Anafilaksis

Anafilaksis


Definisi

Reaksi hipersensitivitas sistemik akut yang mengancam nyawa, dimediasi oleh IgE atau non-IgE, yang muncul dalam hitungan menit hingga jam setelah pajanan, melibatkan ≥ 2 sistem organ atau menyebabkan hipotensi/syok.¹,²

Etiologi / Faktor Pencetus¹,³,⁹

KelompokContoh UtamaCatatan Klinis
MakananKacang tanah, susu, telur, seafood, gandum, wijenAnak & dewasa muda; risiko reaksi bifasik
ObatPenisilin, sefalosporin, NSAID, anestesi, kontras iodin, kemoterapiOnset cepat; monitoring ketat
Biologik/VaksinSerum antitetanus, vaksin COVID‑19 (jarang)Kandungan polisorbate/PEG
LateksSarung tangan, kondomReaktivitas silang buah tropis
Sengatan seranggaLebah, tawon, semut apiRisiko ↑ pada mastositosis
Exercise‑inducedAktivitas berat ± ingesti makanan pencetusKombinasi makanan + olahraga
IdiopatikTidak teridentifikasi (≈ 10 % kasus)Diagnosis eksklusi

Klasifikasi

1.

Berdasarkan mekanisme imunologis:

IgE-mediated: paling umum, melibatkan reaksi alergi klasik

Non-IgE immunologic: aktivasi sel imun tanpa IgE (contoh: aktivasi langsung mastosit oleh obat)

Non-immunologic: pelepasan mediator tanpa keterlibatan sistem imun (misal: opiat, suhu ekstrem)

2.

Berdasarkan pola waktu:

Uniphasic: satu kali reaksi, pulih dengan terapi

Biphasic: gejala muncul kembali dalam 4–72 jam setelah fase awal tanpa pajanan ulang

Protracted/refractory: gejala berlangsung terus-menerus atau menetap > 24 jam

3.

Berdasarkan derajat keparahan:

Ring & Messmer I–IV atau WAO Grade I–V, digunakan untuk menilai tingkat berat dan menentukan kebutuhan tatalaksana di ICU

Patofisiologi

Anafilaksis adalah reaksi hipersensitivitas sistemik akut yang terutama dimediasi oleh IgE, meskipun bisa juga melalui jalur non-IgE atau non-imunologis. Dalam klasifikasi imunopatologi Gell dan Coombs, anafilaksis termasuk dalam reaksi hipersensitivitas tipe I (tipe cepat).

Pada mekanisme klasik (IgE-mediated) :

4.

Proses dimulai saat alergen dikenali oleh sel penyaji antigen / APC (Antigen Presenting Cell)

5.

Merangsang limfosit B untuk memproduksi IgE spesifik.

6.

IgE ini berikatan dengan reseptor FcεRI (dibaca: Fc-epsilon-RI) = Fc epsilon Receptor I) yang terdapat pada permukaan mastosit dan basofil.

7.

Ketika terjadi pajanan ulang dengan alergen yang sama, terbentuk cross-linking IgE yang mengaktivasi degranulasi mastosit/basofil.

Mediator utama yang dilepaskan meliputi:

Histamin → menyebabkan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas vaskular (edema), bronkokonstriksi, dan peningkatan sekresi mukus.

Triptase → berperan sebagai marker aktivasi mastosit dan meningkatkan permeabilitas vaskular.

Leukotrien C4/D4/E4 → secara poten menyebabkan bronkospasme, peningkatan permeabilitas vaskular, dan produksi mukus.

Prostaglandin D2 → menyebabkan bronkokonstriksi dan kemotaksis eosinofil.

Platelet Activating Factor (PAF) → terlibat dalam agregasi trombosit, hipotensi berat, dan aktivasi koagulasi.

Selain mediator primer tersebut, terjadi pula aktivasi jalur komplemen (C3a, C5a), kaskade koagulasi, dan jalur sistem kinin, yang memperparah kondisi syok, vasodilatasi, dan peningkatan permeabilitas.

Hasil akhirnya adalah:

Penurunan tekanan darah sistemik (karena vasodilatasi sistemik dan kebocoran kapiler)

Hipoksia jaringan (karena bronkokonstriksi dan edema laring)

Edema mukosa dan urtikaria/angioedema

Koagulopati ringan hingga DIC (pada kasus berat)

Reaksi bifasik atau protracted jika mediator inflamasi terus aktif.

