Bronkopneumonia [4].

Bronkopneumonia [4].

ItemKeterangan
SKDI4 — mampu menegakkan diagnosis klinis, melakukan pemeriksaan penunjang sederhana, memberikan tata laksana mandiri hingga tuntas pada kasus tanpa komplikasi, serta melakukan rujukan bila diperlukan.

Definisi

Bronkopneumonia adalah bentuk pneumonia dengan inflamasi infeksius yang bermula di bronkiolus terminal, lalu menyebar ke alveoli sekitarnya secara multifokal, sehingga membentuk infiltrat patchy pada beberapa lobulus paru.¹,²,⁵


Etiologi

Bakteri tipikal merupakan penyebab tersering, terutama Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Staphylococcus aureus.¹,²,⁵

Bakteri Gram negatif seperti Klebsiella pneumoniae, Escherichia coli, dan Pseudomonas aeruginosa lebih sering pada pasien rawat inap, komorbid berat, atau imunokompromais.²,⁴

Virus respiratori seperti influenza, RSV, adenovirus, dan SARS-CoV-2 dapat menyebabkan pola bronkopneumonia atau mempermudah koinfeksi bakteri.⁶,¹⁸

Aspirasi sekret orofaring dapat menimbulkan bronkopneumonia multifokal, terutama pada pasien dengan gangguan menelan atau penurunan kesadaran.²,⁹


Faktor risiko

Usia ekstrem, terutama anak kecil dan lansia.²,⁵

Infeksi saluran napas atas sebelumnya yang mempermudah penyebaran infeksi ke bronkiolus dan alveoli.¹,²

Komorbid paru seperti PPOK, asma, bronkiektasis, atau penyakit paru struktural.¹,²,⁵

Imunokompromais, misalnya HIV/AIDS, keganasan, kemoterapi, penggunaan kortikosteroid, atau imunosupresan.⁶,¹⁸

Aspirasi, gangguan menelan, penurunan kesadaran, atau higiene oral buruk.²,⁹

Rawat inap, perawatan ICU, penggunaan ventilator, atau antibiotik sebelumnya yang meningkatkan risiko patogen Gram negatif dan MDR.⁴,¹⁰

Merokok, malnutrisi, alkohol, dan paparan polusi udara yang menurunkan pertahanan mukosilier.²,⁵


Patofisiologi

Bronkopneumonia bermula dari infeksi pada bronkiolus terminal, kemudian menyebar ke alveoli sekitar secara multifokal.¹,²,⁹

Patogen masuk melalui inhalasi droplet, mikroaspirasi sekret orofaring, atau penyebaran dari infeksi saluran napas atas.¹,²

Infeksi menyebabkan aktivasi makrofag alveolar dan pelepasan mediator inflamasi.¹,⁹

Terjadi rekrutmen neutrofil ke bronkiolus dan alveoli, sehingga terbentuk eksudat inflamasi.¹,⁹

Eksudat mengisi bronkiolus dan alveoli sekitar, membentuk area konsolidasi patchy multifokal pada beberapa lobulus paru.¹,²

Distribusi lesi yang multifokal menyebabkan gangguan ventilasi-perfusi, hipoksemia, takipnea, dan sesak napas.¹,²

Bila proses infeksi meluas, bronkopneumonia dapat berkembang menjadi pneumonia multilobus, abses paru, sepsis, atau gagal napas.¹,²,⁹


Anamnesis

Demam, menggigil, malaise, dan penurunan nafsu makan akibat respons inflamasi sistemik.¹,²

Batuk produktif dengan sputum mukopurulen atau purulen.¹,²

Sesak napas dan takipnea akibat gangguan ventilasi-perfusi pada area konsolidasi multifokal.¹,²,⁹

Nyeri dada pleuritik dapat muncul bila inflamasi mengenai pleura.¹,⁵

Riwayat ISPA sebelumnya, aspirasi, komorbid paru, usia ekstrem, atau imunokompromais perlu digali.²,⁵


Pemeriksaan Fisik

Demam, takipnea, takikardia, dan penurunan saturasi oksigen pada kasus sedang–berat.¹,²

Ronki basah/crackles yang dapat tersebar multifokal sesuai distribusi lesi.¹,⁵

Perkusi redup dapat ditemukan pada area konsolidasi yang lebih luas.¹,⁵

Bronchial breath sound dapat terdengar bila konsolidasi cukup padat.¹,⁵

Pada kasus berat dapat ditemukan penggunaan otot bantu napas, sianosis, atau tanda gagal napas.²,⁵


Penunjang

Darah lengkap: dapat menunjukkan leukositosis dominan neutrofil; leukopenia dapat mengarah pada infeksi berat atau sepsis.¹,²

CRP dan prokalsitonin: membantu menilai derajat inflamasi, kemungkinan infeksi bakteri, dan monitoring respons terapi.²,³

Analisis gas darah: dilakukan pada pasien dengan sesak sedang–berat, hipoksemia, atau dugaan gagal napas.²,⁵

Pemeriksaan sputum: meliputi pewarnaan Gram, kultur, dan uji sensitivitas untuk identifikasi patogen serta pemilihan antibiotik definitif.²,³

Kultur darah: dipertimbangkan pada pneumonia berat, rawat inap, sepsis, atau pasien imunokompromais.²,³

Fungsi ginjal, fungsi hati, dan elektrolit: penting untuk evaluasi komorbid, penyesuaian dosis antibiotik, dan monitoring efek samping obat.²,⁵

Bronkoskopi dengan BAL (bukan pemeriksaan rutin): dipertimbangkan pada diagnosis tidak jelas, pneumonia berat, gagal terapi, dugaan aspirasi, obstruksi bronkus, atau imunokompromais.⁵,⁶



Tatalaksana

Prinsip Umum

Bronkopneumonia tanpa komplikasi termasuk kompetensi SKDI 4, sehingga dokter dapat melakukan tata laksana mandiri hingga tuntas.²

Terapi utama adalah antibiotik empiris sesuai etiologi tersering, derajat keparahan, komorbid, dan setting klinis (komunitas vs nosokomial).²,³

Evaluasi respons klinis dilakukan dalam 48–72 jam.²,³

Lakukan de-eskalasi terapi bila tersedia hasil kultur dan uji sensitivitas.²,³


Non-Farmakologis

Istirahat, hidrasi adekuat, dan nutrisi cukup.²,⁵

Oksigenasi bila terdapat hipoksemia.²,⁵

Antipiretik, toilet sputum, dan fisioterapi dada sesuai indikasi.⁵

Monitoring tanda vital, saturasi oksigen, dan tanda komplikasi.²,⁵


Prinsip Terapi Farmakologis

Bronkopneumonia komunitas ringan–sedang umumnya memerlukan cakupan terhadap S. pneumoniae dan H. influenzae.²,³

Kasus berat, rawat inap, atau risiko nosokomial memerlukan cakupan terhadap Gram negatif serta pertimbangan MRSA/Pseudomonas sesuai konteks klinis.³,⁴

Pilihan antibiotik dipengaruhi oleh usia, komorbid, riwayat penggunaan antibiotik, dan risiko resistensi lokal.²,³