Community-Acquired Pneumonia (CAP)[4].
| Item | Keterangan |
|---|---|
| SKDI | 4 — mampu menegakkan diagnosis klinis, melakukan tata laksana mandiri hingga tuntas pada kasus sesuai kompetensi layanan primer, serta melakukan rujukan bila terdapat pneumonia berat, komplikasi, atau kebutuhan perawatan lanjutan. |
Definisi
Pneumonia komunitas (Community-Acquired Pneumonia/CAP) adalah infeksi akut parenkim paru yang terjadi di komunitas atau ≤48 jam setelah masuk rumah sakit, disertai gejala pneumonia dan infiltrat baru pada pencitraan toraks.¹,²,³

Etiologi
Bakteri tipikal: Streptococcus pneumoniae merupakan penyebab tersering, diikuti oleh Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, dan Moraxella catarrhalis.¹,²,³
Bakteri atipikal: Mycoplasma pneumoniae, Chlamydophila pneumoniae, dan Legionella pneumophila.³,⁶
Virus respiratori: virus influenza, respiratory syncytial virus (RSV), adenovirus, dan SARS-CoV-2.¹³,¹⁸
Faktor risiko
Usia lanjut, terutama ≥65 tahun. ²,³
Merokok dan paparan polusi udara. ²,³
Konsumsi alkohol berlebihan. ²,³
Komorbiditas, seperti PPOK, asma, diabetes melitus, gagal jantung, penyakit ginjal kronik, penyakit hati kronik, dan keganasan. ²,³
Kondisi imunokompromais, termasuk HIV/AIDS, penggunaan kortikosteroid, obat imunosupresif, kemoterapi, atau transplantasi. ⁶,⁸
Riwayat infeksi saluran napas atas atau kontak dengan penderita infeksi respiratori. ²,³
Status vaksinasi influenza atau pneumokokus yang tidak adekuat pada kelompok berisiko tinggi. ²,³
Patofisiologi
CAP paling sering terjadi akibat mikroaspirasi sekret orofaring yang membawa patogen ke saluran napas bawah.¹,¹⁴
Patogen mencapai alveoli, kemudian mengaktivasi makrofag alveolar dan memicu respons inflamasi lokal.¹,¹⁴
Pelepasan mediator inflamasi merekrut neutrofil ke alveoli, terutama pada pneumonia bakteri.¹,¹⁴
Alveoli terisi eksudat inflamasi berupa cairan, fibrin, sel imun, dan debris seluler.¹,¹⁴
Pengisian alveoli oleh eksudat menyebabkan konsolidasi paru.¹,²
Konsolidasi menimbulkan gangguan ventilasi-perfusi, sehingga terjadi hipoksemia, takipnea, dan sesak napas.¹,²
Anamnesis
Demam, menggigil, malaise, dan penurunan kondisi umum akibat respons inflamasi sistemik.²,³
Batuk produktif dengan sputum purulen; pada pneumonia atipikal dapat berupa batuk kering.²,³
Sesak napas akibat gangguan ventilasi–perfusi dan penurunan oksigenasi alveolar.¹,²
Nyeri dada pleuritik, yaitu nyeri yang memberat saat inspirasi atau batuk akibat keterlibatan pleura.¹,³
Gejala penyerta dapat berupa mialgia, anoreksia, lemah, atau riwayat ISPA sebelumnya.²,³
Pemeriksaan Fisik
Demam, takipnea, dan takikardia sebagai manifestasi infeksi dan hipoksemia.¹,²
Ronki basah/crackles akibat cairan atau eksudat alveolar.¹,²
Perkusi redup pada area konsolidasi paru.¹,²
Bronchial breath sound akibat peningkatan transmisi suara melalui jaringan paru yang mengalami konsolidasi.¹,³
Penurunan saturasi oksigen, penggunaan otot bantu napas, atau sianosis dapat ditemukan pada CAP sedang–berat.²,³
Radiologi
Foto Toraks (Chest X-ray/CXR)
Foto toraks merupakan pemeriksaan radiologi utama pada CAP.²,³
Pemeriksaan ini bertujuan menegakkan diagnosis, menilai luas keterlibatan paru, mendeteksi komplikasi, serta membantu memperkirakan etiologi.²,³
Konsolidasi alveolar tampak sebagai opasitas homogen akibat alveoli terisi eksudat inflamasi.¹,²
