Atelektasis [3A].

Atelektasis [3A].


Definisi

Atelektasis adalah kolaps sebagian atau seluruh paru akibat hilangnya udara alveolar atau kegagalan alveoli mengembang, sehingga terjadi penurunan volume paru dan gangguan ventilasi.¹,³,⁵


Epidemiologi

Atelektasis sering ditemukan pada pasien rawat inap, terutama setelah operasi toraks dan abdomen atas, akibat hipoventilasi, nyeri pascaoperasi, retensi sekret, dan imobilisasi.¹,³,⁵

Atelektasis pascaoperasi umumnya muncul dalam 24–48 jam pertama, terutama pada pasien dengan anestesi umum, obesitas, usia lanjut, merokok, atau penyakit paru kronis.¹,⁵

Pada pasien ICU atau ventilasi mekanik, atelektasis dapat terjadi akibat sumbatan mukus, posisi berbaring lama, penurunan volume paru, dan gangguan pembersihan sekret.¹,⁵

Di Indonesia, data epidemiologi spesifik atelektasis masih terbatas; secara klinis, kasus sering berkaitan dengan penyakit dasar seperti tuberkulosis paru, tumor paru, efusi pleura, pneumonia, atau kondisi pascaoperasi.²,⁴,¹¹


Etiologi

Obstruksi jalan napas: sumbatan mukus, benda asing, darah, tumor endobronkial, atau sekret kental.¹,⁵

Kompresi paru: efusi pleura, pneumotoraks, hemotoraks, massa intratoraks, atau elevasi diafragma.¹,⁵,⁷

Hipoventilasi: pascaoperasi, anestesi umum, nyeri toraks/abdomen, sedasi, imobilisasi, atau gangguan neuromuskular.¹,³,⁵

Gangguan surfaktan: ARDS, cedera paru akut, atau prematuritas.¹,⁵,⁸

Sikatrisasi/fibrosis paru: tuberkulosis, fibrosis paru, atau penyakit paru interstisial kronis.¹,²,³


Faktor Resiko

Pascaoperasi toraks atau abdomen atas, terutama bila disertai nyeri, anestesi umum, dan napas dangkal.¹,³,⁵

Imobilisasi lama atau tirah baring, karena menurunkan ekspansi paru dan klirens sekret.¹,⁵

Merokok dan penyakit paru kronis, karena meningkatkan produksi sekret dan gangguan mukosilier.¹,²,³

Obesitas, usia lanjut, dan gangguan kesadaran, karena meningkatkan risiko hipoventilasi.¹,⁵

Ventilasi mekanik, sedasi, atau penggunaan opioid, karena dapat menurunkan drive napas dan efektivitas batuk.¹,⁵

Gangguan neuromuskular atau kelemahan otot napas, karena menghambat batuk efektif dan ekspansi paru.¹,³

Riwayat tumor paru, TB, efusi pleura, pneumotoraks, atau aspirasi benda asing, karena dapat menyebabkan obstruksi atau kompresi paru.¹,²,⁷


Klasifikasi

Atelektasis obstruktif/resorpsi. Terjadi akibat sumbatan jalan napas oleh mukus plug, benda asing, darah, sekret kental, atau tumor endobronkial. Udara di distal sumbatan akan diserap ke sirkulasi pulmonal, tetapi tidak ada udara baru yang masuk, sehingga alveoli kolaps; tipe ini sering ditemukan pada pasien pascaoperasi, pasien dengan retensi sekret, aspirasi benda asing, atau keganasan bronkus.¹,⁵

Atelektasis kompresi. Terjadi ketika paru tertekan dari luar oleh efusi pleura, pneumotoraks, hemotoraks, massa intratoraks, kardiomegali, atau elevasi diafragma. Tekanan eksternal ini mengurangi ekspansi alveoli dan menurunkan volume paru; pada foto toraks dapat tampak opasitas paru dengan tanda kompresi, sering disertai kelainan pleura sebagai penyebab.¹,⁵,⁷

Atelektasis pasif/relaksasi. Terjadi karena hilangnya kontak normal antara pleura viseral dan parietal, sehingga paru gagal mengembang secara optimal. Keadaan ini sering berkaitan dengan pneumotoraks atau efusi pleura besar, dan secara klinis tumpang tindih dengan atelektasis kompresi.¹,⁵

Atelektasis adhesif. Terjadi akibat defisiensi atau disfungsi surfaktan, sehingga tegangan permukaan alveoli meningkat dan alveoli mudah kolaps meskipun tidak ada sumbatan bronkus. Tipe ini dapat ditemukan pada ARDS, cedera paru akut, neonatus prematur, atau kondisi inflamasi paru difus.¹,⁵,⁸

Atelektasis sikatrisasi/kontraksi. Terjadi akibat fibrosis atau jaringan parut paru yang menarik parenkim dan mencegah paru mengembang sempurna. Tipe ini biasanya bersifat kronik dan relatif sulit reversibel, misalnya pada bekas tuberkulosis paru, fibrosis paru, bronkiektasis kronik, atau penyakit paru interstisial.¹,²,³

Atelektasis subsegmental/plate-like. Merupakan kolaps kecil berbentuk garis atau pita, sering ditemukan pada pasien pascaoperasi, imobilisasi, hipoventilasi, atau napas dangkal. Biasanya ringan, dapat asimtomatik, dan membaik dengan mobilisasi, latihan napas dalam, dan fisioterapi dada.¹,⁵


Patofisiologi

Hambatan ventilasi alveoli terjadi akibat obstruksi bronkus, kompresi dari luar paru, hipoventilasi, atau gangguan surfaktan, sehingga udara tidak dapat masuk atau dipertahankan di alveoli.¹,⁵

Pada atelektasis obstruktif, udara di distal sumbatan diserap ke kapiler pulmonal, tetapi udara baru tidak dapat masuk, sehingga alveoli kehilangan volume dan mengalami kolaps.¹,⁵

Kolaps alveoli menyebabkan penurunan ventilasi regional, sedangkan perfusi darah dapat tetap berjalan, sehingga terjadi mismatch ventilasi-perfusi dan shunt fisiologis.¹,⁵

Hipoksemia terjadi karena darah tetap melewati area paru yang tidak terventilasi dengan baik, sehingga oksigenasi darah menurun.¹,⁵

Pada atelektasis kompresi/pasif, efusi pleura, pneumotoraks, massa, atau elevasi diafragma menurunkan ekspansi paru dengan mengurangi tekanan transpulmonal.¹,⁵,⁷

Pada atelektasis adhesif, defisiensi atau disfungsi surfaktan meningkatkan tegangan permukaan alveoli sehingga alveoli mudah kolaps, terutama pada ARDS atau cedera paru akut.¹,⁵,⁸

Kolaps paru menyebabkan retensi sekret dan gangguan klirens mukosilier, sehingga meningkatkan risiko pneumonia sekunder.¹,⁵

Bila berlangsung lama, kolaps paru kronik dapat menyebabkan fibrosis lokal, penurunan compliance paru, dan gangguan fungsi paru yang lebih menetap.¹,⁵


Anamnesis

Sesak napas dapat muncul akibat berkurangnya area paru yang terventilasi dan terjadinya hipoksemia; keluhan biasanya lebih berat bila atelektasis luas atau terjadi mendadak.¹,⁵

Batuk terjadi karena iritasi jalan napas, retensi sekret, atau usaha tubuh membersihkan sumbatan bronkus.¹,⁵

Sputum sulit keluar dapat ditemukan pada pasien dengan mukus kental, batuk tidak efektif, pascaoperasi, atau tirah baring lama.¹,⁵

Nyeri dada atau rasa tidak nyaman di dada dapat terjadi terutama pada pasien pascaoperasi, pleuritis, pneumotoraks, efusi pleura, atau proses kompresi paru.¹,⁵,⁷

Demam perlu ditanyakan karena dapat menandakan pneumonia sekunder, infeksi paru, atau penyakit dasar yang menyebabkan obstruksi.¹,⁵

Riwayat operasi toraks atau abdomen atas, anestesi umum, penggunaan opioid, sedasi, dan imobilisasi penting digali karena dapat menyebabkan hipoventilasi, napas dangkal, dan retensi sekret.¹,³,⁵

Riwayat merokok, PPOK, asma, bronkiektasis, atau infeksi paru berulang meningkatkan risiko produksi sekret berlebih dan gangguan klirens mukosilier.¹,²,³

Riwayat aspirasi benda asing, tersedak, hemoptisis, tumor paru, tuberkulosis, efusi pleura, atau pneumotoraks membantu mengarahkan penyebab obstruksi atau kompresi paru.¹,²,⁵,⁷

