Fraktur Humerus Proksimal [3B].

Fraktur Humerus Proksimal [3B].


Definisi

Fraktur humerus proksimal adalah terputusnya kontinuitas tulang humerus pada segmen proksimal (kepala humerus, leher anatomis, leher kirurgis, atau tuberkulum mayor dan minor) akibat trauma maupun proses patologis, yang menyebabkan hilangnya integritas struktural tulang dan dapat mengganggu fungsi sendi bahu.¹˒²



Epidemiologi

Fraktur humerus proksimal mencakup sekitar 4–6% dari seluruh fraktur dan merupakan fraktur tersering ketiga pada lansia.²˒¹⁰

Insidensi meningkat pada wanita usia >65 tahun akibat osteoporosis, sedangkan pada usia muda lebih sering disebabkan oleh trauma energi tinggi.²˒¹⁰

Sekitar 70–80% kasus merupakan fraktur tanpa atau dengan sedikit pergeseran, sehingga umumnya dapat ditatalaksana secara konservatif.²˒¹⁵

Di Indonesia, data spesifik masih terbatas; penyebab tersering adalah kecelakaan lalu lintas pada usia produktif dan jatuh pada lansia dengan osteoporosis.⁴˒¹⁰


Etiologi dan Mode on Injury (MOI)

Jatuh dari posisi berdiri (low-energy fall), terutama pada lansia dengan osteoporosis, merupakan penyebab tersering fraktur humerus proksimal.²˒¹⁰

Trauma energi tinggi, seperti kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, atau cedera olahraga, lebih sering menyebabkan fraktur pada usia muda dan sering disertai cedera penyerta.²˒¹⁰

Trauma langsung pada bahu menimbulkan gaya kompresi yang dapat menyebabkan fraktur, terutama pada benturan berenergi tinggi.¹˒²

Trauma tidak langsung, seperti jatuh dengan tangan menumpu (fall on outstretched hand/FOOSH), menghantarkan gaya aksial melalui ekstremitas atas ke humerus proksimal sehingga menyebabkan fraktur.¹˒²

Fraktur patologis dapat terjadi pada tulang yang telah mengalami kelemahan akibat osteoporosis, tumor tulang, metastasis, atau kelainan metabolik tulang, sehingga fraktur dapat terjadi meskipun tanpa trauma minimal.¹˒²


Faktor Resiko/ Pencetus

Usia lanjut (>65 tahun) merupakan faktor risiko utama akibat penurunan kepadatan mineral tulang dan meningkatnya risiko jatuh.²˒¹⁰

Osteoporosis, terutama pada wanita pascamenopause, meningkatkan kerentanan terhadap fraktur meskipun hanya akibat trauma ringan.²˒¹⁰

Trauma energi tinggi, seperti kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, dan olahraga kontak, meningkatkan risiko fraktur pada usia muda.¹˒²

Riwayat jatuh, gangguan keseimbangan, gangguan penglihatan, atau penyakit neurologis meningkatkan risiko cedera pada lansia.²˒¹⁰

Kelainan patologis tulang, seperti tumor primer, metastasis tulang, osteomalasia, atau penyakit metabolik tulang, dapat menyebabkan fraktur patologis.¹˒²

Penggunaan kortikosteroid jangka panjang, konsumsi alkohol berlebihan, dan merokok berhubungan dengan penurunan kualitas tulang serta peningkatan risiko fraktur.²˒¹³


Klasifikasi

(Thomson 2010 + AI)
(Thomson 2010 + AI)

Dikemukakan oleh Neer (1970) dan merupakan klasifikasi yang paling banyak digunakan untuk fraktur humerus proksimal.²˒¹⁰

Dasar klasifikasi adalah jumlah fragmen yang mengalami displacement >1 cm atau angulasi >45° pada pemeriksaan radiografi.²˒¹⁰

1.

One-part fracture: tidak terdapat fragmen yang mengalami displacement; merupakan tipe tersering (±70–80%) dan umumnya ditatalaksana secara konservatif.²˒¹⁰

2.

Two-part fracture: satu fragmen mengalami displacement, paling sering pada collum chirurgicum atau tuberkulum mayor; umumnya memerlukan reposisi tertutup, dengan atau tanpa fiksasi bila tidak stabil.²˒¹⁰

3.

Three-part fracture: dua fragmen mengalami displacement; reposisi tertutup sering sulit sehingga umumnya memerlukan open reduction internal fixation (ORIF).²˒⁸˒¹⁰

4.

Four-part fracture: seluruh fragmen utama mengalami displacement; berisiko tinggi mengalami nekrosis avaskular kaput humeri dan umumnya memerlukan artroplasti bahu (hemiarthroplasty atau reverse shoulder arthroplasty).²˒⁸˒¹⁰


Patofisiologi

Trauma langsung pada bahu atau trauma tidak langsung (misalnya FOOSH) menghasilkan gaya kompresi, aksial, rotasi, atau torsi yang melebihi kekuatan tulang humerus proksimal sehingga terjadi diskontinuitas korteks dan trabekula tulang (fraktur).¹˒²

Pada osteoporosis, penurunan massa dan kualitas tulang menyebabkan fraktur dapat terjadi meskipun akibat trauma energi rendah, terutama pada lansia.²˒¹⁰

Fraktur menyebabkan robekan periosteum, kerusakan jaringan lunak, dan perdarahan sehingga terbentuk hematoma fraktur, yang memicu respons inflamasi dengan pelepasan berbagai mediator inflamasi.¹˒²

Aktivasi proses inflamasi menimbulkan nyeri, edema, spasme otot, dan penurunan fungsi bahu, sehingga gerakan aktif maupun pasif menjadi terbatas.¹˒²

Pergeseran fragmen akibat tarikan otot rotator cuff, m. pectoralis major, m. deltoideus, dan m. biceps brachii dapat menyebabkan deformitas, instabilitas, serta menghambat proses penyembuhan.²˒³

Pada fraktur bergeser berat, dapat terjadi cedera nervus axillaris atau arteri circumflexa humeri, yang menyebabkan defisit neurologis serta meningkatkan risiko nekrosis avaskular kaput humeri akibat gangguan vaskularisasi.²˒³˒¹⁰


Anamnesis

Nyeri bahu hebat setelah trauma, memberat saat digerakkan.¹˒²

Riwayat trauma berupa FOOSH, jatuh mengenai bahu, atau trauma energi tinggi.¹˒²

Keterbatasan atau ketidakmampuan menggerakkan bahu, terutama saat abduksi.²˒³

Pembengkakan, memar, atau deformitas pada bahu akibat perdarahan dan edema.¹˒²

Baal pada regio deltoid atau kelemahan mengangkat lengan mengarah pada cedera nervus axillaris; riwayat osteoporosis meningkatkan kecurigaan terhadap fraktur.²˒³˒¹⁰


Pemeriksaan Fisik

Inspeksi: tampak pembengkakan, ekimosis (lebam luas) pada bahu hingga lengan atas, deformitas, dan lengan ditopang oleh tangan kontralateral.¹˒²

Palpasi: didapatkan nyeri tekan pada humerus proksimal, kadang disertai krepitasi dan nyeri gerak; pada fraktur impaksi nyeri dapat relatif lebih ringan.¹˒²

Pemeriksaan gerak: gerak aktif dan pasif bahu terbatas, terutama abduksi dan rotasi akibat nyeri serta instabilitas fraktur.²˒³

Pemeriksaan neurovaskular: evaluasi nervus axillaris (sensibilitas regio deltoid dan kekuatan abduksi), pleksus brakialis, serta status vaskular distal (nadi, CRT, perfusi) untuk menyingkirkan cedera penyerta.²˒³˒¹⁰


Pemeriksaan Penunjang

Foto bahu AP/Lateral (termasuk scapular-Y atau aksila bila memungkinkan): bertujuan menilai keterlibatan sendi glenohumeral serta mendeteksi dislokasi bahu atau cedera penyerta.²˒¹⁰

CT scan 3D: dilakukan pada fraktur kompleks atau intraartikular untuk mengevaluasi jumlah fragmen, derajat displacement, keterlibatan permukaan sendi, serta membantu perencanaan tindakan operatif.²˒⁸˒¹⁰


Dasar Diangnosis


Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Fraktur Humerus Proksimal
Dislokasi sendi glenohumeralDeformitas bahu lebih nyata dengan kehilangan hubungan sendi pada radiografi tanpa garis fraktur humerus.²˒¹⁰
Fraktur klavikulaNyeri dan deformitas terlokalisasi pada klavikula, bukan humerus proksimal.¹˒²
Fraktur skapulaNyeri dominan pada skapula dengan garis fraktur pada skapula pada pemeriksaan radiografi.²˒⁸
Cedera rotator cuffKelemahan abduksi atau rotasi tanpa diskontinuitas tulang pada radiografi; dikonfirmasi dengan USG atau MRI.²˒³
Kontusio bahu (shoulder contusion)Nyeri dan memar tanpa fraktur maupun dislokasi pada pemeriksaan radiografi.¹˒²

Penatalaksanaan

prinsip penatalaksanaan

Mengurangi nyeri, mempertahankan vaskularisasi kaput humeri, memperoleh reduksi anatomis yang adekuat, mencapai stabilitas fraktur, serta mengembalikan fungsi bahu sedini mungkin melalui rehabilitasi.²˒⁸˒¹⁰

Konservatif

One-part fracture atau fraktur minimal displacement.

