalia eksterna, biasanya tidak nyeri dan tidak fluktuatif kecuali terinfeksi. |
| Karsinoma vulva | Lesi keras atau ulseratif yang tidak membaik dengan terapi standar, terutama pada wanita usia >40 tahun, sehingga memerlukan biopsi untuk menyingkirkan keganasan.⁵,¹¹ |
Penatalaksanaan
1. Non-Farmakologis
Sitz bath (rendam air hangat) dilakukan 2–3 kali sehari selama 10–15 menit untuk meredakan nyeri, meningkatkan sirkulasi lokal, dan mempercepat drainase spontan, terutama pada abses kecil atau kista.
Edukasi kebersihan vulva dan seks aman penting untuk mencegah kekambuhan dan infeksi sekunder.
Hindari kompres dingin karena dapat menyebabkan vasokonstriksi lokal dan memperlambat proses penyembuhan.⁵,⁶,⁹
2. Farmakologis
(diberikan bila ada tanda sistemik seperti demam, selulitis, kehamilan, atau kegagalan drainase)
| Obat dan Sediaan | Dosis & Frekuensi | Farmakokinetik |
|---|---|---|
| Amoksisilin-Klavulanat(tablet) | 625 mg, 3x sehari | Spektrum luas; efektif untuk flora aerob dan anaerob; aman untuk ibu hamil |
| Doksisiklin(kapsul) | 100 mg, 2x sehari | Bakteriostatik; efektif terhadapChlamydia; kontraindikasi pada kehamilan |
| Metronidazol(tablet) | 500 mg, 2x sehari | Antimikroba anaerob; mengganggu DNA mikroba; digunakan pada infeksi campuran |
| Ceftriaxone(injeksi IM) | 500 mg dosis tunggal | Spektrum luas; efektif untukN. gonorrhoeae |
| Azitromisin(tablet) | 1 g dosis tunggal | Efektif terhadapChlamydia; sekali minum; toleransi baik |
Catatan : Antibiotik tidak direkomendasikan secara rutin pada abses kecil yang ditangani dengan insisi dan drainase, selama tidak ada tanda sistemik atau faktor risiko tambahan.⁵,⁹,¹⁰
3. Operatif
Insisi dan Drainase (I&D): Terapi utama untuk abses akut. Dilakukan dengan insisi kecil pada posisi jam 5–7 untuk menghindari pleksus vena besar di vulva. Setelah drainase, luka dibiarkan terbuka atau dipasang kateter.

Word catheter: Kateter balon kecil yang dipasang selama 4–6 minggu untuk membentuk saluran epitelisasi baru. Digunakan pada abses berulang atau saat prosedur invasif ingin dihindari.

Marsupialisasi: Diindikasikan untuk abses rekuren atau kista besar. Prosedur ini melibatkan insisi vertikal dan penjahitan tepi kista ke kulit untuk menjaga saluran tetap terbuka dan mencegah sumbatan ulang.
Eksisi total kelenjar: Dilakukan pada kasus sangat rekuren (>2 kali) atau pada wanita usia >40 tahun yang memerlukan evaluasi histopatologis untuk menyingkirkan keganasan.
Alternatif prosedur: Meliputi skleroterapi, fistulisasi laser, atau pemasangan kateter Foley kecil pada kondisi tertentu atau saat fasilitas terbatas.⁵,⁹,¹¹,¹³,¹⁴
Komplikasi
Kista dan abses Bartholini umumnya bersifat jinak, namun bila tidak ditangani dengan tepat atau terjadi kekambuhan, kondisi ini dapat menimbulkan beberapa komplikasi berikut:
Rekurensi (10–15%), terjadi ketika penatalaksanaan hanya berupa insisi dan drainase (I&D) tanpa menciptakan saluran epitelisasi baru seperti marsupialisasi atau pemasangan Word catheter. Tanpa saluran drainase yang menetap, obstruksi duktus mudah terjadi kembali akibat fibrosis atau sumbatan pasca-inflamasi, menyebabkan pembentukan kista baru.
Kista residual, terjadi bila epitelisasi saluran baru tidak sempurna setelah marsupialisasi atau drainase. Saluran yang terbentuk dapat kolaps atau tersumbat kembali, sehingga sekresi mukus tetap terperangkap dalam rongga dan membentuk kista steril berulang.