Air bronchogram menunjukkan bronkus berisi udara yang tampak jelas di dalam area konsolidasi.¹,¹²
Opasitas patchy atau infiltrat multifokal lebih sering ditemukan pada bronkopneumonia.¹,²
Pola interstisial berupa infiltrat retikuler atau retikulonodular, lebih sering pada pneumonia viral atau pneumonia atipikal.¹,¹⁸
Ground-glass opacity (GGO) berupa peningkatan densitas paru tanpa menghilangkan gambaran vaskular.¹,¹⁸
Efusi pleura dapat menyertai CAP sedang-berat atau CAP komplikata.²,³
Pola Radiologi yang Mengarahkan Etiologi
Pneumonia lobar: konsolidasi homogen pada satu lobus paru. Pola ini klasik pada infeksi Streptococcus pneumoniae.¹,¹²
Bronkopneumonia: infiltrat patchy multifokal pada beberapa segmen atau lobulus paru.¹
Pneumonia atipikal/viral: infiltrat interstisial, bilateral, atau ground-glass opacity.¹³,¹⁸
CT Scan Toraks
CT scan toraks tidak dilakukan rutin pada CAP.¹,³,⁵
Dipertimbangkan bila diagnosis belum jelas, terdapat perburukan klinis, atau kecurigaan komplikasi.¹,³,⁵
Indikasi lain meliputi dugaan abses paru, empiema, keganasan, atau pneumonia pada pasien imunokompromais.¹,³,⁵
CT scan lebih sensitif dibanding foto toraks untuk mendeteksi infiltrat dini, kavitasi, kelainan interstisial, serta komplikasi pleuropulmoner.¹,⁵
Penunjang
Darah lengkap: dapat menunjukkan leukositosis neutrofilik pada infeksi bakteri; leukopenia dapat muncul pada CAP berat.²,³
CRP dan prokalsitonin: membantu menilai derajat inflamasi dan mendukung kemungkinan etiologi bakteri.²,³
Analisis gas darah: dilakukan pada CAP sedang–berat untuk menilai hipoksemia dan gangguan ventilasi.²
Pewarnaan Gram dan kultur sputum: terutama pada pasien rawat inap, CAP berat, atau kecurigaan patogen resisten.²,³
Kultur darah: dipertimbangkan pada CAP berat, sepsis, atau pasien rawat inap.²,³
PCR/panel respiratori: digunakan bila dicurigai virus respiratori atau bakteri atipikal.¹³,¹⁸
Tatalaksana
Prinsip Umum
Terapi utama CAP adalah antibiotik empiris berdasarkan derajat keparahan, lokasi perawatan, komorbid, dan risiko patogen resisten.²,³
Antibiotik diberikan segera setelah diagnosis ditegakkan, terutama pada CAP sedang–berat atau pasien dengan sepsis.²,³
Evaluasi respons terapi dilakukan dalam 48–72 jam melalui perbaikan demam, sesak, frekuensi napas, saturasi oksigen, dan kondisi umum.²,³
Setelah hasil kultur tersedia, terapi disesuaikan melalui de-eskalasi antibiotik.²,³
Non-Farmakologis
Istirahat, hidrasi adekuat, dan nutrisi cukup.²
Oksigenasi bila terdapat hipoksemia.²,³
Antipiretik untuk demam dan terapi simptomatik sesuai keluhan.²
Monitoring suhu, frekuensi napas, nadi, tekanan darah, saturasi oksigen, dan tanda perburukan.²,³
Rawat inap bila terdapat pneumonia sedang–berat, hipoksemia, komorbid berat, atau skor keparahan tinggi.²,³
Prinsip Terapi Farmakologis
Terapi utama CAP adalah antibiotik empiris sesuai derajat keparahan, komorbid, lokasi perawatan, dan pola resistensi lokal.²,³
Regimen harus mencakup Streptococcus pneumoniae dan mempertimbangkan patogen atipikal bila diperlukan.²,³
Ambil spesimen mikrobiologi bila memungkinkan, lalu lakukan de-eskalasi setelah hasil kultur/sensitivitas tersedia.²,³
Evaluasi respons dalam 48–72 jam.²,³
Durasi terapi umumnya minimal 5 hari bila pasien sudah stabil klinis.²,³
