
Krisis Tiroid / Thyroid storm [3B]
Definisi dan Batasan
Krisis tiroid (thyroid storm) adalah manifestasi tirotoksikosis yang ekstrem dan mengancam nyawa, ditandai dengan hipermetabolisme berat akibat peningkatan aktivitas hormon tiroid di jaringan perifer.
Merupakan keadaan darurat endokrin dengan disfungsi multisistem termasuk demam tinggi, gangguan kardiovaskular, neurologis, dan gastrointestinal yang berat.¹
Etiologi
Penyakit Graves yang tidak terdiagnosis atau tidak diobati: Merupakan penyebab paling umum; aktivitas autoimun yang tidak terkendali menyebabkan lonjakan hormon tiroid secara mendadak.
Infeksi berat (misal: pneumonia, sepsis): Stres sistemik meningkatkan pelepasan hormon tiroid dan respons β-adrenergik, memperburuk tirotoksikosis yang sudah ada.
Trauma atau pembedahan (terutama tiroidektomi): Dapat memicu pelepasan hormon tiroid secara masif dari kelenjar tiroid yang telah hiperstimulasi.
Penghentian mendadak obat antitiroid: Menyebabkan peningkatan hormon tiroid secara rebound karena hilangnya penghambatan sintesis.
Paparan iodin dosis tinggi (misalnya dari kontras radiologis): Fenomena Jod-Basedow pada pasien dengan gangguan tiroid yang menyebabkan lonjakan produksi hormon.
Kehamilan dan eklampsia: Perubahan imunologi dan fisiologi selama kehamilan dapat memicu dekompensasi tirotoksikosis yang sebelumnya laten.¹,²,⁴
Menurut Japan Thyroid Association (JTA), diklasifikasikan menjadi 2 derajat utama berdasarkan gejala klinis dan tingkat dekompensasi organ:
Derajat 1 – Tegak Krisis Tiroid (Definitif):
Diagnosis ditegakkan bila pasien dengan tirotoksikosis menunjukkan ≥1 manifestasi kegagalan organ mayor, seperti demam tinggi, takikardia ekstrem, gangguan kesadaran, atau gagal jantung kongestif.
Derajat 2 – Suspek Krisis Tiroid:
Dicurigai bila pasien dengan tirotoksikosis mengalami ≥2 manifestasi disfungsi organ ringan, seperti mual, diare, atau gelisah, tanpa ada kegagalan organ berat.⁴,⁵
Patofisiologi
Peningkatan tajam hormon Free T3 dan Free T4: Terjadi akibat pelepasan masif dari kelenjar tiroid, baik secara spontan maupun karena stres atau manipulasi fisik (misalnya operasi).
Hipersensitivitas jaringan terhadap hormon tiroid: Respons jaringan terhadap hormon meningkat, terutama pada reseptor β-adrenergik, sehingga memperparah gejala simpatis.
Peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis: Stres sistemik (infeksi, trauma) memicu lonjakan katekolamin yang bersinergi dengan T3/T4, menyebabkan krisis metabolik.
Produksi sitokin proinflamasi: Interaksi antara stres sistemik dan tirotoksikosis meningkatkan IL-6 dan TNF-α, memperburuk respons inflamasi dan menekan sistem kompensasi organ.
Disfungsi multiorgan: Hipermetabolisme menyebabkan gangguan pada sistem kardiovaskular (gagal jantung), gastrointestinal (diare berat), hepatik (ikterus), dan neurologis (delirium hingga koma).¹,²,⁴,⁶
Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
1. Sistem Kardiovaskular
Gejala: Palpitasi, nyeri dada, sesak napas, ortopnea.
Tanda: Takikardia >130 bpm, aritmia (terutama fibrilasi atrium), tekanan darah tidak stabil atau syok.
Patofisiologi: Akibat stimulasi β-adrenergik berlebihan yang meningkatkan denyut dan kontraktilitas jantung, serta dapat menyebabkan gagal jantung.¹,⁴
2. Sistem Neurologis
Gejala: Gelisah, tremor, agitasi, delirium, kejang, hingga koma.
Tanda: Hiperrefleksia, gangguan orientasi, penurunan kesadaran.
Patofisiologi: Hormon tiroid meningkatkan eksitabilitas SSP, disertai ensefalopati akibat disfungsi metabolik dan hipoksia jaringan.⁴,⁶
3. Gastrointestinal dan Hepatik
Gejala: Mual, muntah, diare, nyeri perut, anoreksia.
Tanda: Hepatomegali, ikterus.
Patofisiologi: Hipermotilitas saluran cerna dan disfungsi hepatik sekunder akibat stres metabolik dan hipoperfusi.¹,⁴
4. Respirasi
Gejala: Sesak napas, napas cepat.
Tanda: Takipnea, ronki bila ada edema paru.
Patofisiologi: Gagal jantung kiri dapat menyebabkan kongesti paru dan edema, terutama pada pasien dengan disfungsi jantung sebelumnya.⁴
5. Sistem Muskuloskeletal
Gejala: Lemah otot, mudah lelah.
Tanda: Tremor halus, kelemahan proksimal.
Patofisiologi: Katabolisme protein meningkat menyebabkan atropi otot dan gejala neuromuskular.⁴
6. Sistem Endokrin dan Metabolik
Gejala: Intoleransi panas, keringat berlebih, haus.
Tanda: Demam tinggi (>39°C), kulit hangat dan lembab.
Patofisiologi: Hormon tiroid meningkatkan produksi panas dan kerja metabolik basal.¹,⁴
Pemeriksaan Tambahan
Pemeriksaan penunjang pada krisis tiroid bertujuan untuk :
Menegakkan tirotoksikosis
Evaluasi keterlibatan organ
Menyingkirkan diagnosis banding atau faktor pencetus.⁴,⁵
Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang
TSH, FT4, dan FT3: Pemeriksaan utama untuk konfirmasi tirotoksikosis. TSH biasanya sangat rendah (supresif), sedangkan FT3 dan FT4 meningkat tajam.
Liver function test (LFT) dan bilirubin: Untuk menilai keterlibatan hepatik. SGOT/SGPT meningkat, sering disertai hiperbilirubinemia yang menandakan disfungsi hati atau sindrom kolestasis akibat stres metabolik.
Elektrolit dan glukosa darah: Untuk mendeteksi komplikasi metabolik seperti hiponatremia atau hipoglikemia yang dapat memperburuk status neurologis.
EKG dan pemeriksaan jantung: Untuk menilai adanya aritmia (terutama fibrilasi atrium), takikardia, atau tanda gagal jantung.
Skor Burch-Wartofsky Point Scale (BWPS): Sistem skoring klinis berdasarkan parameter fisiologis dan gejala yang membantu menegakkan diagnosis krisis tiroid. Skor ≥45 sangat mendukung diagnosis.
Pemeriksaan pencetus (CRP, prokalsitonin, kultur, urinalisis, imaging): Dilakukan bila ada kecurigaan infeksi sebagai pemicu.⁴,⁶
Dasar Diagnosis
Diagnosis krisis tiroid ditegakkan berdasarkan gabungan data klinis dan hasil laboratorium.
Komponen Dasar Diagnosis
Manifestasi klinis berat pada pasien dengan bukti tirotoksikosis, seperti demam tinggi, gangguan kesadaran, aritmia, atau gagal jantung.
Hasil hormon tiroid: TSH menurun (↓) dengan kadar FT4 dan/atau FT3 meningkat tinggi (↑), menunjukkan keadaan hipertiroid aktif.
Skor Burch-Wartofsky ≥45 poin: Mendukung diagnosis krisis tiroid.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, pengobatan harus segera dimulai tanpa harus menunggu konfirmasi laboratorium lengkap.⁴,⁹
Diagnosis Banding
Sepsis
Respons sistemik terhadap infeksi berat yang ditandai oleh demam, takikardia, dan penurunan kesadaran.
Persamaan : onset akut dan gangguan multisistem.
Perbedaan : tidak adanya riwayat tirotoksikosis, serta adanya peningkatan prokalsitonin dan leukositosis sebagai penanda infeksi sistemik.
Alcohol Withdrawal Delirium
Terjadi pada pasien dengan riwayat konsumsi alkohol kronik yang tiba-tiba berhenti.
Persamaan : tremor, agitasi, dan halusinasi yang menyerupai gejala neurologis krisis tiroid.
Perbedaan : Pada delirium tremens terdapat tremor kasar, halusinasi visual, dan tidak disertai peningkatan hormon tiroid.
Sindrom serotonin
Disebabkan oleh peningkatan kadar serotonin akibat obat seperti SSRI. Gejala meliputi hipertermia, mioklonus, dan agitasi.
Persamaan : gejala neurologis dan gastrointestinal.
Perbedaan : klonus mioklonik, riwayat konsumsi obat serotonergik, dan onset cepat setelah perubahan dosis obat.
Neuroleptic Malignant Syndrome (NMS)
Kondisi langka akibat penggunaan obat antipsikotik.
Persamaan : Gejalanya berupa demam tinggi, rigiditas otot, dan perubahan mental.
Perbedaan : rigiditas otot yang nyata, onset lambat, dan hubungan kuat dengan riwayat penggunaan neuroleptik.
Heat stroke
Terjadi akibat paparan panas ekstrem.
Persamaan : Ditandai oleh hipertermia dan gangguan kesadaran.
Perbedaan : tidak ada gejala hipertiroidisme sebelumnya, pasien biasanya mengalami paparan panas langsung, dan memiliki kulit kering akibat gagal berkeringat.⁴
Penatalaksanaan
Krisis tiroid merupakan keadaan gawat darurat endokrin.
Tujuan terapi :
Menurunkan kadar hormon tiroid
Menghambat efek sistemik hormon
Menangani komplikasi
Mengatasi faktor pencetus.⁴
1. Non-Farmakologis
Rawat di ICU: Evaluasi ketat fungsi vital, neurologis, dan kardiovaskular.
Pendinginan eksternal aktif: Gunakan teknik pendinginan evaporatif atau kompres es untuk menurunkan hipertermia.
Hidrasi intravena: Untuk menstabilkan hemodinamik dan mencegah dehidrasi.
Koreksi gangguan metabolik: Terutama hipoglikemia dan hiponatremia.
Ventilasi mekanik: Pada kasus gagal napas atau gangguan kesadaran berat.
Evaluasi dan tata laksana faktor pencetus: Berikan antibiotik empiris jika diduga infeksi; koreksi hipoksia, trauma, atau perdarahan.⁴
2. Farmakologis
| Golongan | Obat | Dosis dan Frekuensi | Mekanisme/Farmakokinetik |
|---|---|---|---|
| Antitiroid | Propiltiourasil (PTU) | 500–1000 mg loading, lalu 200–300 mg tiap 4 jam | Menghambat sintesis T4 dan konversi T4→T3 di perifer |
| Metimazol | 20–30 mg tiap 4–6 jam | Alternatif jika PTU tidak tersedia; tidak menghambat konversi | |
| Iodin (diberikan ≥1 jam setelah antitiroid) | Lugol | 5 tetes tiap 6 jam | Hambat pelepasan hormon (efek Wolff-Chaikoff) |
| Beta-bloker | Propranolol | 40–80 mg tiap 6 jam PO atau 1–5 mg IV | Blokade β-adrenergik; turunkan gejala simpatis |
| Steroid | Hidrokortison | 100 mg IV tiap 8 jam | Inhibisi konversi T4→T3 dan cegah insufisiensi adrenal |
⚠ Catatan: Hindari penggunaan aspirin → meningkatkan kadar hormon tiroid.⁴,⁵
3. Penatalaksanaan Khusus
Kehamilan:
PTU merupakan pilihan utama pada trimester pertama (300–450 mg/hari terbagi); metimazol setelah trimester pertama.
Iodin dan radioiodin dikontraindikasikan.
Steroid aman digunakan.
Tiroidektomi hanya dilakukan pada trimester kedua bila ada indikasi absolut.
Pediatri:
Dosis PTU/MTZ disesuaikan dengan berat badan.
Evaluasi fungsi tiroid setiap 2 minggu.
Diperlukan manajemen multidisiplin.
Kasus Refrakter:
Jika tidak ada perbaikan klinis dengan terapi maksimal, pertimbangkan plasmaferesis, hemoperfusi, atau dialisis peritoneal untuk mengeliminasi hormon tiroid.³,⁴
Komplikasi
Komplikasi terjadi karena :
Hipermetabolisme ekstrem
Disfungsi multiorgan
Aktivasi simpatis berlebihan.
Manifestasi Klinis
Gagal jantung kongestif dan aritmia (terutama fibrilasi atrium): Terjadi akibat peningkatan kerja jantung, takikardia berkepanjangan, dan efek kronotropik hormon tiroid yang memicu disfungsi ventrikel.
Edema paru akut: Timbul karena peningkatan tekanan vena pulmonal sekunder akibat gagal jantung kiri atau beban volume intravaskular yang tinggi.
Ensefalopati metabolik dan kejang: Disebabkan oleh hipoksia jaringan, hiponatremia, dan perubahan ekstrem pada metabolisme sistem saraf pusat.
Hepatitis atau disfungsi hati: Terjadi akibat hipoperfusi hepatik, kongesti, dan efek toksik langsung hormon tiroid pada sel-sel hati.
Kematian akibat gagal organ multipel: Merupakan hasil akhir dari kombinasi hipoksia, asidosis metabolik, gangguan perfusi, dan disfungsi sistemik yang progresif.¹,⁴,⁶
Prognosis
Ad vitam: malam
Mortalitas mencapai 8–25% pada fase akut.
Faktor determinan: keterlambatan rujukan, usia lanjut, koma, keterlibatan multiorgan (jantung, hepar), dan tidak tersedianya ICU.
Ad functionam: dubia
Risiko gangguan neurologis sisa seperti defisit kognitif, terutama pada kasus ensefalopati atau kejang yang tidak ditangani cepat.
Faktor determinan: durasi ensefalopati, gangguan elektrolit, dan adanya hipoksia serebral.
Ad sanationam: bonam
Bila ditangani dalam 24 jam dengan kombinasi antitiroid, iodin, beta-bloker, dan steroid serta manajemen faktor pencetus, kemungkinan sembuh tanpa sekuela tinggi.
Faktor determinan: intervensi dini, kepatuhan pasien, dan kontrol hormonal pasca krisis.¹,⁴,⁶
Edukasi
Tekankan kepatuhan terhadap terapi antitiroid secara teratur.
Ajarkan pasien mengenali gejala awal tirotoksikosis: palpitasi, keringat berlebih, penurunan berat badan tanpa sebab, dan mudah marah.
Instruksikan untuk menghindari faktor pencetus seperti infeksi, stres berat, trauma, dan penghentian obat mendadak.
Ingatkan untuk tidak menggunakan suplemen iodin atau kontras radiologi tanpa rekomendasi dokter.
Anjurkan untuk segera berkonsultasi bila muncul gejala memburuk atau efek samping terapi.
Kriteria Rujukan
Tanda-tanda dekompensasi organ (takikardia >130, delirium, ikterus).
Ketidaktersediaan antitiroid, steroid, atau ICU di fasilitas tingkat pertama.
Pasien dalam kondisi tidak sadar atau tidak stabil secara hemodinamik.
Adanya kondisi khusus seperti kehamilan, usia anak, atau komorbid kompleks (gagal jantung, gagal hati).
Respons buruk terhadap terapi awal di FKTP.