Alopesia Androgenik [3A].

Alopesia Androgenik [3A].


Nama lain: Androgenetic alopecia, male pattern baldness, female pattern hair loss, patterned alopecia.


Definisi

Alopecia androgenetik adalah kerontokan rambut non-sikatrikal kronik akibat kombinasi faktor genetik dan androgen yang ditandai dengan pemendekan fase anagen, pemanjangan fase telogen, serta miniaturisasi folikel rambut.¹,²


Epidemiologi

Lebih sering pada laki-laki dibandingkan wanita, dengan pola khas androgenetik. ¹,²

Pada laki-laki, onset umumnya setelah pubertas (usia 20–40 tahun) dan berkaitan dengan peningkatan aktivitas androgen. ¹,³

Pada wanita, kejadian meningkat pada usia lanjut, terutama sekitar dekade ke-6 dengan prevalensi sekitar 40%. ²

Pada wanita muda, alopecia androgenetik dapat berkaitan dengan kondisi hiperandrogenisme, yang ditandai oleh hirsutisme, amenore, dan peningkatan kadar testosteron. ²,³

Prevalensi meningkat seiring usia, dengan lebih dari 50% pria usia >50 tahun mengalami kondisi ini. ¹


Etiologi

Genetik (poligenik) sebagai faktor predisposisi utama yang menentukan sensitivitas folikel rambut.¹

Hormon androgen (dihidrotestosteron/DHT) sebagai mediator utama miniaturisasi folikel rambut.²,³

Aktivitas enzim 5α-reduktase meningkat yang mengubah testosteron menjadi DHT lebih poten.³

Peningkatan sensitivitas reseptor androgen pada folikel rambut sehingga terjadi pola kerontokan khas.¹,³


Faktor Risiko

Riwayat keluarga merupakan faktor risiko utama yang mencerminkan predisposisi genetik.¹

Usia yang meningkat berkaitan dengan progresivitas miniaturisasi folikel rambut.¹,³

Peningkatan androgen atau sensitivitas terhadap androgen dapat mempercepat kerontokan rambut.²,³

Kondisi hiperandrogenisme pada wanita, seperti PCOS, meningkatkan risiko alopecia androgenetik.²


Klasifikasi

Berdasarkan Jenis Kelamin





Anamnesis

Keluhan utama berupa kerontokan rambut progresif dan perlahan yang berlangsung kronik akibat miniaturisasi folikel rambut.¹

Pola kerontokan khas:

pria: daerah frontal dan vertex

wanita: penipisan difus di vertex sesuai distribusi reseptor androgen.²

Tidak disertai nyeri, gatal, atau tanda inflamasi karena proses bersifat non-inflamasi.¹

Riwayat keluarga dengan keluhan serupa yang mendukung faktor genetik.¹

Pada wanita, perlu ditanyakan tanda hiperandrogenisme seperti hirsutisme, jerawat, atau gangguan menstruasi.²,³

Riwayat penggunaan obat, stres, atau penyakit sistemik untuk menyingkirkan penyebab kerontokan rambut lain.³


Pemeriksaan Fisik

Predileksi

Pada pria, terutama di frontal (bitemporal) dan vertex, sesuai distribusi reseptor androgen.¹

Pada wanita, terutama di vertex dan frontal tengah, dengan bagian posterior dan lateral relatif tetap.²


Efloresensi

Ditemukan penipisan rambut (hair thinning) akibat miniaturisasi folikel rambut.¹

Rambut tampak lebih kecil, lebih pendek, dan kadang tidak berpigmen, mencerminkan perubahan dari rambut terminal menjadi rambut vellus.²

Terdapat variasi diameter rambut (anisotrichosis) sebagai tanda khas miniaturisasi folikel.³

Pada area terdampak, dapat ditemukan penurunan kepadatan rambut hingga area botak pada stadium lanjut.¹


