Anemia Defisiensi Besi (Fe) [4A]

Anemia Defisiensi Besi (Fe) [4A]


Definisi dan Batasan

Anemia defisiensi besi adalah kondisi anemia yang terjadi akibat berkurangnya cadangan zat besi dalam tubuh, sehingga mengganggu pembentukan hemoglobin.

Hal ini menyebabkan produksi eritrosit menjadi tidak optimal dan menurunkan kapasitas pengangkutan oksigen ke jaringan.

Tipe anemia yang paling umum ditemukan di seluruh dunia dan dapat menyerang berbagai kelompok usia, terutama wanita usia subur, ibu hamil, dan anak-anak.¹

Klasifikasi dan Stadium

Anemia defisiensi besi berkembang secara bertahap melalui tiga tahap klinis dan laboratoris yang penting untuk dikenali:

1.

Deplesi Cadangan Besi. Pada tahap awal ini, cadangan besi dalam tubuh mulai menurun, ditandai dengan penurunan kadar ferritin serum. Kadar hemoglobin (Hb) masih dalam batas normal dan pasien belum menunjukkan gejala anemia secara klinis.

2.

Defisiensi Besi Tanpa Anemia. Kondisi ini ditandai dengan berkurangnya ferritin dan saturasi transferrin, namun kadar Hb masih dapat normal. Ini merupakan fase transisi yang tanpa intervensi akan berkembang menjadi anemia.

3.

Anemia Defisiensi Besi. Merupakan tahap lanjut di mana Hb menurun, indeks eritrosit seperti MCV menunjukkan mikrositosis, dan RDW meningkat. Pasien mulai menunjukkan gejala klinis seperti lelah, pucat, dan sesak napas.

Pengenalan tahap-tahap ini penting karena terapi zat besi lebih efektif bila diberikan pada fase awal sebelum terjadi anemia yang signifikan.³

Etiologi

Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh satu atau kombinasi dari empat mekanisme berikut:

4.

Asupan besi tidak adekuat, terjadi akibat diet rendah zat besi, terutama pada individu dengan akses terbatas terhadap makanan hewani atau yang mengalami malnutrisi.

5.

Peningkatan kebutuhan besi, umum terjadi pada ibu hamil, bayi, anak dalam masa pertumbuhan, dan wanita menyusui, ketika kebutuhan fisiologis zat besi meningkat.

6.

Gangguan absorpsi besi, seperti pada penyakit celiac, infeksi Helicobacter pylori, gastrektomi parsial atau total, dan penggunaan obat penurun asam lambung jangka panjang (seperti PPI).

7.

Kehilangan zat besi kronis :

Gastrointestinal: ulkus peptikum, kanker kolon, polip, hemoroid.

Ginekologis: menoragia, metroragia.

Parasit intestinal: Ancylostoma duodenale dan Necator americanus (cacing tambang), menyebabkan kehilangan darah kronis melalui gigitan mukosa usus.¹

Faktor Risiko

8.

Wanita usia subur, berisiko tinggi akibat kehilangan darah menstruasi bulanan, terutama pada kasus menoragia.

9.

Kehamilan dan menyusui, kebutuhan zat besi meningkat secara fisiologis untuk mendukung pertumbuhan janin dan volume darah ibu yang bertambah.

10.

Anak-anak dan remaja, masa pertumbuhan pesat membutuhkan asupan zat besi lebih tinggi; ketidakseimbangan asupan menyebabkan defisiensi.

11.

Diet rendah zat besi, terjadi pada vegetarian ketat atau individu dengan akses terbatas ke makanan kaya zat besi heme seperti daging merah.

12.

Status sosial ekonomi rendah, membatasi akses terhadap makanan bergizi, meningkatkan risiko malnutrisi.

13.

Penyakit gastrointestinal, meliputi ulkus peptikum, gastritis, infeksi Helicobacter pylori, kanker kolorektal, dan hemoroid yang dapat menyebabkan perdarahan kronis tersembunyi.

14.

Gangguan penyerapan, seperti penyakit celiac, gastrektomi, atau penggunaan jangka panjang PPI dan antasida yang menghambat absorpsi besi.

15.

Donor darah berulang, kehilangan darah yang sering tanpa suplementasi yang memadai mengakibatkan penurunan cadangan besi tubuh.²,⁷

Patofisiologi

16.

Penurunan cadangan zat besi. Defisiensi dimulai dengan berkurangnya cadangan besi dalam bentuk ferritin di hati, limpa, dan sumsum tulang. Hal ini mengurangi ketersediaan besi untuk proses pembentukan sel darah merah (eritropoiesis).

17.

Gangguan sintesis hemoglobin. Zat besi diperlukan untuk sintesis cincin heme (porfirin) yang merupakan bagian penting dari struktur hemoglobin. Kekurangannya menyebabkan gangguan produksi hemoglobin, mengakibatkan sel darah merah berukuran kecil (mikrositik) dan berwarna pucat (hipokromik).

18.

Penurunan kapasitas pengangkutan oksigen (oxygen carrying capacity). Kadar hemoglobin rendah mengurangi kemampuan darah dalam mengikat dan mendistribusikan oksigen ke jaringan. Kondisi ini memicu gejala hipoksia jaringan seperti lemah, cepat lelah, dan sesak napas.

19.

Peningkatan eritropoietin oleh ginjal. Tubuh merespons hipoksia dengan meningkatkan produksi eritropoietin untuk merangsang eritropoiesis. Namun, respons ini tidak efektif tanpa suplai besi yang cukup.

20.

Disfungsi metabolisme seluler. Zat besi berperan sebagai kofaktor dalam berbagai enzim. Kekurangannya mengganggu metabolisme energi dan memperburuk gejala sistemik, terutama pada jaringan dengan metabolisme oksigen tinggi seperti otot dan otak.⁴

Anamnesis

Anamnesis pada anemia defisiensi besi berfokus pada gejala umum anemia dan faktor risiko penyebab kekurangan zat besi. Gejala utama yang sering dikeluhkan meliputi:

21.

Kelelahan, pusing, dan sesak napas. Terjadi akibat hipoksia jaringan karena rendahnya kadar hemoglobin yang mengangkut oksigen.

22.

Pica (keinginan makan benda non-nutrisi seperti tanah, es, atau kertas). Gejala khas yang spesifik pada defisiensi besi, meskipun mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.

23.

Disfagia (sindrom Plummer-Vinson atau Paterson-Kelly syndrome). Dapat terjadi akibat perubahan mukosa esofagus karena defisiensi besi, menyebabkan kesulitan menelan makanan padat.

24.

Menstruasi berat pada wanita usia subur, merupakan penyebab tersering kehilangan zat besi kronis.

25.

Riwayat diet rendah zat besi, seperti pada vegetarian ketat, pasien dengan anoreksia, atau pola makan tidak seimbang.

26.

Gejala gastrointestinal, seperti melena atau hematokezia, yang menunjukkan perdarahan saluran cerna sebagai sumber kehilangan besi kronis.⁵

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada anemia defisiensi besi bertujuan untuk mengidentifikasi tanda-tanda anemia serta petunjuk terhadap penyebab dan komplikasinya. Manifestasi yang umum dijumpai antara lain:

27.

Pucat, terutama pada konjungtiva, telapak tangan, dan kuku, akibat penurunan perfusi kapiler karena kadar hemoglobin rendah.

28.

Takikardia, sebagai kompensasi tubuh terhadap hipoksia jaringan, terutama pada anemia sedang hingga berat.

29.

Glositis, berupa lidah tampak kemerahan, licin, dan nyeri akibat atrofi papila lidah yang sensitif terhadap defisiensi besi.

30.

Stomatitis angularis, yaitu lesi atau luka di sudut mulut, sering dikaitkan dengan defisiensi zat besi dan vitamin B kompleks.

31.

Koilonychia, yaitu kuku berbentuk sendok, ditemukan pada defisiensi besi yang berlangsung kronik dan berat.

32.

Tidak ditemukan organomegali, ikterus, maupun limfadenopati: Hal ini membantu membedakan dari anemia hemolitik, leukemia, atau anemia megaloblastik yang sering disertai pembesaran organ dan pembentukan sel abnormal.⁵

Pemeriksaan Penunjang

Evaluasi laboratorium sangat penting dalam menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi dan menyingkirkan diagnosis banding. Pemeriksaan yang umum dilakukan meliputi:

33.

Hemoglobin (Hb). Menentukan derajat anemia. Pada ADB, Hb menurun di bawah nilai rujukan normal (<13 g/dL pada pria, <12 g/dL pada wanita tidak hamil).

34.

Mean Corpuscular Volume (MCV). Menilai ukuran eritrosit. Nilai <80 fL menunjukkan anemia mikrositik yang khas pada defisiensi besi.

35.

Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC). Menilai konsentrasi hemoglobin dalam eritrosit. MCHC rendah mengindikasikan hipokromia.

36.

Ferritin. Penanda cadangan besi tubuh. Nilai <30 ng/mL sangat khas untuk ADB, kecuali pada kondisi inflamasi (karena ferritin bersifat reaktan fase akut).

37.

Saturasi Transferrin. Menggambarkan ketersediaan besi untuk eritropoiesis. Nilai <16% menunjukkan defisiensi besi fungsional.

38.

Total Iron Binding Capacity (TIBC). Meningkat pada ADB sebagai kompensasi terhadap penurunan saturasi transferrin.

39.

Retikulosit. Biasanya rendah pada ADB karena sumsum tulang kekurangan bahan baku untuk eritropoiesis.

40.

Apusan darah tepi. Menunjukkan eritrosit mikrositik, hipokromik, dengan peningkatan variasi ukuran (anisositosis) dan bentuk sel (poikilositosis).

41.

Uji Terapeutik (Therapeutic Trial)

Uji ini dilakukan dengan memberikan terapi zat besi oral kepada pasien yang dicurigai mengalami anemia defisiensi besi, tanpa menunggu hasil laboratorium lengkap.

Kriteria positif: bila terjadi kenaikan kadar hemoglobin ≥1 g/dL dalam waktu 1–2 minggu setelah terapi, hal ini sangat mendukung bahwa anemia tersebut memang disebabkan oleh kekurangan zat besi.

Uji ini bernilai diagnostik sekaligus terapeutik, terutama di fasilitas terbatas atau bila hasil pemeriksaan besi serum tidak tersedia segera.

Namun, uji ini tidak menggantikan pemeriksaan ferritin dan panel zat besi, dan harus tetap dikonfirmasi bila tersedia.

42.

Bone marrow aspiration (aspirasi sumsum tulang)

Digunakan bila diagnosis tidak jelas atau pasien tidak responsif terhadap terapi

Temuan khas: eritropoiesis mikrositik hipokromik dan tidak adanya sideroblast (besi) pada pewarnaan Prussian blue

Pemeriksaan tambahan lainnya seperti stool occult blood test, endoskopi, atau kolonoskopi dapat dilakukan bila dicurigai perdarahan saluran cerna sebagai penyebab kehilangan besi kronik.²,⁶,¹¹

Dasar Diagnosis

Diagnosis anemia defisiensi besi ditegakkan melalui kombinasi gejala klinis dan temuan laboratorium hematologi, sebagai berikut:

43.

Gejala klinis dan faktor risiko

Pucat, kelelahan, sesak saat aktivitas ringan

Pica (keinginan makan benda non-makanan)

Menoragia, perdarahan saluran cerna, diet rendah zat besi

44.

Anemia mikrositik hipokromik

Hemoglobin rendah

MCV <80 fL

MCHC rendah

RDW meningkat⁶

45.

Penurunan kadar ferritin serum

<30 ng/mL → paling sensitif dan spesifik untuk defisiensi besi

Catatan: Dapat meningkat semu pada kondisi inflamasi kronik

46.

Penurunan serum iron

Umumnya <30 µg/dL

Nilai normal:

Pria: 65–176 µg/dL

Wanita: 50–170 µg/dL

47.

Penurunan saturasi transferrin

<16% → menandakan kurangnya besi yang tersedia untuk eritropoiesis

48.

Peningkatan TIBC (Total Iron Binding Capacity)

Menggambarkan kompensasi tubuh untuk mengikat lebih banyak besi bebas

49.

Retikulosit rendah

Sumsum tulang tidak merespons optimal karena kekurangan besi.⁵,⁶

Diagnosis Banding

50.

Thalassemia minor

Kelainan genetik pada sintesis rantai globin yang menyebabkan anemia mikrositik hipokromik. Mirip dengan ADB secara morfologi, tetapi Thalassemia minor biasanya tidak disertai penurunan kadar ferritin dan saturasi transferrin. Indeks Mentzer <13 dan RDW normal menjadi pembeda dari ADB.

51.

Anemia penyakit kronik (ACK)

Terjadi akibat proses inflamasi kronis yang mengganggu pemanfaatan besi untuk eritropoiesis. Mirip dengan ADB karena nilai Hb rendah dan MCV dapat normal hingga sedikit rendah. Perbedaannya adalah ferritin yang normal atau meningkat, serta TIBC yang rendah pada ACK.

52.

