
Abrupsio Plasenta / Solusio Plasenta [3B].
Definisi
Abrupsio plasenta (solusio plasenta) adalah pelepasan prematur sebagian atau seluruh plasenta dari dinding uterus sebelum kelahiran janin, yang menyebabkan perdarahan desidua, gangguan perfusi uteroplasenta, dan hipoksia janin akut.¹,³

Epidemiologi
Insidensi global 0,4–1% dari seluruh kehamilan.
Di Indonesia, perdarahan obstetri menyumbang ±25–30% kematian maternal, dan abrupsio termasuk penyebab penting dalam kelompok perdarahan antepartum.
Risiko meningkat pada ibu dengan hipertensi kronis atau preeklampsia, sebagai faktor risiko terkuat.
Merupakan penyebab signifikan mortalitas perinatal akibat hipoksia akut dan IUFD pada derajat sedang–berat.
Risiko kekambuhan 5–15% pada kehamilan berikutnya, lebih tinggi bila abrupsio sebelumnya berat atau terjadi dini.¹,³,⁴,⁵
Faktor Risiko
Hipertensi kronis atau preeklampsia. Faktor risiko terkuat akibat gangguan vaskular uteroplasenta.
Riwayat abrupsio sebelumnya. Meningkatkan risiko kekambuhan.
Trauma abdomen. Memicu pemisahan plasenta secara mekanik.
Merokok dan penggunaan kokain. Menyebabkan vasokonstriksi dan hipoksia plasenta.
Ketuban pecah dini, multiparitas, dan usia maternal lanjut. Terkait perubahan vaskular uterus.
Trombofilia atau gangguan koagulasi. Meningkatkan risiko perdarahan desidua.¹,³,⁵,⁶
Etiologi
Perdarahan akut pada desidua basalis membentuk hematoma retroplasenta, yang memisahkan sebagian atau seluruh plasenta dari dinding uterus sebelum persalinan.¹,³
Klasifikasi
Klasifikasi Page (berdasarkan derajat klinis). Klasifikasi abrupsio plasenta paling sering menggunakan Klasifikasi Page, yaitu sistem yang mengelompokkan abrupsi berdasarkan keparahan klinis, perdarahan, serta kondisi ibu dan janin.
Derajat 1 (ringan): perdarahan minimal, uterus tidak tegang, ibu stabil, dan kondisi janin umumnya baik.
Derajat 2 (sedang): nyeri abdomen menetap, uterus tegang, terdapat distress janin, tanpa syok maternal.
Derajat 3 (berat): nyeri hebat, uterus seperti papan, syok maternal, sering disertai koagulasi intravaskular diseminata (DIC) dan kematian janin intrauterin.¹,³
Klasifikasi berdasarkan tipe perdarahan
Revealed (terbuka): darah keluar melalui vagina.
Concealed (tertutup): darah tertahan di belakang plasenta tanpa perdarahan eksternal.
Combined (campuran): sebagian darah keluar dan sebagian membentuk hematoma retroplasenta.³

Keterangan:
Ilustrasi menunjukkan tiga bentuk utama abrupsio plasenta berdasarkan arah dan tampilan perdarahan:
Revealed: perdarahan keluar melalui serviks sehingga tampak secara eksternal.
Concealed: darah tertahan di belakang plasenta tanpa perdarahan keluar.
Combined: kombinasi darah tertahan dan sebagian keluar.

| Klasifikasi | Deskripsi | Gambaran Klinis |
|---|---|---|
| 1. Abrupsio Plasenta Terbuka (External bleeding) | Darah dari hematoma retroplasenta keluar melalui serviks | Tampak perdarahan pervaginam; volume darah yang keluar tidak selalu mencerminkan beratnya abrupsi. |
| 2. Abrupsio Plasenta Tertutup (Concealed abruption) | Darah terperangkap di belakang plasenta tanpa keluar melalui vagina | Uterus tegang seperti papan; risiko syok tinggi karena perdarahan tersembunyi. |
| 3. Abrupsio Plasenta Campuran | Kombinasi perdarahan keluar dan perdarahan tersembunyi | Sebagian darah keluar, sebagian lain membentuk hematoma retroplasenta. |
Keterangan:
Ilustrasi menunjukkan perkembangan pemisahan plasenta:
Marginal separation: pelepasan mulai dari tepi plasenta; perdarahan biasanya keluar.
Partial separation: sebagian plasenta melepas; perdarahan dapat tersembunyi.
Complete abruption: seluruh plasenta terlepas dari uterus; kondisi paling berat.
Patofisiologi
Perdarahan pada desidua basalis membentuk hematoma retroplasenta yang memisahkan plasenta dari dinding uterus.
Pemisahan ini menurunkan luas area pertukaran oksigen dan nutrisi, menyebabkan hipoksia janin akut.
Pelepasan tromboplastin ke sirkulasi maternal memicu konsumsi faktor koagulasi dan dapat menyebabkan koagulasi intravaskular diseminata (DIC).
Infiltrasi darah ke miometrium menimbulkan uterus Couvelaire (infiltrasi darah ke dalam miometrium) dengan gangguan kontraktilitas uterus.¹,³
Anamnesis
Nyeri abdomen mendadak dan menetap akibat perdarahan retroplasenta yang mengiritasi miometrium.
Perdarahan pervaginam berwarna gelap—jumlahnya tidak selalu mencerminkan tingkat keparahan karena dapat tersembunyi.
Penurunan gerakan janin yang menandakan hipoksia akut.
Riwayat hipertensi/preeklampsia, trauma abdomen, atau abrupsio sebelumnya—faktor risiko penting untuk diidentifikasi.
Gejala syok seperti pusing, lemas, dan palpitasi pada kasus berat.¹,³,⁵
Pemeriksaan Fisik
Tanda vital tidak stabil—hipotensi dan takikardia—menunjukkan kemungkinan syok hipovolemik akibat perdarahan akut.
Uterus tegang seperti papan dan nyeri tekan abdomen akibat infiltrasi darah ke miometrium dan iritasi uterus.
Tinggi fundus meningkat bila terdapat hematoma retroplasenta besar yang tersembunyi.
Perdarahan pervaginam gelap—volume tidak selalu mencerminkan beratnya abrupsi.
Bradikardia atau deselerasi berulang pada DJJ, menandakan distress janin akibat hipoksia akut.¹,³
Pemeriksaan Penunjang
Darah lengkap (Hb, trombosit) untuk menilai derajat anemia dan trombositopenia akibat perdarahan atau koagulopati.
Pemeriksaan koagulasi (PT, aPTT, fibrinogen) untuk mendeteksi DIC; fibrinogen <150 mg/dL mengarah pada abrupsio berat.
Golongan darah dan crossmatch untuk persiapan transfusi segera pada perdarahan sedang–berat.
USG obstetri untuk menilai kondisi janin dan menyingkirkan plasenta previa, meskipun sensitivitasnya rendah dalam mendeteksi hematoma retroplasenta.
CTG (Cardiotocography) untuk mengevaluasi kesejahteraan janin dan mendeteksi bradikardia atau deselerasi akibat hipoksia akut.
Laktat serum untuk menilai derajat hipoperfusi jaringan pada kasus syok.¹,³
Diagnosis Banding¹,³
| Diagnosis Banding | Perbedaan Utama dengan abrupsio plasenta |
|---|---|
| Plasenta previa | Perdarahan pervaginam tanpa nyeri, uterus tidak tegang, dan lokasi plasenta rendah pada USG. |
| Ruptur uteri | Nyeri sangat hebat mendadak, bagian janin mudah teraba di abdomen, dan DJJ menghilang tiba-tiba. |
| Ketuban pecah dini (KPD) | Keluar cairan ketuban, tanpa nyeri menetap dan tanpa uterus tegang. |
| Vasa previa | Perdarahan setelah ketuban pecah, dengan penurunan cepat DJJ karena darah berasal dari janin. |
| Persalinan preterm | Nyeri intermiten, uterus relaks di antara kontraksi, tanpa uterus tegang menetap. |
Penatalaksanaan
Abrupsio plasenta adalah kegawatdaruratan obstetri yang memerlukan penanganan cepat dan sistematis. Fokus utama adalah stabilisasi ibu dan penyelamatan janin.³
Non-Farmakologis
Stabilisasi awal ABC (airway–breathing–circulation) dengan pemberian oksigen dan evaluasi cepat tanda vital untuk mencegah syok.
Pemasangan dua jalur intravena besar (16–18G) untuk resusitasi cairan dan persiapan transfusi.
Resusitasi cairan kristaloid (RL/NaCl) untuk mengatasi hipovolemia.
Monitoring ketat maternal meliputi tekanan darah, nadi, frekuensi napas, saturasi, dan output urin sebagai indikator perfusi organ.
Monitoring kesejahteraan janin dengan auskultasi DJJ atau CTG untuk mendeteksi distress janin.
Persiapan transfusi darah dan komponen darah sejak awal pada kasus sedang–berat.
Posisi lateral kiri untuk meningkatkan aliran uteroplasenta dan mencegah kompresi vena cava inferior.
Rujukan emergensi ke fasilitas PONEK/RS rujukan setelah stabilisasi awal untuk tata laksana definitif.¹,³
Farmakologis
| Golongan Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| Uterotonik – Oksitosin injeksi | 10 IU IM atau 10–20 IU dalam 500 mL RL infus IV | Merangsang reseptor oksitosin miometrium sehingga meningkatkan kontraksi uterus untuk mengurangi perdarahan postpartum. |
| Antifibrinolitik – Asam traneksamat injeksi | 1 g IV dalam 10 menit, dapat diulang 1 g setelah 30 menit bila perdarahan berlanjut | Menghambat aktivasi plasminogen menjadi plasmin sehingga menekan fibrinolisis dan mengurangi perdarahan aktif. |
| Transfusi PRC (Packed Red Cell) | Sesuai indikasi klinis Hb <7 g/dL atau syok | Meningkatkan kapasitas angkut oksigen dan memperbaiki perfusi jaringan pada anemia akut. |
| Fresh Frozen Plasma (FFP) | 10–15 mL/kgBB | Menggantikan faktor koagulasi pada koagulopati atau DIC. |
| Kriopresipitat | ±1 unit/10 kgBB bila fibrinogen <150 mg/dL | Menggantikan fibrinogen dan faktor VIII pada DIC akibat konsumsi faktor koagulasi. |
| Magnesium sulfat injeksi (bila disertai preeklampsia) | Loading 4 g IV selama 20 menit, lanjut 1–2 g/jam infus | Menstabilkan membran neuromuskular dan mencegah kejang eklampsia melalui depresan sistem saraf pusat. |
Catatan:
Tidak ada obat yang dapat menghentikan abrupsio, karena proses pelepasan plasenta sudah terjadi. Obat berfungsi untuk menstabilkan kondisi ibu, mengoreksi koagulopati, dan mengendalikan perdarahan.
Operatif
Terminasi segera dilakukan pada abrupsio sedang–berat dengan distress janin, syok, DIC, atau perdarahan masif.
Seksio sesarea emergensi dipilih bila janin hidup dengan pembukaan belum lengkap atau terdapat distress janin.
Persalinan pervaginam dapat dilakukan bila janin sudah meninggal, ibu stabil, dan pembukaan sudah lanjut.
Koreksi intraoperatif mencakup pemberian uterotonik dan transfusi komponen darah, serta histerektomi bila perdarahan tidak dapat dikendalikan.¹,³
Penatalaksanaan Berdasarkan Usia Kehamilan
< 34 minggu dan kondisi stabil: Lakukan stabilisasi maternal, monitoring ketat ibu dan janin, koreksi koagulasi, serta pertimbangkan pemberian kortikosteroid untuk maturasi paru bila janin masih hidup.
34–36 minggu: Pertimbangkan terminasi berdasarkan kondisi klinis. Lakukan segera bila terdapat distress janin atau perdarahan berulang.
≥ 37 minggu: Umumnya dilakukan terminasi segera, karena risiko mempertahankan kehamilan lebih besar daripada manfaatnya.
Kapan saja pada usia kehamilan berapa pun: Bila terdapat syok maternal, DIC, atau fetal distress berat, lakukan terminasi emergensi segera tanpa menunda.¹,³
Komplikasi
Komplikasi Maternal
Syok hipovolemik akibat perdarahan masif, baik eksternal maupun tersembunyi di belakang plasenta.
