Hospital-Acquired Pneumonia (HAP)[3B].

Hospital-Acquired Pneumonia (HAP)[3B].

ItemKeterangan
SKDI3B — mampu menegakkan diagnosis klinis, memberikan tata laksana awal dan stabilisasi, kemudian merujuk untuk penatalaksanaan lanjutan.

Definisi

Hospital-Acquired Pneumonia (HAP) adalah pneumonia yang muncul ≥48 jam setelah pasien dirawat di rumah sakit dan tidak berada dalam masa inkubasi saat pasien masuk rumah sakit.⁴,¹¹,¹⁵

(Kaminsky dkk, 2011)
(Kaminsky dkk, 2011)

Etiologi

Bakteri Gram negatif nosokomial merupakan penyebab utama HAP, terutama Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter baumannii, Klebsiella pneumoniae, Escherichia coli, serta Enterobacterales lainnya.⁴,¹¹,¹⁵

Bakteri Gram positif yang penting adalah Staphylococcus aureus, termasuk MRSA.⁴,¹¹

Patogen multidrug-resistant (MDR) lebih sering ditemukan pada HAP onset lambat, pada pasien dengan riwayat penggunaan antibiotik sebelumnya, rawat inap yang lama, atau perawatan di ICU.⁴,¹⁵

HAP dapat bersifat polimikroba, terutama pada pasien kritis, aspirasi, atau dengan penyakit paru struktural.⁴,⁶,¹¹


Faktor risiko

Rawat inap ≥48 jam, terutama bila durasi perawatan semakin panjang.⁴,¹¹,¹⁵

Perawatan di ICU, imobilisasi berkepanjangan, atau kondisi kritis.⁴,¹¹

Riwayat penggunaan antibiotik spektrum luas dalam 90 hari terakhir.⁴,¹⁵

Riwayat kolonisasi atau infeksi oleh patogen MDR, MRSA, atau Pseudomonas aeruginosa.⁴,¹⁵

Penyakit paru struktural, seperti bronkiektasis atau PPOK berat.⁴,⁶

Aspirasi sekret orofaring, gangguan menelan, penurunan kesadaran, atau penggunaan selang nasogastrik.⁶,¹¹

Imunokompromi, seperti keganasan, kemoterapi, penggunaan kortikosteroid atau imunosupresan, atau transplantasi.⁶,¹¹

Prosedur invasif, misalnya intubasi, trakeostomi, bronkoskopi, atau penggunaan alat medis yang dapat meningkatkan kolonisasi bakteri nosokomial.⁴,¹¹



Anamnesis

Demam, menggigil, malaise, atau perburukan kondisi umum yang muncul ≥48 jam setelah rawat inap.⁴,¹¹

Batuk baru atau perburukan batuk sebelumnya, yang dapat disertai sputum purulen atau peningkatan produksi sekret saluran napas.⁴,¹¹,¹⁵

Sesak napas, takipnea, atau peningkatan kebutuhan oksigen akibat gangguan pertukaran gas.⁴,¹¹

Nyeri dada pleuritik dapat ditemukan, tetapi tidak selalu menonjol pada pasien rawat inap atau kritis.⁵,⁶

Riwayat penggunaan antibiotik sebelumnya, perawatan ICU, prosedur invasif, aspirasi, atau penyakit paru dasar perlu digali sebagai faktor risiko HAP.⁴,¹¹,¹⁵

Pada pasien lanjut usia atau sakit kritis, gejala dapat tidak khas, seperti penurunan kesadaran, delirium, kelemahan mendadak, atau instabilitas hemodinamik.⁶,¹¹


Pemeriksaan Fisik

Demam, takipnea, takikardia, dan penurunan saturasi oksigen.⁴,¹¹

Ronki basah atau crackles akibat eksudat alveolar dan konsolidasi paru.¹,⁵

Perkusi redup dan bunyi napas bronkial pada area konsolidasi.¹,⁵

Dapat ditemukan peningkatan sekret saluran napas, sputum purulen, atau perubahan karakter sekret respiratori.⁴,¹¹

Pada kasus berat, dapat ditemukan penggunaan otot bantu napas, sianosis, hipotensi, serta tanda gagal napas dan sepsis.⁴,¹¹,¹⁵

Pada pasien ICU atau kondisi kritis, perburukan dapat tampak sebagai peningkatan kebutuhan FiO₂, perubahan ventilasi, atau instabilitas klinis tanpa gejala respiratori yang jelas.⁴,¹⁵


Penunjang

Darah lengkap: dapat menunjukkan leukositosis atau leukopenia. Leukopenia dapat menandakan infeksi berat atau sepsis.⁴,¹¹

CRP dan prokalsitonin: membantu menilai derajat inflamasi, respons terapi, serta menjadi pertimbangan durasi antibiotik.⁴,¹¹

Analisis gas darah: dilakukan bila terdapat hipoksemia, peningkatan kebutuhan oksigen, atau dugaan gagal napas.⁴,⁵

Pewarnaan Gram dan kultur sputum: membantu mengidentifikasi patogen dan menyesuaikan antibiotik berdasarkan hasil uji sensitivitas.⁴,¹¹

Kultur darah: dipertimbangkan pada HAP berat, sepsis, syok septik, atau sebelum pemberian antibiotik bila memungkinkan.⁴,¹¹

Kultur aspirat trakeal atau BAL: dipertimbangkan pada pasien kritis, kegagalan terapi, atau dugaan patogen MDR, MRSA, atau Pseudomonas.⁴,¹¹,¹⁵

Fungsi ginjal dan fungsi hati: penting untuk penyesuaian dosis antibiotik dan pemantauan efek samping.⁴,⁵

Laktat serum: digunakan bila dicurigai sepsis atau gangguan perfusi jaringan.⁴,¹¹


Pemeriksaan Radiologis Penunjang lainnya

1. Foto Toraks (Chest X ray/CXR)

Foto toraks merupakan pemeriksaan awal utama pada kecurigaan HAP.⁴,¹¹,¹⁵

Tujuan pemeriksaan meliputi identifikasi infiltrat baru atau progresif, penilaian luas lesi, dan deteksi komplikasi.⁴,¹¹

Gambaran radiologis yang dapat ditemukan meliputi:

Konsolidasi alveolar, berupa opasitas homogen akibat alveoli terisi eksudat inflamasi.¹,⁴

Air bronchogram, yaitu bronkus berisi udara yang tampak di dalam area konsolidasi.¹,¹²

Opasitas patchy atau infiltrat multifokal.⁴,¹¹

Infiltrat multilobus pada pneumonia berat atau difus.⁴,¹⁵

Efusi pleura, atelektasis, atau ARDS sebagai komplikasi.¹,⁴

Diagnosis HAP didukung oleh adanya infiltrat radiologis baru, disertai tanda klinis infeksi seperti demam, sputum purulen, leukositosis atau leukopenia, atau perburukan oksigenasi.⁴,¹¹

2. CT Scan Toraks

CT scan toraks memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dibanding foto toraks untuk mengevaluasi kelainan paru akut.¹,⁵

Pemeriksaan ini tidak dilakukan secara rutin, tetapi dipertimbangkan bila diagnosis belum jelas, terdapat perburukan klinis, tidak ada respons terhadap terapi empiris, atau dicurigai komplikasi maupun diagnosis banding lain.⁵,¹¹

CT scan dapat membantu mendeteksi:

infiltrat kecil atau lesi dini yang kurang jelas pada foto toraks.¹,⁵

kavitasi dan nekrosis paru.¹,⁵

abses paru dan empiema.¹,⁵

atelektasis, obstruksi bronkus, atau massa paru.¹,⁵

Pemeriksaan ini terutama bermanfaat pada pasien imunokompromais, pneumonia berat, atau gambaran radiologi yang kompleks.⁵,¹¹

3. Ultrasonografi Toraks (Thoracic Ultrasound/USG Toraks)

USG toraks tidak digunakan sebagai diagnosis primer HAP, tetapi bermanfaat untuk evaluasi pleura.⁵

Pemeriksaan ini membantu mendeteksi:

Efusi pleura

Efusi parapneumonik

Empiema

Lokulasi cairan pleura.⁵,⁶

USG toraks juga dapat digunakan sebagai panduan torakosentesis atau pemasangan drainase pleura.⁵

4. Fluoroskopi atau Videofluoroscopic Swallow Study (VFSS)

VFSS bukan pemeriksaan rutin pada HAP.⁹

Dipertimbangkan bila terdapat dugaan gangguan menelan atau aspirasi sebagai faktor predisposisi pneumonia nosokomial.⁹

Pemeriksaan dilakukan dengan pemberian kontras oral sambil merekam proses menelan secara dinamis menggunakan fluoroskopi.⁹

Dapat menilai:

koordinasi fase oral-faringeal.⁹

gangguan mekanisme menelan.⁹

silent aspiration yang tidak menimbulkan refleks batuk.⁹

5. MRI Toraks

MRI toraks jarang digunakan pada HAP karena evaluasi parenkim paru akut lebih optimal dengan CT scan.⁵

MRI dapat dipertimbangkan pada indikasi khusus, seperti:

evaluasi mediastinum atau jaringan lunak,

dugaan komplikasi vaskular atau dinding toraks,

kondisi tertentu saat CT kontraindikasi.⁵

6. Bronkoskopi dengan Bronchoalveolar Lavage (BAL)

Bronkoskopi merupakan prosedur invasif untuk visualisasi langsung jalan napas serta pengambilan spesimen saluran napas bawah.⁴,¹¹

Dipertimbangkan pada:

HAP berat atau pasien ICU,

kegagalan terapi empiris,

dugaan patogen MDR, jamur, atau infeksi oportunistik,

kecurigaan obstruksi bronkus, aspirasi, atau benda asing.⁴,¹¹,¹⁵

BAL (Bronchoalveolar Lavage) dilakukan dengan memasukkan cairan steril ke segmen paru tertentu, kemudian menyedotnya kembali untuk analisis.⁴,¹¹

Sampel BAL dapat digunakan untuk:

pewarnaan Gram, kultur, dan uji sensitivitas,

PCR/pemeriksaan molekuler,

deteksi jamur, bakteri resisten, atau patogen oportunistik.⁴,¹¹,¹⁵


Tatalaksana

Prinsip Umum

HAP memerlukan tata laksana awal serta rujukan atau kolaborasi karena termasuk kompetensi SKDI 3B.

Terapi utama adalah antibiotik empiris spektrum luas yang disesuaikan dengan derajat keparahan, risiko MDR, risiko MRSA, risiko Pseudomonas aeruginosa, dan antibiogram rumah sakit.⁴,¹¹,¹⁵

Ambil spesimen mikrobiologi sebelum pemberian antibiotik bila memungkinkan, tanpa menunda terapi pada pasien berat.⁴,¹¹

Lakukan de-eskalasi antibiotik setelah hasil kultur dan uji sensitivitas tersedia.⁴,¹⁵

Durasi terapi umumnya 7 hari, dan dapat disesuaikan berdasarkan respons klinis, etiologi, komplikasi, serta status imun pasien.⁴,¹⁵


Non-Farmakologis

Oksigenasi diberikan sesuai derajat hipoksemia.⁴,¹¹

Monitoring ketat tanda vital, saturasi oksigen, status mental, produksi sputum, dan tanda sepsis.⁴

Resusitasi cairan dan tata laksana sepsis bila terdapat instabilitas hemodinamik.⁴

Mobilisasi dini, fisioterapi dada sesuai indikasi, nutrisi adekuat, dan pencegahan aspirasi.⁵,¹¹

Evaluasi kebutuhan ICU bila terdapat gagal napas, syok, atau perburukan cepat.⁴,¹⁵


Prinsip Terapi Farmakologis

Pilihan antibiotik empiris harus mencakup patogen nosokomial utama, terutama bakteri Gram negatif, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus aureus.⁴,¹¹

Cakupan MRSA diberikan bila ada faktor risiko MRSA, angka MRSA lokal tinggi, atau pneumonia berat.⁴

Dua agen antipseudomonal dari golongan berbeda dipertimbangkan pada pasien dengan risiko tinggi resistensi, syok septik, atau kebutuhan ventilasi.⁴,¹⁵

Terapi definitif disesuaikan dengan hasil kultur, uji sensitivitas, respons klinis, serta fungsi ginjal dan hati.⁴,¹¹


Durasi dan Evaluasi

Evaluasi respons klinis dalam 48–72 jam.⁴

Parameter evaluasi meliputi demam, leukosit, oksigenasi, jumlah dan purulensi sputum, hemodinamik, serta hasil kultur.⁴,¹¹

Durasi antibiotik umumnya 7 hari bila respons klinis baik.⁴

Durasi dapat diperpanjang pada abses paru, empiema, nekrosis paru, imunokompromais, atau respons klinis yang lambat.⁴,¹¹