Dislokasi Elbow

Dislokasi Elbow


Definisi

Dislokasi elbow (dislokasi sendi siku) adalah hilangnya hubungan anatomis normal antara humerus, ulna, dan radius pada sendi siku akibat perpindahan permukaan artikular secara komplet, umumnya disebabkan oleh trauma, sehingga mengganggu stabilitas dan fungsi sendi.¹˒²

(https://musculoskeletalkey.com/)
(https://musculoskeletalkey.com/)


Epidemiologi

Dislokasi siku merupakan dislokasi sendi besar tersering kedua pada orang dewasa setelah dislokasi bahu, dengan insidensi sekitar 5–6 kasus per 100.000 penduduk per tahun.¹˒²

Sekitar 80–90% kasus merupakan dislokasi posterior atau posterolateral, umumnya akibat jatuh dengan tangan menopang tubuh (FOOSH).¹˒²

Kondisi ini paling sering terjadi pada usia 10–20 tahun dan pada dewasa muda, terutama terkait aktivitas olahraga atau trauma energi tinggi.¹˒²

Di Indonesia, sebagian besar kasus berkaitan dengan kecelakaan lalu lintas, cedera olahraga, dan jatuh, meskipun data epidemiologi nasional yang spesifik masih terbatas.⁴


Etiologi dan Mekanisme Cedera (MOI)

Jatuh dengan tangan menopang tubuh (fall on outstretched hand, FOOSH) merupakan penyebab tersering. Kejadian ini biasanya terjadi saat siku sedikit fleksi dan lengan bawah supinasi, sehingga mendorong ulna dan radius bergeser ke posterior terhadap humerus.¹˒²

Trauma energi tinggi, seperti kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, atau cedera olahraga kontak, dapat menyebabkan robekan kapsul dan ligamen yang berujung pada dislokasi siku.¹˒²

Trauma langsung pada siku yang fleksi atau hiperekstensi paksa dapat menyebabkan dislokasi anterior, medial, lateral, atau dislokasi kompleks, meskipun lebih jarang.¹˒²

Dislokasi kompleks terjadi bila dislokasi disertai fraktur, terutama kaput radius, prosesus koronoid, atau olekranon. Kondisi ini biasanya dipicu oleh gaya aksial dan rotasi yang lebih besar.²˒⁴


Faktor Risiko dan Pencetus

Jatuh dengan tangan menopang tubuh (fall on outstretched hand, FOOSH) merupakan faktor pencetus tersering, terutama saat siku sedikit fleksi dan lengan bawah dalam posisi supinasi.¹˒²

Olahraga kontak (sepak bola, rugby, bela diri, senam, basket) meningkatkan risiko akibat trauma langsung atau jatuh.¹˒²

Kecelakaan lalu lintas dan jatuh dari ketinggian dapat menyebabkan trauma energi tinggi yang sering disertai cedera ligamen atau fraktur.¹˒²

Hiperlaksitas ligamen, riwayat dislokasi siku sebelumnya, atau instabilitas kronis meningkatkan risiko kekambuhan.²˒³

Kelemahan otot penstabil siku serta aktivitas yang memberikan beban aksial besar pada lengan atas turut meningkatkan risiko dislokasi.²˒³




Anamnesis

Nyeri hebat pada siku segera setelah trauma, akibat robekan kapsul, ligamen, dan pergeseran permukaan sendi.¹˒²

Riwayat jatuh dengan tangan menopang tubuh (FOOSH), kecelakaan lalu lintas, atau cedera olahraga merupakan mekanisme tersering yang menyebabkan dislokasi siku.¹˒²

Deformitas siku dan ketidakmampuan menggerakkan sendi, akibat hilangnya kongruensi sendi serta spasme otot di sekitar siku.¹˒²

Pembengkakan yang muncul cepat akibat perdarahan intraartikular dan edema jaringan lunak.¹˒²

Keluhan baal, kesemutan, atau kelemahan pada tangan dan jari mengarah pada cedera nervus medianus, ulnaris, atau radialis. Tangan yang terasa dingin atau pucat dapat mengindikasikan kemungkinan cedera pada arteri brachialis.¹˒²