Anemia sideroblastik

Disebabkan oleh gangguan penggunaan besi di mitokondria sel prekursor eritroid, yang membentuk ring sideroblast di sumsum tulang. Meskipun sama-sama menghasilkan anemia mikrositik seperti ADB, kadar besi serum meningkat dan ditemukan sideroblast khas pada pemeriksaan sumsum tulang.

53.

Intoksikasi timbal

Paparan logam berat ini mengganggu enzim pembentukan heme dan menyebabkan anemia mikrositik dengan basophilic stippling pada apusan darah. Tidak ada defisiensi zat besi seperti pada ADB. Riwayat paparan menjadi kunci diagnosis.

54.

Anemia megaloblastik

Disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 atau folat yang menghambat sintesis DNA, mengakibatkan eritrosit berukuran besar (makrositik). Berbeda dengan ADB yang mikrositik, anemia megaloblastik ditandai dengan MCV tinggi dan hipersegmentasi neutrofil pada apusan darah tepi.⁶

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan anemia defisiensi besi bertujuan untuk mengatasi defisiensi zat besi, memperbaiki anemia, dan mengatasi penyebab mendasarnya. Strategi terapi terdiri dari penatalaksanaan farmakologis, non-farmakologis, serta penanganan khusus untuk wanita hamil dan anak-anak. Selain itu, indikasi transfusi darah juga perlu dievaluasi secara ketat pada kasus anemia berat atau instabilitas hemodinamik.

Farmakologis

ObatDosis & FrekuensiFarmakokinetik
Ferrous sulfate200 mg, 2–3 kali/hariDiserap di duodenum secara aktif; meningkatkan cadangan Fe
Asam folat1 mg/hariKo-faktor pembentukan DNA; penting dalam eritropoiesis
Vitamin C500 mg/hariMeningkatkan absorpsi besi non-heme di saluran cerna

Durasi terapi dan monitoring:

Terapi besi harus dilanjutkan minimal 3 bulan setelah kadar Hb normal untuk memulihkan cadangan zat besi di sumsum tulang.

Evaluasi Hb sebaiknya dilakukan setiap 2–4 minggu, sedangkan ferritin dan saturasi transferrin diperiksa ulang setelah 1–2 bulan.

Peningkatan Hb sebesar 1–2 g/dL dalam 2–4 minggu mengindikasikan respons terapi yang baik.²,⁶,⁷

Poin penting:

Terapi harus dilanjutkan meskipun Hb sudah membaik, jika ferritin masih <30 ng/mL atau penyebab anemia belum teratasi (misalnya perdarahan aktif).²,⁶,⁷

Indikasi Transfusi

Transfusi darah pada anemia defisiensi besi bukan merupakan terapi utama, melainkan hanya dilakukan pada situasi emergensi atau kondisi tertentu berikut:

55.

Hb sangat rendah

Hb <7 g/dL pada pasien sehat tanpa komorbid.

Hb <8 g/dL pada pasien dengan penyakit jantung, paru, atau gagal jantung.

56.

Gejala anemia berat yang mengancam nyawa

Seperti angina pektoris, takikardia berat, dispnea saat istirahat, atau hipotensi.

57.

Tidak respons terhadap terapi besi

Terutama pada kondisi perdarahan aktif berulang atau bila terapi besi kontraindikasi.

58.

Perdarahan aktif dengan instabilitas hemodinamik

Contohnya perdarahan saluran cerna masif.

59.

Kebutuhan peningkatan Hb secara cepat

Seperti pada pasien pra-operasi mayor.

Catatan: Transfusi hanya merupakan solusi jangka pendek. Koreksi defisiensi zat besi tetap diperlukan.²,⁶,⁷

Non-Farmakologis

60.

Modifikasi diet

Konsumsi makanan kaya zat besi heme (daging merah, hati) dan non-heme (sayuran hijau gelap).

61.

Menghindari inhibitor absorpsi

Hindari konsumsi teh, kopi, dan kalsium bersamaan dengan suplemen besi.

62.

Identifikasi penyebab perdarahan

Investigasi saluran cerna, menstruasi berat, atau kelainan koagulasi sebagai sumber kehilangan besi kronis.

63.

Edukasi pasien

Tentang durasi terapi, efek samping obat, dan pentingnya kepatuhan.⁶

Penatalaksanaan pada Wanita Hamil

TrimesterTerapi RekomendasiCatatan
Trimester IFerrous sulfate 60 mg/hari + asam folat 400 mcgGunakan bentuk slow-release jika intoleransi gastrointestinal (GI).
Trimester II–IIIFerrous sulfate 120 mg/hari jika Hb <11 g/dLEvaluasi kadar Hb setiap 4 minggu.
Masa NifasLanjutkan terapi zat besi minimal 3 bulan postpartumUntuk mencegah kekambuhan dan mendukung produksi ASI.