Pasien dengan risiko operasi tinggi atau kebutuhan fungsional rendah.

Fraktur stabil tanpa cedera neurovaskular.²˒¹⁰

Imobilisasi: menggunakan arm sling, collar and cuff, atau shoulder immobilizer selama ±2–3 minggu untuk mengurangi nyeri, mempertahankan posisi fraktur, dan mendukung proses penyembuhan.²˒¹⁰

Mobilisasi dini: latihan pendulum, dilanjutkan ROM aktif dan penguatan otot secara bertahap setelah nyeri berkurang untuk mencegah kekakuan sendi bahu.²˒¹⁰˒¹²

Edukasi dan follow-up: pasien diedukasi mengenai penggunaan imobilisasi, latihan rehabilitasi, serta dilakukan kontrol radiografi berkala untuk menilai posisi fragmen dan proses penyembuhan tulang.²˒¹⁰˒¹²


Operatif

Indikasi Terapi Operatif

Displacement bermakna (Neer two-, three-, atau four-part).

Fraktur terbuka, fraktur patologis tertentu, atau disertai cedera neurovaskular.

Dislokasi-fraktur, instabilitas, atau kegagalan terapi konservatif.

Pasien aktif dengan tuntutan fungsional tinggi.²˒⁸˒¹⁰

Macam Terapi Operatif

Closed Reduction Percutaneous Pinning (CRPP): reduksi tertutup diikuti pemasangan K-wire secara perkutan untuk mempertahankan posisi fragmen, umumnya pada fraktur sederhana dengan kualitas tulang yang masih baik.²˒⁸

Open Reduction Internal Fixation (ORIF): reduksi terbuka disertai fiksasi menggunakan locking plate atau intramedullary nail untuk memperoleh stabilitas anatomis pada fraktur bergeser atau tidak stabil.²˒⁸˒¹⁰

Hemiarthroplasty: penggantian kaput humeri dengan prostesis, dipilih pada fraktur kompleks yang tidak dapat direkonstruksi namun glenoid masih baik.²˒¹⁰

Reverse Shoulder Arthroplasty (RSA): penggantian sendi bahu dengan desain reverse yang memanfaatkan otot deltoid sebagai penggerak utama, terutama pada lansia dengan four-part fracture, kerusakan rotator cuff, atau fraktur yang tidak dapat direkonstruksi.²˒⁸˒¹⁰˒¹²


Terapi Berdasarkan Klasifikasi Fraktur

Jenis FrakturTatalaksana
One-part fracture (tidak displaced/minimal displaced)Konservatif berupa arm sling/shoulder immobilizer hingga nyeri berkurang (±2–3 minggu), dilanjutkan latihan pendulum, ROM bertahap, dan penguatan otot setelah ±6 minggu atau sesuai penyembuhan.²˒¹⁰
Two-part fractureUmumnya dilakukan reduksi tertutup bila memungkinkan. Bila reduksi tidak stabil atau displacement bermakna, dilakukan ORIF menggunakan locking plate atau intramedullary nail.²˒⁸˒¹⁰
Three-part fractureReposisi terbuka (ORIF) dengan fiksasi internal karena reposisi tertutup umumnya sulit mempertahankan reduksi anatomis.²˒⁸˒¹⁰
Four-part fractureUmumnya memerlukan artroplasti bahu (hemiarthroplasty atau reverse shoulder arthroplasty) karena risiko tinggi nekrosis avaskular kaput humeri dan kegagalan rekonstruksi.²˒⁸˒¹⁰

Komplikasi

Akut

Dislokasi sendi glenohumeral, terutama pada fraktur bergeser; umumnya ditatalaksana dengan reposisi tertutup, kecuali pada three-part fracture yang biasanya memerlukan reposisi terbuka.²˒⁸˒¹⁰

Cedera neurovaskular, terutama nervus axillaris dan arteri circumflexa humeri, yang dapat menyebabkan defisit neurologis, gangguan perfusi, hingga nekrosis avaskular kaput humeri.²˒³˒¹⁰


Kronis

Kekakuan sendi bahu (shoulder stiffness) akibat imobilisasi berkepanjangan; dapat diminimalkan dengan mobilisasi dan latihan rehabilitasi dini yang terprogram.²˒¹⁰

Malunion (jarang), yaitu penyatuan tulang dalam posisi yang tidak anatomis sehingga menyebabkan deformitas dan keterbatasan fungsi bahu.²˒⁸

Nonunion, yaitu kegagalan penyatuan fraktur yang menimbulkan nyeri dan instabilitas persisten.²˒⁸

Nekrosis avaskular kaput humeri, terutama pada four-part fracture, akibat gangguan vaskularisasi kepala humerus.²˒¹⁰


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan):* Bonam*, karena fraktur humerus proksimal jarang mengancam jiwa bila ditangani secara adekuat dan tidak disertai cedera multipel atau komplikasi vaskular berat.²˒¹⁰

Ad functionam (terhadap fungsi):* Dubia ad bonam*, bergantung pada pola fraktur, kualitas reduksi, keberhasilan rehabilitasi, usia, dan adanya komplikasi seperti kekakuan bahu atau nekrosis avaskular.²˒⁸˒¹⁰

Ad sanationam (terhadap penyembuhan):* Bonam*, terutama pada fraktur tanpa displacement atau dengan tata laksana yang tepat, meskipun penyembuhan dapat terhambat pada fraktur kompleks, osteoporosis, atau bila terjadi komplikasi seperti nonunion dan nekrosis avaskular.²˒⁸˒¹⁰


Edukasi

Jelaskan kepada pasien bahwa sebagian besar fraktur humerus proksimal, terutama yang tidak bergeser, dapat sembuh dengan terapi yang tepat dan rehabilitasi yang adekuat.²˒¹⁰

Gunakan arm sling sesuai anjuran dan hindari aktivitas mengangkat beban atau gerakan bahu berlebihan selama masa penyembuhan.²˒¹⁰

Lakukan latihan rehabilitasi secara bertahap sesuai instruksi tenaga kesehatan untuk mencegah kekakuan sendi bahu dan mengembalikan fungsi.²˒¹⁰˒¹²

Konsumsi obat sesuai resep serta segera kembali bila muncul nyeri hebat, baal, kelemahan lengan, pembengkakan progresif, atau perubahan warna tangan.²˒³

Pada pasien dengan osteoporosis, anjurkan pencegahan jatuh, olahraga sesuai kemampuan, serta terapi osteoporosis bila diindikasikan untuk mengurangi risiko fraktur berulang.²˒¹⁰


Kriteria Rujukan

Fraktur bergeser (displaced), terutama Neer two-, three-, atau four-part fracture, yang memerlukan evaluasi ortopedi untuk tindakan operatif.²˒¹⁰

Fraktur terbuka, disertai cedera neurovaskular, atau dislokasi glenohumeral yang memerlukan tata laksana definitif segera.²˒⁸˒¹⁰

Fraktur patologis, fraktur intraartikular kompleks, atau kecurigaan nekrosis avaskular kaput humeri.²˒¹⁰

Kegagalan terapi konservatif, berupa displacement progresif, nyeri menetap, malunion, atau nonunion.²˒⁸

Pasien dengan komorbid berat, osteoporosis berat, atau kebutuhan fungsional tinggi yang memerlukan penanganan spesialis dan rehabilitasi lanjutan.²˒¹⁰


Daftar Pustaka

Daftar Pustaka

1.

Salter RB. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System. 3rd ed. Baltimore: Williams & Wilkins; 1999.

2.

Blom AW, Warwick D, Whitehouse MR, editors. Apley and Solomon's System of Orthopaedics and Trauma. 10th ed. Boca Raton: CRC Press; 2018.

3.

Thompson JC. Netter's Concise Orthopaedic Anatomy. 2nd ed. Philadelphia: Elsevier; 2010.

4.

Sjamsuhidajat R, de Jong W, Karnadihardja W, Prasetyono TOH, Rudiman R, editors. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-4. Jakarta: EGC; 2017.

5.

Mulholland MW, Lillemoe KD, Doherty GM, Maier RV, Simeone DM, Upchurch GR Jr, editors. Greenfield's Surgery: Scientific Principles and Practice. 6th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017.

6.

Garden OJ, Bradbury AW, Forsythe JLR, Parks RW, editors. Principles and Practice of Surgery. 7th ed. Edinburgh: Elsevier; 2018.

7.

McLatchie GR, Leaper DJ. Oxford Handbook of Clinical Surgery. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2013.

8.

Yagnik VD. Fundamentals of Operative Surgery. 2nd ed. New Delhi: Wolters Kluwer; 2018.

9.

Mandal AK. Illustrated Surgery: A Road Map. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2016.

10.

Carroll EA, O'Toole RV. Humeral Shaft Fractures. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024. Available from: NCBI Bookshelf.

11.

Shannon SF, Wagner ER. Proximal Humerus Fracture. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024. Available from: NCBI Bookshelf.

12.

American Academy of Orthopaedic Surgeons. Management of Proximal Humerus Fractures Evidence-Based Clinical Practice Guideline. Rosemont (IL): American Academy of Orthopaedic Surgeons; 2021.

13.

Kumar S, Kelly M, Pirruccio K, et al. Management of humeral shaft fractures: a contemporary review. J Clin Orthop Trauma. 2023;44:102218.

14.

Launonen AP, Sumrein BO, Reito A, et al. Operative versus non-operative treatment of proximal humeral fractures in adults: updated evidence and current concepts. EFORT Open Rev. 2023;8(6):371-382.

15.

World Health Organization. International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems, Tenth Revision (ICD-10): Version 2019. Geneva: World Health Organization; 2019.

16.

World Organization of Family Doctors. ICPC-2: International Classification of Primary Care. 2nd ed. Oxford: Oxford University Press; 1998.

Flashcard Fraktur Humerus Proksimal

Flashcard 1

Q: Apa penyebab tersering fraktur humerus proksimal?

A: Jatuh dari posisi berdiri (FOOSH) pada lansia dengan osteoporosis.


Flashcard 2

Q: Klasifikasi apa yang paling sering digunakan pada fraktur humerus proksimal?

A: Klasifikasi Neer (One-part, Two-part, Three-part, Four-part).


Flashcard 3

Q: Saraf apa yang paling sering mengalami cedera pada fraktur humerus proksimal?

A: Nervus axillaris, ditandai kelemahan abduksi bahu dan penurunan sensibilitas pada regio deltoid.


Flashcard 4

Q: Pemeriksaan penunjang utama untuk menegakkan diagnosis fraktur humerus proksimal?

A: Foto polos bahu AP, Scapular Y, dan Axillary view.


Flashcard 5

Q: Apa komplikasi yang paling ditakuti pada four-part fracture?

A: Nekrosis avaskular (Avascular Necrosis/AVN) kaput humeri.


Soal UKMPPD Fraktur Humerus Proksimal

Soal 1

Seorang wanita 72 tahun dengan riwayat osteoporosis jatuh di kamar mandi dengan tangan menopang tubuh. Pasien mengeluh nyeri hebat pada bahu kanan dan tidak mampu mengangkat lengan. Foto polos menunjukkan fraktur humerus proksimal tanpa displacement.

Tatalaksana yang paling tepat adalah...

A. ORIF plate and screw

B. Reverse shoulder arthroplasty

C. Arm sling dan rehabilitasi bertahap

D. External fixation

E. Hemiarthroplasty

Jawaban: C


Soal 2

Seorang pria 30 tahun mengalami kecelakaan sepeda motor. Foto polos menunjukkan three-part fracture humerus proksimal menurut klasifikasi Neer.

Terapi yang paling tepat adalah...

A. Arm sling

B. Closed reduction tanpa fiksasi

C. ORIF

D. Functional brace

E. Hemiarthroplasty

Jawaban: C


Soal 3

Komplikasi yang paling sering terjadi akibat cedera nervus axillaris pada fraktur humerus proksimal adalah...

A. Wrist drop

B. Kehilangan fleksi siku

C. Kelemahan abduksi bahu

D. Kehilangan ekstensi siku

E. Cubitus varus

Jawaban: C


Soal 4

Fraktur humerus proksimal dengan risiko tertinggi mengalami nekrosis avaskular kaput humeri adalah...

A. One-part fracture

B. Two-part fracture

C. Three-part fracture

D. Four-part fracture

E. Fraktur tuberkulum mayor

Jawaban: D


Soal 5

Seorang wanita 75 tahun mengalami four-part fracture humerus proksimal disertai osteoporosis berat. Tindakan operatif yang paling sesuai adalah...

A. CRPP

B. ORIF locking plate

C. Intramedullary nail

D. Reverse Shoulder Arthroplasty (RSA)

E. Hanging arm cast

Jawaban: D