
Endometriosis [2]
Definisi
Endometriosis adalah penyakit inflamasi kronik bergantung estrogen, ditandai oleh keberadaan jaringan mirip endometrium (kelenjar dan stroma) di luar uterus. Penyakit ini berhubungan dengan nyeri panggul dan infertilitas.¹,²

Epidemiologi
Endometriosis diperkirakan mengenai sekitar 10% wanita usia reproduksi di populasi umum.
Prevalensi lebih tinggi pada kelompok bergejala: 30–50% pada nyeri panggul kronik dan 20–50% pada infertilitas.
Diagnosis paling sering ditegakkan pada usia 25–35 tahun, meskipun gejala dapat dimulai sejak remaja.
Rata-rata terjadi keterlambatan diagnosis 6–10 tahun akibat variasi gejala, normalisasi nyeri haid, dan keterbatasan akses diagnostik.
Penyakit ini sering underdiagnosed, terutama pada lesi superfisial yang tidak terdeteksi melalui imaging.
Endometriosis merupakan salah satu penyebab utama gangguan kualitas hidup dan beban ekonomi tinggi akibat nyeri kronik serta gangguan fertilitas.
Faktor risiko meliputi menarke dini, siklus menstruasi pendek, nulliparitas, dan riwayat keluarga positif.¹,²,⁵,⁶
Etiologi
Etiologi endometriosis bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi faktor biologis dan lingkungan:
Retrograde menstruation (refluks menstruasi melalui tuba) — mekanisme paling umum. Darah haid membawa sel endometrium ke tuba fallopi dan rongga pelvis, tempat sel tersebut berimplantasi dan bertahan di peritoneum.
Faktor genetik — meningkatkan risiko pada kerabat derajat pertama. Beberapa varian gen terkait inflamasi dan regulasi hormon telah ditemukan.
Gangguan fungsi imun — sistem imun gagal mengeliminasi sel endometrium yang bermigrasi, sehingga sel tersebut berimplantasi dan memicu inflamasi kronik.
Peran estrogen — mendorong proliferasi dan kelangsungan hidup lesi melalui peningkatan aktivitas aromatase lokal dan rendahnya konversi estradiol menjadi bentuk yang lebih lemah. Estrogen juga memicu inflamasi, angiogenesis, dan neuroangiogenesis.
Metaplasia selomik — transformasi sel mesotel peritoneal menjadi jaringan mirip endometrium, terutama pada lesi peritoneal superfisial.¹,²,⁵

Teori-teori patofisiologi endometriosis dan faktor-faktor utama yang terlibat dalam etiologinya. (Ribeiro et al., (2024).
Klasifikasi 🟨
Anamnesis
Keluhan Utama
Nyeri panggul kronik ≥6 bulan yang berhubungan dengan menstruasi, sering progresif dan tidak responsif terhadap analgesik standar.
Dismenore progresif—nyeri haid yang semakin memberat dari waktu ke waktu. Ini merupakan gejala paling khas endometriosis. Disebabkan oleh inflamasi pelvis, produksi prostaglandin tinggi, dan neuroangiogenesis, sehingga nyeri tidak membaik dengan terapi biasa.
Dispareunia (nyeri saat berhubungan)—terjadi bila terdapat lesi pada forniks posterior, ligamentum uterosakral, atau septum rektovaginal yang teregang selama penetrasi.
Infertilitas—ditemukan pada 30–50% pasien endometriosis. Disebabkan oleh adhesi pelvis, gangguan ovulasi, stres oksidatif, dan inflamasi peritoneal yang mengganggu fertilisasi dan implantasi.¹,²,³
Riwayat Menstruasi
Siklus pendek atau perdarahan banyak—dapat terjadi akibat inflamasi kronik pada endometrium eutopik atau adenomiosis penyerta. Pola nyeri khas: muncul sebelum haid dan menetap setelahnya.
Dyschezia (nyeri saat defekasi)—umumnya muncul saat menstruasi, menandakan kemungkinan keterlibatan rektum atau septum rektovaginal serta adanya infiltrasi dalam (DIE).
Dysuria atau nyeri suprapubik siklik—mengarah pada kemungkinan lesi kandung kemih atau ureter, terutama bila keluhan muncul berulang saat haid.¹,²,⁴
Riwayat Lain
Riwayat keluarga positif—risiko meningkat 6–7 kali pada kerabat tingkat pertama, mendukung peran faktor genetik.
Respons buruk terhadap NSAID dan Kontrasepsi Oral Kombinasi (KOK)—nyeri yang tidak membaik dengan terapi lini pertama memperkuat kecurigaan adanya endometriosis aktif atau DIE (Deep Infiltrating Endometriosis).⁴
Pemeriksaan Fisik
Uterus retrofleksi atau terfiksasi—sering akibat adhesi pada ligamentum uterosakral atau peritoneum posterior. Temuan klasik pada endometriosis panggul.
Nyeri tekan tajam pada forniks posterior—disebabkan infiltrasi peritoneum posterior atau nodul endometriosis yang sensitif akibat neuroangiogenesis.
Nodul keras pada ligamentum uterosakral—teraba sebagai penebalan atau nodul nyeri yang mengarah kuat pada Deep Infiltrating Endometriosis (DIE).
Massa adneksa atau pembesaran ovarium—disertai nyeri tekan, sugestif untuk endometrioma ovarii, terutama bila konsisten dan bilateral.
Cervical motion tenderness (CMT)—mencerminkan inflamasi pelvis atau adhesi parametrial yang sering menyertai endometriosis.
Penebalan atau nodul pada septum rektovaginal—ditemukan pada pemeriksaan rektovaginal dan merupakan tanda khas DIE kompartemen A/C.
Nyeri pada penekanan dinding rektum—mengarah pada kemungkinan infiltrasi rektal atau adhesi rektosigmoid.¹,²,³
Pemeriksaan Penunjang 🟨
MRI pelvis direkomendasikan untuk pemetaan deep infiltrating endometriosis (DIE) kompleks atau sebelum tindakan operatif, tetapi tidak digunakan sebagai skrining rutin.
CA-125 dapat meningkat pada stadium sedang–berat, tetapi tidak direkomendasikan sebagai alat diagnosis atau skrining tunggal karena sensitivitas dan spesifisitas terbatas.
Evaluasi saluran kemih atau rektum (TRUS, CT-urography, atau IVP) dilakukan bila dicurigai keterlibatan ureter atau usus pada kasus DIE.¹,²,³,⁴,⁷
Diagnosis Banding¹,²,³,⁴
| Diagnosis Banding | Perbedaan dengan Endometriosis |
|---|---|
| Mioma uteri | Menyebabkan perdarahan dan rasa penuh panggul, tetapi tidak menimbulkan dismenore progresif atau nyeri siklik seperti endometriosis. |
| Adenomiosis | Menyebabkan uterus membesar dan nyeri haid hebat difus, namun nyerinya tidak terlokalisasi di forniks posterior dan tidak disertai endometrioma. |
| Penyakit radang panggul (PID) | Nyeri panggul biasanya akut, disertai demam dan keputihan, berbeda dari pola nyeri siklik endometriosis. |
| Kista ovarium non-endometriotik | Kista anekoik atau tipikal jinak pada USG, tidak memiliki ground-glass appearance dan tidak menimbulkan dispareunia dalam. |
| Irritable bowel syndrome (IBS) | Gangguan defekasi kronik tanpa pola siklik dan tidak ditemukan nodul atau nyeri forniks posterior. |
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Edukasi pasien bahwa dismenore berat bukan hal normal. Tujuan terapi adalah kontrol nyeri jangka panjang.
Modifikasi gaya hidup: olahraga ringan, manajemen stres, dan tidur teratur dapat menurunkan inflamasi pelvis.
Fisioterapi dasar panggul untuk mengurangi hipertonisitas otot panggul dan nyeri muskuloligamentosa.
Terapi perilaku kognitif (CBT) untuk nyeri kronik yang terkait sentralisasi nyeri.
Diet anti-inflamasi (omega-3, rendah lemak trans) dapat menurunkan beban inflamasi peritoneal.¹-⁴
Farmakologis 🟨
Terapi farmakologis bertujuan : menekan stimulasi estrogen, menghambat proliferasi lesi, dan mengurangi inflamasi serta nyeri.
Pemilihan obat disesuaikan dengan keinginan fertilitas, usia, respons terapi sebelumnya, dan profil efek samping.¹,²,⁷
Prinsip Umum
Terapi hormonal diberikan secara kontinu dan jangka panjang untuk menekan aktivitas lesi.
Tidak ada terapi yang bersifat kuratif—kekambuhan dapat terjadi setelah penghentian terapi.
Pemilihan terapi disesuaikan dengan keinginan fertilitas, risiko efek samping, dan tingkat keparahan penyakit.²
Operatif 🟨
Laparoskopi operatif diindikasikan pada pasien dengan nyeri refrakter terhadap terapi medis, kecurigaan DIE dengan gangguan fungsi organ, endometrioma simptomatik, atau infertilitas dengan indikasi bedah tertentu.
Pada lesi DIE, pendekatan excision (eksisi lengkap lesi) lebih direkomendasikan dibanding ablasi karena memberikan kontrol nyeri jangka panjang yang lebih baik dan mengurangi risiko residu lesi.
Operasi harus mempertimbangkan risiko penurunan cadangan ovarium, terutama pada eksisi endometrioma bilateral atau berulang.
Pada keterlibatan ureter, kandung kemih, atau usus, diperlukan multidisciplinary surgical approach (ginekolog, bedah digestif, urologi) untuk menurunkan risiko komplikasi.
Risiko komplikasi meliputi cedera ureter, perforasi usus, fistula, perdarahan, dan adhesi ulang, terutama pada DIE kompartemen posterior.