Koagulasi intravaskular diseminata (DIC) karena pelepasan tromboplastin plasenta memicu konsumsi faktor koagulasi dan fibrinogen.
Uterus Couvelaire akibat infiltrasi darah ke miometrium yang mengganggu kontraktilitas uterus.
Atonia uteri dan perdarahan postpartum, terutama pada abrupsio berat disertai koagulopati.
Gagal ginjal akut akibat hipoperfusi sistemik dan syok berkepanjangan.¹,³
Komplikasi Janin
Hipoksia janin akut akibat penurunan mendadak perfusi uteroplasenta.
Restriksi pertumbuhan intrauterin (IUGR) pada abrupsio kronik atau gangguan perfusi plasenta jangka panjang.
Kematian janin intrauterin (IUFD) pada pemisahan plasenta luas yang mengganggu pertukaran oksigen secara signifikan.
Abrupsio plasenta dapat menimbulkan komplikasi serius pada janin akibat gangguan perfusi uteroplasenta yang menghambat suplai oksigen dan nutrisi.¹,³
Prognosis
Prognosis ad vitam umumnya bonam bila diagnosis ditegakkan dan terminasi dilakukan segera, namun memburuk pada kasus dengan syok hipovolemik atau DIC yang meningkatkan risiko kematian maternal.
Prognosis ad functionam umumnya bonam, tetapi dapat terganggu bila terjadi komplikasi berat seperti gagal ginjal akut atau kebutuhan histerektomi akibat perdarahan tidak terkendali.
Prognosis ad sanationam dubia ad bonam pada derajat ringan–sedangpada derajat ringan–sedang, luaran biasanya baik. Pada derajat berat, risiko IUFD dan morbiditas maternal tetap tinggi meskipun intervensi sudah optimal.
Prognosis abrupsio plasenta sangat bergantung pada derajat pelepasan plasenta, kecepatan penatalaksanaan, dan kondisi ibu–janin saat datang.¹,³
Edukasi
Jelaskan bahwa abrupsio plasenta adalah kondisi gawat darurat berupa pelepasan plasenta sebelum persalinan yang menyebabkan perdarahan dan gangguan oksigenasi janin.
Tekankan bahwa gejala seperti nyeri perut menetap, perdarahan pervaginam, dan penurunan gerak janin memerlukan pertolongan medis segera.
Anjurkan kontrol ketat pada ibu dengan hipertensi atau preeklampsia, karena keduanya merupakan faktor risiko utama.
Edukasi mengenai risiko kekambuhan pada kehamilan berikutnya sehingga diperlukan pemantauan antenatal lebih intensif.
Sarankan untuk menghindari merokok dan zat vasokonstriktor serta menjaga kontrol tekanan darah untuk menurunkan risiko gangguan vaskular plasenta.¹,³
Kriteria Rujukan
Perdarahan sedang–berat atau tanda syok memerlukan rujukan emergensi setelah stabilisasi awal.
Nyeri menetap dengan uterus tegang yang mengarah pada abrupsio sedang–berat harus dirujuk segera.
Distress janin pada auskultasi atau CTG membutuhkan terminasi di fasilitas PONEK.
Ditemukan DIC atau gangguan koagulasi memerlukan rujukan ke RS dengan fasilitas transfusi komponen darah lengkap.
Fasilitas tanpa kemampuan seksio sesarea emergensi dan bank darah wajib merujuk segera.¹,³
Catatan
Abrupsio plasenta merupakan diagnosis klinis, sehingga USG normal tidak menyingkirkan diagnosis karena sensitivitas deteksi hematoma retroplasenta rendah.
Fibrinogen adalah parameter laboratorium paling sensitif, dan kadar <150 mg/dL mengarah pada abrupsio berat dengan risiko DIC.
Pada tipe concealed abruption, perdarahan dapat minimal secara eksternal tetapi kehilangan darah internal signifikan sehingga risiko syok tetap tinggi.
Uterus Couvelaire bukan indikasi otomatis histerektomi, karena kontraktilitas uterus dapat membaik setelah perdarahan terkendali.
Prioritas utama manajemen adalah keselamatan ibu, terutama pada kasus dengan janin sudah meninggal atau terjadi koagulopati berat.¹,³