Fraktur Shaft Humerus [3B].
Definisi
Fraktur shaft humerus adalah terputusnya kontinuitas diafisis humerus akibat trauma maupun proses patologis yang menyebabkan gangguan stabilitas dan fungsi lengan atas.¹˒²

Shaft humerus merupakan diafisis humerus yang membentang dari insersi m. Pectoralis major hingga suprakondilus humerus berfungsi sebagai penopang utama lengan atas.²˒³
Diafisis humerus menjadi tempat perlekatan m. Deltoideus, pectoralis major, latissimus dorsi, teres major, brachialis, biceps brachii, dan triceps brachii memengaruhi arah displacement fragmen fraktur.²˒³
Pada permukaan posterior terdapat sulcus nervi radialis yang dilalui nervus radialis dan arteria profunda brachii, sehingga fraktur terutama pada sepertiga tengah hingga distal berisiko menimbulkan cedera neurovaskular.²˒³
Cedera pada nervus radialis menyebabkan wrist drop, kelemahan ekstensi pergelangan tangan dan jari, serta gangguan sensibilitas pada dorsum tangan sisi radial.²˒³
Epidemiologi
Fraktur shaft humerus mencakup sekitar 1–3% dari seluruh fraktur dan sekitar 20% dari seluruh fraktur humerus.²˒¹⁰
Insidensi menunjukkan distribusi bimodal, yaitu pada usia muda akibat trauma energi tinggi dan pada lansia, terutama wanita dengan osteoporosis, akibat jatuh dari posisi berdiri.²˒⁵˒¹⁰
Di Indonesia, penyebab tersering adalah kecelakaan lalu lintas, diikuti oleh jatuh dan trauma kerja, meskipun data epidemiologi nasional masih terbatas.⁴˒⁵
Etiologi dan Mode on Injury (MOI)
Trauma langsung pada lengan atas, seperti benturan akibat kecelakaan lalu lintas atau trauma kerja, merupakan penyebab tersering dan umumnya menghasilkan fraktur transversal atau kominutif.²˒⁵
Trauma tidak langsung akibat jatuh dengan tangan menopang tubuh (FOOSH), bertumpu pada siku dengan tangan fleksi, atau gaya puntir (torsional injury) menyebabkan gaya rotasi pada humerus sehingga lebih sering menyebabkan fraktur spiral atau oblik.²˒⁵˒¹⁰
Trauma energi tinggi, seperti kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, atau cedera olahraga, lebih sering terjadi pada usia muda dan dapat menyebabkan fraktur disertai cedera jaringan lunak maupun cedera neurovaskular.²˒⁵
Trauma energi rendah, berupa jatuh dari posisi berdiri pada pasien usia lanjut dengan osteoporosis, dapat menyebabkan fraktur akibat penurunan kekuatan tulang.²˒¹⁰
Fraktur patologis terjadi akibat tumor primer, metastasis tulang, atau penyakit metabolik tulang yang melemahkan struktur humerus sehingga fraktur dapat terjadi dengan trauma minimal.²˒⁵
Faktor Resiko
Usia muda dengan aktivitas tinggi atau pekerjaan berisiko trauma meningkatkan kejadian fraktur akibat trauma energi tinggi.²˒⁵
Usia lanjut dan osteoporosis meningkatkan risiko fraktur setelah trauma ringan.²˒¹⁰
Kecelakaan lalu lintas, olahraga kontak, dan jatuh dari ketinggian merupakan faktor risiko utama terjadinya trauma pada humerus.²˒⁵
Tumor tulang, metastasis, atau penyakit metabolik tulang meningkatkan risiko fraktur patologis.²˒⁵
Merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan penggunaan kortikosteroid jangka panjang meningkatkan risiko osteoporosis serta memperlambat penyembuhan fraktur.²˒⁵
Klasifikasi
Sepertiga proksimal (proximal third): fraktur pada bagian proksimal diafisis humerus; fragmen proksimal dipengaruhi oleh tarikan m. pectoralis major, deltoideus, dan rotator cuff.²˒³
