Karsinoma Serviks [2]

Karsinoma Serviks [2]


Definisi

Karsinoma serviks merupakan keganasan yang berasal dari epitel serviks, terutama di zona transformasi tempat terjadinya metaplasia skuamosa.¹


Epidemiologi

Kanker serviks merupakan kanker ke-4 tersering pada wanita secara global dengan ±604.000 kasus dan 342.000 kematian pada 2020, terutama di negara berpendapatan rendah–menengah akibat rendahnya skrining dan vaksinasi HPV.

Di Indonesia, kanker serviks menempati peringkat ke-2 tersering, dengan ±36.000 kasus baru dan ±21.000 kematian per tahun, mayoritas datang dalam stadium lanjut.

Negara dengan cakupan vaksinasi HPV tinggi menunjukkan penurunan insiden, sedangkan Indonesia masih memiliki beban penyakit tinggi karena keterbatasan akses deteksi dini dan vaksinasi.²,³,¹²,¹³


Etiologi

Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi (high-risk HPV) adalah kelompok tipe HPV yang memiliki potensi onkogenik tinggi dan dapat menyebabkan kanker serviks, terutama tipe 16 dan 18 yang bertanggung jawab atas lebih dari 70% kasus.¹,⁷


Faktor risiko yang meningkatkan persistensi HPV

Persistensi HPV adalah kondisi di mana infeksi HPV bertahan dalam sel epitel serviks selama periode lama (umumnya >6–12 bulan) tanpa dapat dibersihkan oleh sistem imun tubuh.

Imunosupresi, termasuk infeksi HIV atau penggunaan steroid jangka panjang, meningkatkan risiko progresi lesi prakanker.

Merokok menurunkan imunitas lokal serviks dan meningkatkan kerentanan terhadap transformasi sel.

Multipartner seksual meningkatkan risiko paparan HPV.

Hubungan seksual usia dini, saat zona transformasi lebih rentan terhadap infeksi HPV.

Multiparitas berkaitan dengan trauma serviks berulang dan inflamasi kronik.

Status sosial ekonomi rendah berkaitan dengan keterbatasan akses skrining dan deteksi dini.

Infeksi serviks kronis, termasuk Chlamydia trachomatis dan agen inflamatori lain, meningkatkan inflamasi mukosa.

Penggunaan kontrasepsi hormonal jangka panjang (≥5 tahun) berhubungan dengan peningkatan risiko kecil namun konsisten pada studi epidemiologi populasi.²-⁵


Klasifikasi



Anamnesis

Keluhan awal sering tidak khas dan kanker serviks stadium dini biasanya asimtomatis, sehingga banyak kasus terdeteksi melalui skrining IVA, Pap smear, atau tes HPV.

Perdarahan pervaginam—terutama postcoital, di luar siklus, atau postmenopause—merupakan gejala tersering pada stadium lanjut akibat kerapuhan tumor.

Keputihan berbau, kadang bercampur darah, terjadi karena nekrosis jaringan dan infeksi sekunder.

Nyeri panggul atau punggung bawah timbul bila tumor menginvasi parametrium atau menyebabkan obstruksi ureter.

Dispareunia dapat muncul akibat infiltrasi atau ulserasi lesi serviks dan vagina atas.

Gejala sistemik seperti penurunan berat badan, kelelahan, atau anemia mencerminkan penyakit lanjut.

Nyeri pinggang, oliguria, atau anuria dan tanda uremia mengarah pada hidronefrosis akibat penjepitan ureter.

Urin atau feses keluar melalui vagina menandakan fistula vesikovaginal atau rektovaginal pada penyakit sangat lanjut.¹,⁶,⁸


Pemeriksaan Fisik

Catatan :

Tidak dianjurkan melakukan pemeriksaan invasif atau manipulasi berlebihan bila dicurigai kanker serviks, karena berisiko perdarahan dan keterlambatan rujukan.

Rujuk segera bila terdapat lesi mencurigakan (ulseratif/nekrotik/mudah berdarah).¹,⁶


Pemeriksaan Penunjang

Pap smear (sitologi serviks) adalah metode skrining utama untuk mendeteksi perubahan pra-invasif seperti ASC-US, LSIL, HSIL, AGC, atau sel ganas. Pemeriksaan ini tidak menegakkan diagnosis, tetapi menentukan perlunya evaluasi lanjutan seperti kolposkopi.

