
Ketuban Pecah Dini
Definisi dan Batasan
Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum terjadi kontraksi uterus atau sebelum timbulnya tanda-tanda inpartu, terlepas dari usia kehamilan.
KPD merupakan salah satu penyebab tersering rujukan obstetri gawat darurat dan berkontribusi terhadap 20–30% kasus persalinan prematur.¹,¹⁰
Etiologi
Etiologi KPD dapat dibedakan berdasarkan usia kehamilan saat ketuban pecah:
1. KPD pada Kehamilan Aterm (≥37 minggu):
Faktor mekanik berupa peningkatan tekanan intrauterin akibat kontraksi atau overdistensi uterus.
Kelemahan struktural membran karena perubahan fisiologis menjelang persalinan.
Aktivitas fisik atau hubungan seksual.
Pemeriksaan dalam atau intervensi medis.²
2. KPD pada Kehamilan Preterm (<37 minggu):
Infeksi saluran genital bawah (seperti vaginosis bakterialis, Streptococcus grup B, ureaplasma) yang memicu pelepasan sitokin proinflamasi.
Serviks inkompeten yang menyebabkan tekanan prematur pada selaput ketuban.
Malnutrisi dan defisiensi mikronutrien (terutama vitamin C dan seng).
Merokok aktif atau paparan asap rokok.
Riwayat PROM preterm sebelumnya.
Trauma obstetri atau prosedur invasif seperti amniosentesis.²
Faktor risiko umum yang berperan:
Infeksi saluran genital (misalnya vaginosis bakterialis, Streptococcus Grup B)
Serviks inkompeten
Overdistensi uterus (akibat kehamilan kembar atau polihidramnion)
Riwayat KPD pada kehamilan sebelumnya
Pemeriksaan dalam atau prosedur invasif
Malnutrisi dan kebiasaan merokok
Trauma obstetrik atau amniosentesis.²
Klasifikasi
Klasifikasi KPD berdasarkan usia gestasi saat terjadinya ruptur membran:
Preterm PROM (Premature Rupture of Membranes)= PPROM : Ketuban pecah sebelum usia kehamilan 37 minggu. Kondisi ini berisiko tinggi menyebabkan komplikasi seperti prematuritas, infeksi intrauterin, dan gangguan perkembangan janin akibat belum lengkapnya maturasi organ, terutama paru-paru.
Aterm PROM (Premature Rupture of Membranes): Ketuban pecah pada atau setelah usia kehamilan 37 minggu, tetapi sebelum adanya kontraksi persalinan (inpartu). Penanganannya biasanya dengan induksi persalinan jika kontraksi spontan tidak terjadi dalam 12–24 jam untuk mencegah infeksi.
Pembagian ini menentukan tatalaksana karena perbedaan risiko dan pendekatan manajemen antara kehamilan aterm dan preterm.³
Patofisiologi
Ketuban pecah dini terjadi akibat kombinasi gangguan mekanik, biokimia, dan infeksi yang melemahkan integritas membran amnion dan korion. Secara fisiologis, membran ini tersusun dari kolagen tipe I dan III serta protein struktural lainnya yang menjaga elastisitas dan kekuatannya.
Pada KPD, proses patofisiologis utama meliputi:
Aktivasi enzim proteolitik: seperti metaloproteinase (MMP-1, MMP-2, dan MMP-9) yang memecah kolagen dan elastin membran.
Stres oksidatif: menghasilkan radikal bebas yang merusak protein dan lipid membran.
Respon inflamasi: dari infeksi mikroba yang melepaskan sitokin seperti IL-1, IL-6, dan TNF-α, mempercepat pelemahan membran.
Penurunan kadar inhibitor MMP alami: seperti TIMP (Tissue Inhibitor of Metalloproteinase), yang memperparah kerusakan jaringan.
Infeksi seperti vaginosis bakterialis atau kolonisasi GBS dapat memicu kaskade inflamasi ini. Peningkatan tekanan intrauterin—baik akibat polihidramnion atau kehamilan ganda—juga dapat mempercepat robekan selaput ketuban.⁴
Anamnesis
Keluarnya cairan mendadak dari vagina yang tidak berbau, jernih atau sedikit keruh, dan dapat berulang. Gejala infeksi yang mungkin menyertai meliputi demam, nyeri perut bawah, dan keputihan abnormal.⁵
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik bertujuan untuk mengidentifikasi cairan ketuban dan mengevaluasi tanda-tanda infeksi atau komplikasi:
Inspeksi: cairan bening keluar terus-menerus dari introitus vagina, sering membasahi pakaian dalam atau perineum. Dokumentasikan warna, bau, dan volume cairan.
Inspekulo: dilakukan dengan spekulum untuk melihat adanya pooling (cairan yang menggenang di forniks posterior atau mengalir dari os serviks). Pemeriksaan ini memberikan konfirmasi visual tanpa memicu kontraksi atau infeksi.
Palpasi abdomen: lakukan dengan hati-hati untuk menilai tinggi fundus uteri, kontraksi, dan presentasi janin. Perhatikan adanya nyeri tekan yang mungkin mengindikasikan korioamnionitis.
Pemeriksaan dalam: harus dihindari bila belum inpartu untuk mencegah peningkatan risiko infeksi pada ibu dan janin.⁶
Pemeriksaan Tambahan
Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk mengonfirmasi pecahnya selaput ketuban dan mendeteksi adanya infeksi:
Nitrazin test: menggunakan kertas lakmus untuk mendeteksi pH basa cairan ketuban (pH >7). Perubahan warna menjadi biru mengindikasikan adanya cairan ketuban. Perhatikan kemungkinan hasil positif palsu akibat darah, semen, atau infeksi vagina.
Ferning test: cairan dari forniks posterior dioleskan pada kaca objek, dikeringkan, lalu diperiksa di bawah mikroskop. Cairan ketuban akan menunjukkan pola kristal menyerupai pakis (ferning).
Ultrasonografi (USG): digunakan untuk menilai volume cairan ketuban (AFI), posisi janin, dan mendeteksi komplikasi seperti oligohidramnion atau prolaps tali pusat.
CRP (C-reactive protein), leukosit, dan kultur serviks: dilakukan bila ada kecurigaan infeksi intrauterin. Peningkatan CRP dan jumlah leukosit mengindikasikan infeksi, sedangkan kultur membantu mengidentifikasi patogen penyebab.⁷
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Pembeda utama |
|---|---|
| Keputihan fisiologis | Tidak mengalir terus-menerus, tidak membasahi pakaian |
| Inkontinensia urin | Tidak terjadi gambaran ferning dan hasil nitrazin negatif |
| Vaginitis | Disertai rasa gatal, keputihan purulen |
| Perdarahan antepartum | Cairan berwarna merah, bukan bening |
| Solusio plasenta dengan ruptur ketuban | Nyeri terus menerus dan kontraksi abnormal |
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan KPD disesuaikan dengan usia gestasi dan ada tidaknya komplikasi. Prinsip utama adalah menyeimbangkan risiko prematuritas dengan risiko infeksi intrauterin. Terdapat dua pendekatan utama: konservatif (ekspektan) dan aktif (terminasi).
Konservatif (Ekspektan)
Diberikan pada kasus PPROM <34 minggu tanpa infeksi atau gawat janin. Tujuannya memperpanjang kehamilan dan mengoptimalkan maturasi janin sambil memantau tanda infeksi.
Rawat inap dengan observasi ketat
Bed rest relatif
Pemantauan rutin suhu tubuh, DJJ, dan tanda-tanda infeksi
Antibiotik profilaksis: disesuaikan dengan PPK yang berlaku.
Kortikosteroid: deksametason untuk maturasi paru janin
Hindari pemeriksaan dalam
Aktif (Terminasi Persalinan)
Pendekatan aktif dilakukan ketika risiko infeksi lebih besar daripada manfaat mempertahankan kehamilan:
Aterm PROM: induksi persalinan jika tidak ada kontraksi spontan dalam 12–24 jam
PPROM ≥34 minggu: persalinan dianjurkan karena risiko infeksi yang meningkat
Terminasi segera diperlukan bila terdapat infeksi intrauterin, gawat janin, atau kondisi ibu yang tidak memungkinkan kehamilan dilanjutkan.
Farmakologis
| Obat | Dosis & Frekuensi | Farmakokinetik |
|---|---|---|
| Ampisilin | 2 g IV tiap 6 jam selama 48 jam | Antibiotik beta-laktam; menghambat sintesis dinding sel bakteri; dilanjutkan dengan antibiotik oral. |
| Eritromisin | 250 mg oral tiap 6 jam selama 7 hari | Makrolida; menghambat sintesis protein bakteri; efektif untuk infeksi genital non-Group B Streptococcus. |
| Deksametason | 6 mg IM tiap 12 jam x 4 dosis | Kortikosteroid; mempercepat maturasi paru janin dengan merangsang produksi surfaktan. |
| Paracetamol | 500 mg tiap 6–8 jam PRN | Antipiretik non-salisilat; digunakan untuk menurunkan demam akibat infeksi intrauterin. |
| Magnesium sulfat | 4–6 g IV bolus, lalu 1–2 g/jam drip | Agen neuroprotektif untuk janin <32 minggu, menurunkan risiko cerebral palsy; juga untuk preeklampsia berat. |
Operasi
Seksio sesarea dilakukan bila terdapat indikasi obstetrik lain seperti gawat janin, malpresentasi, atau korioamnionitis berat.⁹
Komplikasi
Korioamnionitis, terjadi akibat kontaminasi mikroba setelah ruptur
Sepsis neonatal: akibat transmisi infeksi dari ibu
Prolaps tali pusat: bila bagian terbawah janin belum masuk PAP (pintu atas panggul)
Persalinan preterm: jika usia gestasi <37 minggu.¹⁰
Prognosis
Ad vitam: baik jika tidak ada infeksi dan fasilitas rujukan memadai
Ad functionam: bergantung pada usia gestasi saat persalinan
Ad sanationam: baik bila persalinan dilakukan tepat waktu dan dengan teknik aseptik.¹⁰
Edukasi
Segera mencari pertolongan medis jika terdapat cairan yang keluar dari vagina
Hindari hubungan seksual dan aktivitas berat yang berlebihan
Perhatikan tanda-tanda infeksi seperti demam dan nyeri perut
Patuhi anjuran rawat inap dan penggunaan antibiotik sesuai petunjuk dokter.¹⁰
Kriteria Rujukan
Pasien dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) harus dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan sekunder atau tersier bila ditemukan kondisi berikut:
KPD pada kehamilan preterm (<37 minggu), terutama <34 minggu.
Tanda infeksi intrauterin: demam, nyeri tekan uterus, leukositosis, atau cairan ketuban berbau.
Gawat janin: DJJ abnormal, penurunan gerakan janin.
Prolaps tali pusat atau risiko tinggi prolaps (presentasi belum masuk PAP).
Tidak tersedia fasilitas perawatan neonatal intensif.
Kondisi maternal penyulit seperti preeklampsia berat, diabetes gestasional tidak terkontrol, atau status gizi buruk.
Tidak tersedia fasilitas untuk induksi atau persalinan aman.
Kriteria ini penting untuk memastikan keselamatan ibu dan janin serta penanganan yang optimal.⁵
Catatan
Pemeriksaan dalam sebaiknya dihindari kecuali dalam persiapan untuk tindakan persalinan
Perlu pemantauan terhadap prolaps tali pusat pada kasus di mana bagian terbawah janin belum masuk PAP