Sepertiga tengah (middle third): merupakan lokasi fraktur tersering dan berhubungan erat dengan sulcus nervi radialis, sehingga berisiko menyebabkan cedera nervus radialis.²˒³
Sepertiga distal (distal third): fraktur dekat suprakondilus humerus, termasuk Holstein–Lewis fracture, yang memiliki risiko tinggi cedera nervus radialis akibat penjepitan pada septum intermusculare lateral.²˒³˒⁵
Fraktur Khusus
Patofisiologi
Trauma langsung atau tidak langsung menghasilkan gaya yang melebihi kekuatan mekanik diafisis humerus, sehingga terjadi fraktur.²˒¹⁰
Fraktur menyebabkan robekan periosteum, perdarahan, dan pembentukan hematoma, yang memicu respons inflamasi sehingga timbul nyeri, edema, dan spasme otot.¹˒²
Tarikan otot di sekitar humerus menyebabkan displacement fragmen, sehingga mengganggu stabilitas tulang dan fungsi lengan.²˒³
Fraktur, terutama pada sepertiga tengah hingga distal, dapat mencederai nervus radialis sehingga timbul wrist drop, sedangkan cedera vaskular jarang terjadi tetapi dapat menyebabkan gangguan perfusi ekstremitas.²˒³˒⁵
Anamnesis
Nyeri hebat pada lengan atas setelah trauma, yang bertambah saat lengan digerakkan akibat pergeseran fragmen fraktur.²˒⁵
Riwayat trauma langsung, kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, atau cedera puntir (torsional injury) dapat membantu menentukan mekanisme terjadinya cedera.²˒¹⁰
Pasien mengeluhkan sulit atau tidak mampu menggerakkan lengan, disertai pembengkakan dan kadang deformitas pada lengan atas akibat hilangnya kontinuitas tulang.²˒⁵
Keluhan baal pada punggung tangan, kelemahan ekstensi pergelangan tangan atau jari (wrist drop) mengarah pada cedera nervus radialis yang sering menyertai fraktur shaft humerus.²˒³
Riwayat osteoporosis, tumor tulang, atau penggunaan kortikosteroid jangka panjang meningkatkan kecurigaan terhadap fraktur patologis atau fraktur akibat trauma ringan.²˒⁵
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi: ditemukan pembengkakan, deformitas, ekimosis, serta kadang-kadang angulasi atau pemendekan lengan atas akibat pergeseran fragmen fraktur.²˒⁵
Palpasi: didapatkan nyeri tekan, krepitasi, dan mobilitas abnormal pada lokasi fraktur akibat hilangnya kontinuitas tulang.²˒⁵
Gerak: ROM bahu dan siku terbatas; pasien umumnya tidak mampu mengangkat atau menggunakan lengan secara aktif karena nyeri dan instabilitas akibat fraktur.²˒⁵
Pemeriksaan neurovaskular: wajib menilai fungsi nervus radialis, meliputi kemampuan ekstensi pergelangan tangan dan jari (wrist drop), sensibilitas sela ibu jari-telunjuk, serta status vaskular distal (nadi a. radialis, pengisian kapiler, dan warna kulit). Defisit nervus radialis merupakan cedera saraf tersering pada fraktur shaft humerus.²˒³˒⁵
Wrist drop ditandai oleh ketidakmampuan melakukan ekstensi (dorsofleksi) pergelangan tangan serta ekstensi jari-jari pada sendi metakarpofalangeal (MCP). Kondisi ini menunjukkan adanya paralisis otot-otot ekstensor lengan bawah dan jari, yang disebabkan oleh lesi nervus radialis pada lokasi proksimal (di atas siku). Sebaliknya, ekstensi jari pada sendi interfalangeal (IP) tetap dipertahankan karena masih dibantu oleh otot-otot lumbrikalis yang diinervasi oleh nervus ulnaris dan nervus medianus.

Pemeriksaan Penunjang
Foto bahu dan siku dianjurkan untuk menilai adanya perluasan fraktur atau cedera sendi yang menyertai.²˒⁵
CT scan dengan rekonstruksi 3D dilakukan pada fraktur kompleks, fraktur segmental, atau bila diperlukan untuk perencanaan tindakan operatif.²˒⁵˒¹⁰
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Perbedaan dengan Fraktur Shaft Humerus |
|---|---|
| Fraktur humerus proksimal | Nyeri dan deformitas terlokalisasi pada bahu, dengan keterbatasan gerak bahu lebih dominan.²˒⁵ |
| Fraktur humerus distal | Nyeri dan deformitas terutama pada daerah siku, sering disertai gangguan gerak siku.²˒⁵ |
| Dislokasi bahu (glenohumeral) | Tidak terdapat diskontinuitas diafisis humerus; deformitas bahu khas dengan pergeseran kaput humerus pada radiografi.²˒⁵ |
| Kontusio lengan atas | Nyeri dan pembengkakan tanpa deformitas, krepitasi, atau gambaran fraktur pada foto polos.²˒⁵ |
| Ruptur tendon biseps/brakialis | Kelemahan fleksi siku dan deformitas jaringan lunak tanpa diskontinuitas tulang pada pemeriksaan radiologis.²˒⁵ |
Penatalaksanaan
Prinsip Penatalaksanaan
Mencapai union tulang yang optimal.²˒⁵
Mempertahankan alignment fragmen fraktur.²˒⁵
Mengembalikan fungsi ekstremitas atas.²˒⁵
Mencegah malunion dan nonunion.²˒⁵
Mencegah komplikasi neurovaskular, terutama cedera nervus radialis.²˒³˒⁵
Konservatif
Indikasi Terapi Konservatif
Fraktur tertutup, stabil, dan dengan displacement minimal.²˒⁵
Alignment masih dapat diterima dan tidak ada indikasi operasi.²˒⁵
Tidak disertai cedera neurovaskular atau fraktur terbuka.²˒⁵
Macam Terapi Konservatif

Coaptation splint (U-slab) pada fase awal untuk mengurangi nyeri dan mempertahankan posisi fragmen.²˒⁵
Hanging arm cast memanfaatkan berat lengan untuk membantu mengembalikan alignment fragmen fraktur.²˒⁵
Functional brace (Sarmiento brace) setelah edema berkurang hingga tercapai penyatuan tulang.²˒⁵
Mobilisasi dini sendi bahu, siku, pergelangan tangan, dan jari sesuai toleransi nyeri untuk mencegah kekakuan sendi.²˒⁵
Operatif
Indikasi Terapi Operatif
Fraktur tidak stabil atau reduksi sulit dipertahankan.²˒⁵
Fraktur terbuka.²˒⁵
Fraktur segmental atau kominutif berat.²˒⁵
Cedera neurovaskular yang memerlukan eksplorasi.²˒⁵
Polytrauma, fraktur patologis, atau kegagalan terapi konservatif.²˒⁵
Macam Terapi Operatif
ORIF (Open Reduction Internal Fixation) dengan plate and screw merupakan pilihan utama pada sebagian besar fraktur yang memerlukan operasi.²˒⁵˒⁹
Intramedullary nail dipilih pada indikasi tertentu, seperti fraktur segmental atau trauma multipel.²˒⁵
External fixation digunakan secara temporer pada fraktur terbuka berat, kerusakan jaringan lunak luas, atau pasien yang hemodinamik tidak stabil.²˒⁵˒⁸
Komplikasi
Komplikasi Akut
Cedera nervus radialis merupakan komplikasi tersering, ditandai dengan wrist drop, kelemahan ekstensi pergelangan tangan dan jari, serta gangguan sensibilitas pada dorsum tangan sisi radial.²˒³
Cedera vaskular, terutama pada arteria brakialis, dapat menyebabkan iskemia ekstremitas dan memerlukan penanganan segera.²˒⁵
Fraktur terbuka meningkatkan risiko kontaminasi dan infeksi, terutama pada trauma energi tinggi.²˒⁵
Sindrom kompartemen jarang terjadi, tetapi dapat menyebabkan peningkatan tekanan kompartemen yang berujung pada nekrosis jaringan bila tidak segera ditangani.²˒⁵
Komplikasi Kronis
Malunion, akibat penyatuan tulang pada posisi yang tidak anatomis sehingga menyebabkan deformitas dan gangguan fungsi.²˒⁵
Nonunion, yaitu kegagalan penyatuan tulang setelah waktu penyembuhan yang adekuat sehingga menimbulkan nyeri dan instabilitas menetap.²˒⁵
Shoulder stiffness atau elbow stiffness akibat imobilisasi berkepanjangan atau rehabilitasi yang tidak adekuat.²˒⁵
Kelumpuhan nervus radialis persisten terjadi bila fungsi saraf tidak pulih setelah penyembuhan fraktur atau setelah cedera saraf yang berat.²˒³˒⁵
Infeksi pascaoperasi seperti infeksi luka operasi atau osteomielitis, terutama pada fraktur terbuka atau kegagalan kontrol infeksi.²˒⁵
Prognosis
*Ad vitam (terhadap kehidupan): Bonam*, karena fraktur shaft humerus jarang mengancam jiwa bila tidak disertai cedera multipel atau komplikasi vaskular yang berat.²˒⁵
Ad functionam (terhadap fungsi): Dubia ad bonam bergantung pada pola fraktur, keberhasilan penyatuan tulang, rehabilitasi, serta adanya komplikasi seperti cedera nervus radialis, malunion, atau kekakuan sendi.²˒⁵˒⁹
Ad sanationam (terhadap penyembuhan): Bonam, karena sebagian besar fraktur shaft humerus mencapai union dengan terapi konservatif maupun operatif yang tepat, meskipun penyembuhan dapat terhambat pada fraktur terbuka, segmental, atau fraktur patologis.¹˒²˒⁵
Edukasi
Jelaskan bahwa sebagian besar fraktur shaft humerus dapat sembuh dengan baik bila imobilisasi, terapi, dan rehabilitasi dilakukan sesuai dengan anjuran.²˒⁵
Gunakan coaptation splint, hanging arm cast, atau functional brace sesuai instruksi, serta hindari mengangkat beban dan aktivitas berat hingga dinyatakan sembuh.²˒⁵
Lakukan latihan ROM bahu, siku, pergelangan tangan, dan jari secara bertahap sesuai program rehabilitasi untuk mencegah kekakuan sendi.²˒⁵
Segera kembali ke fasilitas kesehatan bila muncul nyeri yang semakin berat, baal, wrist drop, pembengkakan progresif, demam, atau luka operasi yang bernanah.²˒³˒⁵
Anjurkan untuk berhenti merokok, mengoptimalkan asupan protein, kalsium, dan vitamin D, serta mengendalikan faktor risiko seperti osteoporosis guna mempercepat penyembuhan tulang.²˒⁵
Kriteria Rujukan
Fraktur terbuka, fraktur tidak stabil, fraktur segmental, atau fraktur patologis yang memerlukan tata laksana definitif oleh dokter spesialis ortopedi.²˒⁵
Terdapat cedera neurovaskular, terutama cedera nervus radialis progresif atau gangguan perfusi distal yang memerlukan evaluasi dan tindakan segera.²˒³˒⁵
Polytrauma, trauma energi tinggi, atau fraktur yang disertai cedera jaringan lunak berat.²˒⁵
Gagal terapi konservatif berupa alignment yang tidak dapat dipertahankan, malunion, nonunion, atau nyeri yang menetap.²˒⁵
Pasien dengan indikasi tindakan operatif, seperti kebutuhan ORIF, intramedullary nail, atau external fixation.²˒⁵˒⁹
Daftar Pustaka
Salter RB. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System. 3rd ed. Baltimore: Williams & Wilkins; 1999.
Solomon L, Warwick D, Nayagam S. Apley's System of Orthopaedics and Fractures. 10th ed. Boca Raton: CRC Press; 2018.
Thompson JC. Netter's Concise Orthopaedic Anatomy. Philadelphia: Elsevier; 2016.
Sjamsuhidajat R, Karnadihardja W, Prasetyono TOH, Rudiman R, editors. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-4. Jakarta: EGC; 2017.
Williams NS, O'Connell PR, McCaskie AW, editors. Bailey & Love's Short Practice of Surgery. 28th ed. Boca Raton: CRC Press; 2023.
Zbar AP, Armitage NC, editors. Oxford Handbook of Clinical Surgery. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2015.
Garden OJ, Bradbury AW, Forsythe JLR, Parks RW, editors. Principles and Practice of Surgery. 7th ed. London: Elsevier; 2018.
Mulholland MW, Lillemoe KD, Doherty GM, Maier RV, Simeone DM, Upchurch GR Jr, editors. Greenfield's Surgery: Scientific Principles and Practice. 6th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017.
Yagnik VD. Fundamentals of Operative Surgery. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2018.
National Center for Biotechnology Information. Humeral Shaft Fractures. In: NCBI Bookshelf. Bethesda (MD): National Library of Medicine; 2024.
Flashcard Fraktur Shaft Humerus
Flashcard 1
Q: Apa definisi fraktur shaft humerus?
A: Terputusnya kontinuitas diafisis humerus akibat trauma maupun proses patologis.
Flashcard 2
Q: Cedera saraf apa yang paling sering menyertai fraktur shaft humerus?
A: Nervus radialis, ditandai wrist drop, kelemahan ekstensi pergelangan tangan dan jari, serta gangguan sensibilitas dorsum tangan radial.
Flashcard 3
Q: Pemeriksaan penunjang utama pada fraktur shaft humerus?
A: Foto polos humerus AP dan lateral.
Flashcard 4
Q: Sebutkan indikasi utama terapi operatif pada fraktur shaft humerus!
A: Fraktur tidak stabil, terbuka, segmental, cedera neurovaskular, polytrauma, atau gagal terapi konservatif.
Flashcard 5
Q: Apa yang dimaksud dengan Holstein–Lewis fracture?
A: Fraktur spiral sepertiga distal diafisis humerus yang berisiko tinggi menyebabkan cedera nervus radialis.
Soal UKMPPD
Soal 1
Seorang laki-laki 28 tahun mengalami kecelakaan sepeda motor. Pasien mengeluh nyeri hebat pada lengan atas kanan. Pada pemeriksaan didapatkan deformitas lengan atas dan pasien tidak mampu melakukan ekstensi pergelangan tangan. Foto polos menunjukkan fraktur sepertiga tengah shaft humerus.
Apakah komplikasi yang paling mungkin terjadi?
A. Cedera nervus medianus
B. Cedera nervus ulnaris
C. Cedera nervus radialis
D. Cedera nervus musculocutaneus
E. Cedera nervus axillaris
Jawaban: C
Soal 2
Seorang wanita 70 tahun jatuh di kamar mandi. Foto polos menunjukkan fraktur shaft humerus tanpa displacement bermakna dan tidak terdapat defisit neurovaskular.
Tatalaksana yang paling tepat adalah...
A. ORIF plate and screw
B. External fixation
C. Hemiarthroplasty
D. Terapi konservatif dengan coaptation splint/hanging arm cast
E. Reverse shoulder arthroplasty
Jawaban: D
Soal 3
Fraktur spiral pada sepertiga distal diafisis humerus yang sering disertai cedera nervus radialis disebut...
A. Monteggia fracture
B. Galeazzi fracture
C. Holstein–Lewis fracture
D. Colles fracture
E. Smith fracture
Jawaban: C
Soal 4
Pemeriksaan penunjang utama untuk menegakkan diagnosis fraktur shaft humerus adalah...
A. MRI humerus
B. USG muskuloskeletal
C. Bone scan
D. Foto polos humerus proyeksi AP dan lateral
E. CT angiografi
Jawaban: D
Soal 5
Manakah kondisi berikut yang merupakan indikasi operasi pada fraktur shaft humerus?
A. Fraktur tertutup stabil tanpa displacement
B. Fraktur dengan alignment baik
C. Fraktur terbuka disertai cedera neurovaskular
D. Pasien lansia dengan osteoporosis tanpa displacement
E. Nyeri ringan yang membaik dengan analgesik
Jawaban: C
