Agranulositosis [2]

Agranulositosis [2]


Definisi

Agranulositosis adalah kondisi hematologis yang ditandai dengan penurunan drastis atau tidak adanya granulosit—terutama neutrofil—dalam sirkulasi darah tepi. Kondisi ini meningkatkan risiko infeksi berat yang mengancam jiwa.¹

Gambar ini mengilustrasikan bahwa pada agranulositosis, terdapat kekosongan granulosit—terutama neutrofil—baik dalam sirkulasi darah maupun produksi dari sumsum tulang.https://www.gastroepato.it/
Gambar ini mengilustrasikan bahwa pada agranulositosis, terdapat kekosongan granulosit—terutama neutrofil—baik dalam sirkulasi darah maupun produksi dari sumsum tulang.https://www.gastroepato.it/

Epidemiologi

Agranulositosis adalah kondisi langka dengan insidensi sekitar 1–5 kasus per 1 juta populasi per tahun.

Lebih sering terjadi pada wanita dan usia lanjut, terutama pada mereka yang terpapar obat sitotoksik atau imunosupresif.²

Etiologi dan Klasifikasi

Fase Klinis Berdasarkan Derajat Neutropenia

Meskipun tidak ada sistem staging resmi untuk agranulositosis, derajat keparahan neutropenia digunakan untuk menilai risiko klinis dan menentukan tindakan:

Anamnesis

Demam tinggi: Gejala paling awal dan tersering, mencerminkan infeksi berat tanpa respons imun seluler yang memadai.

Nyeri tenggorokan dan disfagia: Timbul akibat ulserasi mukosa faring yang rentan terhadap infeksi bakteri saat neutrofil tidak tersedia.

Ulkus mulut atau stomatitis: Sering terjadi pada neutropenia berat karena epitel mukosa tidak terlindungi dari mikroorganisme flora normal.

Malaise, menggigil, dan kelelahan: Respons sistemik terhadap infeksi atau inflamasi yang tidak terkontrol.

Riwayat konsumsi obat berisiko tinggi: Clozapine, methimazole, sulfonamid, carbamazepine, atau kemoterapi dalam 2–6 minggu terakhir merupakan pemicu potensial utama.

Riwayat penyakit autoimun atau infeksi virus: Penting untuk mengevaluasi penyebab sekunder agranulositosis.¹,³,⁴,⁵

Pemeriksaan Fisik

Demam: Tanda sistemik utama dari infeksi, sering kali tinggi dan mendadak karena tubuh tidak memiliki respons imun yang memadai untuk membatasi pertumbuhan mikroorganisme.

Lesi ulseratif pada mukosa mulut dan faring: Muncul akibat kolonisasi dan invasi mikroorganisme komensal pada jaringan epitel yang tidak dilindungi oleh neutrofil.

Takikardia dan hipotensi: Menandakan progresi ke sepsis, terutama bila ANC < 500/μL dan terapi tertunda.

Tidak ada limfadenopati atau splenomegali khas: Membedakan agranulositosis dari leukemia atau infeksi virus seperti mononukleosis.¹,⁴,⁵

Pemeriksaan Penunjang

Dasar Diagnosis

Diagnosis Banding¹,³,⁶,⁷

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Agranulositosis
Leukemia akutDitemukan sel blast pada apusan darah tepi atau sumsum tulang; biasanya disertai splenomegali.
Anemia aplastikPancitopenia (penurunan seluruh lini sel darah), bukan hanya neutropenia.
Neutropenia kronik idiopatikNeutropenia persisten namun biasanya tidak mencapai < 500/μL dan jarang disertai infeksi berat.
Infeksi virus (misal EBV)Biasanya disertai limfositosis relatif, demam ringan, dan hepatosplenomegali.
MielodisplasiaDitemukan displasia sel darah pada apusan/sumsum, dan sering pada lansia dengan anemia atau trombositopenia juga.

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Identifikasi dan hentikan agen penyebab: Pada kasus agranulositosis akibat obat, langkah utama adalah menghentikan agen penyebab sesegera mungkin.

Isolasi protektif: Diterapkan pada pasien dengan ANC < 500/μL untuk mencegah paparan infeksi nosokomial.

Pemantauan ketat tanda vital dan status infeksi: Dilakukan setiap 4–6 jam selama fase neutropenia berat.

Edukasi pasien: Anjurkan pasien menghindari keramaian, makanan mentah, dan kontak dengan individu sakit selama masa pemulihan.¹,³,⁸

Farmakologis¹,⁴,⁹

Obat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakokinetik
Antibiotik empiris spektrum luas (misal: piperacillin-tazobactam)4.5 g IV tiap 6–8 jamDiberikan segera saat onset demam; mencakup bakteri gram positif & negatif termasuk Pseudomonas
Antijamur 70 mg loading, lanjut 50 mg IV/hariDiberikan bila demam tidak membaik dalam 4–7 hari setelah antibiotik; metabolisme hepatik
Granulocyte Colony Stimulating Factor (G-CSF)5 µg/kg/hari SC/IVStimulasi proliferasi dan diferensiasi neutrofil; onset respons 3–5 hari; eliminasi ginjal
Immunoglobulin IV (IVIG)0.4 g/kg/hari selama 5 hariDigunakan pada agranulositosis autoimun atau refrakter; efek imunomodulasi, eliminasi plasma

Komplikasi

Infeksi berat (sepsis, pneumonia, infeksi jamur sistemik): Terjadi karena hilangnya pertahanan utama terhadap mikroorganisme patogen, terutama bila ANC < 500/μL.

Syok septik: Infeksi yang tidak terkendali dapat berkembang cepat menjadi disfungsi organ multipel dan hipotensi persisten.

Mortalitas tinggi: Tanpa terapi suportif dan antibiotik empiris segera, angka kematian dapat mencapai >30%.

Rekurensi agranulositosis: Terutama bila penyebab tidak diidentifikasi dan pasien terpapar kembali terhadap agen pemicu.

Kerusakan mukosa orofaring dan gastrointestinal: Ulserasi dan nekrosis dapat terjadi akibat kolonisasi bakteri komensal tanpa hambatan neutrofil.¹,³,⁴,⁵

Prognosis

Ad vitam: Malam, terutama bila diagnosis dan terapi tertunda, atau pasien mengalami neutropenia berat disertai infeksi sistemik seperti sepsis atau pneumonia. Mortalitas dapat mencapai >30% pada kasus tanpa terapi suportif adekuat.

Ad functionam: Bonam, karena pada sebagian besar kasus, fungsi organ dan aktivitas harian dapat pulih sepenuhnya bila infeksi terkendali dan granulopoiesis kembali normal setelah faktor penyebab dieliminasi.

Ad sanationam: Bonam untuk kasus agranulositosis akibat obat atau infeksi bila faktor pencetus dihilangkan dan terapi diberikan tepat waktu. Namun, menjadi dubia ad malam pada agranulositosis kongenital atau autoimun yang membutuhkan manajemen jangka panjang dan berisiko rekurensi.¹,⁴,⁹

Edukasi

Pentingnya pengobatan segera: Pasien harus memahami bahwa agranulositosis adalah kondisi darurat medis yang memerlukan terapi secepatnya untuk mencegah infeksi berat.

Hindari paparan ulang obat pencetus: Edukasi mengenai riwayat obat sangat penting untuk mencegah kekambuhan, terutama pada kasus agranulositosis akibat obat.

Kewaspadaan terhadap gejala infeksi: Pasien harus segera mencari bantuan medis bila mengalami demam, nyeri tenggorokan, atau sariawan.

Gaya hidup selama pemulihan: Anjurkan isolasi sementara, hindari keramaian dan makanan mentah, serta jaga kebersihan tangan dan mulut.

Kontrol berkala: Pemeriksaan darah berkala diperlukan hingga neutrofil kembali normal dan risiko infeksi menurun.¹,³,⁴,⁵,⁹

Kriteria Rujukan

ANC < 500/μL disertai demam atau gejala infeksi sistemik — membutuhkan perawatan dan terapi IV segera.

Penyebab tidak ditemukan setelah evaluasi awal di FKTP — memerlukan pemeriksaan lanjutan seperti aspirasi sumsum tulang.

Tidak ada perbaikan dalam 3–5 hari setelah penghentian obat pencetus dan tatalaksana awal di FKTP.

Kecurigaan agranulositosis kongenital atau autoimun — membutuhkan penanganan hematolog subspesialis.

Komplikasi berat seperti sepsis, syok septik, atau infeksi jamur invasif.¹,³,⁴,⁶


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini