Dislokasi Bahu (Glenohumeral)[3B].

Dislokasi Bahu (Glenohumeral)[3B].


Definisi

Dislokasi bahu adalah hilangnya hubungan anatomis antara caput humeri dan cavitas glenoidalis pada sendi glenohumeral.²,³



Epidemiologi

Insidensi: Dislokasi bahu merupakan dislokasi sendi besar yang paling sering terjadi. Hal ini karena sendi glenohumeral memiliki mobilitas tinggi, tetapi stabilitas tulang relatif rendah.²,³,⁸.

Arah dislokasi tersering: Sekitar 90–95% kasus merupakan dislokasi anterior. Dislokasi posterior dan inferior jauh lebih jarang.²,⁸.

Kelompok risiko: Paling sering terjadi pada laki-laki usia muda, terutama akibat olahraga kontak, jatuh, atau kecelakaan lalu lintas.⁸,¹⁰.

Risiko rekurensi: lebih tinggi pada pasien muda, atlet, serta pasien dengan cedera Bankart lesion atau Hill-Sachs lesion.⁸,¹⁰.

Data Indonesia: Data spesifik nasional masih terbatas. Secara klinis, kasus ini sering berkaitan dengan trauma olahraga, jatuh, dan kecelakaan kendaraan bermotor.⁴.


Etiologi dan Mode of Injury

Trauma tidak langsung merupakan penyebab tersering, terutama saat lengan berada dalam posisi abduksi, ekstensi, dan rotasi eksternal, sehingga caput humeri terdorong keluar dari cavitas glenoidalis ke arah anterior.²,³

Jatuh dengan tangan menumpu atau fall on outstretched hand dapat menghantarkan gaya aksial ke sendi glenohumeral dan menyebabkan dislokasi bahu.²,³

Benturan langsung pada bahu dapat menyebabkan dislokasi, terutama pada trauma olahraga kontak, jatuh, atau kecelakaan lalu lintas.²,⁴

Kejang listrik atau kejang umum lebih khas menyebabkan dislokasi posterior karena kontraksi kuat otot rotator internal bahu.²,⁸

Trauma energi tinggi perlu dicurigai bila disertai fraktur humerus proksimal, cedera neurovaskular, atau cedera toraks.²,⁴


Klasifikasi

Klasifikasi Berdasarkan Arah Dislokasi

Dislokasi Bahu Anterior

Terjadi pada 90% dislokasi bahu

Definisi arah: dislokasi bahu anterior terjadi ketika caput humeri bergeser ke arah anterior-inferior dari cavitas glenoidalis. Ini merupakan tipe dislokasi bahu yang paling sering.²,⁸

Mode of injury: biasanya terjadi saat bahu berada pada posisi abduksiekstensi, dan rotasi eksternal, misalnya saat jatuh, melakukan gerakan melempar, atau mengalami trauma olahraga.²,⁸

Cedera penyerta khas: dapat disertai Bankart lesion (robekan/avulsi labrum glenoid anterior-inferior) yang dapat menyebabkan instabilitas dan dislokasi berulang, serta Hill-Sachs lesion akibat impaksi caput humeri terhadap tepi glenoid.²,⁸

Hill-Sachs lesion adalah defek impaksi pada sisi posterolateral caput humeri akibat benturan caput humeri dengan tepi anterior glenoid saat terjadi dislokasi bahu anterior.

Manifestasi klinis: bahu tampak squared-off, nyeri hebat, pasien menahan lengan dalam posisi sedikit abduksi dan rotasi eksternal, serta tidak mampu menggerakkan bahu secara aktif.²,⁸

Squared-off shoulder adalah tampilan bahu yang kehilangan kontur bulat normal sehingga tampak lebih kotak akibat caput humeri keluar dari cavitas glenoidalis.²,⁸

Pemeriksaan khusus: wajib menilai nervus axillaris, yaitu fungsi motorik otot deltoid dan sensibilitas area lateral bahu atau badge area.¹,²

Radiologi: foto bahu AP dapat menunjukkan caput humeri yang tidak sejajar dengan fossa glenoid. Tambahan axillary view atau scapular Y view membantu memastikan arah dislokasi.²,⁸

Dislokasi Bahu Posterior

Definisi arah: dislokasi bahu posterior terjadi ketika caput humeri bergeser ke arah posterior dari cavitas glenoidalis; kasus ini lebih jarang dibanding dislokasi anterior.²,⁸

Mode of injury: khas terjadi pada pasien dengan kejang epilepsi, sengatan listrik, atau trauma saat lengan berada dalam posisi adduksi, fleksi, dan rotasi internal.²,⁸

Manifestasi klinis: lengan tampak terkunci dalam posisi adduksi dan rotasi internal, pasien sulit atau tidak mampu melakukan rotasi eksternal, dan deformitas bahu sering tidak terlalu jelas sehingga mudah terlewat.²,⁸

Radiologi: foto AP dapat menunjukkan caput humeri tampak lebih bulat/kecil seperti light bulb sign, celah sendi glenohumeral melebar, dan dapat dikonfirmasi dengan axillary view atau scapular Y view.²,⁸

Dislokasi Bahu Inferior

Definisi arah: dislokasi bahu inferior terjadi ketika caput humeri bergeser ke arah inferior dari cavitas glenoidalis. Tipe ini jarang dan dikenal sebagai luxatio erecta.²,⁸

Mode of injury: biasanya terjadi akibat hiperabduksi ekstrem yang mendorong caput humeri ke bawah glenoid.²,⁸

Manifestasi klinis: lengan tampak terkunci dalam posisi abduksi di atas kepala atau salute position; pasien tidak mampu menurunkan lengan dan nyeri bahu sangat berat.²,⁸

Pemeriksaan khusus: wajib menilai status neurovaskular karena dislokasi inferior berisiko lebih tinggi menyebabkan cedera pada plexus brachialis dan pembuluh darah aksila.²,⁸

Radiologi: foto AP menunjukkan caput humeri berada inferior terhadap glenoid, disertai widening of the glenohumeral joint space.²,⁸


Patofisiologi

Trauma pada bahu menimbulkan gaya berlebih pada sendi glenohumeral, terutama saat lengan berada pada posisi abduksi dan rotasi eksternal, sehingga caput humeri terdorong keluar dari cavitas glenoidalis.²,³

Permukaan glenoid yang relatif dangkal membuat stabilitas sendi lebih bergantung pada labrum glenoidale, kapsul, ligamentum, dan otot rotator cuff dibandingkan stabilitas tulang.¹,²

Pada saat dislokasi, kapsul sendi dan labrum dapat mengalami robekan, terutama pada bagian anterior-inferior, sehingga timbul Bankart lesion dan instabilitas sendi.²,⁸

Benturan antara caput humeri dan tepi glenoid dapat menyebabkan defek impaksi pada caput humeri yang dikenal sebagai Hill-Sachs lesion.²,⁸

Peregangan jaringan lunak, spasme otot, dan iritasi kapsul sendi dapat menyebabkan nyeri hebat serta keterbatasan gerak bahu.²,³

Kerusakan struktur penstabil sendi dapat menyebabkan instabilitas kronis dan meningkatkan risiko dislokasi berulang, terutama pada pasien usia muda dan atlet.²,⁸


Anamnesis

Nyeri bahu hebat muncul segera setelah trauma akibat keluarnya caput humeri dari cavitas glenoidalis dan peregangan kapsul sendi.²,³

Riwayat trauma perlu digali, terutama riwayat jatuh, olahraga kontak, kecelakaan lalu lintas, gerakan melempar, kejang, atau sengatan listrik.²,⁸

Posisi lengan saat cedera membantu memperkirakan arah dislokasi. Abduksi dan rotasi eksternal mengarah ke dislokasi anterior, sedangkan kejang atau sengatan listrik lebih mengarah ke dislokasi posterior.²,⁸

Ketidakmampuan menggerakkan bahu terjadi akibat nyeri, spasme otot, dan hilangnya kongruensi sendi glenohumeral.²,³

Riwayat dislokasi sebelumnya penting untuk menilai kemungkinan dislokasi rekuren atau instabilitas bahu kronis.²,⁸

Baal atau kelemahan lengan perlu ditanyakan untuk menilai kemungkinan cedera nervus axillaris, nervus ulnaris, atau plexus brachialis.¹,²


Pemeriksaan Fisik

Look: pasien sering menopang lengan yang sakit dengan tangan sehat untuk mengurangi nyeri. Dapat tampak deformitas bahu, hilangnya kontur bulat normal, sulcus sign, dan posisi lengan khas sesuai arah dislokasi. Nilai juga ada tidaknya luka terbuka.²,⁸

Feel: dapat ditemukan nyeri tekan di sekitar sendi glenohumeral serta massa atau tonjolan caput humeri pada arah anterior, posterior, atau inferior bahu. Bandingkan dengan sisi sehat. Nilai pulsasi arteri radialis dan ulnaris untuk menyingkirkan gangguan vaskular distal.²,⁸

Move: gerak aktif dan pasif bahu sangat terbatas akibat nyeri, spasme otot, dan hilangnya kongruensi sendi. Pemeriksaan gerak dilakukan hati-hati setelah menilai kemungkinan fraktur penyerta.²,³

Pemeriksaan nervus axillaris: nilai fungsi motorik otot deltoid dan sensorik bahu lateral atas atau badge area, karena nervus ini paling sering terdampak pada dislokasi bahu.¹,²

Pemeriksaan nervus ulnaris: nilai sensorik sisi ulnar tangan dan jari kelingking untuk menilai kemungkinan cedera saraf perifer atau plexus brachialis.¹,²

Pemeriksaan nervus musculocutaneus: nilai fungsi biseps dan sensorik lengan bawah anterolateral untuk menilai kemungkinan cedera plexus brachialis bagian atas.¹,²



Pemeriksaan Penunjang

Foto polos bahu dilakukan dengan true AP shoulder, axillary view, dan/atau lateral scapula Y view untuk menilai posisi caput humeri terhadap glenoid serta menentukan arah dislokasi.²,⁸

AP view: foto bahu dari depan untuk menilai posisi caput humeri terhadap glenoid, tetapi dapat kurang sensitif pada dislokasi posterior.²,⁸

True AP shoulder: variasi AP dengan pasien dimiringkan sekitar 30–45° agar bidang scapula sejajar, sehingga hubungan glenohumeral lebih jelas.²,⁸

Axillary view: foto dari arah aksila dan paling jelas untuk menilai pergeseran anterior atau posterior caput humeri.²,⁸

Scapular Y view: foto lateral bahu dengan scapula membentuk huruf Y, berguna bila axillary view sulit dilakukan karena nyeri.²,⁸

Pada dislokasi anterior, radiografi dapat menunjukkan caput humeri bergeser ke anterior-inferior dari glenoid.²,⁸

Pada dislokasi posterior, foto AP dapat menunjukkan gambaran light bulb sign dan pelebaran celah glenohumeral. Konfirmasi dengan axillary view penting karena kasus ini sering terlewat pada AP biasa.²,⁸

CT scan dilakukan bila dicurigai fraktur kompleks, Bankart lesion, Hill-Sachs lesion, atau untuk evaluasi praoperatif yang lebih detail.²,⁸

MRI digunakan untuk menilai cedera jaringan lunak, seperti robekan labrum glenoidale, kapsul sendi, ligamentum, dan cedera rotator cuff.²,⁸

Pemeriksaan neurovaskular harus dievaluasi sebelum dan sesudah reduksi untuk mendeteksi cedera nervus atau pembuluh darah penyerta.²,⁸


Dasar Diangnosis


Diagnosis Banding

Diagnosis bandingPerbedaan dengan dislokasi bahu
Fraktur collum humeriNyeri dan deformitas bahu dapat menyerupai dislokasi, tetapi ditemukan garis fraktur pada humerus proksimal di radiografi.²
Fraktur klavikulaNyeri dan deformitas lebih dominan pada area klavikula, bukan sendi glenohumeral.²,⁴
Cedera acromioclavicular jointNyeri dan deformitas terlokalisasi pada sendi acromioclavicular, dengan posisi caput humeri tetap normal.²
Cedera rotator cuff akutKelemahan abduksi bahu lebih dominan tanpa perpindahan caput humeri dari glenoid.²
Subluksasi bahuKontak antara caput humeri dan glenoid masih sebagian dipertahankan, sehingga deformitas biasanya lebih ringan dibanding dislokasi total.²,⁸
Kontusio bahuNyeri terjadi tanpa deformitas khas dan tanpa hilangnya hubungan anatomis sendi glenohumeral pada radiografi.²

Penatalaksanaan

Prinsip Terapi

Prinsip Terapi

Mengurangi nyeri dan spasme otot.²,⁸

Melakukan reduksi sendi secepat dan seaman mungkin.²,⁸

Melakukan evaluasi neurovaskular sebelum dan sesudah reduksi.²,⁸

Memastikan arah dislokasi dan menyingkirkan fraktur penyerta dengan radiografi.²,⁸

Melakukan imobilisasi sementara menggunakan arm sling setelah reduksi.²,³

Melanjutkan rehabilitasi bertahap untuk mencegah rekurensi dan kekakuan bahu.²,³,⁸


Terapi Konservatif

Indikasi Konservatif

Dislokasi bahu akut tanpa fraktur besar, tanpa cedera vaskular, dan tanpa defisit neurologis progresif dapat diterapi dengan reduksi tertutup, analgesia/sedasi sesuai kebutuhan, imobilisasi, dan fisioterapi bertahap.²,⁸

Pasien usia lebih tua dengan dislokasi pertama kali umumnya dapat diterapi konservatif setelah reduksi berhasil, tetapi perlu evaluasi rotator cuff tear bila abduksi tetap lemah.²,⁸

Dislokasi Bahu Anterior

Reduksi tertutup merupakan terapi utama pada dislokasi bahu anterior akut tanpa fraktur mayor atau cedera vaskular.²,⁸

Analgesia dan relaksasi otot diberikan sebelum reduksi untuk mengurangi nyeri dan spasme otot.²,⁸

Traksi sederhana dapat dilakukan terutama pada pasien yang pernah mengalami dislokasi sebelumnya karena spasme otot biasanya lebih ringan.²

Teknik Hippocrates dilakukan dengan pasien posisi supine; operator memberikan traksi perlahan pada lengan, sementara asisten melakukan countertraction menggunakan handuk yang diselipkan di bawah aksila.²

Teknik Hippocrates modifikasi menggunakan prinsip traksi dan countertraction yang lebih gentle untuk mengurangi risiko cedera jaringan lunak.²

Teknik Stimson dilakukan dengan pasien posisi prone, kemudian lengan yang cedera digantung dan diberikan beban sekitar 10–15 lb untuk menghasilkan reduksi gradual melalui relaksasi otot dan gaya gravitasi.²,⁸

Teknik lain yang dapat digunakan meliputi Kocher, Milch, dan traction-countertraction sesuai kondisi pasien dan pengalaman operator.²,⁸

Setelah reduksi berhasil, dilakukan evaluasi ulang neurovaskular dan konfirmasi radiografi untuk memastikan reposisi sendi serta menyingkirkan fraktur penyerta.²,⁸

Bahu kemudian diimobilisasi menggunakan arm sling selama kurang lebih 3 minggu dan dilanjutkan rehabilitasi bertahap untuk mengembalikan rentang gerak dan stabilitas bahu.²,³


Dislokasi Bahu Posterior

Reduksi tertutup merupakan terapi utama pada dislokasi bahu posterior akut tanpa fraktur besar atau hambatan mekanis.²,⁸

Sebelum reduksi diberikan analgesia dan relaksasi otot untuk mengurangi spasme otot rotator internal yang kuat.²,⁸

Reduksi dilakukan dengan traksi longitudinal pada lengan dalam posisi sedikit abduksi, kemudian perlahan dilakukan rotasi eksternal dan elevasi anterior untuk mengembalikan caput humeri ke glenoid.²,⁸

Manipulasi harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak boleh dipaksa karena risiko fraktur collum humeri atau cedera jaringan lunak.²,⁸

Setelah reduksi berhasil, dilakukan evaluasi ulang neurovaskular dan konfirmasi radiografi dengan AP view, axillary view, atau scapular Y view.²,⁸

Bahu diimobilisasi menggunakan arm sling atau shoulder immobilizer dalam posisi rotasi eksternal ringan, kemudian dilanjutkan dengan rehabilitasi bertahap.²,⁸

Dislokasi posterior kronis, irreducible, atau disertai reverse Hill-Sachs lesion besar dapat memerlukan terapi operatif.²,⁸

Operatif

Indikasi Operatif

Irreducible dislocation, yaitu dislokasi yang tidak dapat direduksi secara tertutup.²,⁸

Dislokasi rekuren atau instabilitas bahu kronis.²,⁸

Bankart lesion simptomatik atau kehilangan tulang glenoid bermakna.²,⁸

Hill-Sachs lesion besar yang menyebabkan instabilitas berulang.²,⁸

Fracture-dislocation atau fraktur glenoid/humerus proksimal yang tidak stabil.²,⁸

Cedera vaskular atau cedera saraf berat yang memerlukan eksplorasi.²,⁸

Rotator cuff tear besar dengan kelemahan fungsi bahu menetap.²,⁸

Macam-Macam Operasi

Bankart repair: memperbaiki robekan labrum anterior-inferior pada dislokasi anterior berulang untuk mengembalikan stabilitas sendi.²,⁸

Latarjet procedure: memindahkan processus coracoideus ke tepi anterior glenoid pada kehilangan tulang glenoid bermakna atau instabilitas berulang.²,⁸

Remplissage: mengisi defek Hill-Sachs dengan tendon infraspinatus/kapsul posterior agar caput humeri tidak mudah tersangkut pada glenoid.²,⁸

ORIF: dilakukan bila dislokasi disertai fraktur glenoid atau humerus proksimal yang tidak stabil.²,⁸

Rotator cuff repair: dilakukan bila terdapat robekan rotator cuff besar dengan kelemahan abduksi menetap.²,⁸


Komplikasi

Rekurensi terjadi akibat avulsi labrum glenoid atau Bankart lesion; risikonya lebih tinggi pada usia muda, sekitar 80–92% pada usia 20 tahun, 60% pada usia 30 tahun, dan 10–15% pada usia >40 tahun.²,⁸

Cedera vaskular terutama melibatkan arteri axillaris dan dapat terjadi sebelum atau selama reduksi, sehingga perfusi ekstremitas harus dievaluasi berkala.²,⁸

Cedera nervus axillaris umumnya berupa neuropraksia, ditandai kelemahan deltoid dan baal pada badge area, serta dapat membaik spontan dalam beberapa minggu.¹,²

Rotator cuff tear dicurigai bila pasien tidak mampu melakukan abduksi lengan atas setelah reduksi; konfirmasi dapat dilakukan dengan MRI dan kasus berat dapat memerlukan operasi.²,⁸

Stiffness dapat terjadi akibat nyeri, cedera jaringan lunak, atau imobilisasi terlalu lama.²,³

Fracture-dislocation dapat disertai fraktur humerus proksimal dan sering memerlukan reduksi terbuka serta fiksasi interna.²,⁸


Prognosis

Ad vitam (bonam) — prognosis kehidupan umumnya baik karena dislokasi bahu jarang mengancam nyawa bila tidak disertai cedera vaskular atau trauma multipel.²,⁸

Ad functionam (dubia ad bonam) — fungsi bahu umumnya membaik setelah reduksi dan rehabilitasi, tetapi dislokasi rekuren, cedera rotator cuff, atau instabilitas kronis dapat menyebabkan gangguan fungsi menetap.²,⁸

Ad sanationam (dubia ad bonam) — penyembuhan umumnya baik pada dislokasi akut yang segera direduksi, namun risiko rekurensi lebih tinggi pada pasien usia muda dan atlet.²,⁸


Edukasi

Jelaskan bahwa dislokasi bahu merupakan kondisi keluarnya caput humeri dari sendi glenohumeral dan memerlukan reduksi segera.²,⁸

Anjurkan penggunaan arm sling sesuai instruksi setelah reduksi untuk mengurangi nyeri dan menjaga stabilitas sendi.²,³

Hindari aktivitas berat, gerakan abduksi eksternal berlebihan, dan olahraga kontak sampai rehabilitasi selesai.²,⁸

Latihan rentang gerak dan penguatan otot bahu dilakukan bertahap sesuai anjuran rehabilitasi untuk mencegah kekakuan dan rekurensi.²,³

Segera kontrol bila muncul nyeri berat, baal, kelemahan lengan, deformitas berulang, atau tanda gangguan vaskular setelah reduksi.²,⁸


Kriteria Rujukan

Dislokasi bahu yang tidak dapat direduksi secara tertutup.²,⁸

Dislokasi disertai fraktur humerus proksimal, glenoid, atau fracture-dislocation.²,⁸

Terdapat cedera neurovaskular, seperti pulsasi menurun, baal, atau kelemahan ekstremitas atas.²,⁸

Dislokasi rekuren, instabilitas kronis, atau kecurigaan Bankart lesion dan Hill-Sachs lesion bermakna.²,⁸

Kecurigaan terhadap rotator cuff tear, terutama bila kelemahan abduksi menetap setelah reduksi.²,⁸

Nyeri berat, deformitas menetap, atau kegagalan terapi konservatif.²,⁸


Daftar Pustaka

1.

Thompson JC. Netter’s Concise Orthopaedic Anatomy. 2nd ed. Philadelphia: Elsevier; 2010.

2.

Blom AW, Warwick D, Whitehouse MR. Apley and Solomon’s System of Orthopaedics and Trauma. 10th ed. Boca Raton: CRC Press; 2018.

3.

Salter RB. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System. 3rd ed. Baltimore: Williams & Wilkins; 1999.

4.

Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 4. Jakarta: EGC; 2017.

5.

McLatchie G, Borley N, Chikwe J. Oxford Handbook of Clinical Surgery. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2013.

6.

Garden OJ, Parks RW. Principles and Practice of Surgery. 7th ed. Edinburgh: Elsevier; 2018.

7.

Mulholland MW, Lillemoe KD, Doherty GM, Upchurch GR Jr, Alam HB, Pawlik TM. Greenfield’s Surgery: Scientific Principles and Practice. 6th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017.

8.

Abrams R, Akbarnia H. Shoulder Dislocations Overview. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2023. Available from: NCBI Bookshelf.

9.

Pak T, Kwon YW. Anterior Glenohumeral Joint Dislocation. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2023. Available from: NCBI Bookshelf.

10.

Nazzal EM, et al. First-time traumatic anterior shoulder dislocation: current concepts. J ISAKOS. 2023.

11.

Karasuyama M, et al. Comparative efficacy of treatments for a first-time traumatic anterior shoulder dislocation: a systematic review and network meta-analysis. J Shoulder Elbow Surg. 2024.

12.

Royal Children’s Hospital Melbourne. Shoulder Dislocations: Emergency Department Guideline. Melbourne: RCH; 2024.

Flash Card

Q : Apa itu dislokasi bahu?

A : Keluarnya caput humeri dari cavitas glenoidalis pada sendi glenohumeral.

Q : Jenis dislokasi bahu tersering?

A : Dislokasi anterior.

Q : Saraf yang wajib diperiksa pada dislokasi bahu?

A : Nervus axillaris, dengan menilai motorik deltoid dan sensorik badge area.

Q : Apa itu Bankart lesion?

A : Robekan atau avulsi labrum glenoid anterior-inferior akibat dislokasi bahu anterior.

Q : Terapi utama dislokasi bahu akut tanpa komplikasi?

A : Reduksi tertutup, imobilisasi dengan arm sling, dan rehabilitasi bertahap.

Soal 1

Seorang laki-laki 22 tahun datang ke IGD setelah jatuh saat bermain futsal. Bahu kanan tampak kehilangan kontur bulat normal, pasien menahan lengan dalam posisi sedikit abduksi dan rotasi eksternal. Diagnosis paling mungkin adalah?

A. Fraktur klavikula

B. Dislokasi bahu anterior

C. Dislokasi bahu posterior

D. Cedera rotator cuff

E. Dislokasi acromioclavicular

Jawaban benar: B. Dislokasi bahu anterior

Alasan: Dislokasi anterior adalah tipe tersering dan khas terjadi dengan posisi lengan abduksi serta rotasi eksternal disertai deformitas bahu.


Soal 2

Seorang pasien mengalami dislokasi bahu setelah kejang umum. Lengan tampak adduksi dan rotasi internal, serta pasien sulit melakukan rotasi eksternal. Jenis dislokasi yang paling mungkin adalah?

A. Dislokasi anterior

B. Dislokasi posterior

C. Dislokasi inferior

D. Dislokasi superior

E. Subluksasi acromioclavicular

Jawaban benar: B. Dislokasi posterior

Alasan: Dislokasi posterior khas terjadi setelah kejang atau sengatan listrik dengan lengan dalam posisi adduksi dan rotasi internal.


Soal 3

Pada pasien dengan dislokasi bahu anterior, pemeriksaan neurovaskular yang paling penting adalah menilai fungsi saraf apa?

A. Nervus radialis

B. Nervus medianus

C. Nervus axillaris

D. Nervus ulnaris

E. Nervus femoralis

Jawaban benar: C. Nervus axillaris

Alasan: Nervus axillaris paling sering terdampak pada dislokasi bahu; dinilai melalui motorik deltoid dan sensorik bahu lateral atas.


Soal 4

Seorang pasien dengan dislokasi bahu anterior akut tanpa fraktur mayor dan tanpa defisit neurovaskular datang ke IGD. Tatalaksana awal paling tepat adalah?

A. ORIF segera

B. Reduksi tertutup, imobilisasi, dan evaluasi ulang neurovaskular

C. Antibiotik intravena

D. Fisioterapi aktif tanpa reduksi

E. Aspirasi sendi bahu

Jawaban benar: B. Reduksi tertutup, imobilisasi, dan evaluasi ulang neurovaskular

Alasan: Terapi utama dislokasi bahu akut tanpa komplikasi adalah reduksi tertutup, imobilisasi dengan arm sling, dan evaluasi neurovaskular sebelum serta sesudah reduksi.


Soal 5

Seorang laki-laki 19 tahun mengalami dislokasi bahu anterior berulang setelah trauma olahraga. Pemeriksaan menunjukkan instabilitas anterior dan dicurigai robekan labrum anterior-inferior. Lesi yang paling sesuai adalah?

A. Hill-Sachs lesion

B. Bankart lesion

C. Monteggia lesion

D. Galeazzi lesion

E. SLAP tear

Jawaban benar: B. Bankart lesion

Alasan: Bankart lesion adalah robekan atau avulsi labrum glenoid anterior-inferior yang sering menyebabkan instabilitas dan dislokasi bahu berulang.