Tanda bahaya yang harus digali meliputi sesak berat, sianosis, penurunan kesadaran, demam tinggi menetap, hemoptisis, nyeri dada hebat, saturasi oksigen rendah, atau perburukan cepat.¹,⁵


Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum dapat bervariasi dari tampak stabil hingga distress napas, bergantung pada luas kolaps paru dan derajat hipoksemia.¹,⁵

Takipnea dapat ditemukan sebagai kompensasi terhadap penurunan ventilasi alveoli dan oksigenasi darah.¹,⁵

Saturasi oksigen menurun pada atelektasis luas karena terjadi mismatch ventilasi-perfusi dan shunt fisiologis.¹,⁵

Penurunan ekspansi hemitoraks pada sisi lesi terjadi akibat berkurangnya volume paru yang kolaps.¹,⁵

Perkusi redup pada area atelektasis muncul karena jaringan paru kehilangan udara dan menjadi lebih padat.¹,⁵

Suara napas menurun atau menghilang pada area lesi karena aliran udara ke alveoli berkurang atau terhenti.¹,⁵

Ronki kasar dapat terdengar bila terdapat retensi sekret atau mukus plug di jalan napas.¹,⁵

Wheezing lokal dapat muncul bila terdapat obstruksi parsial bronkus oleh sekret, tumor, atau benda asing.¹,⁵

Deviasi trakea atau mediastinum ke sisi lesi dapat terjadi pada atelektasis lobar atau total paru akibat penurunan volume paru yang menarik struktur mediastinum.¹,⁵

Demam atau tanda infeksi dapat ditemukan bila atelektasis disertai pneumonia sekunder atau infeksi paru sebagai penyakit dasar.¹,⁵


Pemeriksaan Penunjang

Bronkoskopi digunakan untuk melihat langsung lumen bronkus dan dapat bersifat diagnostik sekaligus terapeutik, terutama bila dicurigai obstruksi oleh mukus plug, benda asing, darah, atau tumor.¹,⁵

Pulse oximetry dilakukan untuk menilai saturasi oksigen, terutama pada pasien dengan sesak, takipnea, pascaoperasi, penyakit paru kronik, atau kecurigaan atelektasis luas.¹,⁵

Analisis gas darah dipertimbangkan bila terdapat hipoksemia, distress napas, penurunan kesadaran, atau kecurigaan gagal napas; hasil dapat menunjukkan PaO₂ menurun dan gangguan oksigenasi akibat shunt fisiologis.¹,⁵

Pemeriksaan sputum dilakukan bila dicurigai infeksi sekunder, pneumonia, tuberkulosis, atau sekret purulen; pemeriksaan dapat berupa Gram, kultur, BTA, atau Tes Cepat Molekuler sesuai dugaan klinis.²,⁴,⁵

Ultrasonografi toraks bermanfaat bila dicurigai efusi pleura sebagai penyebab kompresi paru, serta dapat membantu panduan tindakan drainase pleura.⁵,⁷

Spirometri tidak rutin untuk diagnosis akut, tetapi dapat dipertimbangkan setelah kondisi stabil bila dicurigai penyakit dasar seperti PPOK, asma, restriksi paru, atau gangguan fungsi paru pasca-atelektasis.¹,³,⁵


Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Atelektasis
PneumoniaDemam, leukositosis, dan tanda infeksi lebih dominan, dengan infiltrat paru tanpa tanda khas penurunan volume paru.¹,⁵
Efusi pleuraTerdapat cairan di rongga pleura dengan deviasi mediastinum menjauhi lesi bila efusi masif.¹,⁵,⁷
PneumotoraksDitemukan hipersonor, penurunan suara napas, dan udara bebas di rongga pleura pada radiologi.¹,⁵
Fibrosis paru/interstitial lung diseaseKeluhan kronik progresif dengan gambaran retikuler difus dan fibrosis permanen tanpa kolaps paru akut.¹,³,⁵
Tumor paruDapat ditemukan hemoptisis, penurunan berat badan, massa paru persisten, atau obstruksi bronkus kronik.¹,⁵
Tuberkulosis paruBatuk kronik, keringat malam, penurunan berat badan, hemoptisis, dan lesi khas TB pada radiologi.²,⁴
Edema paruSesak disertai ronki basah bilateral difus dan gambaran kongesti paru atau edema alveolar pada radiologi.¹,⁵
Emboli paru

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Oksigen suplemental diberikan bila terdapat hipoksemia, sesak, takipnea, atau distress napas untuk mempertahankan oksigenasi jaringan.¹,⁵

Mobilisasi dini dan perubahan posisi tubuh membantu meningkatkan ekspansi paru, memperbaiki ventilasi basal, dan mencegah retensi sekret.¹,⁵

Latihan napas dalam dan incentive spirometry dianjurkan terutama pada pasien pascaoperasi untuk membuka kembali alveoli yang kolaps.¹,⁵

Batuk efektif dan fisioterapi dada membantu mengeluarkan sekret, terutama pada atelektasis akibat mukus plug atau batuk tidak efektif.¹,⁵,⁶

Postural drainage dapat dipertimbangkan bila terdapat sekret banyak atau bronkiektasis, dengan tujuan membantu drainase sekret berdasarkan posisi anatomis bronkus.⁶

Analgesia adekuat pada pasien pascaoperasi atau nyeri dada penting agar pasien mampu bernapas dalam dan batuk efektif.¹,⁵

Tata laksana penyebab dasar harus dilakukan, misalnya drainase efusi pleura, dekompresi pneumotoraks, terapi infeksi, evaluasi tumor, atau pengeluaran benda asing.¹,⁵,⁷


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Terapi farmakologis bersifat suportif dan kausal, dengan tujuan memperbaiki hipoksemia, membantu pengeluaran sekret, dan mengatasi penyebab dasar.¹,⁵

Oksigen diberikan bila terdapat hipoksemia atau distress napas.¹,⁵

Bronkodilator hanya diberikan bila ada wheezing, bronkospasme, asma, atau PPOK.¹,³,⁵

Mukolitik dipertimbangkan bila terdapat sputum kental atau retensi sekret.⁵,⁶

Analgesik diberikan bila nyeri menghambat napas dalam, batuk efektif, atau mobilisasi.¹,⁵

Antibiotik tidak rutin, kecuali terdapat pneumonia sekunder, TB, empiema, atau infeksi bakteri lain.²,⁴,⁵

GolonganObat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamikKeterangan
Oksigen medisOksigen nasal kanul, simple mask, non-rebreathing maskDisesuaikan target saturasi; umumnya target SpO₂ ≥94%, atau 88–92% pada risiko retensi CO₂Meningkatkan FiO₂ sehingga memperbaiki oksigenasi darahDiberikan bila terdapat hipoksemia atau distress napas.¹,⁵
Bronkodilator β2-agonis kerja pendekSalbutamol inhaler 100 mcg/puff; nebulisasi 2,5 mg/2,5 mLInhaler: 1–2 puff tiap 4–6 jam bila perlu. Nebulisasi: 2,5 mg tiap 4–6 jam bila perluAktivasi reseptor β2-adrenergik menyebabkan relaksasi otot polos bronkusBila ada wheezing, bronkospasme, asma/PPOK, atau obstruksi parsial.¹,³,⁵
MukolitikN-asetilsistein kapsul/tablet 200 mg; granul 200 mg200 mg 3 kali sehariMemutus ikatan disulfida mukoprotein sehingga sekret lebih encerDipertimbangkan bila terdapat sputum kental atau retensi sekret.⁵,⁶
Analgesik-antipiretikParacetamol tablet 500 mgDewasa: 500–1.000 mg tiap 6–8 jam bila perluMenghambat sintesis prostaglandin sentral sehingga menurunkan nyeri dan demamMembantu pasien bernapas dalam dan batuk efektif bila ada nyeri pascaoperasi.¹,⁵
AntibiotikSesuai dugaan etiologi dan pedoman lokalIndividual sesuai diagnosis infeksiMenghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri penyebab infeksiTidak rutin untuk atelektasis; diberikan bila ada pneumonia sekunder, TB, atau infeksi bakteri lain.²,⁴,⁵

Terapi Pembedahan (Bila ada)

Tindakan Intervensi / Operatif

Bronkoskopi terapeutik dilakukan bila dicurigai atau terbukti terdapat mukus plug, benda asing, darah beku, atau tumor endobronkial yang menyebabkan obstruksi.¹,⁵

Drainase pleura dilakukan bila atelektasis disebabkan oleh efusi pleura besar, hemotoraks, empiema, atau pneumotoraks yang menekan paru.¹,⁵,⁷

Dekompresi pneumotoraks diperlukan pada pneumotoraks besar atau tension pneumothorax untuk mengembalikan ekspansi paru.¹,⁵

Tata laksana tumor paru seperti biopsi bronkoskopi, reseksi, radioterapi, kemoterapi, atau intervensi bronkial dipertimbangkan bila terdapat obstruksi akibat keganasan.¹,⁵

Ventilasi non-invasif atau invasif dipertimbangkan bila terdapat gagal napas, distress napas berat, atau hipoksemia yang tidak membaik dengan oksigen konvensional.¹,⁵


Komplikasi

Hipoksemia terjadi akibat mismatch ventilasi-perfusi dan shunt fisiologis pada area paru yang kolaps.¹,⁵

Pneumonia sekunder dapat terjadi karena retensi sekret dan gangguan klirens mukosilier menjadi media pertumbuhan mikroorganisme.¹,⁵

Gagal napas dapat muncul pada atelektasis luas, bilateral, atau pada pasien dengan penyakit paru/jantung berat.¹,⁵

Bronkiektasis dapat terjadi bila kolaps paru berlangsung kronik dan menyebabkan kerusakan dinding bronkus permanen.¹,⁵

Fibrosis lokal dapat muncul pada atelektasis lama akibat inflamasi kronik dan perubahan jaringan paru menjadi jaringan parut.¹,⁵

Rekurensi atelektasis dapat terjadi bila penyebab dasar seperti tumor, mukus plug, penyakit paru kronik, atau imobilisasi tidak teratasi.¹,⁵


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): dubia ad bonam, karena atelektasis terbatas umumnya tidak mengancam jiwa bila penyebab segera diatasi, tetapi dapat memburuk bila terjadi hipoksemia berat, atelektasis luas, atau komorbid paru-jantung berat.¹,⁵

Ad functionam (terhadap fungsi): dubia ad bonam, karena fungsi paru dapat kembali baik setelah re-ekspansi alveoli, tetapi dapat menetap terganggu bila terjadi kolaps kronik, bronkiektasis, atau fibrosis lokal.¹,⁵

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, karena sebagian besar kasus reversibel setelah obstruksi, kompresi, atau hipoventilasi diatasi, tetapi lebih sulit sembuh bila disebabkan tumor, fibrosis, TB kronik, atau penyakit paru berat.¹,²,⁵


Edukasi

elaskan bahwa atelektasis adalah kondisi paru yang mengalami kolaps sebagian atau seluruhnya, sehingga pertukaran oksigen dapat terganggu.¹,⁵

Anjurkan pasien melakukan napas dalam, batuk efektif, mobilisasi dini, dan latihan pernapasan terutama setelah operasi untuk membantu membuka kembali alveoli yang kolaps.¹,⁵,⁶

Edukasi pentingnya menghindari merokok dan paparan iritan saluran napas karena dapat meningkatkan produksi sekret dan memperberat gangguan paru.¹,²,³

Jelaskan bahwa kontrol penyakit dasar seperti TB, PPOK, asma, tumor paru, efusi pleura, atau gangguan neuromuskular penting untuk mencegah kekambuhan.¹,²,⁵

Anjurkan segera kembali berobat bila muncul sesak berat, demam tinggi, nyeri dada, hemoptisis, saturasi menurun, atau perburukan kondisi umum.¹,⁵

Pada pasien pascaoperasi, edukasi mengenai pentingnya analgesia adekuat, posisi tubuh yang baik, dan latihan pernapasan untuk mencegah atelektasis berulang.¹,⁵


Kriteria Rujukan

Sesak napas berat, distress napas, hipoksemia, atau saturasi oksigen menurun yang tidak membaik dengan terapi awal.¹,⁵

Atelektasis luas, progresif, atau bilateral, terutama bila menyebabkan gangguan ventilasi dan oksigenasi bermakna.¹,⁵

Kecurigaan obstruksi bronkus oleh tumor, benda asing, darah beku, atau mukus plug yang memerlukan bronkoskopi.¹,⁵

Atelektasis akibat efusi pleura besar, pneumotoraks, hemotoraks, atau massa intratoraks yang memerlukan tindakan intervensi toraks.¹,⁵,⁷

Terdapat komplikasi seperti pneumonia berat, gagal napas, bronkiektasis, atau sepsis.¹,⁵

Tidak membaik dengan terapi konservatif awal atau terjadi atelektasis berulang.¹,⁵

Pasien dengan komorbid berat seperti PPOK berat, penyakit jantung, gangguan neuromuskular, imunokompromais, atau kondisi pascaoperasi mayor yang memerlukan evaluasi spesialistik.¹,³,⁵