HPV DNA test mendeteksi HPV risiko tinggi—terutama HPV 16/18—dengan sensitivitas tinggi untuk CIN 2/3. Tes ini dapat digunakan sebagai primary HPV screening atau co-testing bersama Pap smear.

Kolposkopi dilakukan bila hasil skrining abnormal atau tampak lesi mencurigakan. Tujuannya adalah memvisualisasi epitel abnormal dan menentukan lokasi biopsi. Temuan khas meliputi asetowhite, punctation, mosaic pattern, dan pembuluh atipik.

Biopsi serviks adalah gold standard diagnosis untuk menegakkan CIN 1–3 maupun kanker serviks invasif. Biopsi umumnya dilakukan secara kolposkopi-terarah.


Diagnosis Banding¹,⁶,⁸

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Karsinoma Serviks
Servisitis kronisKeputihan dapat muncul, tetapi tanpa massa infiltratif dan membaik dengan terapi infeksi.
Polip serviksLesi jinak berbatas jelas dan bertangkai, tidak mudah berdarah seperti tumor ganas.
Ektropion serviks (erosi serviks)Tampak eversi epitel glandular tanpa perdarahan spontan dan tanpa ulserasi infiltratif.
Kanker vaginaLesi berasal dari dinding vagina, sedangkan serviks dapat tampak normal; dibedakan dengan lokasi primer biopsi.
Leiomioma serviksTeraba sebagai massa padat homogen, tidak ulseratif dan tidak berdarah kontak seperti kanker.
Adenokarsinoma endometrium stadium lanjutMenimbulkan perdarahan postmenopause dengan penebalan endometrium pada USG, bukan berasal dari serviks.

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Edukasi perjalanan penyakit dan kemungkinan terapi.

Modifikasi gaya hidup : Berhenti merokok, Menjaga status gizi, Mengelola stres dan kecemasan.

Tata laksana suportif : Manajemen anemia (Fe, transfusi sesuai indikasi), Manajemen nyeri (analgesik bertahap).

Perbaikan hidrasi dan status nutrisi.

Edukasi pentingnya vaksinasi HPV dan Pap smear / HPV test pada keluarga pasien.¹,³,⁴,⁵,⁷,⁹


Farmakologi

Kemoterapi digunakan terutama pada stadium lanjut, rekuren, atau sebagai bagian dari kemoradiasi konkomitan (CCRT).⁴,⁷,⁹

ObatDosis & FrekuensiFarmakokinetik / Keterangan
Cisplatin40 mg/m² IV 1×/minggu saat CCRTAgen alkilasi berbasis platinum; diekskresikan terutama melalui ginjal; radiosensitizer utama pada CCRT.
CarboplatinAUC 5–6 IV setiap 3 minggu (alternatif bila cisplatin tidak toleran)Ekskresi ginjal; toksisitas ginjal lebih rendah dibanding cisplatin; dosis berdasarkan rumus Calvert.
Paclitaxel + CisplatinPaclitaxel 135–175 mg/m² IV setiap 3 minggu + Cisplatin 50 mg/m²Paclitaxel dimetabolisme hepatik (CYP2C8/3A4); regimen lini pertama untuk penyakit metastatik atau rekuren.
Bevacizumab15 mg/kg IV setiap 3 minggu (metastatik/rekuren)Antibodi monoklonal anti-VEGF; meningkatkan kontrol penyakit dan survival; risiko perdarahan & fistula harus diperhatikan.

Radioterapi

External Beam Radiotherapy (EBRT): Menargetkan tumor primer dan kelenjar getah bening pelvis.

Brachytherapy (intrakavitasi): Menghantarkan dosis tinggi langsung ke serviks dan parametrium.

Kemoradiasi (CCRT): Standar untuk stadium IIB–IVA, menggunakan cisplatin mingguan.²,⁴,⁷

Operatif 🟨

Tujuan: mengangkat tumor primer, memastikan margin bebas tumor, dan menilai keterlibatan kelenjar getah bening.²,⁷,⁹



Penatalaksanaan Paliatif 🟨

Radioterapi paliatif digunakan untuk mengontrol perdarahan, nyeri pelvis, atau massa lokal melalui EBRT dosis rendah.

Manajemen nyeri mengikuti WHO analgesic ladder, termasuk adjuvan untuk nyeri neuropatik.

Transfusi darah diberikan pada anemia simptomatik akibat perdarahan.

Antibiotik digunakan bila ada infeksi sekunder pada tumor nekrotik berbau.

Stent ureter/nefrostomi dilakukan pada hidronefrosis untuk memperbaiki fungsi ginjal dan nyeri pinggang.

