
Abortus Secara Umum
Definisi
Abortus adalah penghentian kehamilan yang terjadi secara spontan atau dilakukan dengan sengaja sebelum janin mencapai viabilitas (umumnya sebelum usia kehamilan 20 minggu atau berat janin <500 gram). Ketika terjadi secara alami tanpa intervensi, kondisi ini disebut sebagai abortus spontan.¹
Epidemiologi
Abortus terjadi pada sekitar 10–20% dari semua kehamilan yang terkonfirmasi, dengan 80% kasus terjadi sebelum usia kehamilan 12 minggu.²
Etiologi dan Faktor Risiko
Faktor penyebab abortus bervariasi tergantung usia kehamilan dan kondisi ibu. Beberapa penyebab umum meliputi:
Kelainan genetik atau kromosom janin: Penyebab tersering abortus trimester pertama, terutama trisomi, monosomi X, atau kelainan struktural kromosom. Kondisi ini menyumbang 50–70% kasus keguguran spontan dini.
Kelainan anatomi uterus: Uterus septum, uterus bikornis, sinekia intrauterin (Asherman syndrome), dan fibroid submukosa dapat mengganggu implantasi atau pertumbuhan janin.
Infeksi maternal: Infeksi sistemik atau genital seperti TORCH (Toksoplasma, Rubella, CMV, Herpes), bakterial vaginosis, dan infeksi saluran kemih dapat memicu respon inflamasi yang menyebabkan keguguran.
Endokrin dan metabolik: Kondisi seperti diabetes melitus yang tidak terkontrol, hipotiroidisme, dan sindrom ovarium polikistik (PCOS) dapat mengganggu perkembangan embrio.
Faktor imunologis: Sindrom antifosfolipid (APS), penyakit autoimun seperti lupus eritematosus sistemik, dan insufisiensi fase luteal dapat menyebabkan trombosis plasenta dan gangguan implantasi.
Faktor lingkungan dan gaya hidup:
Merokok meningkatkan risiko keguguran melalui vasokonstriksi dan hipoksia janin.
Konsumsi alkohol dan kafein tinggi juga terkait dengan risiko lebih tinggi.
Paparan bahan toksik seperti pestisida, logam berat, dan polusi udara berdampak negatif pada keberlangsungan kehamilan.
Faktor maternal:
Usia ibu <20 tahun atau >35 tahun berisiko lebih tinggi mengalami abortus spontan.
Obesitas, defisiensi nutrisi (asam folat, vitamin D), serta riwayat abortus sebelumnya juga berperan sebagai faktor risiko signifikan.³,⁴,⁵,⁶,⁷
Klasifikasi Abortus
Berdasarkan Etiologi
Abortus spontan → terjadi tanpa intervensi dari luar, biasanya akibat kelainan kromosom, infeksi maternal, penyakit sistemik, atau faktor lingkungan.
Abortus provokatus → abortus yang disengaja dengan intervensi:
Provokatus medicinalis/therapeuticus: dilakukan atas indikasi medis (misalnya untuk menyelamatkan nyawa ibu).
Provokatus criminalis/illegalis: dilakukan tanpa indikasi medis dan di luar hukum.¹,²
Berdasarkan Manifestasi Klinis
Abortus imminens (mengancam). Perdarahan pervaginam ringan, serviks tertutup, janin masih viabel.
Abortus insipiens/inevitable. Perdarahan banyak disertai nyeri, serviks terbuka, produk konsepsi mulai keluar.
Abortus inkompletus. Sebagian produk konsepsi sudah keluar, sebagian masih tertahan dalam uterus, perdarahan aktif, serviks terbuka.
Abortus kompletus. Seluruh produk konsepsi sudah keluar, uterus kosong, perdarahan berhenti, serviks menutup kembali.
Missed abortion. Janin meninggal dalam uterus tetapi tidak segera keluar; serviks tetap tertutup.
Abortus septik. Abortus dengan infeksi intrauterin, ditandai dengan demam, nyeri abdomen, sekret purulen, dan risiko sepsis.
Abortus habitualis. Abortus berulang ≥3 kali berturut-turut; dikategorikan klinis karena diagnosis ditegakkan dari riwayat pasien.
Blighted ovum (kehamilan anembrionik). Bentuk abortus non-viabel di mana kantong gestasi terbentuk tanpa embrio (terdeteksi melalui USG).¹,²,³
Anamnesis
Tujuan anamnesis dan pemeriksaan adalah untuk menegakkan diagnosis serta menentukan klasifikasi abortus.
Usia kehamilan ditentukan dengan menanyakan HPHT atau riwayat USG. Penting untuk memastikan kasus termasuk abortus (≤20 minggu) dan membedakannya dari perdarahan non-gravidik atau kehamilan ektopik.
Perdarahan pervaginam perlu ditanyakan kapan mulai, jumlahnya, warna, serta adanya gumpalan atau jaringan. Bercak darah umumnya mengarah ke abortus mengancam, perdarahan aktif ke inkomplet/insipiens, perdarahan yang berhenti ke komplet, sedangkan missed abortion biasanya tanpa perdarahan.
Nyeri abdomen biasanya berupa kram perut bawah. Nyeri spasmodik mengarah ke abortus inkomplet, sedangkan nyeri unilateral perlu dicurigai sebagai kehamilan ektopik terganggu.
Riwayat keluarnya jaringan membantu membedakan abortus komplet (seluruh jaringan keluar) dari inkomplet (sebagian masih tertahan).
Gejala sistemik seperti demam, keputihan berbau, lemas, atau pucat dapat menandakan abortus septik atau perdarahan masif.
Riwayat obstetri sebelumnya penting, terutama jika ada abortus berulang (≥2 kali), yang mengarahkan evaluasi ke faktor genetik, imunologi, atau anatomi.
Faktor risiko tambahan meliputi riwayat trauma, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, penyakit kronik, atau penggunaan obat tertentu. Informasi ini memberikan gambaran penyebab abortus yang multifaktorial.
Status imunisasi dan antenatal seperti vaksin rubella atau hasil USG awal dapat memberikan informasi tentang perlindungan terhadap infeksi intrauterin dan kondisi kehamilan sebelumnya.¹,²,³,⁴,⁵,⁶,⁷
Pemeriksaan fisik menilai volume dan jenis perdarahan, ukuran uterus, status serviks (terbuka/tertutup), nyeri tekan, tanda vital, serta tanda anemia atau infeksi. Kombinasi anamnesis dan pemeriksaan ini menjadi dasar klasifikasi abortus sesuai gambaran klinis.
Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi perdarahan pervaginam
Aspek yang perlu diperhatikan adalah jumlah darah (ringan, sedang, atau berat), warna (segar atau tua), dan ada tidaknya jaringan yang keluar.
Perdarahan berupa bercak lebih sering sesuai dengan abortus mengancam.
Perdarahan aktif mendukung diagnosis abortus insipiens atau inkomplet.
Perdarahan yang sudah berhenti setelah ada riwayat pengeluaran jaringan lebih sesuai dengan abortus komplet.
Perdarahan disertai bau tidak sedap mengarah pada abortus septik.
2. Palpasi abdomen
Penilaian meliputi ukuran uterus dibandingkan dengan usia kehamilan dan adanya nyeri tekan suprapubik.
Ukuran uterus lebih kecil dari usia kehamilan mengarah pada missed abortion atau abortus inkomplet.
Ukuran uterus lebih besar dari usia kehamilan dapat mengarah pada mola hidatidosa.
Nyeri tekan suprapubik atau tanda iritasi peritoneum dapat menunjukkan komplikasi seperti kehamilan ektopik terganggu.
3. Pemeriksaan dalam (VT)
Fokus pemeriksaan meliputi status serviks (tertutup atau terbuka), konsistensi serviks, keberadaan jaringan pada ostium, ukuran uterus, dan nyeri gerak serviks.
Serviks yang masih tertutup lebih sesuai dengan abortus imminens atau missed abortion.
Serviks yang sudah terbuka mendukung diagnosis abortus insipiens atau inkomplet.
Jaringan yang teraba pada kanalis servikalis lebih sesuai dengan abortus inkomplet.
Nyeri gerak serviks mengindikasikan kemungkinan infeksi intrauterin atau kehamilan ektopik terganggu.
4. Tanda vital
Penilaian meliputi tekanan darah, nadi, suhu, dan laju napas.
Hipotensi dan takikardia mengindikasikan syok hemoragik.
Demam mengarah pada abortus septik.
Tanda vital stabil menunjukkan kemungkinan abortus mengancam atau komplet.
5. Pemeriksaan ekstra-abdomen
Pemeriksaan ini meliputi konjungtiva dan kuku untuk menilai anemia, turgor kulit dan mukosa untuk menilai status hidrasi, serta kesadaran untuk menilai kemungkinan sepsis berat.
Pemeriksaan Penunjang
1. USG transvaginal
Pemeriksaan ini merupakan modalitas utama. Tujuannya adalah menilai lokasi kehamilan, viabilitas janin, adanya sisa jaringan, dan kemungkinan mola.
Bila kantong gestasi ditemukan dengan aktivitas jantung janin positif, maka mendukung abortus mengancam.
Bila ditemukan jaringan heterogen tanpa kantong gestasi utuh, maka mendukung abortus inkomplet.
Bila uterus tampak kosong setelah riwayat pengeluaran jaringan, maka mendukung abortus komplet.
Bila kantong gestasi kosong berulang kali pada pemeriksaan, maka mendukung diagnosis blighted ovum.
Bila gambaran khas berupa “snowstorm” ditemukan, maka mendukung mola hidatidosa.
2. Pemeriksaan β-hCG kuantitatif serial
Pemeriksaan ini dilakukan setiap 48–72 jam. Pada kehamilan normal, kadar β-hCG meningkat sekitar 66–100 persen setiap 48 jam.
Peningkatan kadar sesuai pola ini mendukung diagnosis kehamilan viabel.
Penurunan kadar mendukung diagnosis abortus inkomplet atau komplet.
Kadar yang tetap tinggi tanpa progresi gambaran USG mendukung diagnosis mola hidatidosa atau kehamilan ektopik.
3. Pemeriksaan progesteron serum
Kadar progesteron <5 ng/mL sangat prediktif untuk kehamilan nonviabel. Pemeriksaan ini tidak dilakukan rutin, tetapi bermanfaat bila tersedia.
4. Pemeriksaan darah rutin
Hemoglobin dan hematokrit penting untuk menilai derajat anemia. Transfusi perlu dipertimbangkan bila kadar hemoglobin <8 g/dL disertai gejala. Pemeriksaan koagulasi (PT, aPTT, fibrinogen) dianjurkan untuk janin mati tertahan lebih dari empat minggu karena risiko koagulopati.
5. Pemeriksaan infeksi
Leukosit dan CRP meningkat pada infeksi intrauterin. Pada abortus septik, kultur darah dan sekret serviks sebaiknya diambil sebelum pemberian antibiotik, namun tidak boleh menunda terapi.
6. Doppler arteri uterina
Pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan, hanya digunakan pada penelitian atau pusat rujukan untuk memprediksi risiko abortus pada kehamilan dengan perdarahan dini.
7. Patologi anatomi produk konsepsi
Pemeriksaan mikroskopik jaringan sangat dianjurkan pada kasus abortus berulang, dugaan mola hidatidosa, atau gambaran klinis tidak khas. Tujuannya untuk mengonfirmasi jaringan konsepsi, menyingkirkan penyakit trofoblastik gestasional, dan mendeteksi infeksi..
Penatalaksanaan Umum
Tujuan penatalaksanaan adalah menyelamatkan nyawa ibu, mencegah komplikasi (perdarahan, infeksi, infertilitas), memberikan dukungan psikologis, dan merencanakan kehamilan berikutnya. Pendekatan klinis harus disesuaikan dengan jenis abortus, usia kehamilan, kondisi ibu, dan ketersediaan fasilitas.¹,²,³
Stabilisasi Awal
Langkah ini wajib dilakukan sebelum melanjutkan ke intervensi lain.
Monitoring tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) setiap 15–30 menit pada kasus perdarahan aktif.
Pasang akses intravena (IV line) dengan kanula besar; berikan cairan kristaloid (Ringer Laktat/NaCl 0,9%) bila terdapat tanda syok atau perdarahan sedang–berat.
Periksa hemoglobin/hematokrit, golongan darah dan rhesus untuk menentukan kebutuhan transfusi.
Persiapan transfusi darah segera bila Hb <8 g/dL atau terdapat tanda hipovolemia.
Oksigenasi bila saturasi oksigen rendah (<95%).
Analgesia untuk mengatasi nyeri (parasetamol, NSAID bila tidak kontraindikasi).
Prinsip: resusitasi dahulu, evakuasi kemudian.²
Penanganan Uterus
Tindakan pada uterus berbeda tergantung jenis abortus.
Abortus mengancam (imminens) → observasi ketat, hindari tindakan invasif; berikan istirahat relatif, edukasi tanda bahaya, dan pertimbangkan progesteron bila ada riwayat keguguran berulang.
Abortus insipiens, inkompletus, missed, atau blighted ovum → perlu evakuasi uterus:
Pendekatan ekspektatif: menunggu ekspulsi spontan (efektif pada missed/blighted ovum usia <12 minggu, dengan follow-up ketat).
Farmakologis (misoprostol ± mifepriston):
Misoprostol 400–800 µg pervaginam/bukal/sublingual, dapat diulang tiap 3–4 jam bila perlu.
Kombinasi mifepriston 200 mg oral + misoprostol meningkatkan keberhasilan.
Evakuasi bedah:
Aspirasi Vakum Manual (AVM) → metode pilihan untuk trimester I.
Dilatasi & Evakuasi (D&E) → untuk trimester II.
Kuretase tajam hanya bila metode lain tidak tersedia.
Abortus kompletus → cukup observasi; evakuasi tidak diperlukan bila kavum uteri kosong pada USG.
Abortus septik → antibiotik spektrum luas + evakuasi setelah stabilisasi, kadang perlu histerektomi bila terjadi perforasi atau infeksi luas.¹,²,³
Profilaksis dan Edukasi
Antibiotik
Profilaksis: diberikan sebelum tindakan evakuasi (misalnya doksisiklin 200 mg oral dosis tunggal, atau azitromisin 500 mg oral).
Terapi: antibiotik kombinasi (ampisilin + gentamisin + metronidazol) untuk kasus dengan tanda infeksi atau abortus septik.
Pencegahan isoimunisasi Rhesus
Berikan anti-D imunoglobulin pada ibu RhD-negatif, terutama bila abortus terjadi pada usia kehamilan ≥12 minggu atau setelah evakuasi invasif.
Edukasi Pasca-abortus
Fisik: perdarahan ringan normal dapat berlangsung hingga 1–2 minggu. Hindari hubungan seksual minimal 2 minggu untuk mencegah infeksi.
Kontrasepsi: dapat dimulai segera pasca-evakuasi (pil, suntik, IUD sesuai kondisi).
Psikologis: berikan dukungan emosional, validasi perasaan duka, dan informasi bahwa sebagian besar abortus disebabkan oleh faktor kromosom yang tidak dapat dicegah.
Kontrol ulang: jadwalkan 1–2 minggu pasca-tindakan untuk memastikan uterus kosong dan kondisi ibu stabil.¹,²,³
Kriteria Rujukan
Pasien harus dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi jika terdapat:
Tanda-tanda syok (takikardia, hipotensi, pucat)
Perdarahan hebat
Sisa jaringan dengan fasilitas evakuasi yang tidak memadai
Abortus septik
Tanda keganasan trofoblastik (mola).⁸,⁹
Prognosis
Ad vitam (kelangsungan hidup ibu)
Bonam → pada abortus imminens, inkomplet/komplet yang cepat ditangani.
Dubia → bila terjadi perdarahan sedang–berat tapi respons baik terhadap terapi.
Malam → pada abortus septik dengan sepsis/syok, atau perdarahan masif tidak teratasi.
Ad functionam (fungsi reproduksi)
Bonam → sebagian besar abortus spontan tunggal, tanpa komplikasi, fertilitas tetap baik.
Dubia → abortus habitualis, missed >4 minggu (risiko DIC), atau tindakan kuretase berulang (risiko Asherman).
Malam → abortus septik dengan kerusakan endometrium/tuba permanen → infertilitas.
Ad sanationam (kesembuhan episode abortus)
Bonam → abortus kompletus (uterus sudah kosong).
Dubia → abortus inkompletus/missed, bila evakuasi tertunda atau ada sisa jaringan.
Malam → abortus septik tanpa kontrol infeksi, atau missed lama dengan DIC.¹,²,³
Edukasi
Hindari hubungan seksual setidaknya selama 2 minggu
Perdarahan ringan dapat berlangsung 1–2 minggu setelah abortus
Konsumsi nutrisi yang cukup, terutama zat besi dan asam folat
Lakukan pemeriksaan ulang 1–2 minggu setelah evakuasi
Dukungan psikososial sangat penting untuk mencegah depresi pasca-abortus.³,⁷,⁸,¹⁰