Soal Peritonitis
Laki-laki 24 tahun datang dengan nyeri perut yang awalnya dirasakan di sekitar umbilikus kemudian berpindah ke kanan bawah. Sejak beberapa jam terakhir nyeri menjadi hebat dan menetap. Pasien demam. Pemeriksaan menunjukkan abdomen tegang, defans muskular dan rebound tenderness. Diagnosis klinis yang paling tepat adalah:
A. Ileus obstruktif
B. Gastroenteritis akut
C. Peritonitis
D. Kolik ureter
E. Pankreatitis akut
Perempuan 58 tahun datang dengan nyeri abdomen hebat dan muntah. Pasien memilih berbaring diam karena gerakan memperberat nyeri. Abdomen distensi dan kaku, serta bising usus tidak terdengar. Mekanisme yang paling menjelaskan hilangnya bising usus adalah:
A. Obstruksi mekanik
B. Hipersekresi gastrointestinal
C. Ileus paralitik
D. Peningkatan peristaltik
E. Hipertrofi otot usus
Laki-laki 47 tahun datang dengan nyeri abdomen akut. Pemeriksaan menunjukkan rigiditas abdomen generalisata. Foto polos abdomen menunjukkan udara bebas subdiafragma. Kondisi yang paling harus dicurigai sebagai sumber peritonitis adalah:
A. Gastroenteritis
B. Perforasi organ berongga
C. Ileus paralitik primer
D. Konstipasi
E. Kolik bilier
Laki-laki 65 tahun datang dengan peritonitis generalisata. Pasien tampak lemah, takikardia, hipotensi, dan mengalami oliguria. Pasien akan dirujuk ke fasilitas dengan pelayanan bedah. Tata laksana awal paling tepat adalah:
A. Diet cair dan observasi
B. Laksatif dan antibiotik oral
C. NPO, akses IV, resusitasi cairan, monitoring, antibiotik sesuai indikasi, lalu rujuk
D. Analgesik kemudian pulangkan
E. Observasi sampai nyeri berkurang
Pasien dengan peritonitis akibat perforasi saluran cerna telah mendapat resusitasi cairan dan antibiotik intravena. Kondisi hemodinamik telah distabilkan. Prinsip tata laksana definitif terpenting berikutnya adalah:
A. Pemberian laksatif
B. Source control
C. Diet tinggi serat
D. Antiemetik sebagai terapi tunggal
E. Observasi konservatif