Perawatan fistula berfokus pada kontrol infeksi, kebersihan, dan dukungan psikososial.

Dukungan nutrisi diperlukan untuk mengatasi cachexia dan meningkatkan toleransi terapi.

Dukungan psikologis diberikan untuk membantu pasien dan keluarga memahami kondisi dan merencanakan perawatan akhir hayat.⁴,⁶,⁹


Komplikasi

Perdarahan hebat terjadi akibat erosi tumor ke pembuluh darah serviks, yang dapat menyebabkan anemia akut dan memerlukan transfusi atau radioterapi paliatif untuk menghentikan perdarahan.

Anemia kronik muncul karena perdarahan berulang dan inflamasi kronik tumor yang menghambat eritropoiesis, sehingga memperburuk kondisi umum pasien.

Hidronefrosis dan gagal ginjal terjadi ketika tumor atau nodus pelvis menekan ureter, menyebabkan obstruksi aliran urin, infeksi sekunder, dan akhirnya uremia bila tidak ditangani.

Fistula vesikovaginal atau rektovaginal dapat timbul akibat invasi tumor ke dinding kandung kemih atau rektum atau sebagai efek samping radioterapi; kondisi ini menyebabkan keluarnya urin atau feses dari vagina dan meningkatkan risiko infeksi.

Invasi ke kandung kemih atau rektum dapat menimbulkan hematuria, tenesmus, nyeri hebat, dan infeksi berulang akibat destruksi jaringan lokal.

Metastasis jauh ke paru, hati, atau tulang menyebabkan gejala sesuai organ terlibat, seperti batuk kronis, nyeri tulang, ikterus, atau sesak napas, menandakan penyakit stadium IV.

Limfedema ekstremitas bawah dapat terjadi setelah diseksi nodus pelvis atau radiasi, akibat gangguan drainase limfatik yang menyebabkan pembengkakan kronik.

Cachexia berkembang karena kombinasi inflamasi kronik, malnutrisi, dan peningkatan kebutuhan metabolik tumor, menyebabkan kelemahan progresif.

Infeksi pelvis dan sepsis dapat terjadi pada kanker lanjut dengan nekrosis tumor, perdarahan, atau fistula, yang mengganggu barier mukosa dan mempermudah invasi bakteri.

Disfungsi kandung kemih (retensi urin, inkontinensia) sering ditemukan setelah histerektomi radikal atau radioterapi karena kerusakan saraf autonom pelvis.²,⁴,⁶,⁷,⁸,⁹


Prognosis



Edukasi

Pentingnya vaksinasi HPV sebagai pencegahan primer kanker serviks.

Perilaku seksual aman, termasuk praktik monogami dan penggunaan proteksi, untuk mengurangi risiko paparan HPV berisiko tinggi.

Lakukan skrining rutin seperti IVA, Pap smear setiap 3 tahun, atau HPV test sesuai usia dan pedoman yang berlaku.

Edukasi mengenai berhenti merokok, karena merokok meningkatkan persistensi HPV dan progresivitas lesi pra-kanker.

Berikan informasi mengenai pentingnya akses pengobatan ke fasilitas rujukan yang memiliki kemampuan tata laksana kanker serviks, terutama jika ditemukan hasil skrining abnormal atau gejala mencurigakan.

Pasien diingatkan untuk mewaspadai gejala seperti perdarahan postkoitus, perubahan pola menstruasi, atau keputihan abnormal, dan segera mencari pertolongan medis ketika gejala tersebut muncul.

Anjurkan pasien untuk tetap mengikuti kontrol pasca terapi secara berkala untuk memantau keberhasilan pengobatan dan mendeteksi kekambuhan lebih awal.³,⁴,⁶,⁷,⁹


Kriteria Rujukan

Ditemukan lesi serviks mencurigakan, lesi ulseratif, nekrotik, atau mudah berdarah memerlukan evaluasi spesialis.

Hasil skrining abnormal, pap smear atau HPV DNA positif, termasuk HSIL, AGC, atau HPV high-risk persisten, memerlukan kolposkopi dan biopsi.

Perlu biopsi, kolposkopi, atau imaging lanjutan. Rujuk jika pemeriksaan tidak tersedia di FKTP.

Membutuhkan penanganan definitif. Semua kasus suspek atau terkonfirmasi kanker serviks (operasi/kemoradiasi) harus ditangani di layanan spesialistik.²,³,⁶,⁷


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini