Infeksi Intra-Uterin (Korioamnionitis)

Infeksi Intra-Uterin (Korioamnionitis)



Definisi

Korioamnionitis adalah infeksi bakteri pada membran korion, amnion, cairan amnion, sering juga melibatkan plasenta dan janin, yang dapat menyebabkan morbiditas serta mortalitas maternal maupun neonatal.¹,²


Etiologi

Umumnya disebabkan oleh infeksi naik (ascending infection) dari vagina dan serviks.

Patogen tersering: Ureaplasma urealyticum, Mycoplasma hominis, Gardnerella vaginalis, GBS, E. coli, anaerob seperti *Bacteroides spp.²,⁵

Faktor Risiko

Beberapa kondisi berikut meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi intrauterin:

Ketuban pecah dini (KPD) >18 jam: Membuka jalur masuk mikroorganisme dari vagina ke rongga amnion.

Persalinan lama >12 jam: Durasi lama memberikan waktu lebih banyak bagi patogen untuk naik.

Pemeriksaan vaginal berulang: Meningkatkan risiko kontaminasi mikroba ke dalam rongga uterus.

Amniotomi dini: Tindakan invasif yang memungkinkan jalur masuk bakteri.

Polihidramnion: Kondisi yang bisa mengindikasikan gangguan dan mempermudah kolonisasi patogen dari vagina dan serviks.²


Klasifikasi

Klinis: suhu ≥38°C plus ≥2 tanda lainnya (takikardia maternal/janin, uterus nyeri, cairan ketuban keruh/berbau).

Histopatologis: infiltrasi neutrofil pada chorion & amnion, funisitis menunjukkan FIRS.²


Patofisiologi

Infeksi dimulai dari kolonisasi bakteri di vagina dan serviks yang naik ke rongga amnion melalui serviks terbuka, terutama setelah ketuban pecah. Bakteri tersebut menyerang membran korion dan amnion serta cairan ketuban, memicu respon imun lokal dan sistemik.

Sistem imun maternal merespons dengan memproduksi sitokin proinflamasi (IL-1β, IL-6, TNF-α) dan prostaglandin yang mempercepat pematangan serviks dan merangsang kontraksi uterus.

Prostaglandin E2 dan F2α menyebabkan uterotonisitas meningkat → mempercepat persalinan prematur.

Infiltrasi neutrofil di membran menunjukkan respons imun lokal, sedangkan masuknya bakteri ke tali pusat menyebabkan funisitis.

Funisitis menandai aktivasi sistem imun janin (Fetal Inflammatory Response Syndrome, FIRS), yang meningkatkan risiko sepsis, kerusakan jaringan, dan cerebral palsy pada neonatus.

Inflamasi dapat merusak barier plasenta dan memfasilitasi transmisi sistemik.

Proses ini progresif dan memerlukan intervensi cepat untuk mencegah komplikasi berat pada ibu dan janin.²,²¹


Anamnesis

KPD >18 jam, persalinan lama, keluhan demam, menggigil, nyeri perut bawah.²


Pemeriksaan Fisik

Demam ≥38°C, takikardia maternal >100x/menit.

Takikardia janin >160x/menit (CTG baseline naik, variabilitas turun, late decel).

Uterus nyeri tekan, cairan ketuban keruh atau berbau.²,⁵


Pemeriksaan Penunjang²

PemeriksaanTujuanHasil khas
LeukositInflamasi sistemik>15.000 /μL
CRPInflamasi non-spesifik↑²
ProkalsitoninSpesifik sepsis↑²¹
Kultur cairan amnionIdentifikasi bakteri(+)²
USGSludge amnionTidak spesifik

Dasar Diagnosis

Diagnosis korioamnionitis ditegakkan secara klinis, dan dapat diperkuat dengan temuan penunjang:

Kriteria klinis utama:

Demam maternal ≥38°C (rektal atau aksila), dan

Disertai ≥2 dari:

Takikardia maternal (>100x/menit)

Takikardia janin (>160x/menit)

Nyeri tekan uterus

Cairan ketuban keruh dan/atau berbau

Temuan pendukung (opsional):

Leukositosis maternal >15.000/μL

CRP meningkat

Hasil kultur cairan amnion positif

Diagnosis ini bersifat eksklusi, artinya penyebab lain seperti ISK, gastroenteritis, atau HELLP harus dipertimbangkan dan disingkirkan. Jika tersedia, kultur cairan amnion dapat membantu konfirmasi etiologi infeksi.²,⁶


Diagnosis Banding

Diagnosis BandingKarakteristik Pembeda
Infeksi Saluran Kemih (ISK)Demam dapat terjadi, namun disertai disuria, nyeri suprapubik atau pinggang, tidak ada nyeri uterus atau cairan ketuban abnormal.
ApendisitisNyeri kuadran kanan bawah (RLQ), nyeri tekan McBurney, rebound positif, tidak ada cairan ketuban berbau atau demam obstetrik.
GastroenteritisDemam ringan, dominan diare atau muntah, tidak ada nyeri uterus, dan biasanya tidak berhubungan dengan kehamilan.
HELLP SyndromeHipertensi, hemolisis, peningkatan enzim hati, trombositopenia, tanpa tanda infeksi atau cairan ketuban abnormal.
Amnion NodosumDitemukan pada pemeriksaan histopatologi sebagai deposit keratin pada membran, tidak ada manifestasi klinis inflamasi akut.

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Rujukan:

Segera rujuk ke rumah sakit tipe C atau lebih tinggi bila terdapat tanda-tanda sepsis maternal, hipotensi, takikardia refrakter, oliguria (output urin <30 mL/jam), atau gawat janin.

Penanganan awal termasuk stabilisasi hemodinamik sebelum rujukan.²,²¹

Monitoring Ketat:

Suhu tubuh ibu dicatat setiap 4 jam.

Denyut jantung janin (DJJ) dan tanda vital maternal (tekanan darah, nadi, frekuensi napas) dipantau setiap 30 menit.

Gunakan CTG (cardiotocography) kontinu untuk menilai kesejahteraan janin.²,⁵

Terapi Cairan:

Resusitasi dengan NaCl 0,9% atau Ringer Laktat.

Target: 1,5–2 kali kebutuhan basal untuk mempertahankan perfusi uterus dan hemodinamik ibu.²¹

Posisi dan Lingkungan:

Posisi lateral kiri untuk mengurangi tekanan vena cava dan meningkatkan aliran darah uteroplasenta.

Ruangan bersuhu nyaman, hindari paparan dingin atau stresor tambahan.²

Farmakologis

ObatDosis & FrekuensiContoh Merek (Indonesia)Mekanisme/Farmakokinetik
Ampisilin + Sulbaktam2g IV tiap 6 jamAmpisilin–Sulbaktam Kalbe®Bakterisidal; hambat sintesis dinding sel
Gentamisin1,5 mg/kg IV tiap 8 jamGaramycin®Aminoglikosida; hambat sintesis protein bakteri
Metronidazol (anaerob)500 mg IV tiap 8 jamFlagyl®, Nulagyl®Ganggu DNA bakteri anaerob
Piperacillin + TazobactamDosis sesuai protokolTazocin®Spektrum luas, termasuk gram-negatif dan anaerob
MgSO₄ (neuroproteksi janin <32 mg)Loading 4 g IV lalu 1 g/jamMgSO₄ injeksi (generik)Stabilkan membran neuron janin

Operasi

Indikasi persalinan segera: Setelah diagnosis klinis korioamnionitis ditegakkan, persalinan harus segera direncanakan karena risiko infeksi lanjutan terhadap ibu dan janin.

Tidak perlu menunggu maturasi paru janin dengan kortikosteroid, karena keterlambatan persalinan justru meningkatkan risiko komplikasi.

Rute persalinan:

Persalinan vaginal menjadi pilihan utama jika tidak ada kontraindikasi obstetri, karena infeksi intrauterin bukan indikasi mutlak untuk seksio sesarea.

Seksio sesarea (SC) hanya dilakukan jika ada indikasi obstetri seperti presentasi janin abnormal, gagal kemajuan persalinan, atau gawat janin yang tidak merespons.

Tindakan pendukung: Bila memungkinkan, hindari pemakaian instrumen invasif berlebihan seperti vakum atau forceps yang dapat meningkatkan risiko trauma dan infeksi lanjutan pada neonatus.²


Komplikasi

Komplikasi maternal:

Sepsis: Infeksi sistemik akibat respon inflamasi berat yang tidak tertangani.

Endometritis: Infeksi pasca persalinan yang menyerang endometrium.

Abses pelvis: Perkembangan lokal dari infeksi yang tidak tuntas.

Diseminasi intravaskular koagulasi (DIC): Aktivasi sistem koagulasi akibat inflamasi berat yang dapat menyebabkan perdarahan masif.

Komplikasi neonatal:

Early onset neonatal sepsis (EONS): Infeksi sistemik dalam 72 jam pertama kehidupan akibat kolonisasi bakteri intrauterin.

Pneumonia neonatal: Akibat aspirasi cairan ketuban terinfeksi.

Funisitis sebagai tanda FIRS (Fetal Inflammatory Response Syndrome) meningkatkan risiko komplikasi neurologis dan imunologis pada neonatus, seperti Cerebral palsy (CP), Asma, gangguan perkembangan saraf dan perilaku.²,⁶


Edukasi Pasien

Pentingnya kontrol antenatal teratur untuk mendeteksi dini infeksi.

Waspadai gejala seperti demam, nyeri perut bawah, atau cairan keluar dari vagina.

Jika terjadi ketuban pecah dini (KPD), segera ke fasilitas kesehatan dan hindari hubungan seksual serta aktivitas vaginal lainnya.

Edukasi mengenai pentingnya menyelesaikan antibiotik sesuai resep jika diberikan.

Pengawasan bayi baru lahir minimal 48 jam setelah lahir meski tampak sehat, untuk memantau sepsis neonatal.


Kriteria Rujukan

Pasien harus segera dirujuk ke fasilitas dengan layanan obstetri komprehensif (RS tipe C atau lebih tinggi) jika terdapat:

Tanda-tanda sepsis maternal (demam tinggi, takikardia, hipotensi)

Gawat janin (CTG non-reassuring)

Ketuban pecah dini >18 jam dengan tanda infeksi

Output urin <30 mL/jam

Tidak tersedia fasilitas persalinan aman di layanan primer

Adanya komplikasi seperti preeklamsia/HELLP bersamaan.²,²¹

Prognosis

Ad vitam (kehidupan): Umumnya baik jika diagnosis dan penatalaksanaan dilakukan secara cepat dan tepat. Namun, risiko mortalitas meningkat signifikan bila terjadi sepsis maternal yang tidak ditangani.

Ad functionam (fungsi): Janin dengan paparan inflamasi berat (misalnya FIRS atau funisitis) berisiko mengalami gangguan neurologis jangka panjang seperti cerebral palsy.

Ad sanationam (kesembuhan): Ibu dan janin dapat sembuh total bila terapi diberikan secara dini dan menyeluruh. Namun, bila intervensi terlambat, komplikasi jangka panjang bisa terjadi.²,⁶


Catatan

Jangan menunggu maturasi paru janin jika diagnosis korioamnionitis klinis sudah ditegakkan.

Funisitis merupakan manifestasi inflamasi janin Fetal Inflammatory Response Syndrome (FIRS), yang menandakan aktivasi respon imun janin dengan risiko komplikasi neurologis dan sistemik.²,⁴,⁸


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini