Alopesia.

Alopesia.

Definisi

Alopecia adalah hilangnya sebagian atau seluruh rambut pada area tubuh yang normalnya ditumbuhi rambut. Kondisi ini dapat bersifat sementara (non-sikatrikal) atau permanen (sikatrikal), bergantung pada ada tidaknya kerusakan folikel rambut.¹,³


Anatomi Rambut

(Eroschenko, 2005)
(Eroschenko, 2005)

Rambut merupakan struktur filamen keratin yang berasal dari folikel rambut di dermis dan berfungsi sebagai bagian dari sistem integumen.¹,³

Secara anatomi, rambut terdiri dari dua bagian utama:

Hair shaft (batang rambut) adalah bagian yang tampak di permukaan kulit dan tersusun atas keratin keras.¹

Hair root (akar rambut) adalah bagian yang tertanam di dalam folikel rambut.¹


(Eroschenko, 2005)
(Eroschenko, 2005)

A. Struktur Folikel Rambut

Hair bulb merupakan bagian terdalam folikel rambut yang mengandung sel matriks aktif dan berperan dalam pertumbuhan rambut.¹,³.

Dermal papilla merupakan struktur vaskular yang menyediakan nutrisi serta sinyal pertumbuhan bagi sel matriks rambut.¹,⁴.

Matrix cells merupakan sel proliferatif yang membentuk batang rambut dan selubung folikel.¹.


B. Struktur Pendukung

Kelenjar sebasea menghasilkan sebum yang berfungsi melumasi rambut dan kulit kepala.¹

Otot arrector pili berperan dalam kontraksi yang menyebabkan rambut berdiri (piloereksi).¹

Melanosit menghasilkan melanin yang menentukan warna rambut.¹,³


C. Histologi Rambut

Folikel rambut merupakan struktur epitelial kompleks yang berasal dari invaginasi epidermis ke dalam dermis.

Struktur ini tersusun atas komponen epitel dan mesenkimal yang saling berinteraksi untuk mengatur pertumbuhan rambut.¹,³


D. Lapisan Folikel Rambut

Inner root sheath (IRS). Melapisi bagian dalam batang rambut dan berperan dalam membentuk serta mengarahkan pertumbuhan rambut.¹

Outer root sheath (ORS). Merupakan kelanjutan epidermis yang mengelilingi folikel dan mengandung sel punca yang penting untuk regenerasi folikel rambut.¹,⁴

Glass membrane. Memisahkan folikel rambut dari jaringan dermis di sekitarnya.¹

Connective tissue sheath. Jaringan ikat yang mengelilingi folikel dan memberikan dukungan struktural.¹


E. Komponen Seluler

Sel matriks. Terletak di hair bulb dan merupakan sel proliferatif aktif yang membentuk batang rambut serta selubung folikel.¹,³

Melanosit. Menghasilkan melanin yang memberikan warna pada rambut melalui transfer pigmen ke keratinosit.¹

Sel punca (stem cell). Berlokasi di area bulge region dan berperan dalam regenerasi folikel rambut selama siklus rambut.⁴


F. Struktur Batang Rambut

Kutikula. Lapisan terluar yang tersusun dari sel pipih dan berfungsi sebagai pelindung.¹

Korteks. Bagian terbesar yang mengandung keratin dan melanin, sehingga menentukan kekuatan dan warna rambut.¹

Medula. Bagian terdalam yang sering kali tidak tampak jelas pada rambut halus.¹


Siklus Rambut

Siklus rambut adalah proses dinamis yang terdiri dari fase pertumbuhan, regresi, dan istirahat, yang terjadi berulang pada setiap folikel rambut.¹,³

Setiap folikel rambut memiliki siklus yang independen, sehingga tidak semua rambut berada pada fase yang sama.¹


A. Fase Siklus Rambut

1. Fase Anagen (fase pertumbuhan)

Merupakan fase pertumbuhan aktif rambut yang berlangsung sekitar 2–6 tahun.¹,³

Sekitar 85–90% rambut normal berada pada fase ini

Terjadi proliferasi aktif sel matriks dan pembentukan batang rambut yang terus memanjang.¹

Panjang rambut sangat ditentukan oleh durasi fase anagen.¹


2. Fase Katagen (fase transisi)

Merupakan fase transisi singkat yang berlangsung sekitar 2–3 minggu

Terjadi involusi folikel rambut dan penghentian aktivitas mitosis sel matriks.¹

Dermal papilla terlepas sebagian dari bulb rambut.¹


3. Fase Telogen (fase istirahat)

Berlangsung sekitar 2–3 bulan.¹,³

Sekitar 10–15% rambut berada pada fase ini

Rambut tidak tumbuh dan akan mengalami shedding pada akhir fase.¹


4. Fase Eksogen (shedding)

Merupakan fase pelepasan rambut dari folikel.¹

Rambut telogen akan rontok dan digantikan oleh rambut baru pada fase anagen berikutnya.¹

B. Regulasi Siklus Rambut

Regulasi siklus rambut dikendalikan oleh interaksi kompleks antara komponen epitel folikel rambut dan komponen mesenkimal, terutama dermal papilla yang berperan sebagai pusat kontrol pertumbuhan rambut.¹,³


C. Peran Dermal Papilla

Dermal papilla merupakan pusat regulasi utama yang mengontrol transisi fase anagen, katagen, dan telogen melalui sinyal molekuler.¹,⁴

Struktur ini menghasilkan berbagai faktor pertumbuhan, seperti VEGF, FGF, dan IGF-1, yang berperan dalam proliferasi sel matriks dan mempertahankan fase anagen.¹

Aktivitas dermal papilla menentukan ukuran folikel dan durasi fase pertumbuhan rambut


D. Peran Sel Punca (Bulge Region)

Sel punca (stem cell) pada bulge region berfungsi sebagai sumber regenerasi folikel rambut.⁴

Pada awal fase anagen, sel ini akan berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel matriks pembentuk rambut.

Kerusakan pada area ini menyebabkan kehilangan kemampuan regenerasi sehingga terjadi alopecia sikatrikal permanen.


E. Regulasi Hormonal

Androgen (terutama DHT) memodulasi siklus rambut dengan memendekkan fase anagen dan menyebabkan miniaturisasi folikel rambut

Estrogen cenderung memperpanjang fase anagen, sehingga rambut tampak lebih tebal pada kondisi tertentu, seperti kehamilan.³


F. Jalur Molekuler dan Sitokin

Jalur Wnt atau β-catenin berperan dalam aktivasi fase anagen dan pertumbuhan rambut.³

TGF-β berperan dalam induksi fase katagen, yaitu fase regresi folikel rambut.³

BMP (bone morphogenetic protein) mempertahankan folikel dalam fase telogen dan menghambat aktivasi pertumbuhan.³,⁶

Keseimbangan jalur ini menentukan apakah rambut akan tumbuh atau berhenti.


G. Peran Sistem Imun

Folikel rambut memiliki mekanisme immune privilege yang melindungi dari respon imun.¹

Gangguan mekanisme ini menyebabkan aktivasi sel imun dan inflamasi perifolikular, seperti pada alopecia areata.¹,⁵


H. Faktor Sistemik dan Lingkungan

Stres fisik dan psikologis memengaruhi siklus rambut melalui mekanisme neuroendokrin

Penyakit sistemik, defisiensi nutrisi, dan obat-obatan dapat mengganggu regulasi normal siklus rambut.³


I. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Rambut

Faktor genetik. Menentukan sensitivitas folikel terhadap hormon, pola pertumbuhan rambut, serta predisposisi terhadap alopecia, seperti alopecia androgenetik.¹,³

Faktor hormonal. Androgen (DHT) berperan dalam miniaturisasi folikel dan pemendekan fase anagen, sedangkan estrogen cenderung memperpanjang fase pertumbuhan rambut.¹,³

Status nutrisi. Ketersediaan protein, zat besi, zinc, dan vitamin sangat penting untuk proliferasi sel matriks dan pembentukan batang rambut.³,⁶