Pembentukan sinus atau fistula, abses yang ruptur spontan atau drainase yang tidak adekuat dapat membentuk saluran epitelisasi abnormal ke permukaan kulit atau vestibulum, yang sulit sembuh sendiri. Kondisi ini terjadi akibat destruksi jaringan lokal dan fibrosis inflamasi kronik.
Selulitis atau infeksi jaringan lunak sekitar, jika infeksi menyebar ke jaringan perivulva, terjadi perluasan inflamasi hingga labia atau perineum, menimbulkan nyeri hebat dan eritema difus. Patofisiologinya melibatkan penyebaran bakteri dan sitokin inflamasi seperti TNF-α dan IL-1 ke jaringan subkutan.
Karsinoma Kelenjar Bartholini, meskipun jarang, terutama pada wanita usia >40 tahun, kista atau abses yang rekuren atau tidak responsif perlu dicurigai sebagai keganasan. Kanker ini umumnya berasal dari epitel duktus Bartholini, dengan perjalanan lambat namun invasif. Perubahan sel atipik dapat dipicu oleh inflamasi kronik atau stimulasi hormonal berlebih.⁵,¹¹,¹³,¹⁴
Prognosis
Ad vitam – Bonam, Kista dan abses Bartholini memiliki prognosis kehidupan yang baik. Infeksi bersifat lokal dan jarang mengancam nyawa. Mortalitas sangat rendah bila penanganan dilakukan tepat waktu, tidak ada penyakit komorbid berat, respons terhadap antibiotik adekuat, dan tidak terjadi sepsis atau penyebaran ke jaringan lunak.⁵
Ad functionam – Bonam, prognosis fungsi umumnya baik. Sebagian besar pasien tidak mengalami gangguan fungsi seksual, berkemih, maupun fertilitas setelah terapi yang adekuat. Pemulihan optimal terjadi bila tindakan tepat (marsupialisasi atau kateterisasi), tidak terbentuk jaringan parut luas atau fistula, serta pasien menjalani edukasi dan kontrol pascaprosedur.⁵
Ad sanationam – Bonam hingga Dubia, kemungkinan kesembuhan lengkap umumnya tinggi, terutama setelah tindakan definitif seperti marsupialisasi, eksisi kelenjar, atau pemasangan Word catheter. Namun, pada kasus abses rekuren atau obstruksi berulang, prognosis menjadi dubia karena risiko kekambuhan yang lebih tinggi.⁵,⁹
Edukasi
Edukasi pasien sangat penting untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi. Hal-hal yang harus disampaikan antara lain:
Menjaga kebersihan area genital dengan membasuh vulva dari depan ke belakang dan menghindari sabun iritatif.
Menghindari hubungan seksual selama fase nyeri atau inflamasi akut, serta menggunakan kondom untuk mencegah infeksi menular seksual.
Melakukan rendam duduk (sitz bath) secara rutin untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangi nyeri.
Mematuhi kontrol pasca prosedur seperti marsupialisasi atau pemasangan Word catheter untuk memastikan saluran tetap terbuka.
Mengenali tanda kekambuhan, seperti benjolan berulang, nyeri saat duduk atau berjalan, dan segera mencari pertolongan medis.
Melaporkan gejala atipikal, terutama pada usia >40 tahun, lesi tidak mengecil, atau terjadi perdarahan spontan, untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan.
Kriteria Rujukan
Rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan atau spesialis obstetri dan ginekologi diperlukan pada kondisi berikut:
Usia >40 tahun, karena risiko karsinoma Bartholini meningkat dan biopsi diperlukan untuk konfirmasi.
Rekurensi lebih dari dua kali, yang memerlukan marsupialisasi atau eksisi kelenjar.
Tidak ada perbaikan setelah terapi konservatif, termasuk I&D atau antibiotik.
Abses sangat besar atau disertai selulitis luas, yang memerlukan penanganan bedah lanjut dan rawat inap.
Kecurigaan keganasan vulva atau kista atipikal (keras, ulseratif, atau pertumbuhan cepat).⁵,⁹,¹¹,¹³