
Karsinoma Endometrium [2]
Definisi
Karsinoma endometrium adalah keganasan epitel kelenjar endometrium.¹,²
Epidemiologi
Karsinoma endometrium adalah kanker ginekologi tersering di negara maju
Puncak usia diagnosis 55–65 tahun.
Insidensi terus meningkat seiring prevalensi obesitas dan sindrom metabolik.
Sekitar 80% kasus merupakan tipe endometrioid
Tipe agresif lebih jarang, namunmenyebabkan sebagian besar kematian.
Lebih dari 70% pasien terdiagnosis pada stadium awal karena gejala perdarahan pascamenopause mudah dikenali.
Prognosis umumnya lebih baik dibanding keganasan ginekologi lain.²,³,⁵,⁹
Klasifikasi
Etiologi
Hiperestrogenisme tanpa progesteron merupakan penyebab utama.
Estrogen berlebih memicu proliferasi endometrium berulang, membentuk hiperplasia yang dapat berkembang menjadi kanker.²,⁵,⁹
Faktor Risiko
Hiperestrogenisme tanpa antagonisme progesteron merupakan faktor risiko utama, meliputi obesitas, siklus anovulatorik kronik, PCOS, dan penggunaan estrogen tanpa progestin yang meningkatkan proliferasi endometrium secara terus-menerus.
Faktor hormonal dan reproduksi seperti menarke dini, menopause terlambat, nuliparitas, dan siklus anovulatorik (misalnya PCOS) memperpanjang paparan estrogen sepanjang hidup.
Usia >40 tahun meningkatkan risiko karena akumulasi paparan estrogen jangka panjang.
Obesitas meningkatkan aromatisasi androgen menjadi estrogen, menimbulkan hiperinsulinemia, dan inflamasi kronik yang mendukung karsinogenesis.
Sindrom Lynch (defisiensi MMR/MSI-H) merupakan faktor risiko genetik terkuat, dengan risiko kanker mencapai 40–60% akibat ketidakstabilan mikrosatelit dan akumulasi mutasi. Defisiensi MMR (Mismatch Repair deficiency) adalah kondisi di mana sistem perbaikan DNA tidak berfungsi dengan baik, menyebabkan ketidakstabilan mikrosatelit dan akumulasi mutasi genetik.
Mutasi genetik somatik seperti PTEN, PIK3CA, dan ARID1A terkait dengan tipe endometrioid, sedangkan mutasi TP53 berhubungan dengan tipe serosa yang agresif.
Penggunaan tamoksifen memiliki efek estrogenik pada uterus yang dapat memicu hiperplasia atipik dan kanker dalam penggunaan jangka panjang.
Diabetes mellitus dan hipertensi turut meningkatkan risiko melalui hiperinsulinemia dan inflamasi kronik.
Hiperplasia endometrium atipik adalah lesi prekursor paling signifikan, dengan risiko progresi menjadi karsinoma mencapai 30–40% bila tidak diobati.¹-⁵,⁷,⁹


Anamnesis
Perdarahan pervaginam pascamenopause, yang harus dianggap sebagai gejala peringatan keganasan endometrium sampai terbukti sebaliknya.
Pada wanita usia reproduktif, keluhan dapat berupa perdarahan uterin abnormal seperti perdarahan intermenstrual, perdarahan memanjang, atau siklus menstruasi yang tidak teratur.
Keputihan serosanguinous atau berbau dapat muncul akibat nekrosis tumor atau infeksi sekunder.
Nyeri panggul, rasa penuh di pelvis, atau tekanan abdomen bawah dapat mengindikasikan perluasan lokal atau penyakit stadium lanjut.
Gejala sistemik seperti penurunan berat badan, kelelahan, dan anoreksia dapat terjadi pada penyakit lanjut atau metastasis.
Riwayat faktor risiko perlu dieksplorasi, termasuk obesitas, siklus anovulatorik kronik (mis. PCOS), penggunaan estrogen tanpa progestin, tamoksifen, serta riwayat keluarga kanker endometrium atau kolorektal (kecurigaan sindrom Lynch).
Riwayat reproduksi seperti menarke dini, menopause terlambat, dan nuliparitas turut meningkatkan durasi paparan estrogen dan perlu ditanyakan secara spesifik.¹,²,⁵,⁸,⁹
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi umum: Tanda anemia seperti pucat, kelelahan, atau penurunan berat badan dapat ditemukan pada penyakit lanjut.
Pemeriksaan abdomen: Ditemukan massa pelvis atau nyeri tekan pada kasus dengan perluasan lokal atau metastasis.
Pemeriksaan spekulum: Menilai sumber perdarahan dari vagina atau serviks, memeriksa adanya lesi, polip, atau cairan abnormal. Pada karsinoma endometrium, serviks sering tampak normal, tetapi perdarahan aktif dapat terlihat.
Palpasi bimanual: Menilai ukuran uterus (dapat membesar pada penyakit lanjut), mobilitas, serta adanya massa pelvis.
Pemeriksaan rektovaginal: Dilakukan untuk mengevaluasi keterlibatan parametrium atau infiltrasi ke arah rektum, terutama pada kasus stadium lanjut.²
Pemeriksaan Penunjang
USG transvaginal (TVS) merupakan pemeriksaan awal untuk menilai ketebalan endometrium. Pada perempuan pascamenopause, ketebalan >4 mm meningkatkan kecurigaan keganasan dan memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Biopsi endometrium adalah gold standard untuk menegakkan diagnosis; metode dapat berupa biopsi pipelle, kuretase fraksional, atau biopsi terarah dengan histeroskopi. Pemeriksaan ini menentukan tipe histologis, derajat diferensiasi, serta mendeteksi hiperplasia atipik.
Histeroskopi digunakan untuk visualisasi lesi di dalam kavum uteri, terutama jika TVS tidak konklusif atau hasil biopsi tidak adekuat. Selain diagnostik, histeroskopi memungkinkan pengambilan sampel jaringan secara langsung.
MRI pelvis merupakan modalitas terbaik untuk menilai kedalaman invasi miometrium, keterlibatan serviks, dan evaluasi kelenjar getah bening, serta penting dalam penentuan stadium sebelum operasi.
CT-scan thorax–abdomen–pelvis digunakan untuk menilai keterlibatan nodus regional dan metastasis jauh, terutama pada stadium lanjut atau ketika gejala mengarah ke penyebaran ekstra-pelvis.
Diagnosis Banding²-⁵,⁹
| Diagnosis Banding | Perbedaan dengan Karsinoma Endometrium |
|---|---|
| Hiperplasia endometrium (± atipia) | Penebalan endometrium tanpa invasi stroma, bersifat lesi prekursor dan dikonfirmasi melalui histopatologi, bukan kanker invasif. |
| Polip endometrium | Tampak sebagai lesi fokal tunggal pada TVS/histeroskopi dengan batas jelas dan tidak menunjukkan pola invasi difus. |
| Mioma submukosa | Massa otot polos berbatas tegas yang menonjol ke kavum uteri dan menyebabkan perdarahan, tetapi bukan berasal dari epitel endometrium. |
| Karsinoma serviks | Lesi berasal dari serviks, tampak pada spekulum, dan biopsi serviks positif; endometrium sering tidak menampilkan massa primer. |
| Vaginitis atrofi | Perdarahan ringan pascamenopause akibat atrofi mukosa vagina, tanpa penebalan endometrium atau massa intrauterin. |
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Modifikasi faktor risiko seperti penurunan berat badan dan pengelolaan komorbid (diabetes, hipertensi) membantu menurunkan paparan estrogen perifer dan memperbaiki status metabolik yang berkontribusi pada progresi penyakit.
Pemantauan perdarahan dan kondisi hemodinamik dilakukan pada pasien yang belum dapat menjalani terapi definitif, termasuk evaluasi kadar hemoglobin dan tanda anemia.
Dukungan psikososial dan suportif meliputi manajemen stres, dukungan keluarga, optimalisasi nutrisi, dan perawatan paliatif pada penyakit lanjut.²,³,⁵,⁹
Operatif
Edukasi
Jelaskan kepada pasien bahwa perdarahan pascamenopause tidak normal dan memerlukan evaluasi segera karena merupakan gejala paling umum kanker endometrium.
Tekankan pentingnya deteksi dini dan kepatuhan terhadap pemeriksaan (USG, biopsi) serta rencana terapi untuk meningkatkan angka kesembuhan.
Anjurkan pengelolaan faktor risiko seperti penurunan berat badan, aktivitas fisik, dan pengendalian diabetes/hipertensi karena kondisi ini meningkatkan paparan estrogen dan risiko progresi.
Jelaskan potensi efek samping pembedahan, radioterapi, kemoterapi, dan imunoterapi agar pasien siap secara fisik dan mental sebelum terapi.
Pada pasien usia reproduktif, jelaskan dampak terapi terhadap kesuburan serta opsi fertility-sparing pada kasus sangat selektif.
Ingatkan tanda-tanda kekambuhan seperti perdarahan ulang, nyeri panggul progresif, atau gejala respirasi, dan anjurkan segera kontrol bila muncul keluhan.
Berikan dukungan emosional dan informasi mengenai layanan pendampingan (psikologi/keluarga) untuk membantu pasien menghadapi stres akibat diagnosis kanker.²,³,⁵,⁷,⁹
Komplikasi
Kriteria Rujukan
Perdarahan pascamenopause harus segera dirujuk untuk evaluasi lanjutan karena merupakan gejala paling penting dari kanker endometrium.
Penebalan endometrium >4 mm pada USG transvaginal pada perempuan pascamenopause dengan perdarahan menjadi indikasi rujukan untuk biopsi atau penilaian spesialis.
Hasil biopsi menunjukkan hiperplasia atipik atau sel ganas, atau hasil tidak adekuat tetapi kecurigaan klinis tinggi, harus dirujuk ke SpOG/Onkologi Ginekologi.
Kecurigaan stadium lanjut (massa pelvis, nyeri panggul berat, asites, gejala metastasis) memerlukan rujukan segera ke pusat rujukan onkologi.
Pasien dengan faktor risiko tinggi, termasuk kecurigaan sindrom Lynch atau riwayat keluarga kuat kanker endometrium/kolorektal, perlu dirujuk untuk evaluasi genetik.
Semua pasien yang membutuhkan terapi adjuvan (radioterapi, kemoterapi, imunoterapi, atau terapi target) harus dirujuk ke fasilitas dengan kompetensi onkologi.
Bila terjadi perdarahan berat, anemia simptomatik, atau tidak stabil, pasien harus dirujuk segera ke IGD/RS untuk stabilisasi dan penatalaksanaan awal.¹-⁵,⁷
Prognosis