Abortus Septik (Septic Abortion)

Abortus Septik (Septic Abortion)

Definisi & Batasan

Abortus septik adalah keguguran (spontan maupun provokatus) yang disertai infeksi intrauterin dan dapat berkembang menjadi sepsis hingga syok septik bila tidak ditangani segera.

Poin batasan klinis: kehamilan previabel (umumnya <20 minggu), tanda infeksi genital (demam, lokia/sekret berbau, nyeri uterus/abdomen), dan sering terdapat sisa jaringan (retained products of conception, RPOC) sebagai sumber infeksi.¹,²,³,⁴,⁵,⁶,⁷,⁸

Gambaran Klinis

Gejala: demam, menggigil, nyeri abdomen/pelvis, perdarahan pervaginam, sekret/foul-smelling discharge, mual/muntah; dapat disertai malaise.

Tanda: nyeri gerak serviks/uterus (uterine/cervical motion tenderness), takikardia, hipotensi; pada kasus berat tampak tanda peritonitis atau syok.

Pemeriksaan penunjang kunci:

USG untuk menilai RPOC/abses pelvis/udara intrauterin;

Laboratorium: hitung darah, fungsi ginjal/hati, laktat, kultur darah & serviks/lochia sebelum antibiotik bila tidak menunda terapi, koagulasi (waspada DIC).

Etiologi mikroba: polimikroba (aerob–anaerob): Gram negatif (E. coli), streptokokus, anaerob (Bacteroides), kadang Clostridium (toxin-mediated, fulminan).

Intinya: infeksi + kehamilan previabel + ±RPOC → curiga abortus septik; diagnosis dan tata laksana harus segera mengikuti sepsis bundle obstetri.¹,²,³,⁶,⁷

Tatalaksana (Prioritas Sepsis + Source Control)

1.

Resusitasi sepsis segera (1 jam pertama).

Dua jalur IV, cairan kristaloid cepat (30 mL/kg bila syok), pantau MAP/diuresis; oksigen sesuai kebutuhan; kirim kultur (darah ± serviks) tanpa menunda antibiotik; cek laktat & ulang bila tinggi.

2.

Antibiotik empiris spektrum luas — berikan segera.

Regimen yang lazim dan direkomendasikan untuk menutup Gram-positif/negatif & anaerob:

Ampisilin + Gentamisin + Metronidazol IV, atau

Klinkamisin + Gentamisin (tambahkan ampisilin bila curiga enterokokus), atau

Piperasilin–tazobaktam sebagai monoterapi alternatif (bergantung resistensi lokal & ketersediaan).

Dosis disesuaikan berat badan & fungsi ginjal; evaluasi de-eskalasi setelah hasil kultur.

3.

Kendalikan sumber infeksi (source control) — evakuasi uterus setelah antibiotik pertama.

Aspirasi vakum (trimester I) atau D&E/induksi (trimester II awal), segera setelah stabilisasi awal & antibiotik diberikan.

Histerektomi/laparotomi bila dicurigai perforasi, nekrosis uterus, abses pelvis tidak terkontrol, atau syok septik yang tidak membaik meski terapi optimal.

4.

Perawatan lanjutan & pemantauan.

Pantau ketat hemodinamik, diuresis, suhu, nyeri; ulang USG bila klinis memburuk; koreksi elektrolit & gangguan koagulasi (DIC) bila ada; konsultasi ICU pada sepsis berat/syok.

Anti-D imunoglobulin untuk ibu RhD-negatif pasca perdarahan/tindakan invasif.

Kontrasepsi pasca-abortus dan edukasi pencegahan infeksi; atur tindak lanjut 1–2 minggu.

5.

Kapan rujuk/eskalasi.

Syok (hipotensi persisten), kecurigaan perforasi/abdomen akut, ketersediaan layanan evakuasi terbatas, atau kegagalan perbaikan dalam 6–12 jam → rujuk/eskalasi ke fasilitas dengan bedah–ICU.¹,²,³,⁴,⁵,⁶

WHO Abortion Care Guideline (edisi terbaru) menegaskan pilar klinis: terapi infeksi segera, task sharing sesuai kompetensi, dan akses layanan aman untuk mencegah komplikasi fatal dari aborsi tidak aman.

NICE NG126: rujuk cepat ke early pregnancy assessment service, stabilisasi, dan tata laksana komplikasi keguguran secara terintegrasi.

RCOG Green-top (Maternal Sepsis): terapkan paket sepsis obstetri (pengambilan kultur, antibiotik cepat, cairan, monitoring laktat, source control).

MSD Manual menggambarkan spektrum gejala khas (demam, discharge berbau, peritonitis) dan hubungan dengan tindakan tidak steril/RPOC.

Data uji kepekaan menyokong ampisilin–gentamisin–metronidazol atau piperasilin–tazobaktam sebagai pilihan empiris yang luas, disesuaikan pola lokal.³,⁴,⁵,⁶,⁷


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini