
Polisitemia Vera [2]
Definisi
Polisitemia vera (PV) adalah neoplasma mieloproliferatif kronik yang ditandai oleh peningkatan massa eritrosit secara otonom, tidak bergantung pada eritropoietin, dan sering disertai leukositosis, trombositosis, serta splenomegali.¹
Etiologi
Klasifikasi
Fase Klinis PV
Anamnesis
Sakit kepala, pusing, dan gangguan penglihatan: terjadi akibat peningkatan viskositas darah yang memperlambat aliran kapiler serebral.
Pruritus setelah mandi air hangat: gejala khas PV akibat pelepasan histamin dari basofil dan mastosit yang meningkat.
Tinitus: disebabkan gangguan mikrosirkulasi pada pembuluh darah telinga dalam.
Eritrosis wajah (kemerahan wajah): terjadi akibat peningkatan volume dan viskositas darah di kapiler superfisial.
Gejala trombosis vena atau arteri: seperti nyeri tungkai, hemiparesis, atau nyeri dada akibat hiperkoagulabilitas.
Gejala hipervolemia atau hipertensi: seperti sesak atau palpitasi akibat peningkatan massa eritrosit dan volume darah total.
Gejala perdarahan ringan: seperti mimisan atau gusi berdarah akibat gangguan fungsi trombosit meskipun jumlahnya meningkat.⁵,⁷
Pemeriksaan Fisik
Splenomegali: ditemukan pada >75% pasien, disebabkan oleh hiperproliferasi sel hematopoietik dan ekstramedular hematopoiesis.
Eritrosis wajah: tampak sebagai kemerahan wajah akibat peningkatan perfusi darah superfisial karena viskositas tinggi.
Hipertensi: sering terjadi karena peningkatan volume sirkulasi darah dan resistensi vaskular perifer.
Tanda perdarahan: petechiae, memar spontan, atau epistaksis yang bisa disebabkan gangguan fungsi trombosit meskipun jumlahnya tinggi.⁵,⁷
Pemeriksaan Tambahan
Hitung darah lengkap (CBC): Mendeteksi polisitemia (Ht >52% pada pria atau >48% pada wanita) dan mengevaluasi leukositosis serta trombositosis yang sering muncul pada PV sebagai bagian dari proliferasi trilineage.
Kadar eritropoietin serum (EPO): Membedakan PV primer dari polisitemia sekunder. Pada PV, kadar EPO rendah; pada polisitemia sekunder, EPO meningkat.
Pemeriksaan mutasi JAK2: Konfirmasi molekuler dengan PCR atau sekuensing untuk mendeteksi mutasi JAK2 V617F atau ekson 12, positif pada >95% pasien PV. Pemeriksaan ini merupakan kriteria mayor WHO.
Aspirasi dan biopsi sumsum tulang: Mengevaluasi morfologi dan aktivitas hematopoiesis. Hasil khas PV menunjukkan hiperselularitas dengan proliferasi trilineage (eritroid, megakariositik, dan mieloid).
USG abdomen: Menilai splenomegali, yang sering ditemukan pada PV meskipun tidak teraba secara klinis.¹,⁵
Dasar Diagnosis
Diagnosis Banding⁵,⁷
| Diagnosis Banding | Perbedaan Utama dengan PV |
|---|---|
| Polisitemia Sekunder | Kadar EPO tinggi, disebabkan oleh hipoksia kronik atau tumor; tidak ada mutasi JAK2 |
| Polisitemia Relatif | Ht meningkat akibat hemokonsentrasi, bukan peningkatan massa eritrosit; volume plasma menurun |
| Eritrositosis Familial | Riwayat keluarga, kadar EPO normal atau tinggi, tidak ada mutasi JAK2 |
| Mielofibrosis Primer | Anemia, fibrosis dominan di sumsum tulang, splenomegali masif, mutasi CALR/MPL dapat ditemukan |
| Leukemia Mieloid Kronik | Leukositosis dominan, ditemukan kromosom Philadelphia (BCR-ABL), bukan dominasi eritrosit |
Penatalaksanaan
Farmakologis⁶,⁸,⁹ 🟨
| Obat | Dosis dan Frekuensi | Farmakokinetik |
|---|---|---|
| Hidroksiurea | 500–1000 mg per hari | Inhibitor ribonukleotida reduktase; sitoreduksi eritrosit dan trombosit |
| Aspirin dosis rendah | 81–100 mg per hari | Inhibitor COX-1; mencegah agregasi trombosit dan trombosis |
| Interferon-alfa | 3 MIU, 3×/minggu SC | Imunomodulator, menghambat proliferasi sel hematopoietik |
| Ruxolitinib | 10–20 mg per hari | Inhibitor JAK1/2; digunakan bila intoleran terhadap hidroksiurea |
Terapi Tambahan
Non-Farmakologis
Flebotomi rutin: target hematokrit <45% (baik pria maupun wanita); terapi utama pada pasien risiko rendah.
Modifikasi gaya hidup: termasuk berhenti merokok, kontrol hipertensi, dan aktivitas fisik ringan teratur.⁵
Penatalaksanaan Khusus 🟨
Pencegahan Trombosis Primer dan Sekunder 🟨
Follow-up dan Stratifikasi Risiko 🟨
Stratifikasi risiko trombosis:
Risiko rendah: usia <60 tahun dan tanpa riwayat trombosis.
Risiko tinggi: usia ≥60 tahun dan/atau terdapat riwayat trombosis sebelumnya.
Faktor genetik seperti mutasi ASXL1, DNMT3A, BCOR/L1 juga dapat meningkatkan risiko trombotik dan mortalitas.
Skor prognostik MFPS-PV (Myelofibrosis-Free Survival Polycythemia Vera Score) digunakan untuk menilai risiko transformasi dan kematian:
Risiko tinggi: median survival ~11 tahun.
Risiko sedang: ~19 tahun.
Risiko rendah: >28 tahun.
Tindak lanjut rutin setiap 3–6 bulan:
Pemeriksaan klinis dan CBC untuk mengevaluasi kontrol hematokrit, trombosit, dan gejala mikrosirkulasi.
Penilaian ulang respon terapi dan evaluasi efek samping pengobatan.⁵,⁷
Indikator Prognostik 🟨
Usia >60 tahun: berhubungan dengan risiko trombosis dan kematian yang lebih tinggi.
Leukositosis >15 ×10⁹/μL: mencerminkan aktivitas penyakit yang tinggi dan berkorelasi dengan komplikasi trombotik.
Riwayat trombosis sebelumnya: faktor prediktif kuat untuk kekambuhan trombosis.
Beban alel mutasi JAK2 tinggi: semakin tinggi persentase mutasi JAK2 V617F, semakin berat manifestasi penyakit.
Mutasi genetik tambahan: seperti ASXL1, SRSF2, dan IDH1/2 — dikaitkan dengan progresi ke mielofibrosis atau leukemia akut.
Splenomegali masif yang dapat dipalpasi: berhubungan dengan transformasi ke mielofibrosis dan menurunnya survival 15 tahun menjadi sekitar 51%.⁷,⁸
Follow-Up dan Monitoring
Evaluasi klinis rutin setiap 3–6 bulan, mencakup:
Gejala subjektif (sakit kepala, pruritus, nyeri tungkai, kelelahan).
Tanda klinis objektif (splenomegali, tekanan darah).
Pemeriksaan laboratorium serial:
Hitung darah lengkap (CBC): evaluasi hematokrit, trombosit, dan leukosit.
Fungsi hati dan ginjal, bila digunakan terapi sitotoksik atau interferon.
Monitoring efek samping obat: misalnya, sitopenia akibat hidroksiurea, hepatotoksisitas dari interferon.
Evaluasi ulang risiko trombosis: terutama jika ada perubahan usia, komorbid, atau riwayat kejadian vaskular baru.
Pada terapi ruxolitinib, monitor jumlah darah dan fungsi hati secara berkala, serta waspadai infeksi oportunistik.⁹
Komplikasi
Prognosis
Ad vitam: Bonam, terutama pada pasien dengan risiko rendah dan terapi terkontrol; harapan hidup >20 tahun.
Ad functionam: Bonam, bila komplikasi seperti trombosis dan gangguan mikrosirkulasi dapat dicegah atau ditatalaksana dengan efektif.
Ad sanationam: Non bonam, karena PV bersifat kronik dan tidak dapat disembuhkan, namun respons terhadap terapi jangka panjang umumnya baik.⁶
Edukasi
Pentingnya menjaga hematokrit: Edukasi pasien untuk rutin melakukan pemeriksaan darah dan mengikuti jadwal flebotomi atau terapi sesuai anjuran agar hematokrit tetap <45%.
Risiko trombosis: Jelaskan tanda-tanda komplikasi seperti nyeri dada, sesak napas, kelemahan tubuh sebelah, atau nyeri tungkai yang bisa mengindikasikan trombosis; sarankan segera mencari pertolongan medis.
Kepatuhan terhadap pengobatan: Tekankan pentingnya konsumsi obat seperti aspirin, hidroksiurea, atau interferon sesuai resep agar penyakit terkontrol dan mencegah komplikasi.
Modifikasi gaya hidup: Anjurkan untuk berhenti merokok, mengontrol tekanan darah, dan berolahraga ringan secara teratur guna menurunkan risiko kardiovaskular.
Rencana kehamilan: Pasien wanita usia reproduktif perlu konseling jika merencanakan kehamilan karena pengelolaan PV pada kehamilan memerlukan pendekatan khusus.⁴,⁵,⁶
Kriteria Rujukan
Tidak respons terhadap flebotomi atau aspirin dosis rendah meskipun terapi dijalankan sesuai protokol.
Efek samping berat dari terapi sitoreduktif seperti hidroksiurea, misalnya sitopenia signifikan atau ulcerasi kulit.
Kecurigaan transformasi ke mielofibrosis atau leukemia berdasarkan penurunan sel darah, splenomegali progresif, atau gejala sistemik berat.
Pasien hamil yang membutuhkan terapi khusus (aspirin, LMWH, interferon-α) untuk meminimalkan risiko trombosis dan komplikasi kehamilan.
Anak-anak dengan diagnosis PV yang membutuhkan terapi individualisasi serta monitoring jangka panjang oleh spesialis hematologi anak.⁴,⁶,⁷