Faktor imunologis. Gangguan immune privilege folikel rambut dapat menyebabkan respons autoimun terhadap folikel, seperti pada alopecia areata.¹,⁵

Stres fisik dan psikologis. Aktivasi sistem neuroendokrin (HPA axis) dapat mengganggu siklus rambut dan memicu pergeseran ke fase telogen.³

Obat-obatan. Beberapa obat, seperti kemoterapi, retinoid, dan antikoagulan, dapat memengaruhi siklus rambut dan menyebabkan kerontokan.¹

Penyakit sistemik. Kondisi, seperti gangguan tiroid, anemia, dan penyakit kronik, dapat mengganggu metabolisme folikel rambut.³

Faktor lokal kulit kepala. Kondisi, seperti infeksi, inflamasi, atau trauma, dapat memengaruhi lingkungan folikel dan pertumbuhan rambut.¹


KLASIFIKASI ALOPECIA

1. Berdasarkan Kerusakan Folikel Rambut

A. Alopecia Non-Sikatrikal (Non-Scarring Alopecia)

Ditandai dengan folikel rambut masih utuh, sehingga rambut masih memiliki potensi untuk tumbuh kembali.¹,³

Bersifat reversibel karena tidak terjadi destruksi permanen pada unit folikel rambut.¹

Mekanisme utama berupa gangguan siklus rambut atau regulasi pertumbuhan.

Contoh: alopecia areata, telogen effluvium, alopecia androgenetik


B. Alopecia Sikatrikal (Scarring/Cicatricial Alopecia)

Ditandai dengan destruksi permanen folikel rambut yang kemudian digantikan oleh jaringan parut.¹,⁴

Bersifat irreversibel, sehingga rambut tidak dapat tumbuh kembali.

Umumnya disebabkan oleh proses inflamasi kronik atau destruktif.

Contoh: Lupus eritematosus diskoid, lichen planopilaris, folikulitis destruktif


2. Berdasarkan Pola Klinis Kerontokan

Difus. Kerontokan merata di seluruh kulit kepala, biasanya terkait gangguan siklus rambut seperti telogen effluvium.¹

Patch (bercak). Kerontokan berbentuk bulat atau oval dengan batas tegas, khas pada alopecia areata.¹

Pola khas (patterned hair loss). Distribusi spesifik seperti frontal atau vertex, khas pada alopecia androgenetik.¹,³


3. Berdasarkan Mekanisme Patofisiologi

Autoimun. Terjadi akibat gangguan immune privilege pada folikel rambut, misalnya pada alopecia areata.¹

Hormonal/androgen-dependent. Dipengaruhi oleh androgen yang menyebabkan miniaturisasi folikel, seperti pada alopecia androgenetik.¹,³

Gangguan siklus rambut. Terjadi pergeseran fase rambut, misalnya peningkatan fase telogen pada telogen effluvium.¹,³

Infeksi atau inflamasi. Disebabkan oleh mikroorganisme atau proses inflamasi lokal, misalnya pada tinea capitis.¹


Daftar Pustaka

1.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, et al. Fitzpatrick’s Dermatology. 9th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.

2.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. 9th ed. New York: McGraw-Hill; 2023.

3.

James WD, Elston DM, Treat JR, Rosenbach MA, Neuhaus IM. Andrews’ Diseases of the Skin. 13th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.

4.

Bolognia JL, Schaffer JV, Cerroni L. Dermatology. 4th ed. Philadelphia: Elsevier; 2021.

5.

Shimizu H. Textbook of Dermatology. Tokyo: Hokkaido University Press; 2022.

6.

StatPearls Publishing. Alopecia. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023.

7.

Sehgal VN. Clinical Dermatology. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2021.

8.

Motta A. Atlas of Dermatology. Milan: Springer; 2022.

9.

Lallas A, Apalla Z, Ioannides D, Lazaridou E. Practical Dermoscopy. Boca Raton: CRC Press; 2022.

10.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.