Gambaran Klinis Spesifik

Pria. Resesi garis rambut bitemporal, diikuti kebotakan pada vertex sesuai pola Hamilton-Norwood.¹

Wanita. Kerontokan difus dengan penurunan densitas rambut di vertex dan frontal, tanpa kemunduran garis rambut frontal.²

Tidak ditemukan tanda inflamasi, seperti eritema atau skuama, karena bersifat non-sikatrikal dan non-inflamasi

Hair pull test umumnya negatif karena kerontokan tidak bersifat akut.³


Pemeriksaan Penunjang

Biopsi kulit kepala (Histopatologi) bertujuan sebagai diagnosis definitif pada kasus meragukan; prinsipnya pemeriksaan jaringan folikel rambut secara mikroskopik dengan hasil berupa miniaturisasi folikel, penurunan diameter rambut dan pigmen, peningkatan rambut vellus, serta peningkatan proporsi folikel fase telogen.⁶

Dapat ditemukan infiltrat limfohistiositik ringan di sekitar infundibulum dan duktus sebaseus sebagai respons lokal minimal.⁶

Dermoskopi (Trikoskopi) bertujuan mendukung diagnosis klinis; prinsipnya visualisasi folikel rambut dengan hasil berupa variasi diameter rambut (anisotrichosis) dan miniaturisasi folikel.⁵

Pemeriksaan hormonal pada wanita bertujuan menilai hiperandrogenisme; prinsipnya pemeriksaan kadar hormon dengan hasil berupa peningkatan testosteron total atau bebas pada kasus tertentu.²,³


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan
Telogen effluviumKerontokan difus akut tanpa pola khas dan tanpa miniaturisasi folikel.¹
TrikotilomaniaKerontokan akibat kebiasaan mencabut rambut dengan pola ireguler dan panjang rambut tidak seragam.²
Alopecia sikatrikalisKehilangan rambut disertai sikatriks (jaringan parut) dan kerusakan permanen folikel.³
Alopecia areata difusaKerontokan difus dengan kemungkinan ditemukan exclamation mark hair dan bersifat autoimun.²
Sifilis sekunderKerontokan rambut pola “moth-eaten” disertai gejala sistemik dan riwayat infeksi.¹

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Edukasi bahwa penyakit bersifat kronik progresif dan memerlukan terapi jangka panjang.⁵

Anjurkan manajemen stres dan perawatan rambut yang tepat untuk mengurangi faktor pemicu kerontokan.⁵

Pertimbangkan konseling psikologis bila terdapat dampak kosmetik atau emosional.⁸


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Prinsip terapi adalah memperlambat miniaturisasi folikel rambut, memperpanjang fase anagen, dan menekan efek androgen pada folikel.²,³

GolonganObat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamik
Vasodilator topikalMinoksidil 2–5% (solusio)2×/hari, ±1 mL (±25 tetes)Meningkatkan ketahanan sel papila dermal, memperpanjang fase anagen, dan memperbesar diameter batang rambut
Antiandrogen (pria)Finasteride 1 mg (tablet)1×/hari per oralMenghambat enzim 5α-reduktase sehingga menurunkan DHT
Antiandrogen (wanita)Spironolakton (tablet 100–200 mg)1×/hari per oralMenghambat reseptor androgen
Antiandrogen (wanita)Cyproterone acetate (tablet)sesuai indikasiMenekan efek androgen
Estrogen17β-estradiolsesuai indikasiMenyeimbangkan efek androgen pada folikel rambut

Minoksidil merupakan terapi lini pertama pada pria dan wanita.

Finasteride hanya untuk pria dan kontraindikasi pada wanita hamil.

Terapi harus kontinu. Penghentian terapi dapat menyebabkan kerontokan kembali.

Terapi hormonal pada wanita diberikan bila terdapat hiperandrogenisme.


Terapi Tambahan

Injeksi platelet-rich plasma (PRP) merupakan terapi adjuvan berupa plasma autolog kaya trombosit yang disuntikkan ke kulit kepala.⁶

Mengandung faktor pertumbuhan (PDGF, VEGF, TGF-β) yang meningkatkan proliferasi sel papila dermal.⁶

Berperan dalam memperpanjang fase anagen dan meningkatkan vaskularisasi folikel rambut.⁶

Diberikan secara intradermal dengan interval berkala (sekitar setiap 3 hingga 4 minggu).⁶

Dapat meningkatkan densitas dan ketebalan rambut, terutama pada stadium awal hingga sedang.⁶

Digunakan sebagai terapi tambahan dan tetap dikombinasikan dengan minoksidil atau finasterid.⁶


Terapi Operatif

Transplantasi rambut merupakan terapi pembedahan yang memindahkan folikel rambut dari area donor (biasanya oksipital) ke area alopecia yang dipengaruhi androgen.³

Teknik yang digunakan meliputi Follicular Unit Transplantation (FUT) dan Follicular Unit Extraction (FUE) untuk menghasilkan distribusi rambut yang lebih alami.³

Terapi ini efektif pada kasus dengan alopecia stabil dan folikel donor yang masih baik.³

Terapi ini tidak menghentikan proses dasar penyakit sehingga tetap memerlukan terapi medikamentosa tambahan.²


Komplikasi

Dampak psikologis meliputi kecemasan, penurunan kepercayaan diri, dan penurunan kualitas hidup akibat perubahan penampilan yang progresif.⁵,⁸

Progresi kebotakan akibat miniaturisasi folikel yang berlanjut, sehingga densitas rambut terus menurun hingga terjadi kebotakan luas.¹,³

Gangguan kosmetik berupa ketidakseimbangan estetika akibat perubahan distribusi dan ketebalan rambut.⁵

Efek samping terapi seperti iritasi lokal pada penggunaan minoksidil serta efek hormonal pada finasteride.²,³


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena alopecia androgenetik tidak mengancam jiwa dan bersifat non-sistemik.¹

Ad functionam (terhadap fungsi): bonam, karena tidak menimbulkan gangguan fungsi organ, meskipun berdampak pada aspek kosmetik.²

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, karena terapi dapat memperlambat progresi dan memperbaiki densitas rambut, tetapi tidak dapat menyembuhkan sepenuhnya karena bersifat kronik dan progresif.¹,³


Edukasi

Jelaskan bahwa alopecia androgenetik adalah kondisi kronik progresif yang tidak dapat sembuh total, tetapi dapat dikendalikan dengan terapi.⁴,⁵

Tekankan pentingnya kepatuhan terhadap terapi jangka panjang, karena penghentian obat dapat menyebabkan kerontokan kembali.²

Sampaikan bahwa hasil terapi tidak instan dan biasanya memerlukan beberapa bulan untuk terlihat.²,³

Anjurkan untuk menghindari faktor yang dapat memperburuk kerontokan, seperti stres dan perawatan rambut yang tidak tepat.⁵

Berikan dukungan psikologis karena kondisi ini dapat memengaruhi kepercayaan diri dan kualitas hidup.⁵,⁸

Pada wanita, anjurkan evaluasi bila terdapat tanda hiperandrogenisme, seperti jerawat, hirsutisme, atau gangguan menstruasi.²


Kriteria Rujukan

Diagnosis tidak jelas atau terdapat kecurigaan alopecia non-androgenetik, seperti alopecia areata atau alopecia sikatrikalis.²

Tidak respons terhadap terapi standar (minoksidil atau finasteride) setelah penggunaan yang adekuat.²,³

Progresi cepat atau pola kerontokan tidak khas.¹

Wanita dengan tanda hiperandrogenisme, seperti hirsutisme, jerawat berat, atau gangguan menstruasi, yang memerlukan evaluasi lanjutan.²

Pasien dengan dampak psikologis berat yang memerlukan penanganan multidisiplin.⁵