Penatalaksanaan pada Anak

Dosis ferrous sulfate: 3–6 mg/kgBB/hari (dihitung berdasarkan besi elemental), dibagi dalam 2–3 dosis.

Evaluasi Hb: Dilakukan setelah 4 minggu terapi; bila respons baik, terapi dilanjutkan.

Lama terapi: 2–3 bulan setelah Hb normal untuk memulihkan cadangan zat besi.

Penting: Hindari pemberian susu dan sereal bersamaan dengan suplemen zat besi, karena dapat menghambat absorpsi.⁶

Komplikasi

64.

Gagal jantungAnemia kronis berat meningkatkan beban kerja jantung, menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri dan gagal jantung kongestif, terutama pada lansia atau pasien dengan penyakit kardiovaskular.

65.

Gangguan tumbuh kembang anakDefisiensi besi pada masa kanak-kanak dapat mengganggu perkembangan motorik, kognitif, dan sistem imun.

66.

Penurunan fungsi kognitif dan performa kerjaPada orang dewasa, terutama wanita usia produktif, anemia dapat menurunkan konsentrasi, produktivitas, dan kualitas hidup.⁶

Edukasi

Sumber makanan zat besi: Edukasi tentang makanan kaya zat besi heme (daging, hati) dan non-heme (sayuran hijau, kacang-kacangan).

Konsumsi obat: Penjelasan waktu terbaik untuk mengonsumsi zat besi (sebelum makan, bersama vitamin C) dan makanan yang menghambat penyerapan (teh, kopi, kalsium).

Efek samping gastrointestinal: Informasi tentang efek seperti mual dan konstipasi; anjurkan mulai dengan dosis rendah dan tingkatkan secara bertahap bila diperlukan.

Evaluasi diet & gaya hidup: Perhatian khusus pada kelompok risiko tinggi seperti anak-anak, wanita hamil, dan remaja putri.

Kepatuhan terapi: Tekankan pentingnya menyelesaikan seluruh rangkaian terapi, bahkan setelah kadar Hb kembali normal.

Pemeriksaan rutin Hb dan ferritin: Penting untuk memantau respons terapi dan mencegah kekambuhan.⁶

Kriteria Rujukan

Pasien dengan anemia defisiensi besi perlu dirujuk ke fasilitas layanan kesehatan tingkat lanjutan apabila ditemukan kondisi berikut:

67.

Tidak ada respons terhadap terapi setelah 4 minggu

Hb tidak meningkat ≥1 g/dL setelah pemberian terapi besi adekuat.

Evaluasi lebih lanjut diperlukan untuk menyingkirkan penyebab lain seperti malabsorpsi, penyakit kronik, atau keganasan.

68.

Anemia berat dengan gejala klinis serius

Hb <7 g/dL disertai gejala seperti sesak napas, palpitasi, sinkop, atau hipotensi.

69.

Kecurigaan adanya penyebab sekunder

Perdarahan saluran cerna, hematuria, atau gejala sistemik lain seperti penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.

70.

Memerlukan investigasi lanjutan

Seperti endoskopi, kolonoskopi, atau evaluasi sumsum tulang.

71.

Anemia rekuren tanpa penyebab jelas

Setelah terapi berhasil, anemia kembali muncul dalam waktu singkat.⁸

Prognosis

Ad vitam (prognosis hidup): bonamoAnemia defisiensi besi umumnya tidak fatal bila diterapi adekuat. Prognosis hidup baik, terutama bila penyebab utama berhasil ditangani dan tidak terdapat penyakit penyerta berat seperti keganasan atau gagal jantung.

Ad functionam (fungsi tubuh): bonamFungsi fisik dan kognitif akan pulih sepenuhnya bila terapi dilakukan secara optimal. Namun, prognosis bisa menjadi dubia pada pasien usia lanjut, dengan komorbid kardiopulmonal, atau defisiensi yang berlangsung lama.

Ad sanationam (kesembuhan total): bonamKondisi ini dapat sembuh total karena bersifat reversibel. Namun menjadi dubia bila sumber kehilangan besi tidak ditemukan atau tidak ditangani, serta pada kasus malabsorpsi kronis.⁶


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini