Fraktur Suprakondilar Humerus [3B].
Definisi
Fraktur suprakondilar humerus adalah fraktur pada humerus distal yang terjadi di atas kondilus humerus, paling sering pada anak akibat trauma jatuh dengan tangan menumpu.²,³

Korelasi Anatomi
Epidemiologi
Insidensi: fraktur suprakondilar humerus merupakan fraktur siku tersering pada anak dan salah satu fraktur ekstremitas atas yang paling sering pada populasi pediatrik.²,⁸
Usia tersering: paling sering terjadi pada anak usia 5–7 tahun, saat tulang distal humerus masih relatif rentan terhadap trauma akibat jatuh.⁸,⁹
Mekanisme tersering: mayoritas kasus merupakan tipe ekstensi akibat jatuh dengan tangan menumpu atau fall on an outstretched hand.²,³,⁸
Jenis tersering: fraktur tipe ekstensi jauh lebih sering dibandingkan dengan tipe fleksi.²,⁸
Data Indonesia: data nasional spesifik masih terbatas; secara klinis, kasus sering berkaitan dengan jatuh saat bermain, jatuh dari ketinggian rendah, atau kecelakaan lalu lintas pada anak.⁴
Etiologi dan Mode on Injury (MOI)
Jatuh dengan tangan menumpu atau fall on outstretched hand merupakan mekanisme tersering; gaya aksial diteruskan dari tangan ke siku sehingga distal humerus mengalami fraktur suprakondilar.²,³,⁸
Tipe ekstensi terjadi saat anak jatuh dengan siku dalam posisi ekstensi atau hiperekstensi; fragmen distal biasanya bergeser ke posterior dan merupakan tipe yang paling sering.²,⁸
Tipe fleksi lebih jarang dan terjadi akibat jatuh langsung pada siku yang fleksi; fragmen distal cenderung bergeser ke anterior.²,⁸
Trauma energi tinggi, seperti kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian, meningkatkan risiko fraktur displaced, cedera neurovaskular, dan sindrom kompartemen.⁴,
Klasifikasi
Untuk fraktur suprakondilar humerus, klasifikasi yang paling sering digunakan adalah Gartland, terutama untuk fraktur tipe ekstensi pada anak.
Klasifikasi Gartland

Tipe I: fraktur tidak bergeser atau dengan minimal displacement; garis fraktur dapat sulit terlihat, tetapi ada nyeri dan tanda efusi siku.²,⁸
Tipe II: fraktur bergeser dengan korteks posterior masih intak; biasanya masih ada kontak sebagian antarfragmen.²,⁸
Tipe III: fraktur bergeser total tanpa kontak korteks; fragmen distal dapat bergeser posteromedial atau posterolateral.²,⁸
Tipe IV: fraktur tidak stabil multidireksional, biasanya dinilai secara intraoperatif karena tidak stabil pada fleksi maupun ekstensi.⁸


Pada fraktur suprakondilar humerus, Baumann’s angle digunakan pada foto siku AP untuk menilai alignment koronal pada distal humerus dan mengevaluasi kualitas reduksi. Nilai normalnya sekitar 64–81° dan sebaiknya dibandingkan dengan sisi yang sehat.
Klasifikasi Berdasarkan Mekanisme
Tipe ekstensi: paling sering, terjadi akibat jatuh dengan siku ekstensi atau hiperekstensi; fragmen distal biasanya bergeser ke posterior.²,⁸
Tipe fleksi: lebih jarang, terjadi akibat jatuh langsung pada siku yang fleksi; fragmen distal biasanya bergeser ke anterior.²,⁸

Anamnesis
Nyeri siku akut muncul segera setelah trauma karena diskontinuitas tulang pada humerus distal dan iritasi jaringan lunak sekitar fraktur.²,³
Bengkak pada siku terjadi akibat perdarahan dan edema jaringan lunak pascatrauma, terutama pada fraktur displaced.²,⁸
Riwayat jatuh dengan tangan menumpu atau outstretched arm perlu digali karena merupakan mekanisme tersering pada fraktur suprakondilar humerus.²,³,⁸
Deformitas siku dapat dikeluhkan, terutama pada displacement posterior yang dapat memberikan gambaran berbentuk S pada daerah siku.²,⁸
Sulit atau tidak mampu menggerakkan siku terjadi akibat nyeri, spasme otot, dan gangguan alignment fragmen.²,³
Keluhan baal, kesemutan, atau tangan terasa dingin harus ditanyakan untuk menilai kemungkinan cedera nervus medianus/anterior interosseous nerve atau gangguan arteri brachialis.²,⁸
Pemeriksaan Fisik
Look: tampak siku bengkak, deformitas, hematom, dan posisi lengan tidak normal; pada displacement posterior dapat terlihat deformitas berbentuk S.²,⁸
Feel: terdapat nyeri tekan pada daerah suprakondilar humerus, peningkatan suhu lokal, dan dapat teraba fragmen tulang pada fraktur displaced.²,³
Move: gerak aktif dan pasif siku sangat terbatas akibat nyeri, spasme otot, dan gangguan alignment fragmen.²,³
Pemeriksaan vaskular: nilai pulsasi arteri radialis, pengisian kapiler, warna, suhu, dan perfusi tangan karena fragmen proksimal dapat mencederai arteri brachialis.²,⁸
Pemeriksaan neurologis: nilai fungsi nervus medianus/anterior interosseous nerve, nervus radialis, dan nervus ulnaris karena cedera saraf dapat menyertai fraktur suprakondilar.²,⁸
Tanda sindrom kompartemen: curigai bila nyeri memberat tidak sesuai derajat cedera, nyeri saat peregangan pasif jari, parestesia, tangan tegang, atau gangguan perfusi.⁴,⁸
Pemeriksaan Penunjang
Foto polos siku merupakan pemeriksaan utama untuk menegakkan diagnosis fraktur suprakondilar humerus. Pemeriksaan dilakukan dengan proyeksi AP dan lateral elbow view untuk menilai garis fraktur, displacement, dan alignment fragmen.²,⁸
Pada foto lateral, dapat ditemukan anterior humeral line yang tidak lagi memotong capitellum, terutama pada fraktur tipe ekstensi.²,⁸
Posterior fat pad sign atau efusi sendi dapat menjadi petunjuk adanya fraktur tersembunyi pada kasus tanpa displacement jelas.²,⁸
Klasifikasi Gartland dinilai melalui radiografi untuk menentukan stabilitas fraktur dan menentukan pilihan terapi.²,⁸
CT scan jarang diperlukan, tetapi dapat dipertimbangkan pada fraktur kompleks, intraartikular, atau evaluasi praoperatif tertentu.²,⁸
Pemeriksaan vaskular seperti Doppler dapat dilakukan bila dicurigai cedera arteri brachialis atau perfusi distal terganggu.²,⁸
Diagnosis Banding
| Diagnosis banding | Perbedaan dengan fraktur suprakondilar humerus |
|---|---|
| Dislokasi siku | Deformitas terutama pada sendi siku dengan hilangnya hubungan artikular, sedangkan fraktur suprakondilar menunjukkan garis fraktur pada humerus distal.² |
| Fraktur condylus lateralis humerus | Nyeri dan fraktur lebih terlokalisasi pada sisi lateral siku serta dapat melibatkan permukaan artikular.² |
| Fraktur epicondylus medialis humerus | Nyeri dominan pada sisi medial siku dan sering berkaitan dengan tarikan ligamentum kolateral medial.² |
| Fraktur olecranon | Nyeri dan bengkak dominan di posterior siku, sering disertai gangguan ekstensi aktif siku.² |
| Fraktur caput radii | Nyeri dominan pada sisi lateral siku dan bertambah saat pronasi-supinasi lengan bawah.² |
| Kontusio siku | Nyeri dan bengkak jaringan lunak tanpa garis fraktur atau perubahan alignment pada radiografi.²,³ |
Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan
Kontrol nyeri dan imobilisasi awal untuk mencegah pergerakan fragmen.²,⁸
Evaluasi neurovaskular sebelum dan sesudah tindakan.²,⁸
Hindari fleksi siku berlebihan bila terdapat bengkak atau gangguan perfusi.²,⁸
Fraktur stabil diterapi konservatif, sedangkan fraktur displaced umumnya memerlukan reduksi dan fiksasi pin.²,⁸
Waspadai sindrom kompartemen, cedera vaskular, cedera saraf, dan Volkmann ischemic contracture.²,⁴,⁸
Konservatif
Indikasi Terapi Konservatif
Fraktur Gartland tipe I tanpa displacement atau dengan displacement minimal.²,⁸
Fraktur stabil tanpa gangguan neurovaskular atau sindrom kompartemen.²,⁸
Alignment masih baik dan perfusi distal tetap adekuat.²,⁸
Terapi dilakukan dengan imobilisasi menggunakan posterior splint/backslab dan observasi serial.²,⁸
Macam terapi konservatif
Posterior splint/backslab: digunakan pada fraktur stabil atau fase akut untuk imobilisasi siku dan mengurangi nyeri serta pembengkakan.²,⁸
Long arm cast: diberikan setelah bengkak berkurang pada fraktur stabil dengan alignment baik.²,⁸
Closed reduction dan casting: dilakukan pada displacement ringan yang masih dapat direduksi tanpa operasi.²,⁸
Elevasi ekstremitas dan observasi serial dilakukan untuk memantau perfusi distal, pembengkakan, serta tanda sindrom kompartemen.²,⁸
Operatif
Indikasi Operatif
Fraktur Gartland tipe II displaced dan tipe III/IV yang tidak stabil.²,⁸
Terdapat gangguan neurovaskular atau perfusi distal terganggu.²,⁸
Open fracture, sindrom kompartemen, atau ancaman cedera jaringan lunak berat.²,⁴,⁸
Kegagalan reduksi tertutup atau fraktur yang sulit mempertahankan alignment dengan terapi konservatif.²,⁸
Fraktur dengan displacement berat, rotasi fragmen, atau instabilitas multidireksional.²,⁸
Macam operatif
Closed Reduction and Percutaneous Pinning (CRPP): terapi operatif tersering; dilakukan dengan reduksi tertutup lalu fiksasi menggunakan K-wire/pin perkutan untuk mempertahankan alignment fraktur.²,⁸
Open Reduction and Internal Fixation (ORIF): dilakukan bila reduksi tertutup gagal, terdapat interposisi jaringan lunak, cedera vaskular, atau fraktur terbuka.²,⁸
Cross pinning: pemasangan pin medial dan lateral untuk meningkatkan stabilitas, tetapi memiliki risiko cedera nervus ulnaris.²,⁸

Lateral pinning: pemasangan dua atau tiga pin dari sisi lateral untuk mengurangi risiko cedera nervus ulnaris dengan tetap mempertahankan stabilitas fraktur.²,⁸

terapi farmakologis jika ada
Terapi Farmakologis
| Golongan obat | Obat dan sediaan | Dosis dan frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Analgesik non-opioid | Parasetamol sirup 120 mg/5 mL, tablet 500 mg | Anak: 10–15 mg/kgBB/kali tiap 4–6 jam; dewasa: 500 mg tiap 6–8 jam | Menghambat sintesis prostaglandin di sistem saraf pusat sehingga menurunkan nyeri dan demam.⁴ |
| NSAID | Ibuprofen sirup 100 mg/5 mL, tablet 200–400 mg | Anak: 5–10 mg/kgBB/kali tiap 6–8 jam; dewasa: 200–400 mg tiap 8 jam | Menghambat enzim COX sehingga menurunkan produksi prostaglandin, nyeri, dan inflamasi.⁴ |
| Opioid ringan | Tramadol injeksi 50 mg/mL, kapsul 50 mg | 1–2 mg/kgBB/kali atau 50 mg tiap 6–8 jam bila nyeri berat | Bekerja sebagai agonis reseptor opioid dan menghambat reuptake serotonin/norepinefrin untuk mengurangi nyeri sedang–berat.⁴ |
| Sedasi prosedural | Ketamin injeksi 10–50 mg/mL | 1–2 mg/kgBB IV saat reduksi tertutup | Antagonis reseptor NMDA yang menghasilkan analgesia, sedasi, dan disosiasi selama tindakan reduksi.⁸ |
Komplikasi
akut
Cedera arteri brachialis dapat menyebabkan tangan pucat, dingin, pulsasi radial menurun, dan gangguan perfusi distal.²,⁸
Cedera nervus medianus/AIN, nervus radialis, atau nervus ulnaris dapat menimbulkan kelemahan motorik dan gangguan sensorik distal.²,⁸
Sindrom kompartemen ditandai nyeri hebat progresif, nyeri saat peregangan pasif jari, tangan tegang, dan gangguan perfusi.²,⁴,⁸
Open fracture dapat terjadi bila fragmen tulang menembus jaringan lunak dan kulit.²,⁸
Malreduksi atau kehilangan alignment dini dapat menyebabkan deformitas siku dan gangguan fungsi.²,⁸
Infeksi pin tract dapat terjadi setelah pemasangan pin perkutan.²,⁸
kronis
Cubitus varus merupakan komplikasi kronis tersering, biasanya akibat malunion dengan varus angulation setelah reduksi yang tidak adekuat.²,⁸
Kekakuan siku dapat terjadi akibat imobilisasi lama, nyeri, atau cedera jaringan lunak sekitar sendi.²,³
Volkmann ischemic contracture terjadi akibat iskemia otot lengan bawah pascasindrom kompartemen yang tidak tertangani adekuat.²,⁴,⁸
Malunion dapat menyebabkan deformitas kosmetik dan gangguan biomekanik siku.²,⁸
Neuropati residual dapat menetap bila cedera saraf berat atau kompresi berlangsung lama.²,⁸
Prognosis
Ad vitam (bonam) — prognosis kehidupan umumnya baik karena fraktur suprakondilar humerus jarang mengancam nyawa bila tidak disertai cedera vaskular berat atau sindrom kompartemen.²,⁸
Ad functionam (dubia ad bonam) — fungsi siku umumnya membaik bila reduksi dan alignment adekuat, tetapi malunion, kekakuan siku, atau cedera neurovaskular dapat menyebabkan gangguan fungsi menetap.²,⁸
Ad sanationam (bonam) — penyatuan tulang pada anak umumnya baik karena kapasitas remodeling tinggi, terutama bila tata laksana dilakukan dini dan tepat.²,³,⁸
Edukasi
Jelaskan bahwa fraktur suprakondilar humerus sering terjadi pada anak akibat jatuh dengan tangan menumpu dan memerlukan evaluasi neurovaskular ketat.²,⁸
Anjurkan menjaga posisi imobilisasi dan tidak melepas bidai/gips tanpa instruksi tenaga medis.²,⁸
Tangan perlu dielevasikan untuk membantu mengurangi pembengkakan.²,⁸
Segera kembali bila muncul nyeri hebat progresif, jari pucat atau dingin, baal, kelemahan tangan, atau jari sulit digerakkan karena dapat menandakan gangguan vaskular atau sindrom kompartemen.²,⁴,⁸
Setelah fase akut, latihan gerak siku dilakukan bertahap sesuai instruksi untuk mencegah kekakuan sendi.²,³
Kriteria Rujukan
Fraktur Gartland tipe II displaced, tipe III, atau tipe IV.²,⁸
Terdapat gangguan neurovaskular, seperti tangan pucat, dingin, pulsasi radial menurun, atau defisit saraf.²,⁸
Kecurigaan atau tanda sindrom kompartemen.²,⁴,⁸
Open fracture, deformitas berat, atau fracture-dislocation.²,⁸
Kegagalan mempertahankan alignment dengan terapi konservatif.²,⁸
Nyeri progresif, pembengkakan berat, atau kecurigaan Volkmann ischemic contracture.²,⁴,⁸
Daftar Pustaka
Thompson JC. Netter’s Concise Orthopaedic Anatomy. 2nd ed. Philadelphia: Elsevier; 2010.
Blom AW, Warwick D, Whitehouse MR. Apley and Solomon’s System of Orthopaedics and Trauma. 10th ed. Boca Raton: CRC Press; 2018.
Salter RB. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System. 3rd ed. Baltimore: Williams & Wilkins; 1999.
Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 4. Jakarta: EGC; 2017.
McLatchie G, Borley N, Chikwe J. Oxford Handbook of Clinical Surgery. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2013.
Garden OJ, Parks RW. Principles and Practice of Surgery. 7th ed. Edinburgh: Elsevier; 2018.
Mulholland MW, Lillemoe KD, Doherty GM, Upchurch GR Jr, Alam HB, Pawlik TM. Greenfield’s Surgery: Scientific Principles and Practice. 6th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017.
Hope N, Varacallo M. Supracondylar Humerus Fractures. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2023. Available from: NCBI Bookshelf.
British Orthopaedic Association. BOAST: Supracondylar Fractures in the Humerus in Children. London: British Orthopaedic Association; 2020.
Tougas C. Pediatric Supracondylar Humerus Fractures. Orthopaedic Trauma Association Core Curriculum. Rosemont: Orthopaedic Trauma Association; 2020.
Surd A, et al. Modern Treatment of Supracondylar Humeral Fractures in Children. Children. 2025;12(5):556.
Dalrymple J, et al. Paediatric supracondylar fractures: assessment and management. Br J Hosp Med. 2024.
Flashcard Fraktur Suprakondilar Humerus [SKDI 3B]
Flashcard 1
Q: Fraktur suprakondilar humerus paling sering terjadi pada usia berapa?
A: Anak usia 5–7 tahun, terutama akibat jatuh dengan tangan menopang tubuh (FOOSH).
Flashcard 2
Q: Apa klasifikasi yang paling sering digunakan pada fraktur suprakondilar humerus?
A: Klasifikasi Gartland (Tipe I, II, dan III berdasarkan derajat displacement).
Flashcard 3
Q: Cedera neurovaskular apa yang paling sering menyertai fraktur suprakondilar humerus?
A: Cedera nervus medianus (AIN) dan arteria brakialis.
Flashcard 4
Q: Pemeriksaan penunjang utama pada fraktur suprakondilar humerus?
A: Foto polos siku AP dan lateral dengan penilaian anterior humeral line dan Baumann angle.
Flashcard 5
Q: Apa terapi pilihan pada fraktur suprakondilar humerus tipe III menurut Gartland?
A: Closed Reduction Percutaneous Pinning (CRPP) menggunakan K-wire.
Soal UKMPPD Fraktur Suprakondilar Humerus
Soal 1
Seorang anak laki-laki usia 6 tahun dibawa ke IGD setelah jatuh saat bermain dengan posisi tangan menopang tubuh. Siku kanan tampak bengkak dan nyeri hebat. Foto polos menunjukkan fraktur suprakondilar humerus dengan displacement total.
Klasifikasi fraktur tersebut adalah...
A. Gartland I
B. Gartland II
C. Gartland III
D. Gartland IV
E. Salter-Harris II
Jawaban: C
Soal 2
Seorang anak mengalami fraktur suprakondilar humerus. Pada pemeriksaan didapatkan tangan pucat, dingin, nadi radialis tidak teraba.
Komplikasi akut yang paling dikhawatirkan adalah...
A. Malunion
B. Cubitus varus
C. Cedera arteria brakialis
D. Myositis ossificans
E. Nonunion
Jawaban: C
Soal 3
Seorang anak 7 tahun didiagnosis fraktur suprakondilar humerus Gartland tipe I.
Tatalaksana yang paling tepat adalah...
A. ORIF
B. CRPP
C. Imobilisasi dengan above elbow cast/backslab
D. Hemiarthroplasty
E. External fixation
Jawaban: C
Soal 4
Pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk menilai reduksi fraktur suprakondilar humerus pada foto lateral adalah...
A. Carrying angle
B. Baumann angle
C. Anterior humeral line
D. Radiocapitellar line
E. Cobb angle
Jawaban: C
Soal 5
Komplikasi deformitas yang paling sering terjadi setelah penyembuhan fraktur suprakondilar humerus akibat malunion adalah...
A. Cubitus valgus
B. Cubitus varus
C. Wrist drop
D. Frozen shoulder
E. Elbow ankylosis
Jawaban: B
