
Abses Folikel Rambut atau Kelenjar Sebasea Vulva [4]
Definisi
Abses folikel rambut atau kelenjar sebasea vulva adalah infeksi akut pada unit pilosebaseus di genitalia eksterna wanita yang ditandai peradangan lokal dan pembentukan kavitas berisi pus. Infeksi ini paling sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan dapat berkembang dari folikulitis menjadi furunkel atau karbunkel.¹-⁴

Epidemiologi
Abses folikel rambut atau kelenjar sebasea adalah infeksi kulit yang sering dijumpai di layanan primer, termasuk pada area vulva.
Paling sering mengenai wanita remaja hingga dewasa muda, terutama setelah trauma mikro seperti pencukuran atau waxing genital.
Staphylococcus aureus, termasuk MRSA komunitas, merupakan penyebab tersering.
Risiko meningkat pada obesitas, diabetes melitus, higiene buruk, dan kelembapan lokal.¹-⁴
Etiologi
Staphylococcus aureus adalah penyebab tersering, termasuk CA-MRSA pada kasus berulang atau gagal terapi.
Trauma mikro kulit (shaving, waxing, gesekan) merupakan pencetus utama yang mempermudah masuknya bakteri ke unit pilosebaseus.
Faktor host seperti diabetes melitus, obesitas, kolonisasi S. aureus, dan higiene genital buruk meningkatkan risiko infeksi.
Patogen lain seperti Streptococcus spp. dan Pseudomonas aeruginosa dapat terlibat pada folikulitis yang berhubungan dengan pajanan air hangat atau kelembapan berkepanjangan.²-⁵
Klasifikasi

Folikulitis vulva, infeksi superfisial pada folikel rambut yang ditandai pustula kecil di sekitar folikel, dengan nyeri minimal dan tanpa pembentukan kavitas pus.
Furunkel (abses folikel), infeksi lebih dalam pada unit pilosebaseus dengan pembentukan pus terlokalisir, tampak sebagai nodul nyeri, eritematosa, dan fluktuatif.
Karbonkul, kumpulan beberapa furunkel yang saling berhubungan dan melibatkan jaringan lebih luas serta lebih dalam; sering disertai nyeri berat dan gejala sistemik.¹-³
Patofisiologi
Kerusakan barier kulitTrauma mikro pada unit pilosebaseus—seperti pencukuran, waxing, gesekan, atau kelembapan—merusak epitel dan memudahkan masuknya bakteri komensal kulit.
Kolonisasi dan proliferasi bakteriStaphylococcus aureus menginvasi folikel rambut atau kelenjar sebasea, berproliferasi, lalu menghasilkan enzim dan toksin yang merusak jaringan sekitar.
Respons inflamasi akutAktivasi imun bawaan memicu infiltrasi neutrofil dan pelepasan mediator inflamasi (sitokin), yang menyebabkan eritema, edema, nyeri, dan panas lokal.
Pembentukan pus dan kavitas absesAkumulasi neutrofil, debris jaringan, dan bakteri membentuk pus. Nekrosis lokal menciptakan kavitas terlokalisir yang teraba fluktuatif.
Perluasan atau komplikasiKeterlibatan beberapa folikel berdekatan dapat membentuk karbonkul. Pada kondisi host tertentu (DM, MRSA), risiko rekurensi dan perluasan meningkat.¹-⁵
Anamnesis
Keluhan utama: benjolan nyeri di vulva (labia mayor, mons pubis, atau perineum) yang muncul akut dan membesar dalam beberapa hari.
Nyeri fungsional: nyeri bertambah saat duduk, berjalan, atau ada gesekan dengan pakaian/aktivitas.
Tanda inflamasi: rasa panas, berdenyut, dan tegang lokal; pada fase lanjut dapat muncul titik pustula.
Gejala sistemik: demam atau malaise jarang terjadi, kecuali pada karbonkul atau infeksi luas.
Riwayat pencetus: pencukuran/waxing genital, gesekan pakaian ketat, keringat berlebih, atau higiene buruk.
Faktor risiko: diabetes melitus, obesitas, imunokompromi, atau riwayat abses berulang.¹-⁵
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi: tampak nodul eritematosa di labia mayor, mons pubis, atau perineum; pada abses matang dapat terlihat pustula atau titik drainase sentral.
Palpasi: teraba nyeri tekan dan fluktuatif (menandakan kavitas pus); fase awal terasa padat dan sangat nyeri.
Tanda inflamasi lokal: kemerahan, pembengkakan, dan peningkatan suhu lokal.
Lesi luas/karbonkul: beberapa nodul saling berhubungan dengan lebih dari satu titik drainase.
Kelenjar getah bening: dapat ditemukan limfadenopati inguinal pada infeksi yang lebih berat.¹-⁴,⁶,⁷
Pemeriksaan Penunjang
Tidak rutin diperlukan: diagnosis abses kecil hingga sedang tanpa tanda sistemik bersifat klinis, sehingga pemeriksaan penunjang tidak wajib.
Kultur pus + uji kepekaan: dilakukan secara selektif pada abses rekuren, besar, gagal terapi empiris, atau bila dicurigai MRSA, guna menentukan antibiotik definitif.
Pemeriksaan darah (DL/CRP): dipertimbangkan bila terdapat demam atau tanda sistemik untuk menilai derajat inflamasi.
Glukosa darah: dianjurkan pada abses berulang atau penyembuhan lambat guna skrining diabetes melitus.
Histopatologi (selektif): dilakukan pada lesi atipikal atau tidak sembuh atau pada usia lanjut untuk menyingkirkan keganasan vulva.¹,³,⁴,⁶,⁷,⁸,⁹
Diagnosis Banding¹,³,⁴,⁶,⁷
| Diagnosis | Perbedaan dengan Abses Folikel Rambut atau Kelenjar Sebasea Vulva |
|---|---|
| Kista Bartholini | Benjolan terletak di jam 4 atau 8 introitus vagina, lebih dalam, biasanya tanpa pustula dan tidak berasal dari folikel rambut. |
| Hidradenitis suppurativa | Nodul nyeri kronik berulang dengan sinus traktus dan jaringan parut, sering multipel dan bilateral. |
| Herpes genital | Lesi vesikel multipel yang nyeri, mudah pecah menjadi ulkus dangkal, sering disertai sensasi terbakar dan rekuren. |
| Lipoma vulva | Massa lunak, tidak nyeri, tumbuh perlahan, tanpa tanda inflamasi atau infeksi. |
| Karsinoma vulva | Lesi ulseratif atau nodul keras, sering pada usia la |
Penatalaksanaan
Non‑Farmakologis
Kompres hangat lokal 2–3 kali/hari untuk mempercepat maturasi dan drainase abses kecil.
Edukasi higiene vulva, menjaga area tetap kering, serta menghindari gesekan dan trauma (pencukuran/waxing).
Pakaian longgar untuk mengurangi iritasi dan kelembapan lokal.³,⁶
Farmakologis
Antibiotik tidak selalu diperlukan pada abses kecil yang sudah didrainase secara adekuat dan tanpa tanda infeksi sistemik.³,⁴
| Obat | Dosis & Frekuensi | Target Kuman | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Cephalexin | 500 mg 4×/hari 7–10 hari | S. aureus non-MRSA, Streptococcus | β-laktam: menghambat sintesis dinding sel (ikat PBP) → bakterisidal |
| Flucloxacillin | 500 mg 4×/hari 7–10 hari | S. aureus penghasil penicillinase | β-laktam tahan penicillinase: hambat dinding sel → bakterisidal |
| TMP-SMX | 1 DS tab 2×/hari 7–10 hari | S. aureus termasuk MRSA | Inhibisi berurutan sintesis folat (DHPS & DHFR) → bakterisidal |
| Doksisiklin | 100 mg 2×/hari 7–10 hari | S. aureus termasuk MRSA | Tetrasiklin: hambat sintesis protein (subunit 30S) → bakteriostatik |
| AINS (mis. asam mefenamat) | 500 mg 2–3×/hari PRN | — | Inhibisi COX → ↓ prostaglandin (analgesik/antiinflamasi) |
Operatif
Insisi dan drainase (I&D) adalah terapi utama untuk abses folikel rambut/kelenjar sebasea vulva yang sudah matang (fluktuatif), nyeri, atau tidak membaik dengan terapi konservatif.
Prinsip teknik: buat insisi kecil pada titik paling fluktuatif, evakuasi pus secara adekuat, irigasi dengan NaCl steril, dan tidak perlu penjahitan; gunakan balutan kasa longgar agar drainase dapat berlangsung.
Kultur pus dilakukan bersamaan dengan I&D pada abses rekuren, besar, atau gagal terapi awal untuk menentukan antibiotik definitif.
Packing luka umumnya tidak dianjurkan secara rutin pada abses kecil karena tidak meningkatkan penyembuhan dan menambah nyeri, kecuali pada kavitas besar atau bila terdapat perdarahan.
Rujukan ke bedah/spesialis diperlukan bila abses sangat besar, multipel/karbonkul, meluas menjadi selulitis luas, dicurigai diagnosis lain (hidradenitis suppurativa/keganasan), atau pasien memiliki kondisi khusus (imunokompromais, diabetes tidak terkontrol).³,⁴,⁶,⁷
Komplikasi
Selulitis vulva dan perineum, Infeksi menyebar dari abses ke jaringan subkutan sekitar akibat drainase tidak adekuat atau keterlambatan terapi.
Abses rekuren, kekambuhan berulang terjadi akibat kolonisasi Staphylococcus aureus (termasuk MRSA), faktor predisposisi yang tidak terkontrol, atau higiene buruk.
Pembentukan jaringan parut, inflamasi berulang dan tindakan bedah menyebabkan fibrosis dan parut pada area vulva.
Infeksi sistemik (jarang), pada kasus berat atau pasien imunokompromais, infeksi dapat berkembang menjadi bakteremia atau sepsis.
Salah diagnosis keganasan, lesi yang tidak sembuh atau atipikal dapat menutupi karsinoma vulva dan menunda diagnosis bila tidak dievaluasi lebih lanjut.³,⁴,⁶˒⁷
Prognosis
Ad vitam: Baik, abses folikel rambut atau kelenjar sebasea vulva tidak mengancam jiwa bila ditangani secara adekuat.
Ad functionam: Baik, gangguan aktivitas bersifat sementara akibat nyeri lokal dan membaik setelah abses terdrainase serta infeksi terkontrol.
Ad sanationam: Baik, sebagian besar kasus sembuh sempurna dengan terapi konservatif atau insisi dan drainase. Kekambuhan dapat terjadi bila faktor predisposisi tidak dikendalikan.³,⁴,⁶
Edukasi
Perawatan lokal, lakukan kompres hangat pada area vulva 2–3 kali sehari untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangi nyeri.
Higiene vulva, jaga kebersihan dan pastikan area genital tetap kering. Hindari sabun iritatif atau antiseptik keras yang dapat merusak barier kulit.
Hindari trauma lokal, jangan memencet lesi. Tunda pencukuran atau waxing area genital hingga infeksi sembuh untuk mencegah perburukan dan penyebaran.
Pakaian dan lingkungan, gunakan pakaian dalam yang longgar dan menyerap keringat untuk mengurangi gesekan dan kelembapan.
Kepatuhan terapi, habiskan antibiotik sesuai dosis dan durasi yang dianjurkan, meskipun keluhan sudah membaik.
Waspada tanda bahaya, segera kembali berobat bila muncul demam, nyeri bertambah berat, lesi membesar cepat, atau abses kambuh kembali.³,⁴,⁶,⁸,⁹
Kriteria Rujukan
Abses besar atau dalam, diameter >5 cm, melibatkan jaringan dalam, atau sulit diinsisi dan didrainase secara adekuat di layanan primer.
Tidak respons terhadap terapi awal, tidak ada perbaikan klinis setelah insisi dan drainase serta pemberian antibiotik yang sesuai.
Abses rekuren atau multipel, kekambuhan berulang (>2 kali/tahun) atau lesi multipel yang menimbulkan kecurigaan hidradenitis suppurativa atau kondisi lain.
Tanda infeksi sistemik atau komplikasi, demam, nyeri berat, perluasan menjadi selulitis luas, atau kecurigaan bakteremia/sepsis.
Kondisi khusus pasien, pasien imunokompromais, diabetes tidak terkontrol, kehamilan dengan infeksi berat, atau komorbid signifikan lainnya.
Kecurigaan keganasan vulva, lesi atipikal, tidak sembuh dengan terapi standar, atau terjadi pada usia lanjut sehingga memerlukan evaluasi histopatologi.³,⁴,⁶,⁷,¹⁰,¹¹
Catatan
Furunkel vulva lebih sering terjadi pada remaja dan dewasa muda, terkait dengan aktivitas folikel rambut dan faktor mekanik lokal.
Kejadian ini sering dipicu oleh trauma mikro pada kulit vulva seperti gesekan, pencukuran, atau waxing yang memudahkan masuknya bakteri ke unit pilosebaseus.⁶