Proses ini berlangsung cepat, dalam hitungan menit hingga jam, dan sangat tergantung pada sensitivitas individu serta jumlah alergen yang masuk.³

Anamnesis

Onset cepat (menit–1 jam; maksimal 4 jam untuk reaksi akibat obat/gigitan serangga, 6 jam untuk reaksi makanan)

Gejala kulit-mukosa: urtikaria generalisata, pruritus, angioedema bibir/kelopak mata

Respirasi: stridor, wheezing, batuk, rasa tercekik

Kardiovaskular: pusing, sinkop, takikardia, hipotensi

Gastrointestinal: kram perut, mual, muntah, diare

Riwayat alergi/anafilaksis sebelumnya, asma, mastositosis.¹,²,⁴,⁵

Pemeriksaan Fisik

Penilaian ABCDE secara cepat: airway, breathing, circulation, disability, dan exposure (untuk mencari tanda urtikaria/angioedema, suara serak, wheezing difus, nadi cepat, dan kulit dingin/mottling).¹,⁴

Pemeriksaan Tambahan¹,³,⁵

ParameterWaktuInterpretasi
Serum triptase30 min – 3 jamTerjadi peningkatan akibat aktivasi mast‑cell
Histamin plasma< 15 minJarang dipakai (kurang stabil)
IgE spesifik / skin test≥ 4–6 mingguUntuk mengidentifikasi alergen
Gas darah, EKG, laktatSesuai indikasiUntuk observasi di ICU

Dasar Diagnosis (WAO (World Allergy Organization) / EAACI (European Academy of Allergy and Clinical Immunology) 2020)

Diagnosis ditegakkan bila pasca pajanan alergen muncul:

8.

Gejala kulit/mukosa + ≥ 1 tanda respiratori/kardiovaskular.

9.

Keterlibatan ≥ 2 sistem organ dalam < 2 jam.

10.

Hipotensi/syok segera setelah pajanan alergen diketahui.¹,²

Diagnosis Banding³,⁴,⁵

DiagnosisPerbedaan
Syncope vasovagalBradikardi, tanpa urtikaria, pulih cepat setelah tirah baring
Serangan panikHiperventilasi, tidak hipotensi, riwayat psikiatri
Asma eksaserbasiWheezing dominan, tanpa urtikaria/hipotensi
Syok septikDemam, leukositosis, adanya fokus infeksi
Angioedema herediterEdema non‑urtikaria, onset > 4 jam, C4 rendah

Tatalaksana

a. Farmakologis (menit pertama)¹,⁴,⁵,⁶,⁷

LangkahDosis & Rute PemberianKeterangan
Adrenalin IM0,3–0,5 mg (0,01 mg/kg anak) IM pada M. fastus lateralis, dapat diulang tiap 5–15 menitGold Standar; jangan ditunda
Oksigen6–10 L/menit maskerTarget SpO₂ ≥ 94 %
Cairan kristaloid1–2 L bolus dewasa (20 mL/kg anak)Reperfusi syok
Antihistamin H1Diphenhydramine 25–50 mg IV/IMUntuk mengurangi gejala pada kulit, bukan pengganti adrenalin
Antihistamin H2Ranitidin 50 mg IVFungsinya hampir sama dengan golongan H1
KortikosteroidMetilprednisolon 1–2 mg/kg IVUntuk mencegah reaksi biphasic
β2‑agonis inhalasiSalbutamol neb 2,5–5 mgBronkospasme persisten
Vasopresor IVAdrenalin/NA infusSyok refrakter

b. Non‑Farmakologis

Posisikan pasien supinasi dengan kaki ditinggikan (atau dalam posisi duduk bila obstruksi napas dominan)

Pertahankan jalan napas dan siapkan intubasi dini jika terjadi edema laring

Lakukan pemantauan EKG, SpO₂, serta tekanan darah secara kontinu.¹,³

c. Operatif

Krikotiroidotomi darurat diindikasikan bila intubasi gagal akibat edema laring yang berat.⁴

Prognosis¹,⁴,⁸

DimensiPrognosisKeteranganDeterminan Utama
Ad vitamDubiaPrognosis hidup tidak pasti; mortalitas 0,5–1%Penundaan pemberian adrenalin, usia lanjut, asma berat
Ad functionamBonamFungsi organ dapat pulih sempurna jika ditangani cepatHipoksia otak, durasi syok
Ad sanationamMalamKemungkinan kekambuhan tinggi jika pemicu tidak dikontrolKepatuhan terapi, edukasi, akses auto-injector

Edukasi Pasien & Keluarga

Kenali gejala awal dan segera gunakan auto-injector adrenalin.

Hindari pemicu yang teridentifikasi, selalu baca label makanan/obat dengan teliti.

Bawa rencana tindakan tertulis & kenakan gelang/kalung medis.

Latih penggunaan auto-injector setiap 6 bulan.

Lakukan kontrol alergi lanjutan untuk evaluasi kemungkinan imunoterapi/desensitisasi bila diindikasikan.¹,³,⁵,⁷,¹⁰