Pemeriksaan Fisik

Inspeksi: tampak deformitas siku, pembengkakan, ekimosis, dan pasien mempertahankan siku dalam posisi sedikit fleksi akibat nyeri serta spasme otot.¹˒²

Palpasi: didapatkan nyeri tekan hebat, hilangnya hubungan anatomis normal, serta keterbatasan atau tahanan pada gerak pasif. Hindari manipulasi berlebihan sebelum reduksi.¹˒²

Rentang gerak (ROM): fleksi-ekstensi dan pronasi-supinasi sangat terbatas atau tidak dapat dilakukan akibat instabilitas sendi dan nyeri.¹˒²

Pemeriksaan neurovaskular: evaluasi arteria brachialis, arteria radialis, dan arteria ulnaris dengan menilai pulsasi, capillary refill time (CRT), warna, serta suhu tangan. Selanjutnya, nilai fungsi nervus medianus, nervus ulnaris, dan nervus radialis sebelum dan sesudah reduksi digunakan untuk mendeteksi cedera neurovaskular.¹˒²

Evaluasi cedera penyerta: periksa adanya luka terbuka, instabilitas berat, atau tanda fraktur yang mengarah pada complex elbow dislocation.¹˒²


Pemeriksaan Penunjang

CT scan diindikasikan pada dislokasi kompleks, fraktur intraartikular, atau bila gambaran radiografi belum jelas. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengevaluasi pola fraktur dan membantu dalam perencanaan operasi.¹˒²

CT angiografi atau Doppler ultrasonografi dilakukan bila terdapat kecurigaan cedera arteri brakialis, misalnya nadi distal melemah atau tidak teraba, tangan pucat dan dingin, atau pengisian kapiler memanjang.¹˒²

MRI tidak rutin dilakukan, tetapi bermanfaat untuk menilai cedera ligamen, kapsul sendi, tendon, atau instabilitas kronis setelah fase akut.¹˒²

Pemeriksaan laboratorium (darah rutin, koagulasi, dan pemeriksaan praoperatif) dilakukan bila direncanakan tindakan operatif atau terdapat trauma multipel.²˒⁴


Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Dislokasi Elbow
Fraktur suprakondilar humerus (dewasa)Nyeri dan deformitas terutama akibat fraktur distal humerus; radiografi menunjukkan garis fraktur tanpa dislokasi sendi.¹˒²
Fraktur kaput radiusNyeri dominan di sisi lateral siku dengan keterbatasan pronasi-supinasi; hubungan sendi tetap utuh kecuali disertai dislokasi.¹˒²
Fraktur olekranonNyeri dan pembengkakan pada aspek posterior siku disertai gangguan ekstensi aktif; radiografi menunjukkan fraktur olekranon tanpa dislokasi sendi.¹˒²
Subluksasi sendi sikuPergeseran permukaan sendi tidak lengkap sehingga deformitas lebih ringan dan hubungan artikular masih sebagian dipertahankan.¹˒²
Cedera ligamen siku (sprain MCL/LCL)Nyeri dan instabilitas tanpa hilangnya hubungan anatomis sendi; radiografi umumnya normal atau hanya menunjukkan avulsi kecil.¹˒²

Penatalaksanaan

Konservatif

Indikasi Terapi Konservatif

Simple elbow dislocation tanpa fraktur penyerta.¹˒²

Sendi stabil setelah reduksi tertutup.¹˒²

Tidak terdapat cedera neurovaskular yang memerlukan eksplorasi.¹˒²

Tidak terdapat instabilitas berat atau interposisi jaringan lunak.¹˒²



Komplikasi

Akut

Cedera arteri brakialis dapat menyebabkan iskemia ekstremitas.¹˒²

Cedera nervus medianus, ulnaris, atau radialis akibat traksi atau kompresi saat terjadi dislokasi.¹˒²

Fraktur penyerta (complex elbow dislocation), terutama fraktur kaput radius, prosesus koronoid, atau olekranon.¹˒²

Sindrom kompartemen akibat peningkatan tekanan kompartemen yang mengganggu perfusi jaringan.¹˒²

Dislokasi irreponibel akibat interposisi tulang atau jaringan lunak sehingga memerlukan reduksi terbuka.¹˒²


Kronis

Kekakuan siku, akibat imobilisasi berkepanjangan dan fibrosis kapsul.¹˒²

Instabilitas kronis, akibat penyembuhan ligamen yang tidak adekuat.¹˒²

Heterotopic ossification, menyebabkan nyeri dan keterbatasan gerak siku.¹˒²

Arthrosis pascatrauma, akibat kerusakan kartilago artikular.¹˒²

Neuropati persisten, akibat cedera saraf yang tidak pulih sempurna.¹˒²


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): Bonam. Umumnya tidak mengancam jiwa jika segera ditangani.¹˒²

Ad functionam (terhadap fungsi): Dubia ad bonam. Bergantung pada reduksi dini, rehabilitasi, serta tidak adanya kekakuan, instabilitas, atau cedera neurovaskular.¹˒²

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): Bonam. Baik pada simple elbow dislocation, namun lebih buruk pada complex elbow dislocation atau terrible triad.¹˒²


Edukasi

Dislokasi siku merupakan kegawatdaruratan ortopedi yang memerlukan reduksi segera.¹˒²

Gunakan splint/arm sling sesuai anjuran dan jangan melepas imobilisasi tanpa evaluasi dokter.¹˒²

Lakukan latihan ROM bertahap setelah sendi stabil untuk mencegah kekakuan.¹˒²

Hindari aktivitas berat dan olahraga kontak hingga fungsi sendi pulih.¹˒²

Segera berobat bila muncul nyeri bertambah, baal, kelemahan jari, tangan pucat/dingin, bengkak progresif, atau redislokasi.¹˒²


Kriteria Rujukan

Dislokasi ireponibel atau gagal dilakukan reduksi tertutup.¹˒²

Complex elbow dislocation atau terrible triad of the elbow.¹˒²

Cedera neurovaskular, seperti iskemia ekstremitas atau defisit nervus medianus, ulnaris, maupun radialis.¹˒²

Dislokasi terbuka, trauma energi tinggi, atau trauma multipel.¹˒²

Instabilitas atau dislokasi berulang setelah reduksi.¹˒²

Komplikasi, seperti sindrom kompartemen, infeksi, atau kekakuan sendi yang berat.¹˒²


Daftar Pustaka

1.

Salter RB. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System. 3rd ed. Baltimore: Williams & Wilkins; 1999.

2.

Solomon L, Warwick D, Nayagam S. Apley's System of Orthopaedics and Fractures. 10th ed. Boca Raton: CRC Press; 2018.

3.

Thompson JC. Netter's Concise Orthopaedic Anatomy. Philadelphia: Elsevier; 2016.

4.

Sjamsuhidajat R, Karnadihardja W, Prasetyono TOH, Rudiman R, editors. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-4. Jakarta: EGC; 2017.

5.

Williams NS, O'Connell PR, McCaskie AW, editors. Bailey & Love's Short Practice of Surgery. 28th ed. Boca Raton: CRC Press; 2023.

6.

Zbar AP, Armitage NC, editors. Oxford Handbook of Clinical Surgery. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2015.

7.

Garden OJ, Bradbury AW, Forsythe JLR, Parks RW, editors. Principles and Practice of Surgery. 7th ed. London: Elsevier; 2018.

8.

Mulholland MW, Lillemoe KD, Doherty GM, Maier RV, Simeone DM, Upchurch GR Jr, editors. Greenfield's Surgery: Scientific Principles and Practice. 6th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017.

9.

Yagnik VD. Fundamentals of Operative Surgery. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2018.

10.

National Center for Biotechnology Information. Elbow Dislocation. In: NCBI Bookshelf. Bethesda (MD): National Library of Medicine; 2024.

Flashcard Dislokasi Elbow

Flashcard 1

Q: Apa tipe dislokasi siku yang paling sering terjadi?

A: Dislokasi posterior atau posterolateral, mencakup sekitar 80–90% kasus, umumnya akibat jatuh dengan tangan menopang tubuh (FOOSH) saat siku sedikit fleksi.


Flashcard 2

Q: Apa pemeriksaan yang wajib dilakukan sebelum dan sesudah reduksi dislokasi siku?

A: Pemeriksaan neurovaskular, meliputi nervus medianus, ulnaris, radialis, serta nadi radialis, pengisian kapiler, dan perfusi distal.


Flashcard 3

Q: Pemeriksaan penunjang utama pada dislokasi siku?

A: Foto radiografi AP dan lateral siku sebelum dan sesudah reduksi untuk memastikan arah dislokasi dan menyingkirkan fraktur penyerta.


Flashcard 4

Q: Apa tata laksana utama dislokasi siku sederhana?

A: Reduksi tertutup sesegera mungkin, diikuti imobilisasi singkat (±5–10 hari) dan mobilisasi dini.


Flashcard 5

Q: Apa komplikasi yang paling sering menyebabkan keterbatasan fungsi setelah dislokasi siku?

A: Kekakuan siku (elbow stiffness) akibat imobilisasi yang terlalu lama atau rehabilitasi yang terlambat.


Soal MCQ UKMPPD – Dislokasi Elbow

Soal 1

Seorang laki-laki 24 tahun jatuh saat bermain futsal dengan tangan menopang tubuh. Siku tampak deformitas, nyeri hebat, dan tidak dapat digerakkan. Foto radiografi menunjukkan dislokasi posterior siku tanpa fraktur. Tata laksana awal yang paling tepat adalah...

A. ORIF segera

B. Reduksi tertutup segera disertai evaluasi neurovaskular

C. Gips sirkuler selama 6 minggu

D. Traksi skeletal

E. Observasi dan analgesik

Jawaban: B

Pembahasan: Dislokasi siku sederhana merupakan kegawatdaruratan ortopedi yang memerlukan reduksi tertutup segera setelah evaluasi neurovaskular.


Soal 2

Mekanisme cedera yang paling sering menyebabkan dislokasi posterior siku adalah...

A. Trauma rotasi bahu

B. Jatuh dengan siku fleksi 90°

C. Jatuh dengan tangan menopang tubuh (FOOSH)

D. Kontraksi otot trisep

E. Trauma aksial pada pergelangan tangan

Jawaban: C

Pembahasan: FOOSH menyebabkan gaya hiperekstensi dan valgus sehingga ulna bergeser ke posterior terhadap humerus.


Soal 3

Pemeriksaan yang harus selalu dilakukan sebelum dan sesudah reduksi dislokasi siku adalah...

A. Pemeriksaan ROM bahu

B. Pemeriksaan kekuatan otot deltoid

C. Pemeriksaan neurovaskular distal

D. Pemeriksaan refleks patela

E. CT scan siku

Jawaban: C

Pembahasan: Cedera arteri brakialis maupun nervus medianus, ulnaris, dan radialis harus dievaluasi sebelum serta sesudah reduksi.


Soal 4

Komplikasi jangka panjang yang paling sering terjadi setelah dislokasi siku adalah...

A. Osteomielitis

B. Sindrom kompartemen

C. Kekakuan sendi siku

D. Nekrosis avaskular kapitellum

E. Pseudartrosis

Jawaban: C

Pembahasan: Elbow stiffness merupakan komplikasi tersering sehingga mobilisasi dini setelah sendi stabil sangat dianjurkan.


Soal 5

Seorang pria 30 tahun mengalami dislokasi posterior siku. Setelah reduksi, foto radiografi menunjukkan reposisi baik dan sendi stabil. Tata laksana selanjutnya yang paling tepat adalah...

A. Gips 8 minggu

B. Traksi kulit 3 minggu

C. Imobilisasi singkat dilanjutkan mobilisasi dini

D. ORIF rutin pada semua kasus

E. Sling tanpa kontrol

Jawaban: C

Pembahasan: Pada dislokasi siku sederhana yang stabil setelah reduksi, imobilisasi cukup singkat (±5–10 hari) untuk mengurangi risiko kekakuan, kemudian dilanjutkan latihan rentang gerak dini.