Operasi tidak bersifat kuratif, dan nyeri dapat menetap akibat central sensitization, sehingga terapi hormonal jangka panjang pascaoperasi direkomendasikan untuk menurunkan risiko rekurensi.¹,²,³,⁷
Manajemen Fertilitas 🟨
Endometriosis menyebabkan infertilitas melalui adhesi pelvis, gangguan ovulasi, inflamasi peritoneal, dan penurunan kualitas oosit.
Pada stadium I–II (minimal–ringan) dengan infertilitas, pertimbangkan induksi ovulasi ± IUI setelah evaluasi faktor lain.
Pada stadium III–IV (sedang–berat) atau infertilitas persisten, IVF/ART adalah pilihan yang lebih efektif.
Eksisi endometrioma sebelum IVF tidak dilakukan secara rutin, kecuali bila menyebabkan nyeri berat, kecurigaan keganasan, atau mengganggu akses pengambilan oosit—karena pembedahan dapat menurunkan cadangan ovarium (AMH).
Supresi hormonal sebelum IVF tidak meningkatkan angka kehamilan secara konsisten, sehingga tidak direkomendasikan secara rutin.
Usia ≥35 tahun, durasi infertilitas lama, atau cadangan ovarium rendah adalah indikasi untuk mempercepat rujukan ke ART.¹,²,⁷
Komplikasi 🟨
Nyeri panggul kronik, disebabkan oleh inflamasi persisten, produksi prostaglandin dan sitokin, serta neuroangiogenesis. Dapat berkembang menjadi central sensitization sehingga nyeri menetap meskipun lesi minimal atau telah dioperasi.
Infertilitas, terjadi akibat adhesi pelvis, gangguan anatomi tuba–ovarium, stres oksidatif pada oosit, dan lingkungan inflamasi yang mengganggu fertilisasi serta implantasi.
Adhesi pelvis & distorsi anatomi, inflamasi kronik dan perdarahan mikro memicu fibrosis progresif yang mengganggu fungsi organ panggul.
Endometrioma dan penurunan cadangan ovarium, dapat terjadi akibat proses penyakit atau setelah eksisi bedah, terutama pada kasus bilateral atau berulang.
Komplikasi kehamilan, meningkatkan risiko plasenta previa, persalinan prematur, abortus, dan preeklamsia—kemungkinan akibat gangguan implantasi dan inflamasi sistemik.
Gangguan kualitas hidup dan psikologis, nyeri kronik dan infertilitas meningkatkan risiko depresi, kecemasan, disfungsi seksual, dan penurunan produktivitas kerja.
Transformasi maligna (jarang), endometrioma kronik dapat berubah menjadi karsinoma ovarium tipe clear cell atau endometrioid pada kasus tertentu.¹,²,⁴,⁵
Prognosis
Ad vitam: Prognosis umumnya baik karena endometriosis bukan penyakit yang meningkatkan mortalitas secara langsung.
Ad functionam: Dapat terganggu akibat nyeri panggul kronik, disfungsi seksual, gangguan psikologis, dan infertilitas, terutama pada kasus dengan DIE atau central sensitization.
Ad sanationam: Kurang baik karena penyakit bersifat kronik dan rekuren, dengan angka kekambuhan sekitar 20–50% dalam 5 tahun, terutama setelah terapi konservatif atau tanpa supresi hormonal jangka panjang.¹,²,⁷
Edukasi
Endometriosis adalah penyakit kronik dan dapat kambuh, sehingga tujuan terapi adalah kontrol gejala jangka panjang, bukan penyembuhan total.
Dismenore berat bukan hal normal; pasien perlu memahami pentingnya evaluasi dini untuk mencegah progresi dan komplikasi.
Kepatuhan terhadap terapi hormonal jangka panjang penting untuk menekan aktivitas lesi dan menurunkan risiko rekurensi, termasuk setelah operasi.
Operasi bukan terapi kuratif, dan nyeri dapat menetap terutama bila telah terjadi central sensitization.
Perencanaan fertilitas perlu dibahas sejak awal, terutama pada pasien usia ≥35 tahun atau dengan cadangan ovarium rendah.
Modifikasi gaya hidup seperti aktivitas fisik teratur, manajemen stres, tidur adekuat, dan pola makan anti-inflamasi dapat membantu mengurangi gejala.
Dukungan psikologis atau konseling dapat diperlukan karena penyakit ini sering berdampak pada kualitas hidup, relasi seksual, dan kesehatan mental.¹,²,⁷
Kriteria Rujukan
Nyeri persisten setelah ≥3 bulan terapi awal.
Infertilitas >12 bulan (atau >6 bulan bila usia ≥35 tahun).
Endometrioma ≥4 cm, dugaan DIE, atau komorbid kompleks.
Respons terapi tidak adekuat Pasien yang tidak mengalami perbaikan setelah terapi hormonal selama 3 - 6 bulan memerlukan evaluasi spesialis untuk penyesuaian tata laksana.¹,²,⁷