Infeksi Saluran Kemih Bagian Bawah Non Komplikata (Cystitis) [4A]

Infeksi Saluran Kemih Bagian Bawah Non Komplikata (Cystitis) [4A]


Definisi

Cystitis adalah infeksi saluran kemih bagian bawah yang terbatas pada kandung kemih. Kondisi ini disebabkan oleh kolonisasi bakteri uropatogen tanpa keterlibatan ginjal (tidak ada demam tinggi atau nyeri pinggang) dan tanpa tanda pielonefritis. Pada kehamilan, cystitis perlu mendapat perhatian khusus karena perubahan fisiologis meningkatkan risiko infeksi dan dapat menyebabkan komplikasi obstetri seperti persalinan prematur.⁵,⁶

Etiologi

Sekitar 80% kasus disebabkan oleh Escherichia coli uropatogenik.

Patogen lain: Klebsiella pneumoniae, Proteus mirabilis, Enterobacter spp., dan Enterococcus faecalis.

Pada wanita muda yang aktif secara seksual: Staphylococcus saprophyticus.

Pada pasien dengan imunosupresi atau kateterisasi jangka panjang: Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter, dan Candida albicans.⁶,⁷,⁸,⁹


Faktor Resiko

Hubungan seksual

Penggunaan diafragma/spermisida

Kebersihan perineal yang buruk

Menopause

Diabetes

Kehamilan (stasis urin akibat efek progesteron)

Patofisiologi

Infeksi umumnya terjadi melalui jalur asendens dari flora perianal ke uretra lalu ke kandung kemih. Mekanisme pertahanan tubuh meliputi: pH urin asam, mukoprotein Tamm-Horsfall, IgA mukosa, dan aliran urin yang adekuat.

Pada kehamilan, perubahan fisiologis seperti dilatasi ureter, penurunan tonus otot polos saluran kemih, dan peningkatan kapasitas kandung kemih mempermudah kolonisasi bakteri. Ketika mekanisme pertahanan ini gagal atau terbebani oleh jumlah bakteri yang banyak, terjadi peradangan pada lapisan mukosa kandung kemih yang memicu gejala khas cystitis.⁶,⁸,⁹

Asimtomatik Bakteriuria

Insiden: 3–10% pada wanita usia reproduktif dan 2–10% pada kehamilan.

Perlu dilakukan skrining pada kehamilan karena berisiko berkembang menjadi pielonefritis dan dapat menyebabkan komplikasi obstetri.⁶,¹⁰,¹¹,¹³

Anamnesis

Gejala utama: disuria, polakisuria, urgensi miksi, nyeri suprapubik, dan urin keruh atau berbau.

Tidak disertai demam tinggi, nyeri pinggang, atau gejala sistemik lainnya.¹²

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik umumnya normal atau hanya ditemukan nyeri tekan suprapubik ringan.

Tidak ada nyeri ketok CVA (penting untuk membedakan dari pielonefritis).¹²

Pemeriksaan Penunjang

A. Urinalisis

merupakan pemeriksaan rutin untuk menilai status kesehatan saluran kemih dan metabolisme tubuh. Terdiri dari 3 komponen utama:

1.

Pemeriksaan Makroskopis

Tujuan: Menilai karakter fisik urin.

Parameter:

Warna: normal kuning jernih; merah → hematuria, coklat → bilirubinuria, kuning pekat → dehidrasi.

Kejernihan: keruh menandakan adanya sel, kristal, atau bakteri.

Bau: amonia → infeksi bakteri, manis → ketonuria/DM, busuk → infeksi kronis.

2.

Pemeriksaan Kimiawi (Tes Dipstik)

Metode: Strip reagen celup; perubahan warna dibaca sesuai indikator.

Parameter utama: pH, protein, glukosa, keton, bilirubin, urobilinogen, darah, nitrit, leukosit esterase.

Interpretasi penting pada ISK:

Leukosit esterase positif → adanya leukosit (piuria).

Nitrit positif → indikasi bakteri Gram negatif penghasil nitrat reduktase (E. coli, Klebsiella).

Hematuria → sering muncul pada sistitis.

pH urin → netral/alkalis pada infeksi Proteus/Klebsiella, tetap asam pada infeksi E. coli.

3.

Pemeriksaan Mikroskopis Sedimen Urin

Metode: Urin disentrifugasi, sedimen diperiksa di bawah mikroskop.

Temuan penting:

Piuria: ≥5 leukosit/LPK (sensitif untuk diagnosis ISK pada wanita bergejala).

Hematuria: ≥3 eritrosit/LPK.

Bakteriuria: visualisasi langsung bakteri.

Kristal: misalnya struvit pada infeksi Proteus.

Silinder: hialin, leukosit, eritrosit, granular; indikasi keterlibatan ginjal.

B. Kultur Urin dan Uji Kepekaan (Gold Standard)

Metode: Sampel diinokulasi pada agar darah atau MacConkey agar; diinkubasi 18–24 jam, hitung koloni → tentukan CFU/mL.

Interpretasi bakteriuria signifikan:

≥10⁵ CFU/mL pada pasien tanpa gejala.

≥10²–10³ CFU/mL pada pasien bergejala.

Pertumbuhan campuran >2 jenis bakteri → indikasi kontaminasi.

Pengaruh metode pengambilan sampel:

Midstream clean-catch → paling akurat, risiko kontaminasi minimal.

Kateter → dapat memberi jumlah koloni lebih rendah/different CFU.

Kontaminasi flora perineal → hasil koloni tinggi dan bercampur.

Indikasi kultur: gejala atipikal, gagal terapi empiris, ISK berulang, kehamilan, dugaan ISK komplikata.

Dilanjutkan dengan uji kepekaan antibiotik untuk panduan terapi.

Pemeriksaan Tambahan

Pewarnaan Gram: identifikasi awal morfologi dan tipe Gram bakteri dari sedimen atau koloni.

Pewarnaan Giemsa: jarang, untuk dugaan infeksi parasit (Schistosoma haematobium) atau organisme intrasel.

Tes Kehamilan: dilakukan pada wanita usia reproduktif sebelum pemberian obat yang kontraindikasi pada kehamilan.

USG ginjal–kandung kemih: bila curiga kelainan struktural atau retensi urin.

Foto polos abdomen/KUB (Kidney, Ureter, and Bladder): bila curiga batu.

Pemeriksaan darah (darah lengkap, fungsi ginjal): bila ada tanda komplikasi.


Klasifikasi ISK Berulang

Relaps: infeksi berulang oleh patogen sama <14 hari pasca terapi.

Reinfeksi: infeksi baru oleh patogen sama/berbeda >14 hari pasca terapi.

Kejadian ulang: 20–40% dalam 6 bulan setelah infeksi awal.¹⁵

Diagnosis Banding


DiagnosisPersamaan dengan CystitisPerbedaan dengan Cystitis
Uretritis (gonore/klamidia)Disuria, urgensi berkemihKultur urin negatif, ada discharge uretra, hasil tes NAAT positif
VaginitisDisuria ringanDischarge vagina abnormal, pruritus, pH vagina meningkat
PielonefritisDisuria, urgensiDemam tinggi, nyeri pinggang, CVA tenderness positif, leukositosis
Batu saluran kemihNyeri suprapubik, hematuriaNyeri kolik pinggang menjalar, hasil imaging positif batu
Sistitis interstisialDisuria, urgensiTidak ada bakteriuria, nyeri pelvik kronik, gejala >6 minggu

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Edukasi kebersihan perineum (bersihkan dari depan ke belakang).

Banyak minum (≥1,5–2 L/hari).

Hindari menahan kencing.

Berkemih setelah hubungan seksual.

