Community-Acquired Pneumonia (CAP)[4].

Community-Acquired Pneumonia (CAP)[4].

ItemKeterangan
SKDI4 — mampu menegakkan diagnosis klinis, melakukan tata laksana mandiri hingga tuntas pada kasus sesuai kompetensi layanan primer, serta melakukan rujukan bila terdapat pneumonia berat, komplikasi, atau kebutuhan perawatan lanjutan.

Definisi

Pneumonia komunitas (Community-Acquired Pneumonia/CAP) adalah infeksi akut parenkim paru yang terjadi di komunitas atau ≤48 jam setelah masuk rumah sakit, disertai gejala pneumonia dan infiltrat baru pada pencitraan toraks.¹,²,³

(Kaminsky dkk, 2011)
(Kaminsky dkk, 2011)

Etiologi

Bakteri tipikal: Streptococcus pneumoniae merupakan penyebab tersering, diikuti oleh Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, dan Moraxella catarrhalis.¹,²,³

Bakteri atipikal: Mycoplasma pneumoniae, Chlamydophila pneumoniae, dan Legionella pneumophila.³,⁶

Virus respiratori: virus influenza, respiratory syncytial virus (RSV), adenovirus, dan SARS-CoV-2.¹³,¹⁸


Faktor risiko

Usia lanjut, terutama ≥65 tahun. ²,³

Merokok dan paparan polusi udara. ²,³

Konsumsi alkohol berlebihan. ²,³

Komorbiditas, seperti PPOK, asma, diabetes melitus, gagal jantung, penyakit ginjal kronik, penyakit hati kronik, dan keganasan. ²,³

Kondisi imunokompromais, termasuk HIV/AIDS, penggunaan kortikosteroid, obat imunosupresif, kemoterapi, atau transplantasi. ⁶,⁸

Riwayat infeksi saluran napas atas atau kontak dengan penderita infeksi respiratori. ²,³

Status vaksinasi influenza atau pneumokokus yang tidak adekuat pada kelompok berisiko tinggi. ²,³


Patofisiologi

CAP paling sering terjadi akibat mikroaspirasi sekret orofaring yang membawa patogen ke saluran napas bawah.¹,¹⁴

Patogen mencapai alveoli, kemudian mengaktivasi makrofag alveolar dan memicu respons inflamasi lokal.¹,¹⁴

Pelepasan mediator inflamasi merekrut neutrofil ke alveoli, terutama pada pneumonia bakteri.¹,¹⁴

Alveoli terisi eksudat inflamasi berupa cairan, fibrin, sel imun, dan debris seluler.¹,¹⁴

Pengisian alveoli oleh eksudat menyebabkan konsolidasi paru.¹,²

Konsolidasi menimbulkan gangguan ventilasi-perfusi, sehingga terjadi hipoksemia, takipnea, dan sesak napas.¹,²


Anamnesis

Demam, menggigil, malaise, dan penurunan kondisi umum akibat respons inflamasi sistemik.²,³

Batuk produktif dengan sputum purulen; pada pneumonia atipikal dapat berupa batuk kering.²,³

Sesak napas akibat gangguan ventilasi–perfusi dan penurunan oksigenasi alveolar.¹,²

Nyeri dada pleuritik, yaitu nyeri yang memberat saat inspirasi atau batuk akibat keterlibatan pleura.¹,³

Gejala penyerta dapat berupa mialgia, anoreksia, lemah, atau riwayat ISPA sebelumnya.²,³


Pemeriksaan Fisik

Demam, takipnea, dan takikardia sebagai manifestasi infeksi dan hipoksemia.¹,²

Ronki basah/crackles akibat cairan atau eksudat alveolar.¹,²

Perkusi redup pada area konsolidasi paru.¹,²

Bronchial breath sound akibat peningkatan transmisi suara melalui jaringan paru yang mengalami konsolidasi.¹,³

Penurunan saturasi oksigen, penggunaan otot bantu napas, atau sianosis dapat ditemukan pada CAP sedang–berat.²,³


Radiologi

Foto Toraks (Chest X-ray/CXR)

Foto toraks merupakan pemeriksaan radiologi utama pada CAP.²,³

Pemeriksaan ini bertujuan menegakkan diagnosis, menilai luas keterlibatan paru, mendeteksi komplikasi, serta membantu memperkirakan etiologi.²,³

Konsolidasi alveolar tampak sebagai opasitas homogen akibat alveoli terisi eksudat inflamasi.¹,²

Air bronchogram menunjukkan bronkus berisi udara yang tampak jelas di dalam area konsolidasi.¹,¹²

Opasitas patchy atau infiltrat multifokal lebih sering ditemukan pada bronkopneumonia.¹,²

Pola interstisial berupa infiltrat retikuler atau retikulonodular, lebih sering pada pneumonia viral atau pneumonia atipikal.¹,¹⁸

Ground-glass opacity (GGO) berupa peningkatan densitas paru tanpa menghilangkan gambaran vaskular.¹,¹⁸

Efusi pleura dapat menyertai CAP sedang-berat atau CAP komplikata.²,³

Pola Radiologi yang Mengarahkan Etiologi

Pneumonia lobar: konsolidasi homogen pada satu lobus paru. Pola ini klasik pada infeksi Streptococcus pneumoniae.¹,¹²

Bronkopneumonia: infiltrat patchy multifokal pada beberapa segmen atau lobulus paru.¹

Pneumonia atipikal/viral: infiltrat interstisial, bilateral, atau ground-glass opacity.¹³,¹⁸


CT Scan Toraks

CT scan toraks tidak dilakukan rutin pada CAP.¹,³,⁵

Dipertimbangkan bila diagnosis belum jelas, terdapat perburukan klinis, atau kecurigaan komplikasi.¹,³,⁵

Indikasi lain meliputi dugaan abses paru, empiema, keganasan, atau pneumonia pada pasien imunokompromais.¹,³,⁵

CT scan lebih sensitif dibanding foto toraks untuk mendeteksi infiltrat dini, kavitasi, kelainan interstisial, serta komplikasi pleuropulmoner.¹,⁵


Penunjang

Darah lengkap: dapat menunjukkan leukositosis neutrofilik pada infeksi bakteri; leukopenia dapat muncul pada CAP berat.²,³

CRP dan prokalsitonin: membantu menilai derajat inflamasi dan mendukung kemungkinan etiologi bakteri.²,³

Analisis gas darah: dilakukan pada CAP sedang–berat untuk menilai hipoksemia dan gangguan ventilasi.²

Pewarnaan Gram dan kultur sputum: terutama pada pasien rawat inap, CAP berat, atau kecurigaan patogen resisten.²,³

Kultur darah: dipertimbangkan pada CAP berat, sepsis, atau pasien rawat inap.²,³

PCR/panel respiratori: digunakan bila dicurigai virus respiratori atau bakteri atipikal.¹³,¹⁸


Tatalaksana

Prinsip Umum

Terapi utama CAP adalah antibiotik empiris berdasarkan derajat keparahan, lokasi perawatan, komorbid, dan risiko patogen resisten.²,³

Antibiotik diberikan segera setelah diagnosis ditegakkan, terutama pada CAP sedang–berat atau pasien dengan sepsis.²,³

Evaluasi respons terapi dilakukan dalam 48–72 jam melalui perbaikan demam, sesak, frekuensi napas, saturasi oksigen, dan kondisi umum.²,³

Setelah hasil kultur tersedia, terapi disesuaikan melalui de-eskalasi antibiotik.²,³

Non-Farmakologis

Istirahat, hidrasi adekuat, dan nutrisi cukup.²

Oksigenasi bila terdapat hipoksemia.²,³

Antipiretik untuk demam dan terapi simptomatik sesuai keluhan.²

Monitoring suhu, frekuensi napas, nadi, tekanan darah, saturasi oksigen, dan tanda perburukan.²,³

Rawat inap bila terdapat pneumonia sedang–berat, hipoksemia, komorbid berat, atau skor keparahan tinggi.²,³

Prinsip Terapi Farmakologis

Terapi utama CAP adalah antibiotik empiris sesuai derajat keparahan, komorbid, lokasi perawatan, dan pola resistensi lokal.²,³

Regimen harus mencakup Streptococcus pneumoniae dan mempertimbangkan patogen atipikal bila diperlukan.²,³

Ambil spesimen mikrobiologi bila memungkinkan, lalu lakukan de-eskalasi setelah hasil kultur/sensitivitas tersedia.²,³

Evaluasi respons dalam 48–72 jam.²,³

Durasi terapi umumnya minimal 5 hari bila pasien sudah stabil klinis.²,³