Farmakologis

Obat dan SediaanDosisLama TerapiCatatan
Nitrofurantoin kapsul 100 mg2 x 100 mg 5 hariHindari pada trimester akhir kehamilan
Fosfomisin trometamol bubuk 3 g untuk larutan oral3 g diminum sekali1 hariAlternatif untuk kepatuhan pasien
Trimethoprim-sulfamethoxazole tablet 160 mg/800 mg160 mg trimethoprim + 800 mg sulfamethoxazole diminum 2 kali sehari3 hariHindari pada trimester pertama & akhir kehamilan
Cephalexin kapsul 500 mg4 X 500 mg 5–7 hariAman untuk ibu hamil

Catatan

Gunakan nitrofurantoin (trimester I–II) atau cephalexin.

Hindari fluoroquinolon selama kehamilan.

Non-Farmakologis

Edukasi kebersihan perineum (bersihkan dari depan ke belakang).

Minum cukup (1,5–2 L/hari), jangan menahan kencing, berkemih setelah hubungan seksual.¹⁵,¹⁸

Farmakologis

Catatan: Fluoroquinolon hanya bila tidak ada alternatif atau resistensi rendah.¹³

Kehamilan

Aman: Nitrofurantoin (hindari trimester akhir), Cephalexin.

Hindari: TMP-SMX trimester awal/akhir, fluoroquinolon.¹⁹

Komplikasi

4.

Pielonefritis akut : Terjadi ketika bakteri dari kandung kemih naik melalui ureter ke pelvis renalis dan parenkim ginjal. Inflamasi ini menyebabkan edema dan kerusakan jaringan ginjal, serta dapat memicu sepsis jika bakteri masuk ke aliran darah.

5.

Urosepsis : Infeksi yang meluas ke sirkulasi sistemik, memicu respons inflamasi sistemik (SIRS) dan disfungsi organ multipel. Kondisi ini umumnya terjadi pada pasien usia lanjut atau yang mengalami imunosupresi.

6.

Infeksi berulang : Bakteri dapat bersembunyi di lapisan urotelium dan membentuk biofilm, sehingga sulit dieliminasi dan dapat memicu episode infeksi berulang.

7.

Hematuria persisten : Inflamasi kronis pada dinding kandung kemih dapat merusak pembuluh darah submukosa, menyebabkan urin bercampur darah.

8.

Beban kehamilan (pada ibu hamil) : ISK meningkatkan risiko kontraksi prematur karena pelepasan sitokin proinflamasi dan prostaglandin yang memicu aktivitas uterus.⁵,⁶,⁷,⁹,¹⁰

Prognosis

DimensiPrognosisKeteranganDeterminan Utama
Ad vitamBonamMortalitas rendah bila diagnosis dan terapi dilakukan tepat waktuTidak terjadi komplikasi berat seperti pielonefritis atau urosepsis
Ad functionamBonamSebagian besar pasien kembali produktif dan fungsi kandung kemih pulihTerapi yang tepat dan eliminasi faktor risiko
Ad sanationamDubiaBisa sembuh total pada kasus tanpa komplikasi berat; namun berisiko rekurensiKeberhasilan terapi antibiotik, kekebalan tubuh, dan pencegahan infeksi ulang

Edukasi

Minum air yang cukup (1,5-2 liter/hari) dan jaga kebersihan area perineum.

Biasakan berkemih secara rutin, jangan ditahan, dan selalu berkemih setelah hubungan seksual.

Segera periksakan diri ke dokter bila gejala berlangsung >3 hari atau muncul gejala lain seperti demam atau nyeri pinggang.¹²

Kriteria Rujukan

Demam >38°C, nyeri pinggang, atau dugaan pielonefritis.

ISK berulang ≥3 kali dalam setahun.

Kegagalan terapi empiris.

Kehamilan dengan tanda komplikasi obstetri.

Pasien dengan kelainan anatomis saluran kemih atau kondisi imunosupresi.


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini